
"Mina, biar aku temenin kamu menemui Hana. Biar kita berdua yang menjelaskan kepada Hana," usul Dewa.
"Jangan. Biar aku sendiri saja. Khawatir akan membuat Hana semakin merasa tidak nyaman jika melihat kita berduaan," tolak Mimin. Sebab suasana hati Hana pasti sedang tidak baik, dan mungkin semakin tidak baik jika melihat dirinya berduaan dengan pria yang dicintai Hana.
"Lebih baik kamu bersihkan tumpahan setup roti itu, sebelum kena omel Opi," kata Mimin kemudian.
"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya," ujar Dewa.
"Assalamualaikum," pamit Mimin.
"Waalaikum salam." Dewa mengiringi langkah Mimin dengan tatapannya.
Setelah Mimin menjauh, ia mengalihkan pandangannya pada rantang dua susun yang tergeletak di lantai. Rantang yang satu posisinya menelungkup ke bawah sehingga menjatuhkan seluruh isi di dalamnya. Sementara rantang yang satu lagi tergeletak dengan posisi normal dan tak menumpahkan isinya meski bentuk setup roti itu sedikit aneh akibat benturan keras antara rantang dengan lantai. Tak masalah bentuknya seperti apa, yang terpenting masih bisa dimakan.
Dewa memebereskan rantang yang terjatuh. Dan menyisihkan rantang yang isinya masih utuh. Lumayan setup roti itu nanti bisa dimakan bersama Sol. Kemudian ia mengambil alat pel di samping rumah. Saat ia kembali ke ruang tamu untuk membersihkan lantai yang kotor akibat jatuhan setup roti yang lengket, didapatinya Opi sudah berdiri di sana sambil berkacak pinggang.
"Aduh itu apaan?!" salak Opi.
"Itu namanya setup roti tawar, Opi!" balas Dewa dengan seruan intonasi yang sama dengan Opi.
"Iya Opi juga tahu. Kerjaan siapa nih?"
"Tenang Pi. Ini gue udah ambil alat pel." Dewa menunjukkan alat pengepel lantai yang dibawanya.
"Hedeuh... baru juga disapu dan dipel malah dikotorin lagi," sewot Opi persis seperti emak-emak yang sedang mengomeli anaknya.
"Tenang Pi, ini juga gue mau bersihkan," ujar Dewa yang mulai mengepel lantai.
"Sampai bersih ya!" seru Opi.
"Iya, tenang aja. Sabar Opi ... jadi wanita itu harus kalem dan sabar," kata Dewa.
"Wanita yang kalem dan sabar itu cuma wanita indosiar," celetuk Opi. Lalu melenggang pergi meninggalkan Dewa yang masih khusuk mengepel lantai.
"Wanita indosiar??" Dewa mengernyitkan keningnya. "Wow... Kumenangis membayangkan," gumamnya.
*****
Fahri sedang asyik mencuci motornya ketika pandangannya teralihkan pada wanita berjilbab yang mengayun langkah lebar-lebar sambil menangis sesenggukkan berjalan menuju ke arahnya. Wanita itu adalah Hana.
"Assalamualaikum, Han," sapa Fahri. Yang tak mendapat balasan dari Hana.
"Hana kamu kenapa?!" Fahri yang semula berjongkok sedang mencuci motor, bangun berdiri sebab melihat Hana menangis sesenggukkan seperti itu dan tak menghiraukan sapaannya.
Hana terus mengayun langkahnya cepat tanpa menoleh sekejap pun pada Fahri. Dan tak menggubris sapaan atau pertanyaan Fahri. Ia ingin segera sampai ke rumahnya. Ingin segera bertemu dengan kasur empuk lalu menangis sekeras-kerasnya.
Fahri masih berdiri menatap bingung langkah cepat sahabatnya itu, sampai bayangan Hana tak tampak lagi karena telah masuk ke dalam rumah.
Baru saja ia berjongkok untuk melanjutkan kegiatan mencuci motornya, pandangannya teralihkan kembali pada wanita berjilbab yang juga mengayun langkah lebar-lebar dan tergesa-gesa. Wanita itu adalah Mimin. Ketika jarak mereka semakin dekat, Fahri dapat melihat dengan jelas raut kecemasan di wajah cantik wanita yang pernah sangat didambakannya itu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Min," sapa Fahri.
"Waalaikum salam." Mimin menoleh sekejap ke arah Fahri untuk menjawab salam tanpa menghentikan langkahnya. Sebab ingin segera sampai ke rumah Hana untuk menjelaskan semuanya kepada Hana.
Mimin telah sampai di depan rumah Hana. Ia berkali-kali mengetuk pintu dan mengucap salam namun tiada sahutan dari dalam. Dan tak ada tanda-tanda seseorang akan membuka pintu untuknya.
Sementara di dalam rumah, Hana tengah berbaring dengan posisi tengkurap di atas kasur. Wajahnya ia benamkan pada bantal empuk bersarung gambar Hello Kitty. Ia menangis sambil memukul-mukulkan tangannya pada kasur berseprei Hello Kitty. Ia sedang sendirian di rumah ini. Anggota keluarga lainnya sedang menghadiri undangan di kampung sebelah.
Ia mendengar ketukan pintu dan seruan salam dari luar. Karena posisi kamarnya berada paling depan, di sisi ruang tamu. Ia pun tahu jika seruan salam suara seseorang di luar rumah adalah suara Mimin. Namun, ia memilih tak membukakan pintu untuk sahabatnya itu. Tak mau bertemu dengan sahabat yang telah menorehkan luka begitu dalam kepadanya.
