Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Bonus Cerpen


__ADS_3

🎶 Kalau ada makanan di meja


🎶 Mejanya .... aku makan


Seorang gadis remaja berwajah manis tengah bermain gitar, menyanyikan lagu dangdut populer milik biduan senior Rita Sugiarto yang dipelesetkan seenak jidatnya.


"OPI ... BERISIK ! JANGAN GENJRENG-GENJRENG MAIN GITAR MULU!" teriak Mami dengan suara delapan oktaf, persis suaranya Candil vokalis Seurieus.


Mami yang tengah memasak di dapur, namun suaranya terdengar sampai ke teras depan rumah. Padahal rumah ini sangat luas, jarak antara dapur ke teras itu kira-kira sejauh jarak Serang-Jepang.


"Tapi, Opi 'kan lagi belajar main gitar." Gadis manis itu mengerucutkan bibirnya. Sofia Adriana yang akrab dipanggil Opi memang tengah bersemangat belajar gitar secara otodidak.


Saat hari ulang tahunnya sebulan yang lalu, ia mendapatkan hadiah gitar beserta buku panduan belajar gitar. Hadiah itu diberikan oleh para sahabatnya yang tergabung dalam The Cilor. Geng beranggotakan enam orang yang hobi jajan cilor itu terdiri dari empat pria dan dua wanita termasuk Opi.


"Boleh sih belajar gitar, tapi kalau bisa mainin gitarnya jangan sampai mengeluarkan suara," timpal Mimin. Wanita cantik kakak perempuan Opi itu tengah duduk bersamanya di teras rumah.


"Lah, belajar gitar ya pasti bersuara. Belajar nahan kentut aja ga menjamin ga mengeluarkan suara. Memangnya Teh Mimin, orangnya pendiam, halus dan lembut. Kalau kentut bunyinya halus pisan, peeeeeeess, gitu. Kentut Teh Mimin itu suaranya lembut, tapi baunya ... jahanam.”


"Kenapa kita jadi ngomongin kentut sih!” sungut Mimin. Tak terima kentutnya dikatakan bau jahanam, meskipun fakta mengatakan, hal itu benar adanya.


Abah yang tengah duduk di sofa ruang tamu sambil membaca kitab gundul, turut menghampiri Opi di teras rumah.


"Opi kenapa pengen belajar gitar, sih?" tanya Abah seraya duduk di kursi teras samping Opi.


"Karena cowok keren mengatakan cewek yang bisa main gitar itu cantiknya nambah," dalih Opi.


"Abah ga setuju, ah. Ada juga perempuan yang menutup aurat sempurna, berbudi pekerti luhur dan pintar mengaji yang cantiknya nambah."


"Itu sih kata Ustaz Sanusi, bukan kata cowok keren," sanggah Opi.


"Abah mau Opi belajar ngaji lagi."


"Tapi, Opi 'kan udah bisa ngaji, Bah."


"Cara ngaji Opi tajwidnya belum benar, tartilnya belum sempurna."


"Opi 'kan udah gede, Bah. Masa iya Opi harus belajar ngaji sama anak-anak kecil itu," protes Opi. Ia mengira Abah menyuruhnya belajar mengaji di TPQ seperti saat kecil dulu.


"Nanti Abah yang akan mendatangkan ustaz ke sini untuk mengajari Opi mengaji. Kalau Opi ngajinya udah benar, tajwidnya benar, minimal tartilnya mendekati sempurna, baru Abah izinkan Opi belajar gitar," janji Abah.


Opi yang semula merengut seketika mengembangkan senyum demi mendengar akan diizinkan main gitar. "Bener ya, Bah, kalau Opi udah belajar ngaji nanti boleh belajar gitar," ujarnya dengan mata berbinar.


Abah mengangguk tanpa ragu, menjawab keinginan Opi. Setelahnya Abah kembali masuk ke dalam rumah, melanjutkan kegiatannya.


"Ciye, yang mau diapelin sama Ustaz Sanusi," goda Mimin seraya terkikih geli.


