Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Putus Kontak


__ADS_3

"Ini sebenarnya ada masalah apa Mah, Pah??” tanya Dewa. Setitik rasa cemas menggelayuti hatinya.


"Dewa, untuk kali ini tolong kamu turuti perintah papa. Menikahlah dengan Clara!" seru Pak Satya yang terdengar bak dentuman petir  menggelegar bagi Dewa. Benar-benar tak menyangka akan seperti ini reaksi Papa atas kepulangannya.


"Apa? Menikah dengan Clara? Bagaimana bisa papa berpikir agar aku menikah dengan Clara, Hah!" sahut Dewa.


"Clara hamil Wa!" sahut Pak Satya seraya menatap tajam Dewa.


"Apa hubungannya dengan aku Pah!" elak Dewa. Ia tak mengerti bagaimana jalan pikiran papanya sampai meminta dirinya menikahi Clara yang tengah hamil. Padahal jelas ia tak memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab atas kehamilan Clara.


"Pah, cukup! Jangan paksa Dewa melakukan sesuatu yang bukan tanggung jawabnya!" seru Bu Dewi yang tak menyetujui keinginan suaminya.


"Mama mau Pak Harto menghancurkan perusahaan Papa?!" balas Pak Satya mengingatkan istrinya.


Siapa yang tak mengenal Pak Soeharto Darwin ayahnya Clara. Pengusaha sukses yang masuk daftar orang terkaya dan paling berkuasa di negeri ini. Hanya dengan menjentikkan jari, dia bisa melakukan apa saja. Apalagi hanya untuk menghancurkan perusahaan kecil milik Pak Satya. Tentu hal yang mudah baginya, semudah menyeka debu yang menempel di baju.


"Tapi bukan Dewa yang harus menanggungnya Pah! Dewa sudah terluka akibat ulah Deka, dan sekarang Papa mau Dewa yang bertanggung jawab atas kehamilan Clara!" geram Bu Dewi tak terima dengan keputusan suaminya. Kini, di antara Pak Satya dan Bu Dewi malah terjadi perdebatan panas.


"Kalau Deka ada di sini, Papa pasti akan paksa Deka yang menikahi Clara. Tapi Deka ga ada. Lalu bagaimana solusinya?"


Bu Dewi bergeming. Ia pun bukan tak mengetahui masalah ini. Bahkan beberapa hari ini butiknya kerap didatangi pria bertubuh besar yang mencari keberadaan putranya. Dan ia menduga jika pria bertubuh besar itu adalah orang-orangnya Pak Harto.


"Papa cari Deka dong! Anak kesayangan papa itu!" sahut Bu Dewi.


"Papa harus cari ke mana lagi Mah? Papa sudah mencari ke segala penjuru sudut kota ini tapi ga ketemu!" balas Pak Satya tak mau kalah.


"Itu karena Papa salah mendidik Deka. Deka malah jadi laki-laki pengecut, laki-laki yang tidak bertanggung jawab," gerutu Bu Dewi yang menyesali sikap Deka yang lari dari tanggung jawab.


"Sudah... Sudah...! Mama sama Papa malah jadi berantem sih!" seru Dewa menengahi perdebatan mama papanya.


"Pah, Dewa pulang ke rumah ini untuk mengajak Mama dan Papa melamar dan menikahkan Dewa dengan Mina," terang Dewa.


"Siapa Mina? Kamu harus menikah dengan Clara, Dewa!" sahut Pak Satya.


"Maaf, Dewa gak bisa dan ga akan pernah. Karena Dewa sudah menikah, Pah!" tegas Dewa.


"Apa? Kamu sudah menikah?!" ujar Pak Satya terkejut. Lalu tersenyum miring. "Mah, lihat jagoanmu itu, yang katanya mantan anak santri. Hah, seperti itukah caranya menikah yang diajarkan dalam pondoknya, tanpa memberitahukan orang tua," cibir Pak Satya.


Padahal pernikahan dalam agama Islam sudah sah jika telah terpenuhi rukunnya. Yaitu, ada mempelai laki-laki, mempelai perempuan, wali dari pihak perempuan, saksi nikah dari kedua belah pihak (saat menikah dulu, Sol menjadi saksi dari pihak laki-laki), mahar, dan ijab kabul.

__ADS_1


"Makanya Dewa mau ajak Mama dan Papa untuk menemui keluarga istri Dewa, Pah. Untuk mensahkan pernikahan Dewa secara hukum negara dan melaksanakan resepsi."


"Jangan pernah berpikir Papa akan menuruti keinginan kamu, Dewa! Papa tidak akan pernah merestui pernikahan kamu selain dengan Clara. TITIK!!!"


"Dewa akan tetap melanjutkan rencana resepsi pernikahan meski tanpa restu Papa!"


Pak Satya tertawa mengejek. "Hahahaha..."


"Memangnya kamu punya uang Wa... Hahahaha... Kamu pikir berapa biaya untuk resepsi itu, Hah?! Tanpa orang tua kamu bisa apa, Hah!" cibir Pak Satya.