Setelah cukup lama bertahan untuk terus mengetuk pintu dan mengucap salam. Dan setelah Mimin yakin Hana tak bersedia membukakan pintu untuknya. Dan mungkin enggan untuk bertemu dengannya. Ia memutuskan untuk kembil ke rumah. Dengan wajah sendu dan langkah gontai, ia mengayun langkah pulang. Ia kembali lagi bertemu dengan Fahri yang masih mencuci motor.
"Min... Kamu sama Hana?!" Fahri sendiri bingung ingin menanyakan apa.
"Permisi, Fahri. Assalamualaikum," sapa Mimin lalu berlalu melanjutkan langkahnya pulang ke rumah. Tak ada niat untuk menceritakan masalahnya kepada Fahri.
"Waalaikum salam." Fahri hanya mampu menatap langkah gontai Mimin yang semakin pergi menjauh. Dengan segala macam dugaan muncul di dalam benaknya.
Mimin sampai di halaman rumahnya, dilihatnya Dewa tengah duduk di kursi teras rumah.
"Bagaimana?" tanya Dewa khawatir, sebab melihat wajah murung istrinya.
Mimin mengambil posisi duduk di kursi lainnya. Ia menggeleng kepalanya. "Sepertinya Hana tak ingin bertemu denganku," lirihnya.
"Sabar, Mina. Biarkan Hana tenang dulu," ujar Dewa.
"Kurasa itu lebih baik."
"Sudah hampir magrib, aku masuk dulu." Mimin bangun dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam rumah. Begitu pun dengan Dewa, ia juga masuk ke kontrakannya.
*****
"Caca, bisa tolong antarkan baju punya Bu Hani," titah Teh Farah kepada anaknya.
"Biar Fahri aja yang antar ke rumah Bu Hani, Teh. Sekalian berangkat ke masjid," pinta Fahri.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Ini jahitan punya Bu Hani, tolong kamu antarkan ya." Teh Farah menyerahkan plastik berisi baju jahitan milik Bu Hani, ibunya Hana.
"Hanya mengantarkan saja Teh? Ongkos jahitnya sudah belum?"
"Ongkosnya sudah. Tinggal menyerahkan bajunya saja."
"Iya Teh. Nanti aku antarkan sekalian pergi ke masjid," pungkas Fahri.
Magrib sebentar lagi menjelang. Fahri hendak berangkat pergi ke masjid. Sebelumnya ia mampir dulu ke rumah Hana untuk mengantarkan jahitan milik Bu Hani.
"Kamu kenapa Han?" tanya Fahri kepada Hana yang membukakan pintu dan menerima titipan jahitan dari Teh Farah.
Hana diam saja tak berniat menjawab.
__ADS_1
"Apakah tentang Mimin? Atau tentang Iyan?" tanya Fahri lagi.
"Lebih baik kamu tak usah tahu. Karena akan menyakiti hatimu," jawab Hana.
"Maksudnya??" tanya Fahri tak mengerti.
"Bukankah kamu mencintai Mimin?"
"Dulu. Sekarang, alhamdulillah sudah kubuang jauh perasaan itu. Bukankah tidak halal mencintai pasangan halal orang lain. Allah tak akan meridhoinya."
"Baguslah. Karena ternyata Mimin tak sebaik yang kamu kira, tak se salihah yang kamu bayangkan," tukas Hana. Ia sepertinya salah paham dengan apa yang telah terjadi.
"Astagfirullah Hana. Jaga ucapanmu!"
"Apa namanya jika seorang wanita yang sudah bersuami, membuka auratnya di depan pria lain. Bahkan mereka melakukan...."
"Apa maksud kamu Han?"
"Dia bukan hanya berdosa pada suaminya, tapi juga menyakiti aku, sahabatnya. Aku melihat langsung Mimin dan Iyan ber..." Hana tak mampu melanjutkan kalimatnya.
"Mimin dan Iyan??"
"Iya. Mereka sungguh keterlaluan, Fahri. Kalau kamu melihatnya, aku yakin kamu akan menyesali benih cinta kepada Mimin yang sudah kamu pupuk sejak kecil."
Fahri menggelengkan kepalanya. "Astagfirullah, sepertinya ada kesalahpahaman di sini."
"Jika Mimin membuka auratnya di depan Iyan, atau jika Mimin dan Iyan melakukan apapun tak ada yang salah, karena mereka halal melakukannya," terang Fahri.
"Maksud kamu??"
"Kamu pasti sudah mendengar cerita tentang Mimin dari warga kampung ini kan?"
Hana mengangguk.
"Pria yang bersama Mimin malam itu adalah Iyan."
"A-apa?!" Hana terlonjak kaget mendengarnya.
"Mimin dan Iyan telah menikah, mereka pasangan yang halal."
Hana tergugu mendengar penjelasan Fahri.
"Sahabat sejati adalah seseorang yang memahami dirimu, bahkan rela menunda urusannya, kepentingannya, perasaannya, dan kebahagiaannya demi mempertahankan jalinan persahabatan denganmu," tutur Fahri sebelum sedetik kemudian terdengar gema suara azan magrib.
"Aku ke masjid dulu, sudah azan. Assalamualaikum," pungkas Fahri. Lalu berlalu meninggalkan Hana yang terpegun berdiri di depan pintu.
"Waalaikum salam," jawab Hana lirih setelah Fahri berjalan jauh meninggalkannya.
*****
__ADS_1