Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
S2. Bab 99


__ADS_3

Dewa membalikkan tubuh Mimin sehingga posisi mereka berhadapan dan dalam jarak yang sangat dekat. Mimin terkesima melihat Dewa yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang. Persis seperti dugaannya.


Mimin tertunduk gelisah. Jantungnya berdegup bertalu-talu. Hatinya berdesir-desir ketika memandang pria tampan yang tengah bertelanjang dada berdiri dihadapannya. Perut rata dan sixpack membuat Dewa terlihat gimanaaaa gitu.


"Aa kangen, Neng.” Dewa mengecup kedua tangan Mimin dengan lembut dan meresapi. Mimin semakin gelisah dibuatnya.


“Neng kangen ga sama Aa?” tanya Dewa. Kini ia telah melepaskan kecupannya berganti dengan menatap Mimin. Tangannya masih menggenggam erat tangan Mimin.


Mimin mengangguk seraya balas menatap Dewa. Tentu saja ia pun merasa kangen. Mami membatasi geraknya untuk berdekatan dengan Dewa. Meski setiap hari mereka masih berkomunikasi lewat chat, namun akan berbeda rasanya jika mereka bisa berdekatan seperti ini.


“Kita udah halal kan, Neng?”


Mimin mengangguk lagi.


“Berarti boleh ‘kan?” Dewa menatap Mimin dengan tatapan penuh harap dan cinta.


Mimin tengah memaknai kalimat yang baru saja  diucapkan Dewa. Boleh? Boleh apa maksudnya? Batinnya bertanya-tanya.


"Sekarang aja, ga papa kali," sahut Dewa.


Sekarang? Sekarang apa maksudnya? Batin Mimin kembali bergumam.


Saat Mimin tengah berpikir dan memaknai kalimat yang diucapkan Dewa, sebuah kecupan mendarat di keningnya. Cup.


"Boleh ya?" kerling Dewa.


"Boleh ap...."


Hump... Belum tuntas kalimat yang diucapkan Mimin, Dewa sudah menautkan bibirnya. Dengan gerakan yang terstruktur, sistematis dan masif Dewa berhasil mendesak Mimin membuka mulutnya. Lalu melancarkan aksi lihainya di dalam sana. Menunjukkan kelihaiannya dalam menggigit, mengecap dan menyesap. Untuk merasakan liur yang terasa manis-manisnya.


Pada hakikatnya setiap manusia memiliki naluri yaitu pola perilaku dan reaksi terhadap suatu rangsangan tertentu yang tidak dipelajari tetapi telah ada sejak lahir. Begitulah yang kini terjadi pada Mimin. Meskipun tak berpengalaman, nyatanya kini ia mampu mengimbangi aksi yang sedang dilakukan suaminya.


Selangkah demi selangkah Mimin memundurkan langkahnya sebab desakan aksi dari Dewa yang begitu menggelora. Ia melangkah mundur hingga kakinya menyentuh kasur busa yang terhampar di atas lantai.


Entah bagaimana ceritanya tanpa sadar kini tubuhnya telah terbaring di atas kasur tanpa ranjang itu. Jilbabnya pun entah tercampak ke mana. Bahkan resleting depan pakaiannya sudah turun ke bawah. Ia tak mengingat bagaimana Dewa melakukannya. Sebab terhipnotis oleh suasana penuh nuansa.


Dewa terus melancarkan aksinya. Bahkan kini pria tampan yang sudah halal bagi Mimin itu telah berpindah haluan. Tengah asyik beraksi pada sesuatu yang baru pertama kali ia sentuh. Suatu kegiatan yang baru pertama kali dilakukannya.


Dalam buaian gelora yang membara, Mimin masih menapak dalam kesadarannya. Ia paham aksi yang sedang dilakukan suaminya itu akan berakhir di mana. Deretan pesan Mami kepadanya beberapa hari ini menimbulkan kebimbangan di relung hatinya.


Lalu bagaimana? Apa harus menolak dan menghentikan semuanya? Atau lanjutkan saja karena biar bagaimanapun Dewa adalah sah dan halal baginya. Dan memang sudah selayaknya bahkan wajib hukumnya melakukan seperti yang tengah dilakukannya.


Dalam ayunan gai*rah yang menggebu akhirnya ia menetapkan hati untuk mengikuti ke mana pun aksi ini akan berujung.


Mengabaikan pesan Mami. "Teteh jangan mau diapa-apain dulu sama Dewa. Inget ya, Teh. Ini untuk kebaikan Teteh."


Dewa masih membuainya dalam gelombang lautan hasrat yang membara. Menjadikan senyar-senyar yang dirasakannya itu semakin nyata dan menyala-nyala. Menerbangkannya dalam nuansa penuh cinta. Hingga kemudian semuanya terhempas karena seruan Mami.


"Teteh...!!"

__ADS_1


"Opi lihat Teteh ga?"


"Enggak, Mih."


"Terus Teteh ke mana?"


"Enggak tau, Mih."


"Teteh...!!"


"Teteh...!!"


