Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Gue Suaminya


__ADS_3

Matahari sore menyesapkan kehangatannya. Dewa baru selesai mandi lalu salat Asar. Ia membuka ponselnya. Ada pesan WA dari Fahri.


Fahri : Ana nanti ke situ ya?


Dewa membalas pesan itu.


Dewa: Aku tunggu sob... mari kita ngopi.


Kembali Fahri membalas pesan itu.


Fahri : Siap. Segera meluncur.


Dewa : Ok. Aku menunggumu.


Usia berbalas pesan dengan Fahri, Ia membuka pintu rumahnya untuk sekedar menghirup udara yang segar. Menatap cantiknya bunga-bunga yang bermekaran indah. Kemudian pandangannya beralih ke arah suara kresek-kresek di atas pohon jambu. Dilihatnya Opi sedang nangkring di atas pohon jambu.


Omegos adik manisku. Kamu luar biasa. Gumamnnya sambil geleng-geleng kepala.


“Opi...!” seru Dewa ketika melihat Opi baru turun dari pohon jambu usai memetik beberapa buah jambu yang merona merah menggoda.


“Apa? Lo mau ini?” kata Opi seraya mengulurkan tangannya yang menggenggam beberapa buah jambu.


“Boleh,” jawab Dewa.


“Nih tangkap!” Opi memberikan tiga buah jambu dengan melemparnya satu per satu.


Dengan sigap Dewa berhasil menangkap sempurna jambu yang dilemparkan Opi. “Yes!!” seru Dewa girang karena tangkapannya jitu.


Kemudian Opi duduk di kursi teras rumahnya sambil mengunyah jambu. Dewa ikut duduk di kursi lainnya menemani Opi.


“Sebentar yah Pi,” ujar Dewa karena teringat sesuatu. Ia meletakkan jambu di meja teras. Lalu beranjak menuju kontrakannya.


Tak berselang lama, Dewa keluar dengan membawa sebuah gitar kesayangannya.


“Pi... Gitar ini buat lo!” kata Dewa.


“Hah... Serius lo!” sahut Opi dengan mulut ternganga dan mata melotot.


“Serius dong! Sepuluh rius malah,” ucapnya seraya melemparkan senyum.


“Tapi ini kan gitar kesayangan lo! Ada tanda tangan si Billie Joe Amstrong,” ucap Opi seraya mengambil gitar dari tangan Dewa.


“Lo kan waktu itu pernah bilang... kalau gitar ini sangat berharga... enggak bisa kebeli dengan apapun,” sambungnya. Sedangkan matanya   berbinar menatap gitar.


“Kan gue juga pernah bilang... kalau gitar ini sangat berharga dan ga akan pernah gue lepas untuk siapa pun kecuali kalau gue bisa mendapatkan yang lebih berharga dari gitar ini. Dan sekarang... gue udah mendapatkan yang lebih berharga dari gitar ini,” tutur Dewa.


“Oya? Apa hal yang lebih berharga dari gitar ini,” selidik Opi penasaran.


“Karena gue bahagia bisa menikah dengan teteh lo. Teteh lo lebih berharga dari gitar ini kan.”


Opi tersenyum lalu tertawa kecil. “Yakin lo udah bahagia. Lo kan baru nikah doang.” Ia menjeda ucapannya sejenak lalu berbisik, “Nikah doang... kawinnya belum... Hahahaha....” Ia tergelak.


Dewa ikut tergelak "Hahahaha..." lalu meringis menatap adik iparnya itu.

__ADS_1


“Makanya sebagai adik yang baik lo bantuin gue biar gue bisa menaklukan hati teteh lo, biar teteh lo klepek klepek sama gue dan... “ Dewa menjeda ucapannya lalu berbisik seperti yang dilakukan Opi tadi. “Dan... bisa cepetan kawin sama Teteh lo... Hihihihihi... “


Opi menyorongkan bibir bawah ke depan. “Wani piro,” guraunya.


“Opi....!!” seru Mami dari dalam rumah.


“Iya Mih...!!” sahut Opi. Lalu beringsut bangun dari tempat duduk. “Btw... Makasih ya gitarnya, Kakak ipar,” ucapnya sebelum berlalu meninggalkan Dewa dan tak lupa membawa gitar pemberian Dewa.


“Sama-sama, Adik ipar,” balas Dewa.


Dewa hendak masuk kembali ke kontrakannya ketika sebuah motor berhenti tepat di depan halaman kontrakan. Ia membalikkan tubuhnya lalu tersenyum ketika mendapati Fahri yang turun dari motor.


“Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh ya Akhi,” sapa Fahri lalu menyalami Dewa.


“Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh sahabat,” balas Dewa. Mereka bersalaman dan berpelukan.


“Ana ganggu ga nih?” tanya Fahri.


“Ya enggak lah... malah seneng,” jawab Dewa.


“Aku buatin kopi dulu ya... biar lebih enak ngobrolnya,” kata Dewa.


“Enggak usah repot-repot Yan.”


“Enggak repot kok, cuma kopi doang. Oya mau kopi item atau yang enggak item,” tawar Dewa.


Fahri terkekeh mendengar tawaran Dewa. “Yang enggak item boleh... Hehehe.”


