
“Papa...?!”
Pak Satya turun dari mobil mewah miliknya. Lalu mengayun langkahnya masuk ke halaman rumah Haji Zaenudin.
Dengan langkah gegas Dewa menghampiri papahnya. "Pah...!"
Dewa melongokkan kepalanya mengamati mobil yang ditumpangi Pak Satya dari tempatnya berdiri.
"Mama mana?" tanyanya.
"Ga ikut," sahut Pak Satya datar saja.
"Papa ke sini sendiri?"
"Iya."
"Papa mau apa ke sini?" Dewa memasang badan di hadapan papahnya bertujuan untuk menghalangi papahnya.
"Bukan urusan kamu! Minggir!" Pak Satya berusaha menyingkirkan tubuh Dewa dengan sedikit mendorongnya.
"Papa ga bisa begitul" Dewa kembali menghalau papahnya.
"Jangan bikin keributan di sini lagi, Pah. Please!" mohon Dewa.
"Diem kamu! Papah mau ketemu sama Bu Haji dan Pak Haji," sahut Pak Satya yang tak menggubris halauan dari Dewa. Dengan raut wajah tegas dan langkah tegap terus mendesak maju menuju pintu utama rumah Haji Zaenudin.
"Pah... Jangan!" seru Dewa seraya memegangi tangan papahnya yang hendak mengetuk pintu.
"Udah pulang sana! Ini urusan Papa!" Pak Satya menyingkirkan tangan Dewa.
Tok... Tok... Tok...
Tiga kali ketukan belum ada tanda-tanda seseorang hendak membuka pintu. Sementara Dewa merasa cemas dengan kedatangan papahnya. Batinnya masih bertanya-tanya tentang maksud tujuan kedatangan papahnya ke tempat ini.
Tok... Tok... Tok...
Pak Satya kembali mengetuk pintu.
"Pah, kalau bertamu ke rumah orang itu ucapkan salam," tegur Dewa.
Tok... Tok... Tok...
"Salam...!" seru Pak Satya. Ia malah mengucap 'salam' karena mengikuti anjuran Dewa.
"Ck...." Dewa berdecak. "Bukan begitu, Pah. Maksudnya, Papa mengucap assalamualaikum," jelasnya.
"Oh, begitu. Kenapa kamu gak bilang dari tadi!" kilah Pak Satya.
Astagfirullah. Papa ini muslim bukan sih. Harus dicek nih KTP-nya jangan-jangan malah Atheis, ke Masjid ga pernah, ke Gereja ga pernah. Apalagi Wihara, Pura dan Kelenteng pasti sekedar lewat pun ga pernah. Batin Dewa bergumam.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum." Pak Satya kali ini mengucap salam dengan benar.
"Papa mau apa sih? Udah mending Papa ke kontrakan Dewa aja deh, daripada bikin urusan semakin runyam." Dewa menarik lengan papahnya agar mengikutinya.
__ADS_1
"Apaaan sih. Kamu pulang aja sana! Papa ada urusan sama Pak Haji!"
"Jangan, Pah. Udah sini ikut Dewa aja!"
Ayah dan anak itu tengah bersikeras saling menarik tangan ketika kemudian Abah membuka pintu rumahnya.
"Waalaikum salam. Ada apa ini?!" seru Abah.
Dewa dan Pak Satya sontak menghentikan drama perseteruannya.
"Pak Haji, saya ada perlu dengan Pak Haji dan Bu Haji," sahut Pak Satya.
"Pah, jangan! Dewa mohon, jangan buat kekisruhan di sini!" seru Dewa.
"Udah kamu ga usah ikutan! Ini urusan orang tua!" tegas Pak Satya.
"Mari, silakan masuk. Kita bicara di dalam saja," sahut Abah.
Pak Satya masuk ke dalam rumah. Dewa yang mencemaskan kedatangan papahnya memutuskan untuk ikut menemani papahnya. Sebab khawatir papahnya akan membuat onar di rumah Abah seperti tempo hari.
Pak Satya telah duduk di sofa dan Dewa duduk di sampingnya. Sementara segaris di hadapan mereka sudah ada Abah dan Mami yang juga sudah duduk dengan raut wajah yang bertentangan. Abah dengan raut keramahan dan Mami dengan raut dingin.
Sebelum membuka obrolan, Pak Satya terlebih dahulu berdehem. "Ehem."
"Begini Pak Haji Bu Haji. Saya ini orangnya ga suka basa-basi. Walaupun katanya basa-basi itu sebenarnya adalah sopan santun atau tata krama dalam berinteraksi antar manusia. Kalau istilah kerennya good manners. Tapi saya ga bisa yang namanya basa-basi. Saya orangnya lebih suka to the point aja. Tanpa embel basa-basi agar lebih efektif dan efisien.
