
Mengandung horor tapi semoga tidak horor. Diharapkan untuk tidak berekspektasi berlebihan tentang bab horor ini. Karena otor remahan ini bukan penulis horor yang handal. Harapan saya semoga bab horor ini menyisakan senyum untuk Anda semua.
*****
Aku bergetar disentuh dia
Mataku terbang sampai ke langit
Tubuhnya pun indah kupandangi
Putih mulus dan seksi
Tak jauh seperti sang bidadari
'Kan kupeluk dia sampai mati
Rambutnya pun indah bagai putri
Mirip iklan di TV.
(Putri Iklan, ST12)
Dewa terjingkat bangun. "Neng, serius udah boleh?" tanyanya.
Ia tak mau kena prank untuk kesekian kalinya. Tak ingin mendesah kecewa berulang-ulang. Kalau boleh sih inginnya mendesah nikmat berulang-ulang. (Horor yah si Dewa 😂😂😂)
"Udah A. Dari subuh juga udah salat," jawab Mimin.
Dewa tak mengetahui hal itu sebab selalu pergi ke masjid saat waktu salat tiba. Keberadaannya di Jakarta tidak serta merta meliburkan rutinitas untuk salat di masjid. Berusaha untuk istiqomah di manapun dan kapanpun.
"Neng udah siap diapa-apain?" goda Dewa seraya mengerlingkan matanya.
Mimin mengangguk tersipu. Ia tak kuasa menatap suaminya sebab jantungnya mendadak berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang. Dewa pun merasakan hal yang sama, darahnya mendadak mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala.
Dewa meraih tangan Mimin lalu meletakkan di dadanya. "Neng, Aa deg-degan tau," katanya.
"Sama," balas Mimin. Ia melakukan seperti yang Dewa lakukan tadi, meletakkan tangan Dewa di dadanya agar merasakan debaran jantungnya.
Dewa menatap mesra Mimin. Dan sorot mata keduanya saling bertemu, bertautan dalam tatapan yang dalam. Tanpa melepas tatapan, tangannya yang berada di dada Mimin itu ia turunkan perlahan lalu merayap ke sisi kanan sehingga menyentuh sesuatu yang menjulang di dada bagian kanan Mimin.
Sembari menyentuh dan meraba, menjamah dan meremas, Dewa mendekatkan wajahnya ke wajah Mimin. Tentu saja incarannya adalah bibir ranum semanis madu yang selalu menghipnotisnya.
Wajah keduanya sudah sangat dekat, embusan napas keduanya pun terasa saling menerpa satu sama lain. Dewa sudah memonyongkan bibirnya, namun sejurus kemudian Mimin menahannya dengan menempelkan telapak tangan yang terbuka lebar di wajah Dewa lalu mendorongnya. "Berdoa dulu A!" titahnya.
"Oh, iya lupa." Dewa memundurkan wajahnya dan juga melepas cangkuman tangannya dari dada Mimin.
Dewa kembali duduk tegak, lalu menengadahkan tangan untuk berdoa. "Bismillahirohmanirohim. Allahumma barik lana fiima rozaktana waqina adzabannar."
Mimin menautkan kedua alisnya mendengar doa yang diucapkan Dewa. "Aa, itu mah doa mau makan," protesnya.
"Loh, memang benar Aa mau makan ... makan kamu," seloroh Dewa seraya mencubit mesra hidung Mimin. Mimin jadi tersipu malu dibuatnya. Antara tersipu dan ingin tertawa.
Sebelum memulai aktivitas yang ingin segera dilakukannya, Dewa teringat akan obrolannya bersama Fahri beberapa hari sebelum pernikahannya.
Sebelum berjima' suami hendaknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun isterinya seraya mendo’akan kebaikan baginya. Fahri.
Dewa pun melakukan apa yang diucapkan Fahri, meletakkan tangannya pada ubun-ubun Mimin seraya berucap, "Audzubilahiminassyaithonirojim. Bismillahirohmanirohim. Yaasin. Shodaqollohuladzim."
__ADS_1
Mimin yang sejak tadi ingin tertawa namun ditahannya, kini tertawa cekikikan sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Ia terus tergelak tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya karena tingkah konyol suaminya.
"Ga usah ketawa begitu kali Neng. Aa tuh belum hafal doanya," lontar Dewa.
