
Mimin dengan ditemani Dewa singgah ke toko perlengkapan bayi, mereka hendak membeli kado untuk bayinya Hana. Kemarin Mimin mendapatkan kabar bahwa Hana telah melahirkan seorang bayi perempuan.
"Aku tuh paling seneng dan semangat kalau belanja perlengkapan bayi kayak begini," ujar Mimin sembari melihat-lihat barang-barang perlengkapan bayi yang ada di toko tersebut.
Hati Dewa trenyuh mendengar pernyataan Mimin. Dalam hati ia berdoa semoga Allah segera mengabulkan doa-doa mereka. Meskipun baginya dua tahun bukanlah waktu yang terhitung lama untuk menunggu mendapatkan buah hati. Namun, keresahan Mimin sungguh menjadi beban pikirannya.
"A...!" seru Mimin ketika melihat suaminya itu diam termenung.
"Ya. Kenapa Neng?" sahut Dewa agak gelagapan.
"Kenapa melamun?" cecar Mimin.
"Bukan melamun. Hanya sedang berdoa, semoga Allah mengabulkan setiap harapan dan keinginanmu," sahut Dewa.
"Semoga besok-besok kalau kita ke sini lagi, kita bisa belanja ini semua untuk anak kita, bukan untuk anak orang," lanjutnya.
Mimin tertegun mendengar jawaban Dewa. Terselip rasa bersalah dalam hatinya. Mengapa ia seolah kufur akan nikmat-Nya. Selalu mengeluh dan mengeluh. Bukankah sejauh ini suami, orang tua, dan mertuanya tak menuntut soal anak. Lalu mengapa ia selalu meresahkan soal anak.
"Jadi, yang mana yang mau dibeli untuk menengok Hana?" Pertanyaan Dewa membuyarkan lamunan Mimin.
"Yang ini lucu, ya," ujar Mimin sembari menunjukkan baju bayi perempuan berwarna merah muda, warna kesukaannya.
Dewa mengembangkan senyumnya. "Iya, lucu."
"Bagus mana A, yang ini atau yang ini?" Mimin menunjukkan dua stel baju bayi pilihannya. Tangan kanannya memegang dress bayi cantik warna merah muda dengan aksen pita. Sementara di tangan kirinya adalah gamis bayi motif bunga yang juga berwarna merah muda.
"Memangnya bayi Hana perempuan ya, Neng?" Dewa balik bertanya.
"Iya, tadi Haqi yang bilang katanya bayinya perempuan," terang Mimin.
"Jadi yang mana A? Yang ini atau yang ini?"
"Dua-duanya bagus. Dua aja sekalian," putus Dewa. Yang dibalas sebuah senyuman dari bibir ranum wanita cantik itu.
Setelah mendapat dan membayar beberapa stel baju dan perlengkapan bayi lainnya, pasangan itu keluar dari toko tersebut. Mereka berjalan keluar dengan bergandengan tangan.
"Kita langsung ke rumah sakit?" tanya Dewa.
"Enggak, nanti aja," jawab Mimin yang masih menautkan lengannya di lengan Dewa.
"Kapan nengok Hana?"
"Besok atau lusa aja biar bareng sama Rahma."
Dewa merasakan ponselnya bergetar, ia menghentikan langkah sejenak untuk meraih ponsel dari dalam tas pahanya. Ada sebuah pesan masuk dari Sol yang mengabari bahwa dirinya sudah sampai dan menunggu di rumah Abah. Mereka memang telah janjian untuk bertemu di rumah Abah sore ini..
"Aa mau ke rumah Abah. Sol udah nunggu di sana," ujar Dewa usai membaca pesan dari Sol. Ia kembali menggandeng tangan Mimin. Kali ini dengan menautkan jari-jari mereka, saling bergenggaman tangan. Mereka kembali mengayun langkah.
"Memangnya ada apa dengan Sol ?" tanya Mimin.
"Ga tau tuh si Sol, katanya urgent," sahut Dewa.
"Neng gak ikut ke rumah Abah yah A. Neng mau ke toko, mau beresin pembukuan."
"Berarti Aa ke toko dulu nganterin Neng, habis itu langsung ke rumah Abah."
__ADS_1
"Iya A salam sama Abah dan Mami, ya."
"Siap."
Dewa melepaskan genggaman tangannya ketika sampai di tempat parkir. Ia membuka pintu depan mobil untuk Mimin. Kemudian ia turut masuk lewat pintu pengemudi. Mobil berwarna putih itu adalah pemberian Deka. Dulu, Pak Satya yang membelikannya untuk Deka. Namun kini, mobil itu dihadiahkan kepada Dewa.
Setelah mereka duduk sempurna, mobil pun melaju meninggalkan deretan pusat pertokoan terkenal di kota ini.
*****
"Astagfirullah, jadi lo nyuruh gue ke sini minta diambilin mangga! Ini yang lo sebut urgent?! Kurang garam lo!" sewot Dewa ketika Sol mengutarakan tujuannya.
"Iya, Wa. Si Mida lagi ngidam jadi pengen mangga muda," terang Sol.
"Ya udah lo ambil aja sendiri, masa iya gue yang ambililin," timpal Dewa.
"Lo tau sendiri Wa, gue ga bisa manjat pohon. Manjat si Mida baru gue bisa," kelakar Sol.
"Idih najis candaan lo Sol. Ga berfaedah," tegur Dewa.