Dewa bergeming. Benar apa yang dikatakan papanya, ia tak bisa apa-apa tanpa orang tua. Tak pernah terpikirkan tentang biaya resepsi yang pastinya besar. Memang ia masih memiliki tabungan, sisa dari gajinya bekerja di bengkel dan kafe. Namun, jumlahnya tak seberapa dan tak akan cukup untuk membiayai resepsi pernikahan.  Ia tak pernah menyangka akan menghadapi masalah serumit ini, tak menyangka akan mendapatkan halangan dari sang papa.


"Mama yang akan membiayai resepsinya!" sahut Bu Dewi.


"Jangan harap Papa akan mengizinkannya. Ingat kepemilikan butik itu atas nama Papa. Dan Papa akan menutup akses keuangan untuk Mama!" ancam Pak Satya. Kemudian berlalu meninggalkan istri dan anaknya.


"Pah...! Tapi Pah...." Bu Dewi hendak melangkahkan kaki menyusul suaminya, namun ditahan oleh Dewa. "Udah Ma, biarkan saja," sahut Dewa.


"Sabar yah, Wa. Mama akan berusaha membujuk papa kamu. Sekarang kamu istirahat saja. Kamu pasti lelah kan?"


Dewa menjawab dengan sebuah anggukan. Bu Dewi mengusap lembut pipi anaknya. Kemudian berlalu meninggalkan kamar Dewa.


*****


Ia membuka kembali nomor kontak Dewa. Kontak Dewa yang dahulu ditulis "Pria Itu" kini berubah menjadi Aa'ku. Dilihatnya pesan yang dikirimkan kepada Dewa saat magrib tadi masih centang abu-abu.


Aa udah sampai mana? Jangan lupa salat magrib A. Begitu pesan yang ia kirimkan.


Kemudian ia men-scroll pesan chat dari Dewa dan membaca kembali pesan-pesan yang dulu dikirimkan oleh Dewa. Ia tersenyum lebar bahkan sampai terkekeh sendiri ketika membaca pesan tentang gado-gado, pantun, gombalan, kutipan-kutipan lucu, hingga stiker-stiker lucu yang pernah dikirimkan Dewa.


Ia masih asyik tertawa ketika kemudian terdengar deru motor yang sangat dikenalnya. Ia yang sedang merebahkan dirinya di atas kasur sambil membaca pesan-pesan Dewa seketika beringsut bangun dan mengayun cepat langkahnya menuju teras sebab mendengar suara motor Dewa.


"Kang Soleh!" seru Mimin setelah sampai teras kontrakan dan didapatinya Sol tengah memanaskan motor Dewa.


"Iya, Min." Sol yang hendak memakai helm, kemudian mengurungkannya karena seruan Mimin.


"Kang Sol mau ke mana?" tanya Mimin.


"Mau pulang, Min. Kalau tinggal sendirian di kontrakan rasanya sepi kayak hatiku, hehehehe..."

__ADS_1


"Kang, memang biasanya dari sini berapa jam untuk sampai ke rumah Aa... Eh, Dewa?" tanya Mimin.


"Idih Neng Mimin baru juga berapa jam enggak ketemu Aa Dewa, udah kangen aja," goda Sol.


Mimin tersenyum tersipu. Benar apa yang dikatakan Sol, baru berapa jam berpisah dengan suami kerennya itu, rasanya sudah sangat rindu dan... takut. Takut jika Dewa tak kembali lagi ke sini. Astagfirullah. Gumamnya untuk menepis kekhawatirannya.


"Paling dua jam juga udah sampai Min," jawab Sol kemudian.


"Tapi kok, A Dewa belum mengabari ya? Dan pesanku juga belum dibaca," ujar Mimin.


"Udah coba ditelepon?" tanya Sol.


Mimin menggeleng. "Belum."


"Coba dulu ditelepon," saran Sol.


Mimin pun menuruti perintah Sol untuk menelepon Dewa, namun yang menjawab adalah suara seorang wanita yang tak lain adalah operator telepon. "Gak aktif nomornya, Kang."


"Mungkin lowbet kali. Udah tenang aja, pasti Dewa bakalan telepon kamu, Min."


"Aku takut Aa kenapa-kenapa," ujar Mimin. Raut kekhawatiran tampak jelas terlihat di wajah cantiknya.


"Udah ga usah khawatir, tiga hari doang kan dia pulang. Kalau lebih dari tiga hari dia ga balik ke sini, nanti aku antar kamu menyusul ke rumah Dewa," sahut Sol untuk menenangkan hati Mimin.


"Kalau A Dewa menghubungi Kang Sol, nanti kabari aku ya, Kang," pinta Mimin.


"Siap, Neng Mimin."


"Ya sudah hati-hati Kang. Kalau begitu aku masuk dulu ya."


"Iya Min."


Mimin pun masuk kembali ke dalam rumah.


.


.


.

__ADS_1


Maaf ya sedikit. Dan belum diberi judul juga 🤭.


Ada yang punya ide bab ini dikasih judul apa?


__ADS_2