Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
S2. Kabar Dari Jejed


__ADS_3

"Teteh, Ka Dewa lagi ngapain?!"


Hadeuh Opi... pake nanya lagi ngapain. Kamu menghancurkan niat mesum-ku. Astagfirullah. Gumam Dewa dalam hati.


Sembari meringis mengaduh, memegangi bokongnya yang terasa sakit dan pinggangnya yang dipastikan pegal linu. Untung saja tadi kakinya cukup cekatan, sebelum jatuh ia mendaratkan kakinya terlebih dahulu. Hingga bokongnya tak jatuh menyentuh lantai hanya menyenggol kursi plastik dekat ranjang tempat mereka bermesraan tadi. Kursi plastik itu yang akhirnya terjatuh dan menimbulkan suara gaduh. Gubrak.


"Lagian, kalian itu malah mesum di sini. Inget ini rumah sakit! Dan Opi ini masih di bawah umur, belum 18 plus... malah lihat begituan!" omel Opi sambil berkacak pinggang.


Mimin memilih untuk menarik selimutnya hingga menutup wajahnya karena benar-benar malu. Sementara Dewa menggaruk-garuk kepalanya meski tak terasa gatal.


"Selamat siang," sapa seorang dokter wanita yang masuk ke ruangan ditemani seorang perawat wanita.


"Siang, Dok." Semua kompak menjawab sapaan dokter yang hendak melakukan kunjungan, memeriksa pasien.


"Wajah Mas-nya kayak ga asing. Kayak pernah lihat di mana ya," ucap dokter itu ketika melewati Dewa dan menyempatkan diri untuk menatap pria yang terlihat sangat keren itu.


"Iya kah, Dok?" sahut Dewa.


"Emmm... Sambil mengingat-ingat, saya periksa pasien dulu ya." Dokter itu berjalan menghampiri Mimin. Lalu berdiri di sisi kiri ranjang pasien untuk melakukan sederet pemeriksaan. Sementara Dewa juga turut menghampiri Mimin dan berdiri di sisi kanan ranjang pasien. Dan Opi berdiri di samping Dewa


"Gimana kabarnya? Hari ini semakin baik ya?" tanya dokter itu seraya menyentuhkan stetoskop di dada Mimin.


"Alhamdulillah," jawab Mimin.


"Saya lihat di sini, kalium sudah bagus sudah ada kenaikan." Dokter membaca kertas file yang diberikan perawat yang mendampinginya.


"Alhamdulillah."


"Harus banyak makan ya, terutama yang banyak mengandung kalium."


"Iya, Dok. Emmm... Kapan saya bisa pulang?" tanya Mimin. Padahal ini baru hari kedua ia dirawat. Tentu saja ia tidak betah berlama-lama menginap di Rumah Sakit.


"Kalau itu nanti kita lihat bagaimana perkembangannya. Kalau setiap hari semakin naik kadar kalium-nya, kalau sudah menyentuh angka normal pasti pulang kok. Kenapa? Ga betah ya nginep di Rumah Sakit?" sahut dokter itu.


"Sabar Neng. Gak papa istirahat di sini dulu, yang penting Neng sehat lagi," sahut Dewa.


"Oh iya, saya inget sekarang. Mas-nya yang nyanyi di Baretos Cafe kan?" tebak dokter wanita itu yang sudah mulai mengingat sosok Dewa.


"Iya, benar Dok." Dewa melirik name tag yang menempel di baju dokter itu. Ia membaca tulisan yang tertera pada papan lencana tersebut. Dari name tag diketahui dokter wanita itu bernama dokter Dina.


"Dokter Dina sering ke Baretos Cafe?" tanyanya kemudian.


"Sering sih enggak, tapi sudah beberapa kali datang ke sana. Mas... Mas Dewa kan namanya?"


"Betul, Dok."


"Loh, Dokter kok tahu nama Ka Dewa sih?" Opi yang sedari tadi diam saja turut menyahut.


"Dia kan artis. Artis Baretos Cafe. Aku nge-fans loh sama suaranya Mas Dewa," sahut dokter Dina.


"Dokter bisa aja." Dewa tersenyum malu-malu.


"Aku pernah dinyanyiin sama Mas Dewa loh. Aku udah ge er aja waktu itu. Kirain Mas Dewa sungguh nyanyi buat aku. Eh, ternyata request dari pacar aku," terang dokter Dina.


"Oh, dokter ini yang dilamar sama Mas Doni di Baretos Cafe waktu itu ya," sahut Dewa. Ia teringat saat mempersembahkan lagu berjudul Bukti milik Virgoun kepada wanita itu.

__ADS_1


"Betul, Mas."


Setelahnya, tercipta obrolan hangat antara Dewa dan dokter cantik yang bernama Dina itu. Mimin hanya diam menyimak obrolan keduanya. Memperhatikan begitu luwes-nya Dewa dalam berbincang dengan seseorang wanita yang baru saja dikenalnya menciptakan setitik rasa resah dalam lubuk hatinya.


Begitukah Dewa? Apakah sikapnya memang selalu hangat terhadap wanita? Apakah mantan pacarnya yang tengah hamil itu adalah satu-satunya mantan pacarnya? Ataukah ada yang lain? Setangkup rasa gundah menyeruak di relung hatinya.