Memang sih di negara kita budaya basa-basi ini sangat kental diterapkan di kehidupan sehari-hari. Malah kalau enggak basa-basi terkadang kita dianggap enggak sopan. Tapi saya sendiri termasuk orang yang ga suka basa basi. Sejauh ini belum ada tuh yang bilang kalau saya ga sopan. Jadi menurut saya basa-basi itu.... "
"Ehem...." Dewa, Abah dan Mami kompak berdehem sehingga berhasil menghentikan penuturan unfaedah dari Pak Satya.
"Ehem...." Pak Satya berdehem.
"Saya pernah mendengar bahwa Tuhan itu Maha Pemaaf. Apalagi manusia sudah sepatutnya juga mau memberi maaf. Betul begitu Pak Haji?" Pak Satya melemparkan pandangannya pada Abah.
"Betul sekali, Pak Satya," sahut Abah.
"Maka dari itu, saya papahnya Dewa sengaja meluangkan waktu dari kesibukan pekerjaan saya. Malam-malam begini datang ke sini, bermaksud untuk meminta maaf atas sikap saya tempo hari. Dan bermaksud untuk melamar putri Pak Haji dan Bu Haji yang bernama ... sebentar...."
Pak Satya merogoh saku bajunya mengambil sebuah kertas lalu membacanya."Jasmina Zahra putrinya Haji Zaenudin," lanjutnya.
Sebelum berngkat ke rumah Abah, Pak Satya bertanya pada Deka perihal nama istrinya Dewa dan mertuanya lalu mencatatnya di sebuah kertas.
Dewa memalingkan wajahnya menatap Pak Satya yang duduk di sampingnya. Ia terkesiap atas ucapan papahnya barusan.
"Saya mohon terimalah putra saya Dewa menjadi menantu Pak Haji dan Bu Haji."
"Papa...." lirih Dewa tanpa melepaskan tatapan berbinar pada papahnya.
"Ini sungguhan, Pak Satya?!" tukas Mami ragu.
"Sungguh, Bu Haji. Dari lubuk hati yang paling dalam saya memohon maaf atas sikap arogan saya kemarin. Dan saya mohon terimalah lamaran kami," sahut Pak Satya.
"Alhamdulillah," ucap Abah. Lalu menoleh ke arah istrinya. "Jadi, gimana Mih?" tanyanya.
"Mami sih setuju saja. Yang penting putra putri kita saling mencintai. Dan yang juga penting adalah dukungan orang tua."
__ADS_1
"Alhamdulillah," ucap Abah dan Dewa kompak.
*****
"Pah, makasih ya," ucap Dewa ketika ia dan papahnya telah keluar dari rumah Haji Zaenudin.
"Hemmm." Pak Satya menanggapi ucapan Dewa dengan ber-hemmm.
"Terima kasih karena sudah jauh-jauh datang ke sini dan melamar Mina untuk Dewa," ujar Dewa menatap papahnya dengan tatapan haru.
"Hemmm." Pak Satya justru tampak biasa saja tak ada haru-harunya.
"Papa baik-baik aja 'kan?" Dewa memandang papahnya dari atas ke bawah dan dari bawah lalu ke atas lagi.
"Kamu lihat sendiri aja, Papa gimana," sahut Pak Satya.
"Soalnya Dewa inget waktu Eyang mau meninggal, sehari sebelumnya minta makan jengkol padahal Eyang ga doyan jengkol."
"Maksud kamu, Papa mau mati gitu?! Anak sialan!"
"Hehehehe... Enggak, Pah. Peace." Dewa mengangkat dua jarinya membentuk huruf V. Karena sempat terbesit pikiran aneh tentang perubahan sikap papahnya yang mendadak.
"Sekali lagi terima kasih banyak ya, Pah. Dewa bangga sama Papa." Dewa menghambur memeluk papahnya.
Selama beberapa saat ayah dan anak itu berpelukan dalam haru. Mata Dewa sampai berkaca-kaca ketika memeluk papahnya. Hal yang baru pertama kali dilakukan sepanjang hidupnya.
"Papa mau nginep di kontrakan Dewa?" tawar Dewa setelah melepas pelukannya.
"Papa jadi pengen lihat kontrakan kamu." Pak Satya mengayun langkahnya menuju kontrakan Dewa.
"Hebat kamu betah tinggal di tempat seperti ini," seloroh Pak Satya seraya pandangannya mengitari seisi kontrakan.
"Betah lah, Pah. Jangankan di tempat ini, tinggal di kandang kambing pun akan betah-betah aja asalkan berdua sama Mina."
"Dasar bodoh!" Pak Satya menoyor kepala Dewa. "Tinggal di kandang kambing kok dipengenin. Cinta itu indah. Tapi cinta itu enggak gila!" cerca Pak Satya.
Dewa tertawa menanggapi cercaan papahnya.
"Papa sih ga bakal betah tinggal di tempat seperti ini."
"Iya iya deh. Jadi, papa mau pulang aja?"
"Iya lah. Kalaupun nginep juga mending Papa nginep di hotel."
"Kalau gitu biar Dewa anter. Dewa bakal jadi supir Papa malam ini," pungkas Dewa.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Terima kasih atas dukungannya. ❤️❤️❤️❤️