Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
S2. Makbulnya Doa Sol


__ADS_3

"Apa? kamu mau resign?" tanya Haji Hamid terkejut. Setelah mengikuti Deka sampai ke kantornya tadi, Dewa pergi ke bengkel tempatnya bekerja.


Dewa mengangguk. Ia sungguh merasa tak enak hati dengan Haji Hamid. Hari ini adalah hari kelima ia tak bekerja, padahal cutinya hanya tiga hari. Artinya ia sudah bolos dua hari karena mengurusi keruwetan masalahnya. Dan sore nanti pun ia berencana akan pulang bersama Deka.


"Maaf Pak Haji, karena saya ga amanah," sesal Dewa.


"Oh. Jadi kamu resign karena hal itu," sahut Haji Hamid.


Dewa mengangguk kembali. "Iya Pak Haji. Saya ga enak sama Pak Haji."


Haji Hamid tersenyum. "Kalau karena hal itu kamu minta resign, saya ga akan mengizinkan. Kalau kamu memang masih ada urusan, saya tak masalah. Silakan selesaikan urusan kamu sampai benar-benar selesai," tutur Haji Hamid.


"Tapi...."


"Gak apa-apa, Wa. Ga usah merasa ga enak. Saya butuh kamu. Saya mau kamu tetap kerja di sini.


Kecuali ... kalau kamu resign lantaran mendapatkan pekerjaan yang lebih baik misalnya. Atau kamu mau mengembangkan diri, bikin usaha sendiri misalnya. Saya pasti mengizinkan kamu resign meski dengan berat hati karena saya benar-benar membutuhkan kamu.


Dan saya pasti akan bangga dan mendukung kamu. Saya sih inginnya suatu hari nanti kamu bisa berkembang. Kamu punya bengkel sendiri misalnya."


"Amin ya Allah," sahut Dewa.


"Itu harapan saya. Apalagi kamu sekarang adalah anaknya Haji Zaenudin."


Dewa tersenyum menanggapi ucapan Haji Hamid.


"Loh bener anak, kan? Menantu juga sama dengan anak."


Dewa mengangguk. "Iya Pak Haji."


"Makanya saya juga anggap kamu anak saya," ujar Haji Hamid.


Mida yang baru tiba di ruangan tempat Haji Hamid berbincang bersama Dewa tersenyum sumringah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan sang ayah. "Menganggap Dewa seperti anaknya." Ini sangat baik. Begitu pikirnya.


"Assalamualaikum," ucap Mida ketika masuk ke ruangan itu.


"Waalaikum salam." Dewa dan Haji Hamid menjawab salam.


Mida mengambil posisi duduk di samping ayahnya di sofa tiga dudukan. Sementara Dewa duduk di sofa dua dudukan.


"Kamu ke mana aja Wa? Kok lama ga masuk kerja?" tanya Mida.


"Dewa memang sedang cuti. Dia sedang ada urusan penting. Nanti kalau urusannya sudah beres, baru Dewa mulai kerja lagi," terang Haji Hamid. Ia yang justru menjawab pertanyaan putrinya.


"Oya Wa. Katanya istri kamu masuk rumah sakit?" tanya Haji Hamid kepada Dewa.

__ADS_1


"Hah? Istri?" sahut Mida yang terlonjak kaget mendengar pertanyaan ayahnya. Dewa yang sudah membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Haji Hamid, kembali mengatupkan bibirnya karena sahutan Mida.


"Iya. Dewa kan sudah menikah," jelas Haji Hamid kepada putrinya.


"Hah? Menikah?"


"Iya, Mida. Dewa sudah menikah." Masih Haji Hamid yang menjawab pertanyaan Mida. Sedangkan Dewa hanya diam saja, tangannya tak berhenti memainkan kunci motor yang dipegangnya. Untuk mengurai rasa tak nyaman dari tatapan Mida yang seakan mengulitinya.


"Menikah?? Sama siapa??"


"Sama anaknya Haji Zaenudin."


"Anaknya Haji Zaenudin? Opi maksudnya?"


"Loh, kok Opi? Opi kan masih sekolah. Dewa sudah menikah dengan Mimin."


"Dewa menikah dengan Mimin?!?!" lirih Mida. Setelahnya ia merasakan rotasi bumi berhenti seketika. Seiring gemuruh semangatnya yang mati seketika. Semangat untuk memiliki Dewa kini kandas sudah.


*****


Usai mengunjungi bengkel, Dewa pergi ke pasar tempat toko jilbab dan kerudung milik Sol berada. Ia harus berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada soulmate-nya itu. Mungkin jika ditanya "Sebutkan teman yang berkontribusi sama hidup lo?" Dewa tak ragu menyebutkan nama Sol dan Jejed sebagai jawabannya.


Sol yang telah mendoakannya bertemu bidadari saat hatinya hancur tak tersisa. Hingga ia sungguh bertemu gadis berkerudung merah yang secantik bidadari. Yang dalam sekejap, hanya satu kedipan mata mampu membereskan serpihan hatinya yang telah hancur berserakan akibat pengkhianatan sang mantan dan kakaknya.


Dan kemarin malam pun Sol berdoa untuknya. Ajaibnya doa-nya terijabah lagi. Entah karena kebetulan atau karena Sol termasuk salah satu golongan manusia yang dikabulkan doa-nya seperti sabda Rasulullah "Ada tiga manusia yang doa mereka tidak akan ditolak oleh Allah yaitu doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka, doa pemimpin yang adil, dan orang-orang yang teraniaya." (HR. AT Turmudzi).