"Ok deh Mas Dewa, saya harus melanjutkan tugas nih. Nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi kalau kebetulan ketemu," ujar dokter Dina setelah beberapa menit berbincang dengan Dewa.


"Oh, iya. Silakan Dok," sahut Dewa ramah.


"Oya, Mba Jasmin ini siapanya Mas Dewa?" tanya dokter Dina.


"Ini istri saya, Dok." Dewa menggenggam tangan Mimin. Ibu jarinya bergerak-gerak mengusap punggung tangan Mimin.


"Oya... Kirain masih single. Jadi ini istrinya?" Dokter Dina mengalihkan pandangannya kepada Mimin. Menanggapi pertanyaan dokter Dina, Mimin mengangguk dengan diiringi sebuah senyuman.


"Mba Jasmina Zahra semangat yah, kan udah ditengok sama suami. Nanti kalau sudah pulang dari sini, pola makan harus berubah. Makan yang teratur dan makan makanan yang sehat. Kasian dong Mas Dewa-nya kalau Mba Jasmin sakit apalagi sampai masuk rumah sakit lagi," tutur sang Dokter dengan sederet pesannya.


Mimin mengangguk mendengarkan nasihat dokter Dina.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu ya. Semoga lekas sehat ya Mba Jasmin."


"Terima kasih, Dok."


"Mas Dewa dijaga yah istri cantiknya."


"Pasti, Dok."


Kemudian dokter itu pergi meninggalkan ruangan untuk melanjutkan tugasnya.


"Enggak ah. Orang disuruh Mami jagain Teteh sampai Mami datang ke sini," sahut Opi.


"Jam berapa Mami ke sini?"


"Gak tahu. Seberesnya di rumah mungkin."


"Lo ga laper apa Pi? Udah sono... lo makan dulu aja. Nanti lo ikutan sakit, kalau gak makan."


"Kalau soal makan ga usah disuruh itu hobi gue. Alah, bilang aja lo mau mesum makanya ngusir-ngusir gue," sungut Opi.


"Hehehehe... Nah, itu tau." Dewa tersenyum menyeringai.


"Mendingan si Teteh disuapin tuh. Suruh banyak makan pisang," sahut Opi lalu menghempaskan bokongnya pada sebuah kursi.


Dewa meraih pisang yang tergeletak di atas nakas rumah sakit lalu mengupas kulitnya pelan-pelan sambil sesekali menatap Mimin.


"Ternyata harus banyak makan pisang ya," ucapnya dengan senyuman menggoda. Membuat Mimin menjadi salah tingkah.


"Tenang, nanti kalau sudah resepsi. Aa pastikan Neng akan sering-sering makan pisang," ucapnya lagi, kali ini sambil mengulum senyum.


"Sehari mau berapa kali makan pisangnya?" goda Dewa.


PLAK... Mimin memukul lengan Dewa hingga hampir membuat pisang itu terjatuh.


"Loh, memang ada yang salah dengan ucapan Aa?!"

__ADS_1


"Salah."


"Yang mana yang salah?"


"Berapa kali. Kenapa berapa kali? Harusnya berapa buah!" seru Mimin.


"Hehehehe... Iya iya." Dewa terkekeh menanggapi reaksi istrinya.


Ia menyodorkan pisang yang telah dikupas kulitnya sampai setengah. "Ayo dimakan pisangnya. Aku suapin ya."


"Enggak usah. Aku makan sendiri aja," kilah Mimin. Ia mengambil pisang itu dari tangan Dewa.


"Eh, jangan. Aku suapin aja. Ini permintaan suami," ujar Dewa tak mau kalah.


Mau tak mau, meski malu-malu, Mimin membuka mulutnya dan menggigit pisang yang disodorkan Dewa.


"Enak ga Neng?" Dewa melemparkan pertanyaan aneh. Seolah ini pertama kali Mimin makan pisang.


Mimin mengangguk dengan mulut masih mengunyah satu gigitan pisang.


"Kalau makan pisang itu... jangan diemut...." Mimin tampak serius menyimak ucapan suaminya.


"... jangan dihayati..." Mimin kembali menggigit pisang yang disodorkan Dewa lalu mengunyahnya.


"... jangan menutup mata terlalu lama ... jangan membuat kontak mata dengan siapa pun ...  jangan mengeluarkan suara mendesah... dan yang terakhir.... jangan pernah melakukan kelima hal itu bersamaan. Hahahaha...."


"Aduh duh duh..." pekik Dewa karena cubitan Mimin. Kemudian ia tergelak lagi.


Saat ia masih tergelak dalam tawa, ada getaran terasa di saku bajunya. Ada panggilan masuk ke ponselnya. Ia merogoh saku baju untuk meraih ponsel. Tertulis nama Jejed di sana. Tawanya terhenti karena akan menjawab panggilan telepon dari Jejed.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


"Iya, Jed."


"Wa, gue udah dapat info tentang Clara. Gue baru aja menemui Jono."


"Jono??"


"Maksudnya Jenny." Ralat Jejed karena Dewa mengenal sosok bunglon itu sebagai Jenny.


"Oh ya, terus."


"Gue udah tahu Clara hamil anak siapa."


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca karya ini. Jangan lupa pijit Like nya. ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2