
Trio pria mantan personil Lakotum Band tengah duduk santai di atas ubin keramik warna putih di Sabtu pagi yang cerah ini. Di hadapan mereka masing-masing tersuguhkan segelas kopi hitam yang masih mengepulkan hawa panas.
"Mana nih lawannya, masa ngopinya begini doang," ujar Jejed.
"Mimin mana nih Wa, biasanya bersedekah pisang goreng buat nemenin ngopi," kata Sol menimpali.
"Iya, gue kan pinisirin sama yang namanya Mimin," sahut Jejed yang memang belum pernah bertatap muka dengan Mimin.
Baru saja dibicarakan, Mimin datang menghampiri ketiga pria itu dengan membawa sepiring pisang goreng.
"Wah panjang umur nih pisang goreng, baru aja ditanyain langsung datang," celetuk Sol.
Sementara Jejed mulutnya terbuka menganga menatap Mimin tanpa berkedip.
"Woy Jed! Gue colok mata lo nih!" geram Dewa yang kesal melihat Jejed menatap Mimin seperti itu.
"Makasih ya Mimin, pisang gorengnya," ucap Sol.
"Loh, ini yang namanya Mimin?" tanya Jejed dengan ekspresi tak percaya. Sebab dibayangkannya Mimin adalah gadis desa yang wajahnya biasa-biasa saja. Tak mungkin lebih cantik dari gadis kota. Dan seketika ia tercengang ketika gadis bernama Mimin ternyata cantiknya bak bidadari. Pantas saja jika sahabatnya itu sampai klepek-klepek.
"Mina, kenalin ini sahabatku juga, namanya Jejed. Dia baru datang tadi malam," sahut Dewa memperkenalkan Jejed.
Dengan semangat Jejed mengulurkan tangannya, seraya melemparkan senyum kepada Mimin. "Bima," sahutnya memperkenalkan diri.
Seperti kebiasaannya, Mimin menerima perkenalan dengan tanpa bersalaman, hanya menyatukan kedua tangannya. "Mimin," balasnya.
Jejed yang mengulurkan tangan namun tak mendapat sambutan pada akhirnya menarik tangannya ke atas kepala dan menggaruk-garuk kepalanya meskipun tak ada yang gatal.
"Mina, udah kamu masuk aja. Jangan lama-lama di sini. Nanti bisa ketularan aura negatif dari mereka berdua," gurau Dewa.
Mina mengalihkan pandangannya kepada Dewa dan tersenyum simpul. "Oya, Aa mau sarapan apa?" tanyanya.
Dan langsung mendapatkan sahutan heboh dari kedua sahabat Dewa.
"Uhuy... yang dipanggil Aa," sorak Jejed.
"Nih, dia Aa, gue ii dan lo Ee, Jed," sahut Sol.
"Hahahahaha." Ketiga pria itu tertawa terbahak.
Saat ketiga pria itu sedang tertawa-tawa, terdengar suara sapa salam seorang gadis dari halaman rumah Mimin. "Assalamualaikum."
Mimin dan ketiga pria itu mengalihkan perhatiannya pada gadis bergamis jingga yang adalah Rahma.
Melihat kedatangan Rahma, Sol sontak berdiri, bangun dari duduknya lalu menghampiri Rahma dengan semangat 45.
"Assalamualaikum, calon umminya anak-anakku," sapa Sol. Ia melemparkan senyum penuh pesona, meskipun dipastikan Rahma gagal terpesona kepadanya.
"Waalaikum salam, Kang Sol," balas Rahma seraya membalas senyum demi menjunjung norma kesopanan.
Apa, Kang Sol? Terdengar seperti sebuah profesi ya, tukang sol.
Hadeuh... untung kamu cantik Neng. Sepahit apa pun yang keluar dari mulutmu akan terdengar manis di telingaku.
Coba kalau si Jejed yang bilang gue kang sol, udah gue sikut deh. Batin Sol.
"Lihat Neng Rahma pakai gamis jingga begini membuat diriku ingin menyanyikan lagu abu-abu," ujar Sol.
"Hah, lagu abu-abu itu yang bagaimana Kang?" tanya Rahma bingung.
"Lagunya berjudul tercipta untukku. Begini lagunya." Sol bernyanyi dengan ciri khas-nya yaitu pitch control yang berantakan. Sebab ia bukan vokalis, ia adakah mantan drumer.
Aku ingin engkau slalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah
Yang meyakiniku
Kau tercipta untukku.
(Sepenggal lirik Tercipta Untukku, by. UNGU)
"Cukup Sol, kasihan Rahma jangan buat pendengarannya terganggu gara-gara mendengar suaramu," sahut Dewa menghentikan Sol agar tidak bernyanyi hingga satu lagu full. Mereka bisa keracunan massal jika mendengar Sol terlalu lama bernyanyi.
Rahma terkekeh sampai-sampai menutup mulutnya.
"Itu bukan lagu abu-abu, Kang Sol," sahut Rahma masih disertai sisa tawa kecil. "Itu lagu Ungu," jelasnya.
