
Mimin sedang membereskan mukenanya. Ia baru saja selesai menunaikan salat Subuh lalu menyempatkan diri untuk mengaji barang tiga tanda 'ain atau tanda Ruku'. Lantunan suara zikir masih terdengar bersahutan dari para jemaah masjid usai melaksanakan salat Subuh.
Mimin mulai melakukan aktivitas rutinnya usai salat Subuh yaitu menyapu halaman. Pohon jambu dan pohon mangga yang berdiri tegak di pelataran halaman rumahnya menyisakan dedaunan yang berserakan di tanah. Apalagi di musim kering atau kemarau, pohon akan manggugurkan daun-daunnya sebagai salah satu cara bertahan hidup, untuk menjaga kadar air dalam tubuhnya serta menghindari banyaknya penguapan air yang dikeluarkan, sambil menanti musim hujan kembali tiba.
"Assalamualaikum, Mimin." Suara salam sapa seorang pria bersarung kotak-kotak warna hijau dan berkemaja koko warna putih mengagetkan Mimin yang sedang fokus mengumpulkan sampah dedaunan.
"Waalaikum salam." Mimin menghentikan sejenak kegiatan menyapunya untuk menjawab salam pria yang baru pulang dari masjid itu. Pria itu adalah Soleh Munawar, yang baru semalam mengontrak di pintu kontrakan nomor satu bersama pria menyebalkan yang telah tanpa sengaja menimpuk keningnya dengan kaleng bekas minuman bersoda.
"Masih subuh udah rajin, Min," puji Sol. Ini sungguh sebuah pujian atau sekedar basa-basi atau justru jurus untuk menaklukan hati Mimin. Hanya Sol yang bisa menjawabnya.
"Pulang dari masjid, Ka?" tanya Mimin.
"Iya, Min. Kan, salat berjamaah di masjid itu lebih utama bagi laki-laki," jawab Sol yakin. Padahal tentang hal itu, semua muslim pasti sudah tahu kan.
"Temannya ga ikut ke masjid Ka?" Sedari tadi Mimin memperhatikan apakah pria menyebalkan itu ikut salat berjamaah di masjid juga atau tidak.
"Oh, Dewa. Dewa sedang berhalangan Min ... jadi ga ikut ke masjid," tutur Sol.
"Oh, dia sedang datang bulan rupanya. Hahahaha.... " Mimin tergelak membayangkan seorang pria yang tidak salat karena sedang datang bulan.
Ah, mana mungkin pria menyebalkan itu salat berjamaah di masjid. Kemarin aja ga salat jumat. Batinnya.
"Perlu dibantu ga, Min?" tawar Sol.
"Ga usah Ka ... terima kasih," tolak Mimin.
"Kalau begitu, aku masuk dulu yah, Min."
"Iya, silakan, Ka."
Sol masuk ke dalam kontrakan. Sementara Mimin melanjutkan kegiatan menyapu halaman.
Hari pertama mengontrak, belum ada kesan positif pada pria menyebalkan itu.
*****
Sudah hampir tiga minggu Dewa berada di kota ini. Tinggal di kontrakan Pak Haji Zaenudin yang memiliki dua anak gadis dengan ceritanya masing-masing. Mimin yang sulit untuk didekati. Dan Opi yang malah rajin mendekati.
Berkali-kali Dewa berusaha unjuk gigi. Berusaha untuk membantu kesulitan Mimin, menempatkan dirinya sebagai superhero namun tak pernah berhasil.
__ADS_1
Seperti kemarin saat Mimin ingin mengambil buah mangga incarannya.
"Min ... biar aku aja yang mengambilkan mangganya," ucap Dewa yakin. Mimin mengangguk setuju. Buah mangga yang terlihat paling besar dan montok dengan warna kuning di bagian ujung pangkal. Ditambah dengan aroma segar dan manis, menggambarkan betapa lezatnya buah mangga tersebut.
Dewa menggulung celana panjangnya sampai ke lutut. Ia mulai menaiki pohon mangga tersebut. Tangan kanannya mencengkeram cabang pohon, sementara tangan satunya melingkar di batang pohon. Dan ia berhasil naik ke atas cabang pertama.
"Aww... Aduh... Aduh...." Dewa mengaduh ketika semut rangrang mengerubunginya bahkan ada yang sampai menggigitnya.
"Ih, ka Dewa. Turun gih ... biar Opi aja yang ambil mangganya," seru Opi ketika melihatnya sedang menghalau semut yang berusaha menggigitnya.