"Yang penting meletakkan tangan pada ubun-ubun istri," kilahnya.
"Iya ga papa A. Lanjuuuuut...!" seru Mimin masih dengan sisa tawanya.
Kemudian Dewa mengulangi lagi kegiatan tadi mengecup kepala Mimin dan meletakkan tangannya di ubun-ubun seraya berdoa. Kali ini ia melakukannya dengan benar.
"Bismillahirrahmanirrahim. Allohumma baarik lii fii ahlii, wa baarik lahum fiyya. Allohummarzuqnii minhum, warzuqhum minni. Allahummajma' baynanaa maa jama'ta ila khoirin, wa farriq baynanaa idza farroqta ilaa khoirin."
"Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rizki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rizki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.”
"Amin," ucap Mimin mengamini doa yang dipanjatkan suaminya.
Sebelum berjima' hendaknya suami mengerjakan shalat sunnah dua raka’at bersama isterinya. Fahri.
Salat dulu? Gimana gue mau khusuk solat kalau gue udah sa*nge begini. Solat skip aja lah. Batin Dewa.
Ada yang mengatakan jika laki-laki dan perempuan berduaan di tempat sepi atau tertutup maka yang ketiganya adalah setan. Itu ditujukan bagi mereka pasangan yang belum halal.
Maka jika laki-laki dan perempuan yang berstatus pengantin baru berduaan di tempat sepi dan tertutup yang ketiganya adalah hasrat yang menggelora dan halal tentunya. Itulah yang dirasakan Dewa saat ini. Sa*nge tingkat Dewa.
Selanjutnya bercumbu rayu dengan penuh kelembutan dan kemesraan. Fahri.
Nah, kalau yang ini gue demen nih. Gumam hati Dewa.
Dewa masih mengingat-ingat ucapan Fahri selanjutnya. Dari Sayyidah Aisyah radhiallahu 'anha (RA) ia berkata, bahwa Nabi SAW bersabda: "Barang siapa memegang tangan istrinya kemudian ia merayunya, maka Allah tetapkan baginya satu kebaikan, dan Allah hapus baginya satu keburukan dan Allah angkat baginya satu derajat. Dan apabila ia memeluk istrinya, maka Allah tetapkan baginya sepuluh kebaikan, dan Allah hapus baginya sepuluh keburukan dan Allah angkat baginya sepuluh derajat. Apabila ia mencium istrinya, maka Allah tetapkan baginya dua puluh kebaikan, dan Allah hapus baginya dua puluh keburukan dan Allah angkat baginya dua puluh drajat. Dan apabila ia menjima' istrinya, maka hal itu lebih baik baginya daripada dunia beserta isinya".
"Neng." Dewa mulai dengan menggenggam tangan Mimin.
"Kamu adalah orang pertama yang mampu membuat jantungku berdetak lebih lambat dan lebih cepat pada saat yang sama." Ia menatap Mimin dengan tatapan penuh gelora.
Mimin tak menyahut, karena dadanya sedang bergemuruh. Sebab tangan suaminya itu sudah tak lagi menggenggam tangannya. Sudah berpindah ke dada. Menyentuh lembut dan bermain-main di sana. Sepertinya itu adalah tempat favorit Dewa melabuhkan tangannya.
Tanpa menghentikan aktivitas tangannya. Dewa kembali meraup bibir ranum semanis madu itu. Menyapu setiap titiknya dengan lidahnya yang basah. Menggigit lembut lalu mendesak masuk ke dalamnya. Menyesap dan mengecap rasa liur yang sangat terasa manis-manisnya.
Tahapan selanjutnya, tanpa dijabarkan prosesnya. Keduanya telah menanggalkan pakaian dan bergelung bersama di bawah satu selimut.
Suami tidak menyetubuhi istrinya dalam keadaan berpakaian. Suami hendaknya melepas semua pakaian istrinya, kemudian bersetubuh dalam satu selimut. Fahri.
Gue kan pemula, selimut ini sungguh mengganggu pergerakan gue yang masih amatir. Tentang selimut skip aja lah. Gumam Dewa dalam hati.
Lalu dilemparkanlah selimut itu.
"Aa, kenapa selimutnya dilempar sih?!" tegur Mimin sembari berusaha menutupi bagian-bagian inti tubuhnya dengan bantal.
