Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
116. GBM S3


__ADS_3

Enam bulan kemudian


Kehamilan Mimin kini menginjak usia tujuh bulan. Mimin sangat menikmati masa kehamilannya. Begitu pun dengan Dewa yang selalu memosisikan dirinya sebagai suami siaga. Mereka menjalani hari-hari bahagia penuh cinta bersama si Oton yang semakin aktif di perut ibunya.


Mimin begitu antusias menceritakan kepada Dewa setiap momen dan hal baru yang dirasakannya. Seperti saat usia empat bulan  kehamilan, untuk pertama kalinya Mimin merasakan getaran kecil di perutnya. Dewa begitu semangat ketika mengetahui hal itu.


"Neng, kalau si Oton lagi gerak kasih tau Aa, ya," pesan Dewa saat itu. Ia tak mau melewatkan setiap momen pergerakan si Oton.


Bahkan, momen kehamilan Mimin setiap bulannya ia abadikan melalui jepretan foto. Menggunakan kamera pemberian Bang Deka sebagai kado pernikahannya.


Sudah dua malam Mimin dan Dewa menginap di rumah Abah. Mereka baru saja mengadakan acara syukuran tujuh bulan. Jika saat syukuran empat bulan, hanya mengadakan acara pengajian. Untuk syukuran tujuh bulan mereka mengikuti adat kebiasaan masyarakat Serang pada umumnya. Seperti membuat rujak, dodol, sekul punar dan sekul anggi.


"Neng, cepetan tanya gih sama Mami," bisik Dewa sembari menyenggol-nyenggol lengan Mimin.


"Sabar atuh, A." Mimin balas dengan berbisik juga.


"Ada apa, Nak Dewa?!" sahut Mami yang memergoki tingkah Dewa.


"Itu Mih, A Dewa mau ngajak beli perlengkapan bayi sekarang. Boleh ga katanya, Mih?" lontar Mimin. Pasalnya Mami selalu melarang mereka untuk buru-buru membeli perlengkapan bayi dengan alasan belum waktunya dan juga karena pamali.


"Jangan dulu deh," larang Mami.


"Kan, udah tujuh bulan, Mih," kilah Dewa.


"Katanya, nanti di Jakarta mau ada syukuran tujuh bulanan juga?"


"Iya, Mih."


"Kapan acaranya?"


"Insyaallah minggu depan, Mih."


"Setelah acara syukuran tujuh bulan di Jakarta, boleh deh mulai beli perlengkapan bayi," putus Mami akhirnya.


"Aseeekk." Dewa dan Mimin bersorak girang.


"Ding, gimana dengan odong-odongnya? Sudah terjual?" timbrung Abah.


"Alhamdulillah. Sudah terjual, Bah," sahut Dewa.


Beberapa bulan yang lalu Dewa membeli sebuah mobil tua rongsok. Lalu, dengan keahliannya, mobil rongsok itu didaur ulang menjadi odong-odong kereta. Kemudian odong-odong itu ia jual, dan keuntungannya terhitung lumayan.


"Kalau keuntungannya lumayan dan prospek usahanya bagus, kenapa gak ditekuni saja usaha itu," usul Abah.


"Iya, Bah. Saya juga rencananya ingin menekuni usaha itu. Tapi, nanti lah namanya masih pemula. Harus mempelajari seluk beluknya dulu. Masih kesulitan untuk nyari mobil tuanya, Bah."


"Kalau tentang modal, jangan sungkan ngomong  ke Abah ya, Ding."


"Iya, Bah."


*****


"Apa lagi yang mau dibawa A?" tanya Mimin yang sedang mengemas barang untuk keberangkatannya ke Jakarta besok. Bu Dewi dan Pak Satya akan mengadakan acara syukuran tujuh bulan kehamilan Mimin di Jakarta.


"Udah Neng, itu aja. Jangan banyak-banyak. Yang penting pesanan mama jangan sampai ketinggalan." Setiap pulang ke Jakarta, Bu Dewi selalu meminta dibawakan sate bandeng dan emping yang adalah oleh-oleh khas kota Serang.


"Neng udah pesan sate bandeng dua puluh ekor. Kurang ga, A?” Pagi tadi, Mimin telah memesan sate bandeng pada Bu Aliyah, penjual sate bandeng langganannya yang terkenal di Kota Serang.


"Tambah sepuluh lagi aja, Neng. Kayaknya, mama mau ngasih untuk teman-temannya."


"Oh, ok deh siap. Nanti, Neng pesankan lagi."


"Neng, nanti malam Aa mau ke Baretos ya."


"Mau ngapain A?"


"Tadi Samsul nelpon, minta tolong Aa untuk menggantikan si Coki yang izin ga bisa ngamen nanti malam,” terang Dewa.

__ADS_1


"Tapi 'kan besok kita harus berangkat ke Jakarta. Memangnya, Aa ga cape kalau nanti malam ngamen dulu?"


"Insyaallah enggak, Neng. Paling tiga lagu aja deh. Lagian Aa juga kangen, udah lama ga ngamen. Boleh ya, boleh ya?" bujuk Dewa.


