
Kalau bawa hatiku yang rapuh ini untuk kusandarkan di dermaga cintamu, boleh ga? Opi bergeming, sedang menikmati alunan lagu paling indah di taman penuh bunga.
Bagus Dewa, gombalanmu tidak tepat sasaran. Siapa yang dituju, siapa yang merah merona. Yeah.
Opi sedang menikmati kesyahduan hatinya. Jangan berpikir Opi si gadis tomboi baru pertama kali ini digombalin. Sudah sering. Gadis tomboi berwajah manis yang lebih banyak memiliki teman laki-laki dibanding teman perempuan. Beberapa teman laki-lakinya malah berlomba untuk mendapatkan hatinya, di balik cerita persahabatan di antara mereka.
Biasanya kalau digombalin oleh teman laki-lakinya, reaksi Opi adalah meninju, memukul, menimpuk, menendang dan sebagainya. Ia bukan tipe wanita yang lebih mendahulukan perasaan ketimbang logika. Tipe wanita tangguh yang tidak mudah jatuh cinta.
Tapi entah mengapa, gombalan receh dari seorang pria tampan dengan penampilan urakan itu mampu meluluh lantahkan seluruh isi hatinya. Membuatnya terbang hingga ke awan, untuk sejenak menari-nari di atasnya. Lalu turun dari atas perosotan pelangi dengan wajah berseri. Persis seperti iklan sebuah kopi.
"Opi...." seruan Mimin mengejutkan Opi. Mimin sedari tadi memperhatikan wajah adik tomboi-nya yang bersemu merah.
"I-iya Teh," jawab Opi berusaha menetralkan perasaannya.
"Masih ada yang ditanyakan lagi ga?" tanya Mimin yang tentu saja maksud pertanyaan itu ditujukan kepada Dewa.
"Ka, ada yang mau ditanyakan lagi ga?" Opi kembali mendalami perannya sebagai penyambung lidah antara Dewa dan Mimin.
"Emmm, ga ada kayaknya. Gua cocok sama tempat ini, gua suka," jawab Dewa dengan tersenyum. Opi membalas senyuman Dewa, masih dengan wajah yang bersemu merah.
Kemudian sebuah motor berhenti di depan pintu kontrakan. Yang ternyata adalah Sol. Tadi Dewa sempat melakukan sharelock, sehingga Sol bisa sampai ke kontrakan ini.
"Assalamualaikum," sapa Sol.
"Waalaikum salam," jawab Mimin dan Opi.
"Oya, ini temen gue yang mau ngontrak bareng gue di sini," ujar Dewa memperkenalkan Sol. Sol mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Opi menyambut uluran tangan Sol. Sementara Mimin menyambut uluran tangan Sol tanpa bersentuhan. Dewa tersenyum. That's my girl. Gumamnya dalam hati.
"Sol...!!" Dewa mengguncang-guncang tubuh Sol yang tidak berkedip kala menatap Mimin.
"Iya...!" balas Sol kesal.
"Biasa aja lihatnya. Kalau lo lihatnya kaya gitu, bisa bolong mata lo," ujar Dewa sebal.
Dewa memandang Sol, dengan isyarat mata seolah mengatakan "Cantik kan, cantik kan?". Sol yang adalah sahabatnya seolah paham dengan isyarat di mata Dewa dan merespons dengan mengangguk-anggukan kepala menyetujui pernyataan tersirat dari Dewa.
Kelakuan dua pria di hadapan Mimin ini membuatnya salah tingkah. "Mulai kapan ngontraknya?" tanya Mimin tanpa melihat kedua pria itu.
"Mulai malam ini, dong," jawab Dewa mantap.
"Tapi tempat ini belum di bersihkan." Mata Mimin menyapu ke seluruh ruangan yang terbalut debu. Tempat ini sudah sekitar seminggu kosong, ditinggalkan pengontraknya.
"Ga masalah. Aku sama Sol yang akan membersihkannya. Pinjemin aja sapu dan pengepelnya."
__ADS_1
"Sapu dan pengepelnya ambil sendiri aja ada di lorong di samping rumah."
"Oh, ok ok." Dewa menganggukkan kepalanya.
Dewa teringat sesuatu, ia merogoh dompetnya, mengambil sejumlah uang dari dalam dompet. "Oya ini uang kontrakannya, aku bayar di muka," ucapnya.
"Nanti saja ... kalau masalah uang kontrakan sama Abah aja," tolak Mimin.
"Opi... yuk kita balik," ajak Mimin.
"Bentar lah Teh ... Opi pengen di sini dulu," jawab Opi.
"Pulang Opi! Bentar lagi magrib," titah Mimin.
"Iya iya," sungut Opi.
Saat Mimin dan Opi hendak keluar, Pak Haji Zaenudin tiba dan memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah. Pak Haji Zaenudin menghampiri kedua anak gadisnya yang sedang berdiri di depan pintu kontrakan. Mimin dan Opi mencium punggung tangan abahnya.