"Loh, kok diapelin Ustaz Sanusi, Teh?"


"Kan, nanti Abah mau rutin panggil Ustaz Sanusi ke rumah buat ngajarin Opi ngaji tiap malam minggu. Hihihihi." Mimin kembali terkikih geli.


Raut Opi berubah masam demi mendengar nama Ustaz Sanusi, ustaz sepuh di kampungnya yang telah mengalami penurunan pendengaran. Bisa dibayangkan bagaimana nanti ia akan belajar mengaji bersama Ustaz Sanusi, mungkin berteriak sampai urat lehernya menonjol dan tubuhnya berubah warna hijau menjadi Hulk pun suaranya akan sulit didengar baik oleh beliau.


Oh my mom. Rasanya ingin mati saja.


Teng ... Teng ... Teng ... Teng


Mamang bakso berjalan dengan anggunnya seraya mendorong gerobak.


"Maaaang!" teriak Opi dari tempat duduknya.

__ADS_1


"Beli bakso, Neng Opi?" sahut Mamang bakso.


"Enggak. Mau bunuh diri! Numpang terjun ke panci kuah bakso!” seru Opi meluapkan kekesalannya.


*****


Suara riuh rendah siswa-siswi mendominasi di salah satu sekolah SMA favorit di kota Serang. Para siswa-siswi sedang menikmati jam istirahat. Ada yang memukul-mukul bangku seperti anak SD. Ada yang segera lari ke kantin karena lapar. Ada yang berkumpul sambil ngerumpi, membahas tentang gebetan dan hal lainnya. Ada yang memilih bermain basket. Ada pula yang memilih untuk membaca buku di perpustakaan seperti yang dilakukan Opi.


"Hai, Opi," sapa seorang pria tampan teman sekolahnya.


"Hai, Iqbal," balas Opi pada Iqbal Ramadhan yang wajahnya mirip Iqbal Ramadhan pemeran Dilan.


"Gue boleh duduk di sini."


"Boleh, silakan," jawab Opi dengan hidung kembang kempis. Pasalnya, Iqbal Ramadhan, cowok segudang prestasi itu adalah idolanya di sekolah ini.


Di saat gadis lain menyukai Jungkook, ia justru lebih suka cowok lokal berkualitas internasional seperti Iqbal Ramadhan dan Jerome Polin.


"Opi, nanti malam 'kan malam minggu. Jalan, yuk," ajak Iqbal.


Jantung Opi rasanya melompat sampai ke ubun-ubun karena mendengar ajakan Iqbal. Seorang Iqbal mengajaknya jalan, mimpi apa ia semalam.


Oh, ya ampun. Semalam gue mimpi dikejar-kejar Kim Jong Un di Subway Surf.


Makasih Kim Jong Un karena udah ngejar-ngejar gue di Subway Surf. Gumamnya dalam hati.


Mulut Opi sudah terbuka akan mengiyakan ajakan Iqbal, namun sejurus kemudian ia teringat dengan jadwal belajar mengaji mulai malam minggu ini.


"Maaf, Bal. Gue ga bisa," sesal Opi.


"Kenapa? Mau diapelin sama pacar lo, ya?"


"Bal, gimana kalau jalannya sama gue aja," sambar Jessica, siswi cantik dengan dempul setebal 14 inci yang duduk satu meja dengan mereka.


"Emmm, boleh. Nanti malam gue jemput lo, Jes." Iqbal bangun dari duduknya seraya berpamitan lalu beranjak keluar perpustakaan.


"Ya ampun, gue harus dandan maksimal nih untuk persiapan nanti malam." Wajah Jessica berseri seperti buah seri.


"Mending lo batalin deh rencana malam mingguan. Karena BMKG memberitakan akan ada hujan badai nanti malam."


"Hujan badainya pake banjir ga? Banjir air mata Opi. Weee." Jessica melet meledek Opi lalu segera berlari meninggalkannya.


