
Suasana temaram, ramai dan berisik begitulah untuk menggambarkan tempat di mana Dewa dan Jejed menginjakkan kaki. Kedua sahabat itu mengunjungi sebuah diskotik berkelas di kota Metropolitan, guna mencari Deka.
Dewa dan Jejed memperhatikan hilir mudik "manusia malam" yang berdatangan ke tempat ini, mencoba menemukan orang yang mereka cari.
Berbagai macam jenis manusia hadir di tempat ini dengan bermacam-macam gaya pakaian. Mulai dari yang mengenakan celana jeans hingga rok mini. Yang berpakaian biasa hingga yang berpakaian ketat dan terbuka. Berbagai macam aroma mulai dari aroma parfum bercampur keringat, bau rokok bahkan aroma alkohol memenuhi ruang nafas mereka.
Ini bukan kali pertama bagi Dewa dan sahabatnya menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Seperti anak muda lainnya, mereka pun pernah atau beberapa kali datang ke tempat ini untuk sekedar berekreasi menghilangkan penat. Prinsip penting yang mereka pegang teguh dan itu menjadi komitmen dalam bermusik adalah no drugs and no s*e*x before marriage. Se-liar apa pun lingkungan mereka dalam bergaul, asal jangan sampai menghianati prinsip teguh meraka.
"Hai ganteng," sapa seorang wanita cantik berpakaian dress di atas lutut, dan dengan belahan rendah di bagian dadanya.
"Hai, Cantik." Jejed yang membalas sapaan wanita seksi itu, sementara Dewa tak menggubris sama sekali.
"Permisi pria soleh mau lewat," sahut Jejed setiap ada wanita yang berusaha menggoda Dewa.
"Pria soleh kok mainnya ke tempat ini, ke masjid sono!" sahut si Wanita.
Dewa dan Jejed terus berjalan melewati para "manusia malam" penikmat hiburan. Netra keduanya menelusuri seisi ruangan diskotik. Memperhatikan beberapa orang pria yang duduk di sofa dengan ditemani beberapa wanita berpakaian seksi berbincang sambil tertawa-tawa.
Kemudian pandangan mereka beralih ke lantai dansa di mana manusia-manusia malam lincah berjoget "ajeb-ajeb" di bawah sorot lampu aneka warna yang menembak ke sana kemari juga sebuah lampu disko yang tempak berputar di atas tengah ruang tempat mereka berjoget.
"Wa...!"
"Hah... Apa?!"
Suara bising musik ajeb ajeb yang diputar oleh sang DJ, praktis membuat mereka harus berteriak keras ketika berbicara.
"Ga ada abang lo di sini!" seru Jejed.
Dengan gerakan tangan, Dewa menyuruh Jejed untuk mengikutinya. Sebab jika berbicara justru akan menguras energi, suara yang keluar dari mulut akan kalah dengan hingar bingar suara hentakan musik.
Dewa berjalan menuju meja bar dan Jejed mengikuti di belakangnya.
"Hai, Bil," sapa Dewa kepada salah seorang bartender yang dikenalnya.
"Hai, Wa," balas bartender yang bernama Billy.
"Bil, lihat abang gue enggak?" tanya Dewa.
"Deka??"
"Iya."
"Udah lama gue ga lihat dia... udah dua bulanan. Ke mana dia?"
"Justru gue lagi nyari dia," sahut Dewa.
"Bil, lo tahu ga, selain di sini abang gue nongkrong di mana biasanya?" tanya Dewa lagi.
Kemudian Billy menyebutkan beberapa klub malam yang mungkin dikunjungi Deka.
"Ok, sip. Thank you, Bil," ucap Dewa.
"Sip," sahut Billy.
Setelah mendapatkan informasi dari Billy, Dewa memutuskan untuk mencari Deka di tempat hiburan malam lainnya.
Ini adalah malam kedua Dewa dan Jejed mencari Deka. Hampir seluruh tempat hiburan malam di kota ini sudah mereka singgahi. Namun, ternyata menemukan keberadaan Deka tidak lah semudah yang dibayangkan. Sama sulitnya seperti menemukan jarum dalam tumpukan jerami. Bahkan seandainya saja Dewa tahu, bahwa mencari keberadaan Deka di Jakarta adalah bagai mencincang air. Mengerjakan sesuatu yang sia-sia.
Dewa meletakkan kedua tangannya di kepala. "Sial harus ke mana lagi kita cari Deka," ujar Dewa frustasi.
"Jangan-jangan Deka ga ada di Jakarta, Wa. Mungkin dia ada di kota lain." Jejed mengungkapkan pendapatnya.
"Iya juga ya. Kalau dia ada di sini, pasti anak buah Pak Harto udah menemukan dia ya," sahut Dewa.
"Gimana kalau kita cari di kota lain," usul Jejed.
"Tapi di kota mana?"
"Bandung, Surabaya, Medan atau jangan-jangan ada di Bali," sahut Jejed.
"Waktunya tersisa dua hari, Jed. Terus bagaimana gue nyari di banyak kota kayak gitu," keluh Dewa.
