
Dengan rasa cemas, Dewa melongokkan kepalanya ke dalam ruangan tempat Mimin terbaring. Cemas sebab rasa khawatir akan keberadaan Mami di sana yang mungkin akan menolak kedatangannya atau bahkan mengusirnya.
Ia bernapas lega ketika mendapati Opi yang tengah duduk sendiri di dalam ruangan itu dengan tangan yang sibuk menggulir ponselnya. Sudah bisa ditebak pasti Opi sedang bermain sosial media seperti kebanyakan orang yang zaman sekarang lakukan.
"Assalamualaikum," sapa Dewa.
"Waalaikum salam. Sssttt... Jangan berisik. Teteh baru aja tidur," sahut Opi. Telunjuknya ditempelkan di bibir memberi isyarat agar Dewa yang baru datang itu tidak berisik.
"Dari tadi tidurnya?" Dewa berbicara sepelan mungkin agar tak membangunkan Mimin.
"Iya, barusan aja," bisik Opi.
"Lo pulang aja Pi. Biar gue yang nungguin Mina," cetus Dewa yang memandang wajah lelah Opi dan masih mengenakan seragam sekolah.
"Beneran gak papa gue tinggal? Gue belum salat Zuhur soalnya," kata Opi.
"Iya sono, lo salat dulu aja."
"Ok, deh." Opi beranjak dari duduknya lalu menyambar tas sekolahnya yang tergeletak di lantai.
"Opi...!" seru Dewa ketika langkah Opi hampir mencapai pintu hendak keluar dari ruangan.
"Hah?"
"Mami mau ke sini ga?"
"Paling Mami nanti sore ke sini."
"Oh, syukurlah," sahut Dewa lega.
Setelahnya Opi pergi meninggalkan ruangan itu.
Dewa melangkah mendekati hospital bed tempat Mimin terbaring. Ia tersenyum menatap wajah cantik istrinya yang tengah tertidur. Ingin sekali rasanya mencium kening, pipi dan bibir yang setengah terbuka itu namun ia tak sampai hati melakukannya khawatir membangunkan. Menatap wajah cantiknya saja sudah membuatnya berbunga-bunga.
Lima belas menit telah berlalu, Mimin masih terlelap. Dewa yang selama menunggu Mimin tidur memilih duduk di kursi dekat hospital bed dengan maksud agar puas memandangi wajah istrinya.
Tubuhnya yang terasa lelah membuatnya ingin rebahan juga untuk sekedar melemaskan otot-otot. Ia bangkit berdiri dari duduknya. Lalu berjalan mengitari ranjang dan naik ke atasnya dari sisi kanan. Sebab di sisi kiri Mimin terlalu rumit dengan infusan dan alat-alatnya.
Decit suara ranjang karena dinaiki Dewa membuat Mimin terjaga dan membuka matanya.
__ADS_1
"Aa..." Mimin terkejut ketika mendapati Dewa telah naik ke atas ranjangnya.
"Neng, kok bangun? Tidur aja lagi," sahut Dewa. Kemudian membaringkan tubuhnya di samping Mimin dengan posisi miring menghadap Mimin. "Aku tidur di sini juga ya," katanya seraya melemparkan senyum.
Ranjang rumah sakit itu seketika menjadi sempit. Mimin yang semula tidur menelentang mengubah posisi berbaring menghadap Dewa. Sehingga mereka kini berbaring saling berhadapan dengan jarak wajah keduanya yang sangat dekat.
"Maafin sikap Mami tadi ya," ujar Mimin. Ia teringat kejadian tadi pagi ketika Mami mengusir Dewa dan Deka yang tengah bersitegang.
"Aku yang harus minta maaf. Maafin Aku ya." Dewa mengusap lembut pipi Mimin dengan punggung tangannya. Mereka mengobrol dengan jarak yang sangat dekat hingga hangat nafas keduanya saling meniup satu sama lain.
"Lalu bagaimana kelanjutannya?" tanya Mimin.
"Apa kamu percaya aku?" Dewa membalas dengan pertanyaan lagi.
Mimin mengangguk. "Percaya. Aku sangat percaya suamiku."
Dewa tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada Mimin dan mendaratkan sebuah kecupan mesra, lembut dan lama di kening sehalus pualam itu. "Makasih ya," ucapnya.
"Dua hari kemarin aku sama Jejed sibuk nyari Bang Deka bahkan sampai ke lubang semut di seluruh Jakarta, eh malah dia ada di sini." Dewa bahkan tak percaya dan terkaget bukan main ketika bertemu Deka di Rumah Sakit ini di tempat istrinya dirawat.
"Pak Deka rekan kerja aku."
"Belum lama, sekitar dua bulan."