“Mantap!” seru Dewa sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


Sepeninggalnya Dewa, Fahri memilih duduk di atas ubin teras kontrakan Dewa. Karena memang tak ada pilihan lain juga, tak ada kursi untuk tempat duduk.


Sesekali Fahri melirik ke rumah Mimin. Kemudian beralih melirik arloji di tangan kirinya. Waktu menunjukkan saatnya Mimin pulang kerja. Mimin udah pulang belum ya?” tanya hati Fahri.


Selain ingin mengunjungi Dewa, sebenarnya ada hal lain yang menjadi tujuan Fahri berkunjung ke kontrakan Dewa di waktu sore seperti ini. Yaitu karena rasa penasaran ingin mengetahui sosok suami Mimin. Di jam pulang kerja seperti ini, kemungkinan Mimin akan pulang dijemput suaminya, bukan.


Tak berselang lama, Dewa datang dengan membawa dua gelas kopi instan rasa moca.


“Kopi... Kopi... Kopi...”


“Masya Allah Yan... Alhamdulillah... karena silaturahim, ana jadi dapet rezeki secangkir kopi nih.”


“Sepahit-pahitnya kopi lebih pahit lagi kalau tak ada kopi,” seloroh Dewa.


“Hahahaha... “ Fahri tertawa.


“Seharian belum ngopi nih, pantesan gue gak bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil,” seloroh Dewa lagi.


“Hahahaha... “ Fahri tertawa lagi.


“Makanya ngopi dulu sob biar terhindar dari golongan orang orang yang merugi." Jiwa konyol Dewa tetap hadir seperti saat dulu. Meski Fahri, sahabatnya itu kini menjadi seorang ustaz. Uztaz juga manusia kan punya rasa punya hati sama dengan dirinya.


“Hahahaha... Antum dari dulu ga berubah... suka ngebodor,” ujar Fahri.

__ADS_1


“Kalau hidup antum terasa pahit... tandanya antum kalau ngopi kurang gula," kelakar Dewa.


“Hahahaha... “ Fahri tergelak kembali kemudian berucap,”Jadi ngiri sama kopi, pahit aja banyak yang suka.”


“Hahahaha....” Kali ini Dewa yang tertawa tergelak. “Yeeay... Ustaz Fahri bisa ngelucu,” selorohnya.


Saat Dewa dan Fahri mengobrol santai sambil ngopi, sebuah motor berhenti di depan halaman rumah Haji Zaenudin. Dan keduanya melihat Mimin turun dari motor lalu berjalan dengan tergesa setelah membayar ongkos ojeknya.


Sementara di belakangnya, mobil yang dikendarai Yusril juga berhenti.


Mimin sempat menghentikan langkahnya sejenak dan menatap kedua pria yang sedang duduk santai sambil ngopi.


“Assalamualaikum, Min,” sapa Fahri.


“Waalaikum salam,” jawab Mimin. Lalu segera mengayun cepat langkahnya menuju rumah.


“Yas... Tunggu!!” seru Yusril sambil berlari kecil mengejar Mimin.


Sebelum Mimin berhasil membuka pintu, Yusril telah sampai di dekat Mimin. Lalu menarik tangan Mimin.


“Lepasin tanganku, Yus!!” hardik Mimin sembari berusaha melepaskan tangan kokoh yang menarik kuat tangannya.


“Hey lepasin tangan lo!!” Dewa yang melihat drama antara Mimin dan Yusril menjadi geram dan terpancing emosi.


Yusril menoleh ke arah Dewa. Mimin menggunakan kesempatan ini untuk melepaskan tangannya dari genggaman Yusril.


“Siapa lo! Jangan ikut campur urusan gue!” seru Yusril.


“Harusnya gue yang nanya, lo siapa?!” balas Dewa berapi-api.


“Gue Yusril... calon suami Yasmin.”


Dewa menyorongkan bibirnya ke depan. “Cih... Lo ngaku calon suami Mimin. Dan lo tau siapa gue?”


“Ih ga penting banget gue harus tahu siapa lo!”


“Penting lah! Gue Syadewa Argian yang tampan menawan, ganteng mempesona, cetar membahana suaminya Jasmina Zahra binti Haji Zaenudin.”


“Apa???” Yusril tercengang sampai matanya terbelalak.


Sementara beberapa langkah di belakang mereka. Ada seseorang yang turut tersentak terkaget-kaget mendengar pernyataan Dewa. Dia lah Fahri.


 .


.


.


.


Pada kecele semua ya gegara balasan pesan Dewa tentang gado-gado.


Dewa kan emang konyol, udah gitu ganteng lagi, tampan memesona lagi, jago main gitar lagi, jago nyanyi lagi, kalo jadi muazin suaranya merdu lagi, alumni santri lagi. Ih gimana aku ga naksir sama Dewa coba.

__ADS_1


Bang Dewa sekali-kali Mampir ya ke rumahku temenin suamiku ngopi. Kopinya jangan kasih gula ya, cukup liatin aku aja... Eh liatin Teh Mimin maksudnya. Yang cantik manis badai mempesona cetar membahana, maju mundur cantik... cantik...


__ADS_2