__ADS_1
"Oh, begitu ya. Maaf, soalnya aku mendadak lupa ingatan kalau lihat Neng Rahma. Yang teringat cuma satu Rahma, hanya Rahma, dan selalu Rahma," seloroh Sol.
"Huuu... gombal aja lo Sol," celetuk Jejed.
"Neng geulis ini siapa namanya? Kalau boleh kenalan," sahut Jejed.
"Saya Rahma, Kang."
"Oh, nama saya Bima... masih jomblo."
"Bohong Neng Rahma, dia mah udah punya pacar. Kalau saya tuh jomblo tulen," sahut Sol.
"Iya Kang. Rahma juga percaya kalau Kang Sol itu jomblo."
"Hahahaha." Dewa dan Jejed tertawa, Dewa yang paling menggelegar tertawanya.
"Kapan-kapan boleh ga Neng, Akang main ke rumah Neng Rahma," sahut Sol.
"Boleh Kang. Nanti malam, Kang Sol kalau ada waktu boleh datang ke rumah," ujar Rahma.
"Serius Neng. Nanti malam kan malam minggu. Akang boleh main ke rumah?"
"Iya, Kang Sol. Ba'da magrib ya."
"Pasti Neng. Nanti Akang ke rumah," ujar Sol sumringah.
"Rahma, masuk yuk!" ajak Mimin.
"Permisi yah Kang," pamit Rahma sebelum berlalu meninggalkan ketiga pria itu.
"Ini namanya kampung apa sih Wa?" tanya Jejed setelah kedua gadis cantik itu masuk ke dalam rumah.
"Kampung Cibening."
"Pantesan ceweknya bening-bening. Pantesan lo berdua betah tinggal di kampung ini," sahut Jejed.
*****
"Assalamualaikum, Ukhsay," sapa Rahma ketika Hana membuka pintu kamarnya. Saat ia mengunjungi Mimin tadi. Mimin bercerita kepadanya tentang Hana yang tak sengaja memergoki kebersamaannya bersama Dewa. Dan Mimin meminta bantuannya untuk berbicara dengan Hana. Tak berlama-lama di rumah Mimin, ia lalu pergi menyambangi Hana di kediamannya.
"Waalaikum salam, Rahma. Masuk sini," sahut Hana.
Rahma masuk ke dalam kamar mengikuti Hana. Mereka berdua duduk di atas kasur dan berbincang santai, hanya obrolan ringan saja. Meskipun tujuannya menyambangi Hana adalah untuk menyelesaikan masalah antara kedua sahabatnya itu. Namun, alangkah lebih baik jika mengobrol santai terlebih dahulu, untuk merileks-kan suasana.
"Sedikit tidak baik sih, namun sedang berusaha menjadi baik seperti sebelumnya. Dan berharap semuanya akan selalu baik-baik saja," jawab Hana.
Rahma menggenggam tangan sahabatnya itu. "Aku yakin Hana pasti bisa. Semuanya akan menjadi baik bahkan akan semakin baik."
Hana menghela nafas untuk mengurangi rasa sesaknya. Biar bagaimana pun hatinya masih berderai perih menerima kenyataan ini, meskipun ia berusaha sekuat hati untuk berlapang dada. Mencoba mengikhlaskannya.
"Ma, kenapa ya padahal permintaanku sangat sederhana. Aku gak meminta pria yang soleh, pria kaya, pria tampan atau sederet kriteria lainnya. Yang aku minta hanya dia. Tidak peduli jika dia tidak soleh, tidak kaya, atau tidak tampan. Yang penting adalah dia, " keluh Hana.
"Itu karena Allah sayang kamu, Hana. Terkadang patah hati adalah anugerah. Karena Allah lebih tahu seseorang yang terbaik untukmu. Mungkin kamu terlalu sempurna untuk seorang Iyan. Dan yakinlah Allah akan mempertemukanmu dengan pria yang jauh lebih baik dari Iyan. Allah loves you," tutur Rahma.
"Aku pun pernah berada di posisi kamu Han, pernah merasakan patah hati. Saat aku patah hati dulu, ada satu ayat yang paling aku ingat. 'Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman' ( QS. Al - Imran : 139 ). Aku ingat ayat itu saat ikut pengajian Ustaz Fahri," tutur Rahma lagi.
"Meskipun tak mudah, aku akan berusaha untuk tetap berdiri tegak menatap matahari, menyongsong masa depan, menunggu calon imam pilihan Allah datang," ujar Hana.
"Nah, itu baru Hana. Wanita istimewa untuk pria istimewa," kata Rahma.
"Jangan sampai masalah ini mengusik persahabatan kita," sambungnya.
Hana tercenung, dalam hatinya pun terbesit rasa tak rela jika persahabatan mereka sejak kecil harus tercederai apalagi karena masalah laki-laki.
"Jadi di antara kita bertiga, hanya aku dong yang jomblo," "ujar Hana.
"Jangan berkecil hati. Jomblo itu peluang untuk beramal lebih dan berkontribusi lebih. Laa tahzan, para jomblo fi sabilillah karena kamu istimewa." Rahma menyemangati sahabatnya.
"Makasih ya, Rahma," ucapnya lalu menghambur memeluk sahabatnya.
