Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Extra part 7


__ADS_3

Hoek ... hoek ...


Di luar halaman masjid kampung Cibening, bocah laki-laki berusia delapan tahun itu tengah muntah-muntah. Wajahnya merah padam seiring isi perut yang dimuntahkan.


"Abang, kalau sakit gak usah maksa ikut ayah itikaf deh," omel Dewa pada putra sulungnya.


"Udah muntahnya?" lontar Dewa.


Bocah laki-laki tampan itu mengangguk. "Udah," katanya dengan napas ngos-ngosan.


"Udah, sekarang ayo kita pulang!" ajak Dewa.


"Aku masih kuat, Yah. Aku mau ikut Ayah itikaf." Bocah bernama Syad itu menolak pulang.


"Abang ini bandel ya dibilanginnya. Anak kecil gak boleh ikut itikaf!" larang Dewa.


"Kata Ayah boleh, sampai jam sepuluh atau sebelas," kilah Syad.


Dewa memutar bola matanya. "Itu kalau Abang sehat!"


"Aku sehat," ujar Syad dengan sangat tenang.


"Itu tadi muntah-muntah."

__ADS_1


"Itu hanya sekedar mengeluarkan sesuatu yang tidak nyaman di perut," ujar Syad sembari melipat tangan di dada.


"Dih, anak siapa sih, tengil banget kayak ayahnya." Dewa ikut melipat tangan di dada.


"Tentu saja aku mirip Ayah. Hanya saja ketampananku satu tingkat lebih tampan dari Ayah."


"Dih." Dewa geleng-geleng kepala.


"Ayo, kita pulang!" Dewa meraih tangan Syad dan menariknya untuk ikut. "Atau Bunda bakal ngomel dan gak bolehin Abang ke masjid lagi," ancamnya.


Akhirnya Syad luluh juga. Mau mengikuti ajakan ayahnya untuk pulang karena membayangkan bundanya ngomel. Bundanya itu memang pendiam tapi kalau sudah ngomel ... kuntilanak kalah seram. (Ini kata anakku tentang aku)


Bunda kalau lagi ngomel, tatapannya tajam setajam pisau dapur, suaranya lebih keras dari sound hajatan, kecepatan bicaranya lebih cepat dari kecepatan cahaya, membandingkannya dengan Ali anaknya Ustazah Hana dan yang paling seram adalah melarang akses main game di hari libur. Begitu kata Onty Opi.


Padahal, Syad itu bandelnya beda. Bandel bandel saleh. Lagian, Syad bandel juga pasti ada turunannya. Siapa lagi kalau bukan sang ayah--Syadewa Argian mantan roker soleh.


Dewa dan Syad berjalan kaki pulang ke rumah. Saat melewati rumah sang mertua, kebetulan sekali berpapasan dengan Abah, Mami, Syakira dan Safiyaa.


"Ayah ...! Abang ...!" teriak dua kembar cantik dengan hebohnya.


"Loh, Teteh satu dan Teteh dua belum pulang?" lontar Dewa.


Bersama Syad, ia masuk ke halaman rumah Abah dimana duo kembar, Abah dan Mami berdiri. Tidak lupa Dewa dan Syad mencium punggung tangan Abah dan Mami.

__ADS_1


"Ini, Abah sama Mami mau antarkan pulang Kira dan Fiya," sahut Mami.


Setiap malam di bulan ramadan ini, Syakira dan Safiyaa tidak pernah absen untuk melaksanakan salat tarawih di musala bersama Mami. Biasanya, mereka pulang diantar oleh Mami, atau dititipkan pada Teh Aya yang kebetulan rumahnya dekat dengan rumah Dewa.


Sedangkan Mimin, tidak ikut tarawih di musala karena menjaga si bocil Shadam. Ibu dari empat orang anak itu melaksanakan salat tarawih di rumah saat Shadam telah tertidur.


"Ini kok tumben cucu abah yang soleh ini udah pulang. Gak mau ikut itikaf?" lontar Abah.


"Saya mau antarkan pulang, Bah. Soalnya tadi muntah-muntah di depan masjid," sahut Dewa.


"Astagfirullah, cucu abah muntah-muntah kenapa?" lontar Abah panik.


"Masuk angin kayaknya. Sini nenek kerok!"


"Tidaaaaaak ...!" teriak Syad. Mendengar kata dikerok, Syad lari terbirit-birit pulang ke rumah.


Syad, si bocah tampan, cerdas dan saleh itu anti dikerok.


"Kami keluarga Dewa-Mina serta keluarga Abah-Mami mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga kita bisa melewati bulan ramadan dengan khusuk. Diberikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah. Amin."


.


.

__ADS_1


.


Lagi gabut, jadi nulis ini.


__ADS_2