Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Semakin Cantik Kekasihmu Semakin Tidak Tenang Hatimu.


__ADS_3

Dewa menatap Fahri. "Terima kasih Fahri. Aku akan berusaha untuk membahagiakannya. Insyaallah."


Lalu kedua sahabat itu saling berpelukan, bertepatan dengan Sol dan Opi yang masuk ke rumah.


“Ih... Ka Dewa dan Ka Fahri ko berpelukan?” kata Opi sambil menatap heran keduanya.


“Kami ini bersahabat loh... bersahabat erat,”  jawab Dewa sambil mengaitkan dua telunjuknya, membuat simbol eratnya persahabatan mereka.


“Oya Fahri... Kenalkan ini Sol, sahabat senasib seperjuangan. Sol ini Fahri.”


Fahri tersenyum dan mengangguk menyapa Sol. "Assalamualaikum," ucapnya seraya mengulurkan tangan.


“Waalaikum salam... Ini mah gue juga tahu. Ustaz Fahri kan?" Sol menyambut hangat uluran tangan Fahri.


"Sebelum lo insyaf gue sering ketemu beliau di masjid,” ujar Sol kepada Dewa.


"Ko bisa sih lo bersahabat sama Ustaz Fahri?" tanya Sol penasaran.


"Gue kan dulu sama Fahri mondok bareng."


"Apa??" Sol terkaget-kaget mendengar pengakuan Dewa.


"Hah??" Begitu pula Opi juga terkaget-kaget hingga bola matanya bulat membola dan hampir keluar dari tempatnya.


"Udah... Udah... Kenapa pada kaget gitu sih denger gue ini mantan anak santri," seloroh Dewa.


"Ka Fahri... sini Opi obatin lukanya Ka," ujar Opi yang kini sudah duduk di dekat Fahri.


"Ja-jangan Opi! Bi-biar Ka Fahri aja sendiri yang obati lukanya," tolak Fahri.


Sebab jika Opi mengobati lukanya otomatis ia akan bersentuhan dengan Opi, bukan? Dan wajah mereka akan saling berdekatan, bukan?


Dan ia tak mau mengulang kembali hadirnya senyar-senyar aneh yang melanda seperti saat malam ia menyelamatkan Opi beberapa hari yang lalu. Yang membuat tubuhnya bergetar-getar, dadanya berdebar-debar, jantungnya berdegup-degup, dan darahnya berdesir-desir. Sumpah demi apa dan ini rahasia ya, jangan bilang siapa-siapa. Setelah pulang mengantar Opi itu ia tak bisa tidur semalaman.


Rasa aneh itu sangat menyengat sekujur tubuhnya membuat ia pusing tujuh keliling semalaman. Astagfirullahal adzim.


"Oh iya..." Celetukan Opi membuyarkan lamunan Fahri tentang malam yang aneh itu.


"Kita kan bukan mahram ya... astagfirullah," sambung Opi dengan meletakkan tangan kanannya di dada.


"Udah sini... gue aja yang ngobatin Fahri," kata Dewa. Ia mengulurkan tangannya meminta obat yang dibawa Opi. "Sini... mana obatnya?".


Opi menyerahkan sesuatu yang dia ambil dari kotak P3K di rumahnya. "Nih," ucapnya pada Dewa.


Dewa menerima sesuatu yang diberikan Opi tanpa melihatnya lagi. Lalu ia membuka penutup sesuatu yang menurut perkiraannya adalah salep. Ketika ia membuka penutup itu, aroma khas nenek-nenek menguar di sekitar mereka. Seketika Dewa mengalihkan pandangannya ke sesuatu yang ia pegang.


"Masya Allah Opi... ini mah balsem!" geram Dewa. Matanya tertuju pada sebuah benda dengan tutup berwarna hijau dan bertuliskan 'Balsem Cap Elang'.


"Loh... Memangnya kalau balsem kenapa?" tanya Opi dengan polosnya.


"Jadi... maksud lo luka lebam Fahri mau dikasih balsem gitu?!"


"Loh... Memangnya ga bisa gitu?!"


"Ga bisa lah!" gerutu Dewa.


"Macam-macam lo mah Pi. Perih lah pake balsem mah. Perihnya tuh seperti diputusin pacar pas lagi sayang-sayangnya. Wkwkwkwk." Sol turut berkomentar.


"Tapi Abah suka pake itu soalnya," tutur Opi.


"Tapi Abah kan ga pernah ditonjok sama... siapa tadi namanya." Dewa menjeda ucapannya sejenak untuk berpikir. "Payus... iya Payus. Abah kan ga pernah ditonjok sama si Payus," sambungnya.


"Eh... Iya juga sih." Opi menggaruk kepalanya.


"Pi jadi orang itu pinter dikit kenapa," celetuk Sol yang sukses membuat Opi sewot.

__ADS_1


"Apa sih Sol sepatu... kayak lo pinter aja. Gue ini pinter tau... sekolah di SMA favorit dan selalu  masuk ranking sepuluh besar lagi," sewot Opi


"Coba buktikan kalau lo pinter!" celetuk Sol.