"Apa dia juga menyukai kamu?"
"Aku enggak tahu."
"Kelihatannya dia juga menyukai kamu."
"Yang penting... Neng udah jadi istri Aa."
Dewa tersenyum seraya menoel gemas ujung hidung mancung Mimin.
"Iya dong. Mina Dewa... Dewa Mina... Yes!!" Dewa berkelakar hingga membuat Mimin tersenyum sampai tampak deretan gigi putihnya.
Cup... Dewa mengecup pipi Mimin. Kemudian Ia berniat ingin melakukannya lagi, mengecup pipi itu sekali lagi atau yang lebih dari itu. Namun Mimin justru mendorong pelan tubuh Dewa. Mengisyaratkan sebuah penolakan.
"Apa Pak Deka bersedia menikahi wanita itu?" tanya Mimin dengan raut cemas. Rupanya ini alasan dari penolakannya tadi. Ia masih cemas dengan masalah yang menimpa kehidupan pernikahannya.
__ADS_1
"Nanti sore aku mau pulang sama Bang Deka. Pulang aja dulu. Masalah nanti kemudian bagaimana, biar kami pikirkan lagi. Yang penting Bang Deka mau pulang dulu." Dewa kembali mengusap pipi Mimin. Berusaha memberikan ketenangan pada istrinya yang tampak khawatir.
"Kalau Pak Deka tidak bersedia menikahi wanita itu. Apa itu berarti kamu tetap harus menikahi wanita itu?"
"Emmm..." Dewa mengetukkan ujung telunjuknya di dagu. Berekspresi seperti orang sedang berpikir. "Apa itu berarti kamu mengkhawatirkan aku?"
Mimin mengangguk. Tentu saja ia khawatir. Mana ada istri yang tak khawatir ketika suaminya didesak menikahi wanita lain.
Dewa menatap mesra wajah cantik Mimin. Jarang sekali mereka ada di posisi sedekat ini, seintim ini. Berbaring bersama di atas tempat tidur pasien yang seharusnya untuk satu orang. Bersesak-sesak asoy. Dewa terkekeh sendiri dalam hati.
Hingga jiwa mesum-nya pun hadir tanpa permisi. Mesum dengan istri sendiri, halal dong. Begitu pikirnya.
Ia mengangkat sedikit kepalanya. Lalu merengkuh wajah istrinya dan mendaratkan sebuah ciuman di sana. Ini adalah ciuman keduanya dengan Mimin. Tak mau seperti ciu*man pertama yang seketika kandas karena kehadiran Hana. Kali ini ia berniat akan melakukan aksi ciu*man seperti yang diharapkannya. Ciu*man liar seperti yang ada di dalam pikiran mesum-nya. Sekali lagi ia bergumam dalam hati. Mesum dengan istri sendiri, halal dong.
Ia sedang berusaha mendesak masuk indra pengecapnya saat bibir keduanya telah bertautan. Berusaha agar Mimin membuka mulutnya sehingga indra pengecapnya bisa menari-nari di dalam sana. Supaya bisa saling merasakan rasa manis saliva keduanya. Tapi... Mimin yang tak berpengalaman dalam aksi ciu*man malah menutup bibirnya rapat.
Dewa mulai berpikir sepertinya harus memberikan edukasi dini tentang ciu*man kepada istrinya yang tak berpengalaman itu. Bicara soal pengalaman, jujur saja ini adalah bukan ciuman pertamanya. Bahkan dengan Clara saja itu bukan ciu*man pertamanya. Menggambarkan sungguh buruknya ia di masa lalu, sebelum bertemu dengan Mimin.
Dewa melepaskan pagutannya. "Aku beruntung ya. Aku yang pertama dan satu-satunya 'kan?"
Mimin mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.
"Mulutnya mangap dong... dikiiiiiiit aja," ujar Dewa.
"Hah??" Kata' Hah' yang lolos dari bibir Mimin spontan membuat mulut Mimin terbuka. Tanpa aba-aba Dewa segera merengkuh bibir itu dalam pagutannya. Tangan kirinya merangkul punggung Mimin dan merengkuhnya dalam dekapan. Dan sebelah kakinya bahkan sudah menumpang di atss kaki Mimin agar bisa lebih menghayati aksinya itu. Beraksi liar seperti yang ada di dalam pikirannya.
"Teteh, Ka Dewa lagi ngapain?!" seruan polos Opi sontak membuat keduanya saling melepaskan diri. Mimin bahkan refleks mendorong tubuh Dewa hingga terjatuh... Gubrak...
.
.
.
.
Sementara nunggu ilham. Muter-muter aje dulu. Maafkan ya.
Terima kasih sudah membaca karya ini.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️