Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Malam Minggu di Baretos Cafe part 3


__ADS_3

“Bang, boleh foto ga?" Pertanyaan Devi yang akhirnya memutuskan tatapan keduanya.


"Boleh," jawab Dewa.


"Bang, boleh minta nomor hape juga, Hihihihihi," kata Devi.


"Emmm... Kalau itu, aku harus minta izin istriku dulu," jawab Dewa seraya menatap Mimin.


"Yaaaahh... Jadi Abang udah punya istri dong?!" Susi dan Devi mendesah kecewa.


"Alhamdulilahi, sudah. Istri yang Solehah." Dewa menatap Mimin kembali "Dan... cantik jelita," lanjutnya.


"Yaaahhh... Patah hati berjamaah dong kita," sahut Susi dan Irna.


Mereka kemudian berfoto bersama, dengan posisi Dewa berada di tengah-tengah diapit oleh keempat gadis.


Setelahnya para gadis itu kembali ke mejanya. Dan duduk manis menikmati lagu request mereka, yang dinyanyikan oleh Dewa. Mulai dari lagu Begitu Indah dari Padi, request dari Devi. More Than Words dari Extreme, request dari Susi. Dan Somewhere Only We Know dari Keane, request Irna. Kemudian terakhir ia menyanyikan lagu Selimut Hati, request dari Mimin.


Aku 'kan menjadi malam-malammu


'Kan menjadi mimpi-mimpimu


Dan selimuti hatimu yang beku


Aku 'kan menjadi bintang-bintangmu


'Kan s'lalu menyinarimu


Dan menghapus rasa rindumu yang pilu


Aku bisa untuk menjadi apa yang kau minta


Untuk menjadi apa yang kau impikan


Tapi ku tak bisa menjadi dirinya


Hu-uh (ha-ya-ya, hu-uh)


Aku 'kan menjadi embun pagimu


Yang 'kan menyejukkan jiwamu


Dan 'kan membasuh hatimu yang layu


Aku bisa untuk menjadi apa yang kau minta


Untuk menjadi apa yang kau impikan


Tapi ku tak bisa menjadi dirinya


Hu-uh (ha-ya-ya, hu-uh)


Tinggalkan sejenak lalumu


Beri sedikit waktu


Kepadaku 'tuk meyakinkanmu


Hu-uh (ha-ya-ya), uh-uh


Aku 'kan menjadi malam-malammu


'Kan menjadi mimpi-mimpimu


Dan selimuti hatimu


 


Keempat gadis itu telah selesai menikmati menu yang mereka pesan di kafe ini, telah selesai berbincang-bincang, dan juga telah menikmati persembahan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Dewa. Kini adalah saatnya mereka pulang.


"Teman-teman, kalian pulang duluan saja yah. Aku nanti aja pulangnya," ujar Mimin kepada teman-temannya.


"Loh, kenapa Min?" tanya Susi.

__ADS_1


"Emmm.. A-aku mau pulang sama tetanggaku... dia kerja di sini," jawab Mimin.


"Oh, gitu. Serius kamu gak mau pulang sama kita-kita?" tanya Susi lagi.


Mimin mengangguk yakin. "Iya."


"Ya udah Min, kita pulang duluan ya."


"Iya, hati-hati yah kalian." Mimin menyalami teman-temannya dan juga bercipika-cipiki.


"Daaah... Mimin."


"Daaah...."


Susi, Irna dan Devi pun pulang lebih dulu. Sementara Mimin sengaja memilih untuk menunggu Dewa dan ingin pulang bersama Dewa.


Dewa yang melihat Mimin duduk sendirian, akhirnya menghampiri Mimin.


"Mina, kok kamu ditinggal sama mereka?" tanyanya. Ia lalu mengambil posisi duduk di hadapan Mimin.


"Sengaja. Aku ingin pulang sama kamu," jawab Mimin.


"Tapi aku pulangnya malam."


"Gak apa-apa. Aku sudah mengabari orang rumah."


"Kalau begitu, aku coba minta izin untuk pulang cepat deh," ujar Dewa.


"Sam...!" seru Dewa kepada Samsul sang manajer kafe yang juga adalah teman Dewa saat kuliah dulu.


Samsul yang kebetulan sedang berdiri dekat meja tempat Mimin duduk, berjalan menghampiri Dewa. Lalu turut bergabung duduk di meja itu.


"Sam... Kenalin ini istri gue," ujar Dewa memperkenalkan Mimin kepada Samsul.


"Ini yang namanya Mina, yang sering lo ceritakan itu Wa?"


"Yupz."


Mimin membalas uluran tangan Samsul dengan mengapitkan kedua tangannya di dada, seperti biasanya ia bersalaman dengan lawan jenis, tak bersentuhan.


"Memang dari dulu, lo jagonya kalau udah urusan nyari pasangan," seloroh Samsul sambil geleng-geleng kepala.


"Ini mah beda. Ini pasangan lahir batin dunia akhirat, insyaallah," balas Dewa sambil tersenyum menatap Mimin. Membuat Mimin jadi salah tingkah dibuatnya.


"Sam, gue bisa pulang sekarang ga? Kasihan istri gue, nunggunya kelamaan kalau mengikuti jadwal pulang seperti biasa."