"Jesjos ... jangan kabur lo!" Opi berlari mengejar Jessica.


Bruuuuk ...


"Astagfirullahal adzim," ucap seorang pria yang tubuhnya terseruduk Opi.


"Maaf, Kak, saya ga sengaja." Mata Opi terbeliak dan liurnya hampir menetes menatap pria tampan di hadapannya. Pria tampan mirip Omar Borkan Al Gala yang delapan tahun silam sempat dijuluki pria tertampan di dunia. Yang kabarnya karena terlalu tampan bahkan sempat diusir dari negaranya.


"Iya, gak papa. Oya, kantor kepala sekolah di mana, Dek?" tanya pria tampan itu.


"Kakak mau ke kantor kepala sekolah?"


"Iya."


"Mari saya antar."


Pria Itu mengangguk menanggapi ucapan Opi lalu berjalan mengikuti di belakangnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Dek, sudah mengantar saya," ucap pria itu ramah setelah sampai di depan kantor kepala sekolah.


"Sama-sama, Kak," balas Opi dengan menampilkan senyum manis tanpa pemanis buatan.


Pria itu masuk ke kantor kepala sekolah. Opi terdiam, terpaku, membisu, menatap punggung tegap pria yang tampannya masya Allah.


Ya Allah, seandainya Ustaz Sanusi tampan kayak gitu. Pendengarannya kurang gak papa deh, yang penting tampannya kayak gitu.


*****


Sang surya tak mungkin dapat digenggam lalu ditahan, agar malam tak cepat datang. Opi sungguh belum siap "diapeli" Ustaz Sanusi. Persiapan dasar yang ia lakukan adalah meminjam toa masjid untuk menghadapi ustaz sepuh tersebut.


Sembari menunggu datangnya sang kekasih, eh Ustaz Sanusi, Opi membuka status WA teman-temannya. Ia mencebik ketika membaca status WA Jessica.


[Ga usah ngiri kalau lihat temen malam mingguan, mending nganan]


Opi yang merasa tersindir, mulai mengetik status WA yang tujuannya adalah membalas sindiran Jessica.


[Pokoknya cewek yang malam minggunya di rumah aja itu cantik, TITIK.]


Dari dalam kamar terdengar suara Abah tengah berbincang dengan seseorang.


"Opi, dipanggil Abah, tuh. Ustaz Sanusi udah datang." Mimin melongokkan kepalanya di pintu kamar Opi yang sedikit terbuka. "Ciye ciye," katanya sambil tertawa meledek.


"Apa sih nih Abah. Malam Minggu kok disuruh ngaji, sama ustaz Sanusi pula," Opi menggerutu dengan perasaan dongkol. Kemudian melangkah lemah, letih, lesu, lunglai menuju ruang tamu.


"Opi, kenalkan ini Ustaz Fahri, cucunya Ustaz Sanusi yang akan mengajari kamu mengaji,” ujar Abah.


Seketika jantung Opi merosot sampai ujung kaki.


Pria tampan mirip Omar Borkan Al Gala itu tersenyum menyapa. "Assalamualaikum, Opi."


"Wa-waalaikum salam."


“Sudah siap belajar mengaji?”


“Siap, Ustaz. Ngajinya mulai dari Iqro 1 ‘kan?”


“Boleh,” sahut Ustaz Fahri seraya melemparkan senyum.


Sungguh senyum Ustaz Fahri yang bagai matahari membuat hati Opi yang bagai es krim meleleh, lumer, meluber.


Makasih Kim Jong Un karena udah ngejar-ngejar gue di Subway Surf.


.


.


.


.


Cerpen di atas berjudul "Antara Gitar dan Ustaz Sanusi"


Cerpen tersebut alhamdulilah lolos dan terpilih dan dibukukan dalam buku antologi cerpen bersama Kak Juskelapa.


Untuk yang mau dibuatkan cerita Opi, mohon maaf ya aku belum bisa, karena belum ada ide. Hehehe.


Btw terima kasih semuanya. ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2