"Ribet, Neng," jawab Dewa sekenanya.
Mimin beringsut turun hendak mengambil selimut.
"Mau ke mana, Neng?" Dewa menahannya.
"Lepas ih, mau ambil selimut." Mimin berusaha melepaskan cekalan tangan Dewa.
"Ga usah."
__ADS_1
"Malu."
"Ga usah malu."
Dan untuk beberapa saat keduanya terlibat konflik tentang selimut. Sampai kemudian Dewa mendekap tubuh Mimin. Sentuhan hangat tubuh keduanya yang tanpa penghalang membuat sekujur tubuh Mimin meremang. Dan semangat Dewa semakin menggelora.
Dewa melakukan aksinya menyentuh apa yang ingin disentuh, meraba apa yang ingin diraba, menjamah setiap bagian tubuh istrinya tanpa ada yang terlewatkan. Keduanya saling mencium, menyentuh, memeluk serta menstimulasi bagian tubuh pasangannya.
Hingga pada puncaknya mereka menyatu bersama. Keduanya tak lupa membaca doa yang sudah mereka hapalkan menjelang pernikahan.
"BISMILLAHI, ALLOHUMMA JANNIBNAS-SAYTOONA WAJANNIBIS-SAYTOONA MAA ROZAQTANA" . (Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah setan dari kami, dan jauhkanlah setan dari sesuatu yang telah Engkau rizqikan kepada kami).
Astagfirullah sakit banget. Lirih Mimin dalam hati ketika keduanya tengah dalam penyatuan.
Sumpah demi apa ini adalah rasa paling sakit yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya sampai di titik ini.
Rasanya lebih sakit dari tendangan Opi yang pernah tak sengaja mengenainya saat Opi berlatih untuk kejuaraan PORCAM di rumah.
Rasanya lebih sakit dari insiden terjatuh saat Opi mengajarinya mengendarai motor matic yang dibelikan Abah untuknya.
Rasanya lebih sakit dari tendangan bola yang melayang kencang mengenai kepalanya karena ditendang oleh Opi dengan kekuatan Wonderwoman.
Meskipun sakit, ia tak sampai menangis sampai mengeluarkan air mata seperti pada novel-novel yang pernah dibacanya. Ia hanya merutuki gadis-gadis bodoh yang menyerahkan begitu saja kesucian tanpa kehalalan. Seandainya saja mereka tahu sakitnya mungkin akan berpikir ribuan kali untuk melakukannya.
Atau barangkali hubungan tanpa kehalalan itu rasanya tak sesakit ini. Mungkin setan mengelabui mereka dengan menutupi rasa sakitnya. Waallahu 'alam.
"Sakit banget ya, Neng?" bisik Dewa ketika melihat Mimin meringis kesakitan.
Mimin mengangguk sambil meringis.
"Sabar ya, nanti juga lama-lama ga kerasa sakitnya. Aa juga sama ... sakit ... perih."
Rasanya ingin sekali Mimin menjawab suaminya itu dengan menggunakan logat Upin Ipin. "Iye keh?"
Perlahan rasa sakit itu terkikis berbarengan dengan sebuah rasa baru yang muncul mengiringinya. Rasa yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Membuat keduanya seakan terbang melayang menyentuh awan. Terlempar dalam hamparan sukacita syurgawi.
Dengan napas yang masih tersengal dan titik-titik peluh yang masih membasahi tubuhnya, Dewa mengecup kening Mimin. "Makasih ya, Neng," ucapnya. Yang dijawab dengan sebuah anggukan oleh Mimin.
Dan mereka kembali berpelukan dalam hangatnya selimut yang menutupi tubuh polos mereka.
Terakhir, mencuci ke ma luan lalu berwudu. Lebih baik lagi jika langsung mandi junub. Fahri.
Nanti lah, baru satu ronde. Belum sepuluh ronde. Gumam Dewa dalam hati sambil tersenyum nakal menatap Mimin.
.
.
.
.
.
Season 2 End.
Terima kasih sudah membaca dan mendukung karya ini.
__ADS_1
Jangan sungkan kasih vote ya. Sebab bab horor ini antimainstrem, belum pernah baca horor kek begini 'kan??
Lanjut apa ga ya??