"Gimana kalau kita berpencar. Kebetulan besok gue ada keperluan ke Bandung. Gue akan ngubek-ubek kota Bandung buat nyari abang lo, gimana?"
"Bener lo Jed. Lo cari Deka di Bandung dan gue cari di Bali. Tapi sebelumnya, gue mau balik ke Serang dulu." Seketika wajah cantik istrinya melintasi ruang hatinya yang dilanda kerinduan mendalam. "Gua kangen Mina," lirihnya.
Jejed menepuk bahu sahabatnya itu. "Lo harus semangat, Wa. Menurut gue, lo harus kasih tahu Mina tentang masalah ini," saran Jejed.
"Gue takut, Jed. Gue takut kalau gue harus kehilangan Mina," lirih Dewa dengan tatapan jauh menerawang.
__ADS_1
"Sabar ya, Wa. Semoga kita bisa segera menemukan abang lo," ujar Jejed.
"Oya mengenai dugaan lo tentang Clara, nanti gue mau nemuin si Jenny sahabatnya Clara," sambung Jejed.
"Jenny yang cantik itu?"
"Cantik jadi-jadian. Dia temen SMP gue, nama aslinya Jono sekarang diganti Jenny."
"Masa sih Jed?"
"Kalau lo ga percaya, singkap aja roknya. Pasti lo nemu pedang di dalamnya."
"Hahahaha...." Keduanya kompak tertawa.
*****
Keesokan harinya.
"Mah, ikut Dewa ke Serang ya," rengek Dewa pada mamanya.
"Iya, Sayang. Kapan kamu mau ke Serang?" tanya Bi Dewi.
"Sekarang, Ma."
"Jangan sekarang ya. Bagaimana kalau nanti sore aja?"
"Sekarang aja Ma."
"Nanyi sore aja biar sekalian papamu ikut," tutur Bu Dewi.
"Loh, memang papa mau ikut, Ma?"
"Iya, papa bilang dia mau ikut. Mau ketemu calon mertua kamu katanya."
"Wah, jadi Mama sudah bisa membujuk papa," ujar Dewa sumringah.
"Iya dong. Mama gitu loh."
Dewa memeluk haru Bu Dewi. "Makasih ya, Ma," ucapnya.
Bu Dewi tersenyum seraya mengeratkan pelukannya. "Mama selalu berdoa untuk anak-anak mama," ucapnya tulus.
*****
Suasana hening lebih banyak tercipta dalam perjalanan mereka. Tak ada obrolan santai apalagi obrolan serius di antara mereka. Hanya sahutan kecil dari sang supir yang menanyakan jalan dan sebagainya.
Saat magrib tiba, Dewa meminta untuk menghentikan perjalanannya agar bisa menunaikan salat Magrib. Sementara Bu Dewi dan Pak Satya memilih untuk makan di salah satu tempat makan di Rest Area.
"Tuh Pah, coba perhatikan. Setelah kepergian Dewa, ada yang berubah dari Dewa. Sekarang dia rajin salat," tutur Bu Dewi yang merasa bahagia dengan perubahan Dewa.
"Dia kan mantan anak pesantren. Bukankah seharusnya memang seperti itu," jawab Pak Satya datar saja.
"Iya, tapi kan kemarin Dewa ga seperti itu."
"Itu karena pergaulan dia ga jelas, nge-band lah apa lah."
Bu Dewi geleng-geleng kepala mendengar pendapat suaminya.
"Papa masih ga sadar kalau Dewa dulu ga suka salat karena mengikuti kita, karena kita ga pernah salat!" sanggah Bu Dewi mematahkan pendapat suaminya.
Usai menunaikan salat Magrib dan makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju kampung Cibening yang sudah dekat jaraknya. Ba'da magrib atau sebelum isya, keluarga Dewa sampai di depan rumah Haji Zaenudin.
Dewa mengembangkan senyumnya ketika turun dari mobil dan menatap rindu kediaman Mimin dan kontrakan yang sudah empat hari ditinggalkannya.
"Ini rumah istrimu, Wa?" tanya Bu Dewi setelah turun dari mobil.
Sementara Pak Satya hanya bergeming sambil menatap rumah di depannya. Mungkin rumah Haji Zaenudin termasuk rumah yang mewah di kampung Cibening ini. Namun, tentu saja masih kalah mewah dengan rumah Pak Satya. Apalagi jika dibandingkan dengan rumah Soeharto Darwin ayahnya Clara, jauh berbeda.
"Iya, Mah. Dan yang sebelahnya, kontrakan yang di pintu ada tulisan angka 1 itu tempat tinggal Dewa, Mah. Dewa tinggal berdua sama Sol di sini," terang Dewa.
"Ya ampun Dewa! Kamu betah tinggal di kontrakan kecil seperti itu?"
"Kecil namun memberikan kebahagiaan yang besar Mah," sahut Dewa bangga.
"Mama senang kamu sekarang berubah. Jadi anak yang mandiri," kata Bu Dewi sembari menepuk bahu putranya.
Kemudian Dewa mengayun langkah dengan penuh kemantapan menuju kediaman istri yang dirindukannya. Pak Satya dan Bu Dewi berjalan di belakangnya membuntuti Dewa.
