Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
S2. Pulang Bersama Deka


__ADS_3

"Kemarin saya ketemu papa kamu," tutur Pak Bambang yang tak lain adalah CEO PT. ABC tempat Deka bekerja.


"Jadi, yang sesungguhnya terjadi adalah kamu kabur dari rumah?" tanya Pak Bambang seraya menatap Deka yang duduk di hadapannya.


Deka mengangguk ragu menanggapi pertanyaan atasannya itu.


"Saya ini sudah lama berkawan dengan papa kamu. Kami dulu teman kuliah. Saya tahu betul sifat papa kamu itu. Sebenarnya dia orangnya baik. Hanya wataknya memang keras, tegas, ambisius dan terkadang egois. Di balik itu semua ada sisi positif papa kamu yang saya kagumi. Dia itu pintar dan juga pekerja keras. Kamu tahu 'kan dulu papamu itu hanya karyawan biasa dan karena kerja kerasnya sekarang papamu bisa punya perusahaan sendiri."


Deka kembali mengangguk. Yang menjadi alasan kepergiannya dari rumah selain karena masalah Clara juga karena perangai sang papa yang membuatnya sebal.


"Kemarin Satya curhat sama saya. Katanya dua anaknya kabur dari rumah. Jujur saya kaget. Saya kira kamu kerja di sini ini atas sepengetahuan papa kamu," tutur Pak Bambang.


"Lalu Bapak cerita kalau saya kerja di sini?"


"Belum... karena saya belum memahami masalahnya. Dan jujur saja, saya jadi merasa ga enak sama Satya karena memperkerjakan kamu di sini."


"Saya minta maaf karena saya tidak berterus terang di awal. Saya tidak mau melibatkan Bapak atas permasalahan saya dengan papa. Sore ini saya berencana untuk pulang. Dan kemungkinan saya akan mengajukan resign."


"Saya pun berpikir seperti itu, Deka. Yang terbaik adalah kamu bekerja di perusahaan papamu. Bukan karena saya ga suka kinerja kamu di sini ya. Kinerja kamu baik ... sangat baik malah. Saya yakin dengan potensi yang kamu miliki. Tapi saya juga kasihan lihat Satya, dia kelimpungan loh ga ada kamu. Dan saya lihat kerutan di wajahnya semakin bertambah karena memikirkan dua anaknya yang kabur, hehehehe..."


Deka turut tersenyum menanggapi gurauan Pak Bambang di akhir kalimatnya.


"Terima kasih Bapak sudah menerima saya kerja di sini. Banyak pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan di sini. Dan semoga bisa saya terapkan di pekerjaan saya nanti."


Pak Bambang bangkit dari duduknya dan menghampiri Deka. "Belajarlah dari kemarin, hiduplah untuk hari ini, berharap untuk besok. Yang penting jangan berhenti bertanya. Sukses itu berawal dari sikap mandiri dan attitude yang baik, " tuturnya seraya menepuk bahu Deka.


"Terima kasih, Pak" ucap Deka seraya tersenyum.


"Satu lagi yang harus kamu ingat. Laki-laki itu dilihat dari tanggung jawab serta attitude-nya oleh calon mertua kamu nantinya," pesan Pak Bambang.


"Iya, Pak. Akan selalu saya ingat pesan Bapak," sahut Deka.


"Kamu sudah punya calon mertua 'kan?"


Pertanyaan Pak Bambang menggelitiki hatinya. "Belum, Pak." jawabnya tersipu malu.


*****


Dewa tengah mengayun langkahnya menuju pintu keluar Rumah Sakit. Meskipun ia masih ingin berlama-lama menemani Mimin. Namun kemudian Mami datang dan lagi-lagi mengusirnya. Sepertinya Mami benar-benar tak menyukainya.


Ini menjadi tantangan berat baginya. Jika ayahnya yang tak merestui pernikahannya mungkin ia tak ambil pusing karena masih ada mama yang selalu mendukungnya. Tapi ini, Mami tak menyukainya dan bisa jadi tak merestui pernikahannya. Hal ini pasti akan mengganggu hubungannya dengan Mimin.


Dewa menghentikan langkahnya ketika melewati ruang administrasi Rumah Sakit. Kemudian ia menghampiri counter kasir.


"Sore, Bu. Permisi."


"Iya, Mas. Ada yang bisa dibantu?"


"Iya, Bu. Saya bisa tanya biaya rawat inap pasien di sini?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Boleh, pasien atas nama siapa?"


"Atas nama Jasmina Zahra."


"Ruangan?"


"Ruang VIP nomor 1."