"Masalahnya ini malam minggu Wa... lagi rame. Emmm... Gimana kalau lo nyanyi tiga lagu lagi, baru deh boleh pulang," kata Samsul.


"Mina, kamu ga apa-apa kalau nunggu sekitar setengah jam lagi?" Dewa menatap Mimin, khawatir Mimin merasa keberatan untuk menunggu.


"Gak apa-apa," jawab Mimin yakin.


"Makasih Mina, udah mau menunggu aku."


Mimin mengangguk. "Iya, sama-sama."


Seperti janji Samsul tadi, Dewa pun pulang setelah menyanyikan tiga lagu. Mereka pulang lewat pintu belakang sebab motor Dewa terparkir di area parkir belakang kafe.


*****


Deka yang sudah berpenampilan keren maksimal dan berniat akan memenuhi undangan Susi untuk bergabung bersama teman-temannya yang lain termasuk Mimin di Baretos Cafe, mendadak mengurungkan niatnya sebab melihat update status WA Susi. Dalam status WA tersebut, Susi menampilkan foto kebersamaannya saat di Baretos Cafe bersama Devi, Irna dan Mimin. Dan yang paling membuatnya cemas adalah, ketika melihat foto pria yang diapit oleh keempat gadis. "Dewa," lirihnya.


Masih terasa hingga saat ini, bagaimana sakitnya pukulan demi pukulan yang Dewa layangkan kepadanya dengan membabi buta. Pukulan yang hampir mematahkan rahangnya, membuat wajahnya babak belur sebonyok-bonyoknya. Membayangkannya saja terasa linu dan ngilu. Tak ingin merasakannya lagi.


Ia memutuskan untuk tidak masuk ke dalam Baretos Cafe, hanya menunggu di luar kafe. Sebab merasa khawatir jika adiknya yang terkenal brutal itu masih menaruh dendam kepadanya lalu bakal menghajarnya habis-habisan....di depan Mimin. Oh, jangan sampai hal itu terjadi. Harapannya.


"Sus... Jasmin mana?" tanyanya ketika bertemu dengan Susi cs yang baru keluar dari kafe.


"Mimin, katanya mau pulang sama temannya. Ada temannya yang kerja di kafe ini," jawab Susi, sesuai dengan yang Mimin katakan tadi.


"Kok Pak Deka datangnya telat sih? Kita nungguin loh dari tadi," sahut Devi.


"Iya, tadi sedang ada keperluan. Terus sekarang kalian mau ke mana?"

__ADS_1


"Kita mau pulang Pak," sahut Susi.


"Terus, Jasmin bagaimana?"


"Katanya sih mau pulang sama temannya."


"Oh, ya sudah. Kalau begitu, saya mau tunggu Jasmin."


"Iya Pak, tungguin saja khawatir kalau terlalu malam nanti dia kesulitan pulang," ujar Irna.


"Pak, kita pulang  duluan yah." Susi, Devi dan Irna berpamitan untuk pulang duluan.


"Iya hati-hati."


Lebih dari setengah jam, Deka menunggu Mimin di depan kafe, namun tak ada tanda-tanda kepulangan Mimin. Ia melirik arloji mewah di tangan kirinya, waktu menunjukkan sudah hampir jam sepuluh malam. Ia pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kafe. Kafe sudah berangsur sepi karena pengunjung telah pulang. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe mencari keberadaan gadis yang dinantinya.


"Bang Deka...?!" sahut Samsul yang memang mengenal Deka sebagai kakaknya Dewa.


Deka menoleh ke arah Samsul. "Siapa ya?" tanyanya yang merasa tak mengenali pria yang menyapanya itu.


"Saya Samsul teman kuliahnya Dewa. Abang, kakaknya Dewa kan?!"


Deka mengangguk ragu. "Iya."


"Dewa udah pulang Bang, tadi sama istrinya," tutur Samsul.


"Apa? Istri?" Deka tercengang mendengar penurunan Samsul.


"Iya, Dewa tadi pulang cepat karena istrinya nunggu di sini. Dewa mah jago banget kalau urusan cewek. Istrinya cantik bener," seloroh Samsul.


Deka terdiam terpaku.


Apa? Dewa sudah menikah?


Siapakah istrinya Dewa? Apakah Clara?


Tak mungkin dia menikah dengan Clara kan?


Pertanyaan dalam benaknya.


Aku akan menyelidikinya. Batinnya bergumam.


"Samsul, aku minta jangan ceritakan pada Dewa kalau aku datang kemari ya," pinta Deka.


"Kenapa Bang?"


"Emmm... Enggak ada apa-apa, hanya ingin memberi kejutan saja."


"Oh, Siap, Bang."


Setelah mencari-cari Mimin dan tak menemukannya, Deka memutuskan untuk pulang.


.


.


.


.


Aku mau buat polling nih ya.


Selain Dewa dan Fahri, tokoh pria mana yang kalian suka? (Fahri ga diikutkan dalam polling karena yakin emak2 pasti akan milih Fahri)


A. Haji Zaenudin... , si Abah yang baik dan bijaksana


B. Sol... sahabat Dewa, mantan drummer Lakotum Band yang lucu.


C. Yusril... Si pencinta batik.


D. Deka... Abangnya Dewa.


E. Memet... Yang hobi mengepel

__ADS_1


__ADS_2