Dan Opi si gadis tomboi itu menjelma menjadi sosok Wonderwomen. Dengan keterampilan memanjat yang mumpuni, dengan gesit mengambilkan mangga incaran Mimin.
Atau seminggu yang lalu saat Dewa akan membantu Mimin mengangkat galon. Opi lebih dulu maju dan mengangkat galon berisi 19 liter air itu. Usaha Dewa untuk membuat dirinya terlihat kuat di mata Mimin selalu pupus karena Opi si Wonderwomen.
Tapi tidak dengan pagi ini. Untuk pertama kalinya, Dewa terlihat luar biasa di mata Mimin. Saat subuh hari, usai menunaikan kewajiban subuhnya dan rutinitas menyapu halaman. Mami menyuruh Mimin pergi ke pasar untuk membeli daging ayam dan beberapa sayuran. Karena pelanggan catering Mami mendadak menambah pesanan sebanyak sepuluh box nasi catering.
"Teh ... jangan lupa pilih ayam yang seger. Belinya di tukang ayam langganan Mami aja. Tapi kalau ayamnya udah ga seger, beli di tukang ayam yang lain aja," tutur Mami yang sedang sibuk mencuci ayam.
"Cabe bawang beli ga, Mih?" tanya Mimin yang sedang mencatat apa saja yang akan dibelinya pada selembar kertas.
"Cabe ga usah, masih banyak. Bawang aja beli setengah kilo," jawab Mami.
"Bawang merah sama bawang putih aja. Bawang bombay ga usah, masih ada," sahut Mami sambil meniriskan ayam yang baru selesai di cuci.
"Terus apa lagi, Mih?" tanya Mimin. Tangannya masih memegang pulpen bersiap untuk mencatat lagi.
"Kecap jangan lupa yang merek 'Malika' yah," sahut Mami. Mimin segera menuliskannya pada kertas catatan belanjaan.
"Ada lagi, Mih?"
"Kayaknya sih udah."
"Nih ... Mami baca dulu catatannya takut ada yang ketinggalan." Mimin menyerahkan lembar catatan yang ditulisnya kepada Mami.
"Emmm... udah Teh, cukup," ucap Mami setelah selesai membaca catatan yang ditulis Mimin.
"Teteh berangkat ke pasarnya naik angkot Mang Rosid aja, soalnya si Opi masih molor. Nanti pulangnya baru dijemput sama Opi," sambung Mami.
"Iya Mih."
__ADS_1
Mimin pun berangkat ke pasar menggunakan angkot tetangganya. Ia terlebih dahulu membeli bumbu dapur. Kemudian mendatangi tukang ayam langganan Mami. Awalnya Mimin tidak menyadari dengan pria yang berdiri di sampingnya yang sedang memilih daging ayam.
"Ayam sekilo berapa, Mang?" tanya pria yang berdiri di sampingnya.
"Tiga puluh dua ribu," jawab si tukang ayam.
"Ini kapan motong ayamnya, Mang? Baru ga nih?" tanya pria itu sambil memilih-milih daging ayam.
"Baru... dijamin masih seger ayamnya. Tuh dipegangnya juga masih anget," jawab si Tukang ayam.
"Mang ... mau beli ayam dua kilo. Yang bagus yah daging ayamnya," ujar Mimin kepada tukang ayam langganan Mami.
"Siap Neng geulis. Pesanan Mami yah," sahut si Tukang ayam.
"Iya Mang ... yang bagus... yang seger yah," tutur Mimin mewanti-wanti.
"Siap Neng geulis."
Tangan Mimin sibuk memilih daging ayam. Hingga tangannya dan tangan pria di sampingnya menyentuh daging ayam yang sama.
"Mimin...." seru pria yang berdiri di samping Mimin dengan tangan masih sama-sama menyentuh daging ayam yang sama.
"Kamu...." Mimin terkejut, atau bahkan terpukau melihat pria yang mengenakan kaos oblong warna putih dipadu dengan celana pendek cargo warna hitam dan harus diakui Ia memiliki wajah yang tampan.
Pria itu adalah pria menyebalkan yang dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan dia yang telah membuat kening sehalus pualam nya terluka. Pria itu adalah Dewa.
Yang membuat Mimin terpukau adalah karena pria yang memang terlihat sangat keren itu mau pergi ke pasar tradisional, yang identik dengan kumuh dan becek. Dan pria itu juga berbelanja kebutuhan dapur. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh kaum pria. Karena umumnya justru dilakukan oleh ibu-ibu.
Awesome thing.
.
.
.
.
.
__ADS_1