"Nih kalau lo bisa jawab pertanyaan gue... berarti lo lebih pinter dari gue. Dengerin nih soalnya... Diketahui sebuah bola menggelinding dengan kecepatan 50 centi meter per detik . Jika bola bergerak selama 12 detik berarti jarak yang dilewati bola adalah sepanjang? Ayo jawab!" titah Opi.


"Sepanjang perjalanan cintaku yang tak bertepi," seloroh Sol.


"Lagian kurang kerjaan banget, ngapain dihitung sih... tendang aja bolanya," sambung Sol.


Dewa dan Fahri hanya senyum-senyum menyimak obrolan Opi dan Sol.


"Udah Pi sana cepetan ambil obat buat Fahri. Kasihan nih Fahri," titah Dewa.


"Asiyaap," jawab Opi. Lalu mengayun cepat langkahnya menuju rumah.


Beberapa menit kemudian, Opi datang kembali dengan membawa sebongkah es batu dalam kantong plastik putih ukuran seperempat.


“Opi lihat di gugel pertolongan pertama untuk luka memar itu pake ini,” katanya seraya menunjukkan es batu yang ditentengnya.


Jiwa jahil Opi timbul ketika berjalan melewati Sol. Ia menempelkan bongkahan es batu di lengan Sol.


“Awwwww... panas panas!” Sol memekik histeris.


“Kok panas sih?! Dingin Solihun!” balas Opi.


“Lo lihat aja itu kan ada kebulnya. Yang ada kebul berarti panas,” seloroh Sol.


“Udah buruan bawa sini es nya! Becanda aja kalian nih. Gue jodohin nih kalian berdua!” ancam Dewa.


“Mau...!“ kata Sol.


“Gak mau...!” kata Opi. Lalu meninju lengan Sol.


“Awwwww... Iya gue juga ga mau dijodohin sama lo! Gue bakal kena KDRT nanti kalau sama lo!”


Kemudian Dewa mengobati luka lebam Fahri, memberikan pertolongan pertama dengan mengompres memakai batu es. Setelahnya, ia mengantar Fahri pulang ke rumahnya.


"Serius, antum ga mau berobat?" tanya Dewa setelah sampai di rumah Fahri.


"Enggak usah lah... besok juga sembuh... insyaallah," jawab Fahri.


"Maaf yah Sob... gara-gara aku, antum kena tinju pria itu," sesal Dewa.


"Kenapa antum malah minta maaf. Ana justru yang mau minta maaf, Yan," ujar Fahri.


"Minta maaf kenapa?" tanya Dewa bingung. Rasanya Fahri belum pernah melakukan suatu kesalahan pun kepadanya. Lalu kenapa Fahri minta maaf. Begitu yang ada di pikiran Dewa.


"Ana minta maaf Yan. Tadi siang ana ke kantor Mimin dan membelikan gado-gado untuknya," tutur Fahri dengan jujur. Bagaimanapun ia merasa bersalah atas perbuatannya tadi siang, yang membelikan makan untuk wanita yang sudah menjadi istri orang lain.


"Semoga antum ridho dengan apa yang ana lakukan dan meridhoi gado-gado pemberian ana yang sudah dimakan Mimin," sambungnya.


"Ana janji itu adalah yang pertama dan yang terakhir. Insyaallah," pungkasnya.


"Oh... tentang gado-gado itu." Dewa menjeda ucapannya sejenak. "Insyaallah aku ridho dan ikhlas Sob," ujarnya kemudian dengan tersenyum. Fahri membalas dengan tersenyum kembali.


 


*****


Keesokan paginya.


Matahari mulai beranjak naik. Penampilan Dewa sudah keren dengan celana jeans biru andalannya dipadukan kaos oblong warna hitam dan sepatu sneakers. Meski dengan tampilan sederhana, Dewa sudah pasti kelihatan keren. "Kalau udah keren mau pakai baju apa pun tetap keren, kalau udah cantik mau pakai baju apa pun tetap cantik". Sepertinya petikan kalimat yang tak terasa asing karena sering berseliweran di telinga itu memang benar adanya. (sering berseliweran di telinga authornya. Jawaban andalan Pak su kalau aku tanya "Aku pakai baju yang mana ya?"😁😁)


Dewa duduk santai di kursi teras rumah Haji Zaenudin. Kaki kanannya dilipat dan ditumpangkan di atas kaki kiri. Sementara tubuhnya agak menggeloyor ke belakang bersandar di sandaran hati... eh kursi. Ia sedang Menunggu Mimin.

__ADS_1


Tak berselang lama, si Sandaran Hati yang ditunggunya pun keluar. Sama seperti Dewa, Mimin pun tampil sederhana dengan blus lengan panjang warna merah marun dipadukan dengan rok plisket warna hitam, serta kerudung dengan warna senada bajunya. Tak lupa memoles tipis wajah cantiknya dengan bedak dan lip tint. Hingga membuatnya terlihat sempurna.