"Sebentar yah, saya cari dulu datanya." Petugas rumah sakit itu mencari data pasien dari komputer di hadapannya. "Pasien atas nama Jasmina Zahra, baru masuk kemarin malam. Memang Mas ini keluarganya?"


"Saya suaminya."


"Oh, begitu."


"Mengenai biaya rawat inapnya bagaimana, Bu?"


"Biasanya nanti tagihan rawat inap akan dihitung saat pasien sudah mau pulang, Mas."


"Saya kebetulan ada keperluan mau ke luar kota, dan belum tahu pulangnya kapan. Kalau saya kasih deposit untuk biaya rawat istri saya, bisa?"


"Bisa, Mas."


Dewa membuka resleting sling bag dan mengambil uang yang memang sudah ia siapkan untuk membayar biaya rumah sakit.


"Ini saya kasih deposit tujuh juta."


"Saya terima, ya Mas. Saya siapkan kuitansinya juga."


"Baik, Mas. Saya catat nomor teleponnya."


Usai mengurus biaya rumah sakit, Dewa melanjutkan langkah pulang. Diiringi sebuah renungan. Uang tujuh juta itu adalah hasil keringatnya dalam dua bulan ini bekerja di bengkel dan kafe.


Beginikah kehidupan yang sesungguhnya? Inikah arti tanggung jawab?


****


Langit begitu cantik dipandang. Warna birunya telah berganti menjadi jingga. Mobil warna putih yang membawa dua pria tampan itu memecah keramaian jalan tol Merak-Jakarta.


Dewa yang mengendarai mobil itu diam tak banyak bicara. Isi kepalanya dipenuhi dengan keresahan tentang sikap Mami. Juga rasa terkejutnya tentang sosok pria yang disebutkan Jejed sebagai pria yang harus bertanggung jawab atas kehamilan Clara.


Ia memang tak mengenal dekat pria itu tapi ia tahu siapa pria itu. Dan ia kini sedang menerka-nerka bagaimana Clara bisa mempunyai hubungan dengan pria itu. Dirinya yang terlalu bodoh dan cuek sehingga tak pernah mengendus perselingkuhan Clara. Atau Clara yang terlalu pandai dalam menutupi kebobrokannya.


"Ehem...." Deka berdehem untuk memecah kesunyian di dalam mobil yang sedang melaju. Dewa yang dalam perjalanan pulang ini didaulat untuk menyetir mobil, melirik Deka sekilas yang duduk di sebelahnya.


"Jasmin sakit apa?" tanya Deka.


"Hipokalemia," jawab Dewa singkat saja.


"Apa itu?"

__ADS_1


"Kekurangan kalium."


Kemudian hening sejenak.


"Papa Mama gimana kabarnya?" tanya Deka.


"Terakhir ketemu sih baik-baik saja."


"Waktu lo nikah berarti Papa Mama datang ke sini?"


"Enggak."


"Kok enggak? Jadi Papa Mama belum ketemu sama Jasmin?"


"Udah ketemu tapi Papa malah bikin kacau."


"Kenapa?"


"Di depan Jasmin dan orangtuanya, Papa malah bilang kalau Clara hamil dan gue harus tanggung jawab menikahi Clara."


"Jadi gara-gara itu Jasmin masuk rumah sakit?" tanya Deka khawatir.


Dewa melirik sekilas ke arah Deka dan melihat raut khawatir di wajah kakaknya itu. " Mungkin. Bisa jadi," sahutnya.


"Jadi, karena hal itu kita pulang sekarang ini?"


"Iya."


"Tapi gue...."


"Gue udah baca surat lo," sahut Dewa. Pandangannya lurus ke depan fokus pada jalan.


"Gue minta maaf," ucap Deka tanpa melirik ke arah Dewa.


"Udah gue maafin. Yang penting lo mau datang untuk menemui papanya Clara."


"Tapi bukan gue yang...."


"Kita buktikan nanti."


Langit mulai menggelap. Matahari mulai terbenam. Sayup-sayup terdengar suara azan dari masjid yang berada di perkampungan di sisi jalan tol ini. Dewa membelokkan kemudinya ke Rest Area Km. 45 yang berada di daerah Balaraja.


"Ngapain belok ke sini? Bensin penuh, gue ga lapar dan ga mau ke toilet juga," ujar Deka.


"Kita ke masjid dulu, Bang!" seru Dewa.


"Ngapain?"


"Salat Magrib."

__ADS_1


"....." Seketika Deka bungkam karena terkejut, bingung lalu melongo.


__ADS_2