"Bener gue kan, abang lo ada di kota ini," ujar Sol antusias mendengarkan Dewa bercerita tentang pertemuannya dengan Deka. .


"Ho oh. Gue ga nyangka dia ada di sini," sahut Dewa. Ia duduk di kursi plastik di samping Sol sembari memandangi deretan manekin berbentuk kepala yang dipakaikan berbagai macam model jenis jilbab yang berderet rapi di toko ini.


"Terus sekarang rencana lo gimana?"


"Nanti sore gue pulang lagi ke Jakarta."


"Sama abang lo?"


"Ho oh."


"Memangnya dia mau lo ajak pulang?" tanya Sol yang kurang yakin.


"Mau gak mau harus mau," sahut Dewa penuh semangat.


Sol menarik bibir melengkungkan senyum. Ia mengingat perkataan Dewa semalam tentang doa-nya yang makbul. Ia pun sebenarnya tahu jika itu pasti karena kebetulan. Dan kini ia berpikir seandainya kebetulan itu terjadi padanya. Ia ingin berdoa untuk dirinya sendiri dan semoga saja tercipta "kebetulan" itu. Berharap Allah kembali mengabulkan doa-nya.


Hal yang paling diinginkannya saat ini tentu saja adalah soal jodoh. Dewa sahabatnya saja sudah mendapatkan jodoh, masa gue enggak. Begitu pikirnya.

__ADS_1


Padahal ia merasa ga jelek-jelek amat. Malah ia merasa dirinya manis dan lumayan tampan. Mata sipit dan pipi chubby-nya mengingatkan dengan sosok vokalis yang dulu sempat sangat digandrungi para wanita, Bams Samson. Sedangkan gaya dan model rambutnya mirip Charlie ST 12. Meskipun ia tak mengidolakan sosok kedua vokalis itu. Tapi ia merasa sangat senang dimiripkan dengan kedua vokalis ternama itu. Perpaduan antara Bams Samson berkulit gelap dan Charlie ST 12. Beuh, keren kan. Kolaborasi yang apik tenan. Begitu narsis Sol dalam hatinya.


Sol masih mengukir senyumnya. Dewa yang melihat Sol senyum sendiri tergelitik untuk bertanya. "Kenapa lo senyum-senyum sendiri? Waras lo?"


Sol tak mengindahkan pertanyaan Dewa. Kemudian bibirnya berkomat-kamit seperti melafalkan sesuatu tanpa bersuara. Dan tangannya di angkat di depan dada. Sol sedang berdoa untuk dirinya sendiri. Setelahnya ia menyapu wajahnya dengan kedua tangan.


"Amin Wa!" seru Sol usai berdoa di dalam hati. Hanya hatinya saja yang tahu bagaimana kalimat doa-nya.


"Mana si Amin?" sahut Dewa pura-pura bego.


"Maksud gue... Lo aminin doa gue," sungut Sol.


"Yee... mana gue tahu kalau tadi lo lagi berdoa. Lagian lo doa-nya dalam hati. Gue kan ga tahu lo lagi doa apa. Kalau lo doa yang jelek-jelek buat gue, masa gue aminin juga."


"Kampret lo! Mana mungkin gue doa yang jelek-jelek buat lo."


"Hehehehe... Canda Sol." Dewa mencubit pipi tembem Sol. "Ya Allah semoga sahabatku ini segera mendapatkan jodoh. Ya Allah tolong jodohnya yang perempuan ya...."


"Woy kampret lo. Ya iyalah jodohnya perempuan masa iya bukan perempuan!" sungut Sol sangar. "Emang gue cowok apaan," sambungnya sambil memukul manja lengan Dewa dengan kedua tangan yang terkepal, bergaya seperti pria kemayu. Kontras dengan gaya sangar yang di awal.


"Idih...." Dewa meringis melihat gaya Sol. "Kan gue belum selesai doa-nya. Nih dengerin... Ya Allah jodohnya yang perempuan ya. Perempuan solehah yang menentramkan hati. Berikan yang solehah untuk Soleh ya Allah."


"Amin. Tapi... harus cantik juga Wa."


"Emang ada perempuan yang ga cantik di mata lo. Tiang listrik pake lipstik aja lo pasti bilang cantik."


"Hahahaha...." Keduanya tertawa.


"Perihal jodoh itu menarik ya Sol. Seandainya aja gue tahu kalau Mina itu jodoh gue. Kayaknya gue milih untuk tetanggaan sama Mina sejak orok bahkan sejak dalam kandungan. Biar gue ga pernah pacaran sama yang lainnya. Buang-buang waktu dan energi aja," sahut Dewa.


"Iya ya Wa. Mungkin jodoh gue juga masih jadi pacar orang kayaknya. Buat jodoh gue yang masih dipacarin orang lain, yang semangat ya kalau lagi berantem sama dia."


"Wahahahahaha...."


"Eiya Wa. Terus Mina gimana kabarnya?"


Begitu mendengar nama Mina ia segera bangkit dari duduknya. "Gue ke rumah sakit dulu Sol. Mau nemenin Mina," ujarnya lalu pergi terburu-buru


.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih doanya sahabat semua. Saya terharu jadinya.


Terima kasih juga dukungannya. Love U.


__ADS_2