Melihat raut semangat sang suami, rasanya tak tega jika harus menolak permintaannya. “Iya deh, boleh,” putus Mimin. .


"Makasih Neng sayang dan Oton sayang." Dewa mencium pipi Mimin lalu berjongkok untuk menciumi perut dimana berada calon anaknya di sana.


“Sama-sama, Ayah sayang.” Mimin mengusap kepala Dewa yang tengah menciumi perutnya.


Malam harinya, Dewa bersiap untuk berangkat ke Baretos Cafe.


"A, Neng boleh ikut enggak?" Mimin duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi Dewa yang sedang mematut diri di depan cermin.


"Neng, mau ikut ke Baretos?" tanya Dewa. Ia mengalihkan pandangannya pada Mimin.


Mimin mengangguk. "Boleh?" tanyanya.


Dewa mendekati Mimin lalu mencubit mesra pipinya. "Boleh dong, Sayang. Senang banget malah."


"Lama ga A?”


"Sebentar. Tiga lagu doang."


Dan kemudian mereka pun berangkat menuju Baretos Cafe.


Mimin memilih untuk duduk di sebuah meja paling pojok. Ia memesan menu kesukaannya, roti bakar coklat dan es goyobod. Menikmati menu yang ia pesan sambil menikmati lagu yang dinyanyikan oleh suami tampannya di atas panggung kafe.


Malam itu Dewa menyanyikan tiga buah lagu. Yellow milik Coldplay dan You Are The Reason dari Calum Scott. Kedua lagu request pengunjung tersebut telah selesai dinyanyikan oleh Dewa.


"Ada yang mau request lagi?" lontar Dewa dari atas panggung.


"Kalau tidak ada lagi yang request. Untuk lagu ketiga saya akan menyanyikan lagu yang mellow nih," lanjutnya.


Dewa mulai memetik gitarnya. "Sebuah lagu berjudul Maafkan Aku," ucap Dewa dari atas panggung.


Tak bisa kulupa.. saat-saat indah bersamamu.


Ku harus pergi.. meninggalkanmu di dalam sepiku..


Bukan inginku.. tuk menyakiti perasaanku..


Maafkan aku..


Maafkan aku.. yang tak bisa menunggu hatimu..


Lupakan saja.. diriku untuk selama-lamanya..


Kuharus pergi.. meninggalkanmu di dalam sepiku..


Bukan inginku.. tuk menyakiti perasaanmu..


Maafkan aku..


Tidurlah sayangku..


Mentari tlah menunggu..


Sambutlah pagi nanti..


Dengan hati tersenyum..


Bermimpilah cinta..


Dengan segenap rasa..


Kini tibalah saatnya.. kita harus berpisah.

__ADS_1


Tidurlah sayangku..


Mentari tlah menunggu..


Sambutlah pagi nanti..


Dengan hati tersenyum..


Bermimpilah cinta..


Dengan segenap rasa..


Kini tibalah saatnya.. kita harus berpisah..


Maafkanlah aku.. yang tak bisa menunggu..


Lupakan saja diriku.. untuk selama-lamanya..


(Maafkan Aku, Enda)


"Kok tadi Aa nyanyi lagu sedih sih A," protes Mimin ketika Dewa telah selesai bernyanyi dan kini tengah menemaninya menikmati menu makanan di kafe ini.


"Memangnya kenapa, Neng?"


"Jangan nyanyi yang sedih-sedih, takut jadi kenyataan."


"Maksudnya takut Aa ninggalin Neng gitu, kaya cerita di lagu itu?"


Mimin membalasnya dengan sebuah anggukan.


"Neng cantik, dengerin Aa, ya. Aa gak akan mungkin meninggalkan Neng sama si Oton. Ga akan pernah,” tegas Dewa.


"Janji?"


"Janji itu hanya diucapkan bagi orang yang masih ada keraguan di dalam hatinya. Kemungkinannya adalah dua, berusaha menepatinya atau sengaja mengingkarinya. Dan Aa bukanlah orang yang berada dalam keraguan itu. Aa pasti akan selalu di sisi Neng. Kecuali ... jika Allah menghendaki lain."


"Ih, Aa kok ngomongnya gitu, sih."


"Loh, benar ‘kan hanya Allah yang mampu memisahkan kita. Sekarang gantian Aa yang minta sama Neng. Jangan pernah tinggalkan Aa, ya." Dewa menggenggam tangan Mimin.


Mimin mengangguk. "Ga akan pernah A."


"Dan jangan pernah berpikir Aa akan meninggalkan Neng."


Sekali lagi Mimin mengangguk. "Aku percaya suamiku. Neng percaya Aa,” ucapnya.


"Gitu dong. Ayo, habiskan makanannya. Atau mau nambah lagi?" tawar Dewa.


"Enggak enggak, udah ga muat," tolak Mimin seraya mengusap perutnya.


"Kalau enggak muat, ada Aa yang siap menampung."


"Jangan, nanti Aa jadi gendut."


"Biar gendut, Aa akan selalu ganteng."


"Aa Dewa selalu ganteng pastinya."


"Bisa aja, Neng cantik mah." Dewa mencubit pipi Mimin.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa pijit jempol, Like.


Dobel up yes


__ADS_2