Dewa mengetuk pintu dan mengucap salam beberapa kali. Tak menunggu lama, pintu rumah pun dibuka. Opi yang membukakan pintu untuknya.
__ADS_1
“Ka Dewa,” sapa Opi dengan sebuah senyuman.
“Abah, Mami, dan Mina ada kan Pi?”
“Ada, Ka. Masuk Ka, duduk dulu,” ujar Opi sebelum kemudian masuk ke dalam rumah untuk memberitahukan kedatangan Dewa. Tidak lupa menyalami kedua orang tua Dewa terlebih dahulu.
“Itu tadi istri kamu, Wa?” tanya Bu Dewi. Mereka bertiga sudah duduk di ruang tamu.
“Bukan Mah. Tadi itu namanya Opi, adiknya Mina,” terang Dewam
“Oh. Adiknya juga manis,” ujar Bu Dewi.
“Assalamualaikum,” sapa Abah begitu sampai ruang tamu. Di belakang Abah ada Mami dan Mimin yang turut berdiri.
“Waalaikum salam,” sahut Dewa dan Bu Dewi. Sementara Pak Satya diam saja tak menjawab salam.
“Abah, Mami, ini kedua orang tua saya,” tutur Dewa memperkenalkan kedua orang tuanya.
Abah dan Mami menyambut hangat kedatangan keluarga Dewa. Bu Dewi tersenyum ramah seraya memperkenalkan dirinya. Sementara Pak Satya, dia menyapa calon besan nya dengan wajah datar saja.
Kemudian pandangan Dewa beralih kepada wanita cantik yang berdiri di belakang Abah. Sorot mata keduanya bertautan, tampak jelas binar kerinduan di sorot mata keduanya.
Keduanya saling melempar senyum. Dewa mendekat ingin sekali memeluk dan memberikan kecupan mesra pada istri cantik yang sangat dirindukannya. Namun urung terjadi sebab melalui isyarat mata, istrinya itu seolah mengucapkan, "jangan! ada Abah, Mami dan orang tuamu. Malu tau."
Mimin meraih tangan Dewa lalu mencium punggung tangannya.
“Mina, aku datang bersama kedua orang tuaku,” ujar Dewa.
“Ma, ini yang namanya Mina... Jasmina Zahra.” Dewa memperkenalkan istrinya.
“Ya ampun. Cantik luar biasa istri kamu, Wa.” Bu Dewi terpana melihat kecantikan Mimin lalu melemparkan senyuman ramah kepada menantunya itu. “Sini Cantik,” ujarnya kepada Mimin.
Mimin tersenyum dan mengangguk ramah. Lalu berjalan mendekat dan mencium punggung tangan ibu mertuanya. Bu Dewi memeluk Mimin dengan hangat. “Kamu cantik banget, Sayang,” ucapnya masih terpesona dengan kecantikan menantunya.
Kemudian Mimin menyalami Pak Satya, ayah mertuanya. Seperti biasa, Pak Satya menyambut salam menantunya itu dengan ekspresi datar.
“Silakan duduk, Pak, Bu,” ujar Mami.
Kedua keluarga itu pun duduk. Sementara Mimin pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman dan suguhan untuk suami dan mertuanya.
“Ding, bagaimana kabar kamu, Sehat?” tanya Abah membuka obrolan.
“Alhamdulillah sehat, Bah. Kemarin pas pulang, sempat kecopetan Bah. Hape saya hilang, jadi ga bisa memberi kabar ke sini,” terang Dewa.
“Oh, begitu.”
“Pantesan si Teteh uring-uringan, terlihat seperti khawatir begitu. Ternyata karena kalian putus kontak,” sahut Mami.
“Iya, Mih.” Dewa tersenyum senang mendengar cerita Mami, bahwa Mimin ternyata juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Sangat rindu.
Kemudian tercipta obrolan-obrolan kecil antara Bu Dewi dengan Mami dan Abah. Sebab Pak Satya masih setia dengan ekspresi datarnya.
Hingga kemudian seketika suasana yang penuh kehangatan itu berubah menjadi mencekam karena sahutan Pak Satya.
“Pak Haji, Bu Haji. Langsung saja, kedatangan saya ke sini adalah untuk memutuskan hubungan anak saya Dewa dengan putri Pak Haji!”
“Papa...!” seru Bu Dewi dan juga Dewa yang tak menyangka Pak Satya akan berkata seperti itu.
“Jadi begini Pak Haji. Mantan pacar Dewa itu sekarang sedang hamil.” Pak Satya semakin menjadi, tak memedulikan reaksi istri dan anaknya.
“Dan Dewa harus bertanggung jawab atas kehamilan mantan pacarnya. Dewa akan saya nikahkan dengan mantan pacarnya!” kata Pak Satya.
Praaangg....
Sebuah nampan berisi tiga cangkir teh itu meluncur jatuh ke lantai, terlepas dari genggaman.
.
.
.
.
Bersambung.
.
Ini bab puncak ketegangan nih. Sabar ya 😭😭😁😁
__ADS_1