"Kalau ada Opi sih gue minta tolong Opi buat ambilin Mangga," kilah Sol.
Dewa sedang berpikir bagaimana cara mengambil mangga tanpa harus memanjat pohon ketika kemudian ponselnya berbunyi. Ada panggilan telepon dari Jejed. Ia mengusap layar ponselnya untuk menjawab panggilan telepon.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Wa, gue minta mangga muda dong buat Mila."
"Astagfirullah, ini lagi minta mangga ke sini. Kayak di Jakarta ga ada mangga aja!"
"Mila maunya mangga dari rumah Abah, Wa. Mila lagi ngidam, jadi harus diturutin. Kalau enggak, bisa ngiler anak gue nantinya."
"Ya ampun Wa. Hari gini dipaketin aja, gampang. Bisa pake JNA, JNB, JNC. Jangan lupa gratis ongkir ya!"
"Hey kalau dipaketin, pas nyampe sana mangga muda bakal beranjak jadi mangga dewasa," kelakar Dewa.
"Makanya lo ngambilnya yang rada ABG-an lah Wa."
"Astaga enggak sekalian mangga yang masih ingusan."
"Udah Wa. Pokoknya ambilin ya. Assalamualaikum."
Tut Tut Tut...
"Woy, enggak sopan belum dijawab salamnya langsung di matiin!" geram Dewa.
"Siapa Wa?" tanya Sol yang sedikit menguping obrolan Dewa tadi lewat telepon.
"Si Jejed. Minta mangga juga buat bininya," sahut Dewa.
"Wah Mida sama Mila sama-sama lagi ngidam kayaknya. Mina lagi ngidam juga ga Wa?"
"Udah Sol buruan lo naik!" titah Dewa tanpa menggubris pertanyaan Sol.
"Ga bisa manjat gue Wa."
__ADS_1
"Pakai tangga aja, tuh ada di belakang lo!" Dewa menunjuk dengan matanya sebuah tangga yang bersandar di tembok pagar di dekat pohon mangga.
"Wa, tapi gue ga tau cara bedain mangga muda dan mangga tua," ujar Sol.
"Udah naik aja dulu. Nanti kalau udah di atas lo pasti tau mana yang mangga muda," sahut Dewa.
Sol menyandarkan tangga bambu itu di batang pohon mangga. Dengan hati-hati ia memijakkan kakinya satu persatu pada anak tangga. Ketika dahan pohon itu dapat dijangkaunya, ia pindahkan pijakkan kakinya pada dahan. Dan mulailah ia mencari mangga incarannya, mangga muda.
"Wa yang mana yang muda?!" seru Sol dari atas pohon.
"Coba lo perhatikan dengan sungguh-sungguh, pasti lo tau mana yang muda!" pekik Dewa. Kepalanya mendongak memperhatikan Sol yang tengah berjuang mengambil mangga di atas pohon setinggi lebih dari lima meter itu.
Pandangan Sol tertuju pada sebuah mangga yang ukurannya lebih kecil dari kebanyakan mangga yang lainnya. Ia geleng-geleng kepala karena melihat hampir semua mangga dibubuhi tulisan dengan menggunakan spidol. Dan ia terkekeh geli ketika membaca tulisan pada mangga itu.
Jangan ambil aku, Mas. Aku masih muda.
Jangan petik aku, Mas. Aku masih polos.
Aku masih di bawah umur, jangan sentuh aku.
Boleh dilihat, ga boleh diambil.
Yang mengambil mangga tanpa izin, gue sumpahin mencret.
"Hahahaha ... Kerjaan si Opi nih," ujarnya masih dengan sisa tawanya.
*****
Dewa menggertakkan giginya ketika melihat Mimin begitu lahap memakan mangga muda yang baru dikupasnya.
"Neng yang makan mangga muda, Aa yang linu. Gerrr...." Dewa sampai menutup mulutnya seraya memicingkan mata menahan linu.
"Enak tau A, obat pusing," sahut Mimin santai sembari mencocol mangga muda itu dengan cabe rawit yang dihaluskan dan ditaburi garam. Lalu melahapnya.
"Jangan banyak-banyak Neng, takut sakit perut," pesan Dewa.
"Jadi, Mida dan Mila lagi hamil yah A?" Dewa terkesiap mendengar pertanyaan Mimin. Padahal ia berniat merahasiakan soal kehamilan istri-istri sahabatnya itu. Supaya tak membuat Mimin memikirkan lagi soal dirinya yang tak kunjung hamil.
"Iya. Tapi, Neng ga usah sedih ya. Insyaallah Neng juga nanti akan hamil seperti mereka," ujar Dewa.
Mimin tersenyum menatap Dewa. "Iya Aa. Insyaallah mulai sekarang Neng ga akan mikirin soal anak. Seperti yang Aa bilang waktu itu, santai saja. Yang penting Aa selalu ada di sini. Yang penting kita selalu bersama," tutur Mimin.
Dewa merengkuh tubuh Mimin dan mengecup puncak kepalanya berkali-kali.
"Kalau udah selesai makan mangganya, kita solat yuk," ajak Dewa.
Mimin mengerutkan keningnya. "Tadi kita 'kan udah salat Isya."
Dewa mencangkum wajah Mimin. "Bukan solat Isya, tapi salat dua rakaat sebelum...." ujarnya pelan seraya menarik-turunkan alisnya.
.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Terima kasih dukungannya. ❤️❤️❤️❤️