"Gimana, anak muda yang katanya mau ngontrak itu udah datang?" tanya Pak Haji Zaenudin.
"Assalamualaikum, Abah Haji," sapa Dewa yang segera menghampiri Haji Zaenudin ketika mendengar suaranya.
"Waalaikum salam, Kisanak." Dewa mencium punggung tangan Haji Zaenudin, diikuti oleh Sol.
"Pak Haji, saya mau ngontrak berdua sama temen saya, boleh yah Pak Haji," ujar Dewa.
"Cocok Abah Haji. Saya suka, tempatnya sangat strategis." Tentu saja menurutnya tempat ini sangat strategis, karena dengan tinggal di sini, ia akan lebih mudah mendekati Mimin. Wanita cantik jelita, dengan kening sehalus pualam sebelum tragedi penimpukan itu terjadi. Dan dia lah pelakunya.
Dewa dan Haji Zaenudin terlibat obrolan seru. Sementara Mimin dan Opi memilih untuk kembali ke rumah. Saat azan Magrib terdengar baru lah Haji Zaenudin turut kembali ke rumah.
"Apakah anaknya Pak Haji itu bidadari, Wa?" tanya Sol setelah Haji Zaenudin itu pulang ke rumahnya.
"Cup yang pake jilbab itu gebetan gue. Lo sama adiknya aja," kata Dewa.
"Gua ga janji yah, Wa. Biasanya kalau gadis berjilbab gitu, suka sama pria soleh model kaya gue gini. Kalau dia suka sama gue gimana?" sanggah Sol.
"Itu tidak mungkin terjadi." Dewa menggelengkan kepala dan melipat kedua tangannya di dada.
"Kita lihat saja nanti," ucap Sol percaya diri.
"Udah mendingan kita bersih-bersih tempat ini. Biar malam ini kita bisa tidur nyenyak."
Dan mereka pun mulai menyapu dan mengepel setiap ruangan.
__ADS_1
Dewa dan Sol sedang merebahkan diri di lantai tanpa alas. Semakin lama mereka rebahan, ubin lantai terasa semakin dingin menusuk sumsum dan tulang.
"Sol, besok kita beli peralatan dapur dan rumah tangga yah. Kita harus beli tempat tidur, kulkas, kompor, panci dan teman-temannya," ujar Dewa. Tubuhnya meringkuk untuk mengurangi rasa dingin akibat sentuhan antara tubuhnya dan ubin lantai. Tubuhnya melengkung persis seperti udang.
"Lo punya uang Wa, buat beli itu semua," balas Sol.
"Ada, semoga uangnya cukup."
"Wa, gua pulang dulu yah. Mau ambil tikar atau alas buat tidur. Masa iya kita tidur di lantai Wa. Kita bisa masuk angin. Lo aja udah kedinginan gitu," tutur Sol.
Sol berdiri berbarengan dengan suara ketukan pintu terdengar.
Tok... Tok... Tok...
Sol segera beranjak untuk membukakan pintu. Di depan pintu sudah berdiri gadis manis tomboi dengan rambut sebahu dan senyum mengembang. Ia adalah Opi.
"Ka Dewa nya lagi apa?" tanya Opi seraya tersenyum.
"Lagi ngorok kayaknya," jawab Sol sekenanya.
"Eh, Ka Dewa tidur di mana, kan ga ada kasurnya."
"Di ubin lah."
"Eh, jangan nanti masuk angin. Ini gua bawa hambal buat Ka Dewa." Opi menunjukkan sebuah karpet hambal yang sedari tadi ditentengnya.
"Hah, buat Dewa doang, gue nya enggak?" protes Sol.
"Ah, gue rasa badan lo mah sekuat baja. Lo masih serumpun sama Ksatria Baja Hitam kan? Ketimbang angin doang mah ga akan mempan di badan lo," tukas Opi.
"Eh, badan gue juga mudah rapuh kali sama seperti hati gue yang mudah rapuh."
"Kalau lo masuk angin tinggal minum minyak angin aja,” kata Opi.
"Apa minum minyak angin?!"
"Kalau orang pinter minum tolak angin. Kalau orang bodoh minum minyak angin. Hihihihihi...." Opi tertawa cekikikan lalu masuk ke dalam kontrakan menghampiri Dewa.
"Hah... Jadi menurut lo gue bodoh gitu?!" sungut Sol.
"Mungkin, bisa jadi," ucap Opi yang berjalan melewati Sol.
“Ka Dewa, jangan tidur di lantai. Ini Opi bawain tikar hambal.” Opi menyerahkan tikar hambal berwarna merah dengan motif bunga.
__ADS_1
Dewa yang sudah mulai merasa kedinginan tersenyum.” Terima kasih, Opi. Kamu menyelamatkanku malam ini,” ucapnya.
“Sama-sama Ka Dewa. Apa Opi juga sudah menyelamatkan hati Ka Dewa yang rapuh?” Seulas senyum terukir di bibir mungilnya.