*****
Mimin dan Dewa tengah menikmati semangkok bubur ayam sebagai menu sarapan mereka di teras samping rumah Mimin. Sepertinya teras samping rumah ini menjadi spot favorit keduanya untuk menyantap sarapan bersama.
"Hari ini aku mau minta izin sama Haji Hamid untuk pulang dulu, pulang kota," ujar Dewa di sela aktivitas menyantap bubur.
"Kamu mau ikut ke rumah ortu aku, Mina?" tanyanya kemudian.
Mimin menjawab tanpa berucap, hanya dengan isyarat menggelengkan kepala. Sebab tengah fokus menyantap bubur ayam Haji Sulam.
__ADS_1
"Gak mau ketemu sama Camer?" Pertanyaan Dewa selanjutnya.
"Nanti saja. Kalau kita sudah resmi menikah seresmi-resminya," jawab Mimin. Ia menyeruput teh hangat untuk meredakan indra pengecapnya yang kepedasan sebab bubur yang terlalu banyak sambal.
“Makanya, sambalnya jangan banyak-banyak. Jadi kepedasan kan,” ujar Dewa mengkhawatirkan istrinya.
"Emmm... berapa hari pulangnya?" tanya Mimin untuk mengalihkan dari cecaran Dewa tentang sambal.
"Kenapa? Takut ga bisa menahan rindu ya?" goda Dewa.
“Ih, enggak. Bukan itu.”
“Hayo ngaku.”
“Enggak!”
“Ngaku aja.”
“Enggak!”
“Ngaku lah!”
“Udah ah, ayo cepat habiskan buburnya. Nanti terlambat loh kerjanya,” sahut Mimin memutuskan perdebatan di antara mereka.
Mereka kembali melanjutkan buburnya hingga suapan terakhir. Mimin baru saja selesai menyuapkan suapan terakhir sendok bubur dan meletakkan mangkoknya ke atas meja di sampingnya. Hingga kemudian ia tersentak kaget ketika tangan Dewa menyentuh dagunya, dan ibu jarinya mengusap ujung bibirnya.
“Belepotan nih makannya,” ucap Dewa seraya mengusap ujung bibir Mimin dengan ibu jarinya.
Perlakuan Dewa ini membuat Mimin merasakan getaran aneh dalam hatinya. Membuatnya tertunduk tersipu. Hingga di detik selanjutnya ia memberanikan diri mengangkat wajahnya. Dan menatap Dewa yang sedang tersenyum menatapnya.
Detik pertama Dewa mencondongkan wajahnya. Detik kedua ia mendekatkan wajahnya. Detik ketiga semakin mendekat. Detik keempat semakin mendekat lagi. Detik kelima jarak mereka semakin terkikis... Hingga....
“Permisi, paket!” Suara seseorang yang pastinya adalah kurir menggagalkan aksi yang hampir saja mereka lakukan.
Keduanya yang telah berjarak sangat dekat sontak saling menjauh. Dengan wajah yang masih memerah karena malu, Mimin bangun lalu berjalan menghampiri kurir yang ada di teras depan. Begitu pula dengan Dewa, ia membuang nafas kekecewaan lalu bangun dan berjalan mengekori Mimin.
“Iya Mas,” sahut Mimin.
“Ini kediaman Jasmina Zahra, betul?” tanya kurir itu.
“Betul.”
“Saya dari Dinda Florist, Mba. Saya mau mengantarkan ini,” sahut kurir yang membawa sebuah buket bunga.
Mimin menatap heran, sebab ia belum pernah mendapatkan paket buket bunga sebelumnya. Ini adalah pertama baginya.
“Ini Mba tolong diterima,” ujar kurir itu.
“Dari siapa Mas?”
“Saya kurang tahu. Diterima saja dulu. Biasanya ada kartu ucapannya, dan ada nama pengirimnya,” terang si kurir.
Mau tidak mau Mimin menerima buket bunga itu, untuk mempermudah pekerjaan kurir dan tak mau mempersulit pekerjaannya.
“Terima kasih ya Mas,” ucap Mimin sesaat setelah menerima buket bunga itu.
“Maaf, minta tanda terimanya Mba.” Kurir itu menyodorkan sebuah nota kecil beserta bolpoint dan mengarahkan Mimin untuk menandatanganinya.
“Terima kasih Mba,” ucap kurir itu usai Mimin memberikan tanda tangannya.
"Iya, sama-sama."
“Saya Permisi, Mba.”
“Iya, Mas. Makasih banyak.”
Mimin yang sangat menyukai bunga tersenyum takjub memandangi buket bunga mawar merah nan cantik itu.
“Ehem... Bunga dari siapa?” tanya Dewa dengan sorot mata tak suka. Karena biasanya yang mengirim bunga kepada seorang wanita pastilah pria, bukan. Tentu, hal itu membuatnya tak nyaman.
“Enggak tahu nih.” Mimin mengambil sebuah kartu nama yang ada di tangkai bunga itu lalu membacanya.
Dari: Seseorang yang selalu mencintaimu.
.
.
.
__ADS_1
.