Obrolan antara Mami dan Opi itu terdengar jelas dari dalam kamar yang suhunya telah memanas.


"Teh... Teteh...!!" seruan Mami yang dikhawatirkannya adalah dari depan kontrakan.


"Astagfirullah. Udahan A, ada Mami." Mimin mendorong tubuh Dewa yang tengah berada di atasnya.


"Maaf yah A," ucapnya.


Mimin segera bangkit dari tempat tidur dan mencari-cari jilbabnya. Dengan langkah tergesa ia keluar kamar sembari memakai jilbab dan tak lupa menaikkan resleting depan pakaiannya. Meninggalkan Dewa yang hanya mampu meringis untuk merelakan semua yang terhenti secara paksa. Membuat kepalanya berdenyut-denyut dan pusing tiada tara.


"Baru juga pemanasan. Belum masuk ke gerakan inti apalagi pendinginan," keluh Dewa pada keadaan yang tak sesuai harapannya.


"Ya Allah sampai kapan. Jangan sampai adek gue jadi karatan apalagi jamuran. Astagfirullah." Dewa mengacak rambutnya dan memukul pelan kepalanya. Berharap pusingnya segera hilang.


Ketika Mimin keluar dari kontrakan, Mami ternyata tengah berdiri di depan teras rumah guna mencarinya. Mami yang melihat Mimin keluar dari kontrakan segera menghampiri dan memberondongnya dengan rentetan pertanyaan.


"Teteh habis ketemu dia?"


"Habis ngapain?" Berondongan pertanyaan Mami.


"Teteh tadi ngasih baju aja kok Mih ... untuk dipakai pas acara pernikahan Rahma nanti," sahut Mimin.


"Kalau cuma ngasihin baju, Teteh bisa minta tolong Opi aja. Ga usah Teteh yang nemuin dia."


"Iya, Mih."


"Semoga Teteh masih inget pesan Mami ya. Sementara ini jangan dekat-dekat dulu sama dia," pesan Mami.


"Iya, Mih."


"Jangan karena dia sudah membayar biaya perawatan Teteh di Rumah Sakit, terus dia semudah itu dapetin Teteh. Mami belum ridho."


"Iya, Mih."


"Biarin lah, Mih. Teteh sama Ka Dewa 'kan suami istri. Jadi, biarin lah mereka dekat-dekat juga. Lagian Mami dosa loh kalau misahin suami istri," sahut Opi yang baru datang dan langsung ikut nimbrung.


"Tapi ini untuk kebaikan Teteh. Inget Teteh itu cuma nikah siri sama dia. Kekuatannya lemah di mata hukum. Gimana kalau misalnya Teteh sampai hamil terus papahnya dia itu malah mau nikahin dia sama perempuan lain terus Teteh ditinggal. Gimana coba?"

__ADS_1


"Ih, Mami mah kebanyakan nonton sinetron," sahut Opi.


Sementara Mimin hanya diam saja tak menanggapi ucapan Mami. Entah karena memang tak tahu harus bagaimana untuk menyangkal pendapat Mami. Atau karena Mimin masih terbayang-bayang hal yang baru saja dilakukannya bersama Dewa.


"Masuk ... masuk!!" titah Abah dari dalam rumah. "Jangan membahas masalah pribadi di luar rumah, apalagi masalah keluarga. Malu kalau terdengar orang!" seru Abah lagi. Ketiga wanita itu pun masuk ke dalam rumah mematuhi titah Abah.


Sementara dari dalam kontrakan sedari tadi Dewa menguping pembicaraan Mami dan Mimin. Ia menghembuskan napas berat tatkala mengingat papahnya.


Pah, apa Dewa harus memohon dan berlutut di hadapan Papa agar Papa mau merestui pernikahan Dewa. Batinnya bergumam.


Ia masih berpikir tentang apa yang harus dilakukannya untuk membawa hubungan pernikahannya ke tingkatan yang semestinya ketika kemudian ponselnya berbunyi.


Dengan masih menggunakan handuk yang terlilit di pinggang, ia kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel.


Jejed calling. Itu yang tertera di layar ponselnya. Ia segera mengusap icon telepon warna hijau untuk menjawab panggilan tersebut


"Assalamualaikum, Jed."


"Waalaikum salam, Wa."


"Kenapa Jed?"


"Lagi apa lo Wa?"


"Lagi kesel gue."


"Kesel kenapa lo? Jangan kesel Wa. Gue ada kabar bagus nih."


"Apa?"


"Gue dapat kabar dari Jono katanya hasil tes DNA Clara udah keluar. Dan katanya hasilnya bener Wa. Alex adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab atas kehamilan Clara."


"Alhamdulillah."


"Ada satu lagi kabar baiknya Wa."


"Apa??"


"Sekarang gue udah ga jomblo lagi. Hehehe..."


"Alhamdulillah wa syukurilah. Jadi berkurang deh populasi jomblo di dunia ini," pungkas Dewa sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca cerita ini.

__ADS_1


Terima kasih dukungannya ❤️❤️❤️


__ADS_2