"Assalamualaikum, selamat pagi kekasih halal," sapa Dewa begitu Mimin membuka pintu.


"Wa-waalaikum salam," jawab Mimin tergagap sebab terlonjak kaget mendapati Dewa sudah duduk di teras rumahnya.


"Kita berangkat sekarang," ujar Dewa dengan melemparkan senyum penuh pesona.


Mimin menjawab dengan menganggukkan kepalanya tanpa terucap sepatah kata.


"Berangkat...!!" seru Dewa dengan ekspresi lucu.


Mimin tersenyum melihat ekspresi Dewa, namun sayang senyumnya hanya di dalam hati.


Motor pun melaju setelah Dewa dan Mimin duduk nyaman di atas jok motornya. Tak lupa membaca basmalah lalu menatap wajah cantik Mimin dari kaca spion. Pagi yang indah. Batinnya.


Sama seperti kemarin, Mimin menitahkan Dewa untuk menghentikan motornya di seberang kantor bahkan kini lebih jauh lagi. Hingga tak memungkinkan keberadaannya bersama Dewa akan dipergoki oleh teman-teman kantornya.


Dewa menghela nafas kecewa. Kecewa dengan keputusan Mimin yang seolah tak ingin mempublikasikan dirinya di depan teman-teman kantornya. Apa dia malu punya suami gue ya. Masa iya malu. Gue kan gantengnya kebangetan. Gumam Dewa dalam hati. ("Hemm... Padahal itu trik authornya biar Dewa ga segera bertemu Deka," kata Author sambil melipat tangan di dada.)


"Mina... nanti siang aku ke kantor kamu ya. Aku mau bawakan makan siang untuk kamu. Kamu mau dibawakan apa? Nasi padang, ketoprak, gado-gado atau ku..." 


"Tidak usah... terima kasih," ucap Mimin memotong perkataan Dewa. Lalu menyerahkan helm yang baru dilepas dari kepalanya kepada Dewa. Kemudian segera berlalu meninggalkan Dewa.


"Jadi... Kalau Fahri yang bawakan gado-gado boleh ya. Terus kalau suami kamu yang mau bawakan makan siang, kamu nolak!” seru Dewa ketika Mimin sudah melangkahkan kaki.


Seruan Dewa menghentikan langkah Mimin. Lalu ia berbalik badan dan kembali kepada Dewa yang masih duduk di atas motor.


“Ma-maafkan aku soal gado-gado itu. A-aku udah minta izin kamu sebelum memakannya,” ujar Mimin terbata. Sungguh ia jadi merasa bersalah karena ucapan Dewa barusan.


“Mohon kamu ridho dan ikhlas ya dengan gado-gado yang sudah aku makan itu,” sambung Mimin.


“Hemmm....”


Mimin menatap lekat Dewa. “Nanti siang kita makan siang bareng yuk...! A-apa kamu bisa?”


Dewa membelalakan matanya. “Beneran, kamu mau makan siang sama aku?!”


Mimin tersenyum. “Tentu saja... aku kan istrimu.”


“Yes...!!” Dewa bersorak kegirangan. “Pasti bisa... dengan senang hati kekasih halalku,” ujarnya.


“Nanti jam istirahat kita ketemuan di sini lagi,” ujar Mimin. Lalu segera berlalu meninggalkan Dewa karena khawatir terlambat masuk kantor.


Dewa tersenyum menatap Mimin dari kaca spion lalu bergumam. “Sesungguhnya semakin cantik kekasihmu, semakin tidak tenang hatimu.”


.


.


.


Etdah buset... bab ini judulnya panjang banget ya. Bingung geh mau dibikin judul apa. 😂😂


Kapan dong Mimin bucin SAMA Dewa. Nikmati dulu prosesnya ya. Setiap kejadian adalah proses menuju bucinnya Teh Mimin.


Aku mau cerita sedikit boleh? Kalau ga boleh juga aku akan tetep cerita, Debora! Hahahaha... (Debora itu pengganti julukan Maemunah, Bambaaang, atau Ferguso. Hihihihihi...)


Jadi ceritanya begini. Setelah novel pertamaku tamat, aku tuh tadinya mau bikin cerita cinta Rahma adiknya Rizal. Aku bahkan udah dibuatin covernya. Menceritakan tentang Rahma yang berjodoh dengan Diev. Kalau yang udah baca Suami Bayaran, inget kan Diev itu siapa? Diev itu kakak tirinya Diah.


Tapi aku belum pas sama konfliknya. Hingga akhirnya putar haluan dan imajinasiku tiba-tiba nemplok ke Haji Zaenudin. Nama yang muncul di novel Suami Bayaran, meski tak berperan di cerita itu. Dan akhirnya muncul lah Mimin dan Dewa.


Udah sih aku mau cerita itu aja. Ga penting ya?! 🙄🙄.


Btw makasih banyak karena sudah menunggu up GBM. Aku terhura eh terharu loh baca komen sahabat readers semuanya.

__ADS_1


Love U. 😘😘😘


__ADS_2