Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Fahri si Penyelamat


__ADS_3

"Lepaskan dia!!! “ Suara seorang pria mengejutkan ketiganya.


Ketiga pria sangar itu menoleh pada asal suara. Pria manis yang mengenakan baju koko warna marun telah berdiri tegak di belakang mereka. Pria itu adalah Fahri.


"Jangan ikut campur lo!!" seru Pria bertato.


"Jangan ganggu kesenangan kami!!" seru Pria hitam legam.


"Atau lo mau kita mampusin!" seru Pria brewok.


"Sebaiknya kalian hentikan rencana buruk kalian karena sebentar lagi polisi akan datang kemari," sahut Fahri mantap.


"Wahahahaha... Memangnya kita bakal percaya sama gertakan lo," sahut Pria brewok.


"Dia pikir kita anak kecil apa," sahut Pria bertato.


"Minggir lo! Atau mungkin lo juga mau ikutan. Boleh... tapi setelah kita selesai ya," sahut Pria hitam legam.


"A hahahaha..." ketiga Pria sangar tertawa terbahak.


"Astagfirullahaladzim. Jangan menyesal kalau kalian ditangkap polisi," ucap Fahri tetap tenang.


Sejurus kemudian terdengar suara sirine mobil polisi.


Wiu... Wiu... Wiu... Wiu...


"Woy polisi polisi."


"Kabur kabur."


"Kabuuuuuurrr."


Ketiga pria sangar itu lari tunggang langgang karena mendengar suara sirine mobil polisi. Setelah ketiga pria sangar itu pergi, Fahri menghampiri Opi yang terduduk di tanah sambil menangis. Kemudian Ia berjongkok di sebelah Opi.


"Opi... gak apa-apa?" tanyanya seraya menatap lembut Opi.


"Huuu... Huuu... Ustaz..." Opi menangis histeris lalu menghambur ke pelukan Fahri.


Fahri yang belum pernah merasakan dipeluk wanita. Jangankan dipeluk, bersentuhan atau berdekatan dengan wanita yang bukan mahramnya belum pernah ia rasakan. Selama ini ia selalu menerapkan social distancing dengan para akhwat.


Opi yang terduduk di tanah memeluk Fahri yang berjongkok di dekatnya. Tangan Opi melingkar di pinggang Fahri sembari menangis tersedu-sedu. Fahri tergemap untuk beberapa saat. Sungguh, pelukan Opi bagai sengatan arus listrik yang menyengat sekujur tubuh. Menimbulkan senyar-senyar aneh. Membuat tubuhnya bergetar-getar, dadanya berdebar-debar, jantungnya berdegup-degup, dan darahnya berdesir-desir.


Astagfirullahaladzim. Gumamnya dalam hati.


"O-Op-Opi ja-jangan nangis," ucapnya tergagap-gagap akibat reaksi tingkah polah Opi yang sungguh meresahkan hati.


"Huuu... Huuuuaaaaa... Ustaz Fahri.... Huuuu... Huuu.... Hiks... Hiks..." Opi semakin menangis kejer dan mengeratkan pelukannya.


"O-Op-Opi te-tenang dulu ya," ucapnya sembari berusaha melonggarkan pelukan Opi. Please, jangan buat aku jadi sulit begini. Batinnya.


Opi melonggarkan pelukannya lalu kepalanya celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu. Lalu ia melepaskan pelukannya setelah tersadar apa yang dicari tak didapatkannya.


"Polisinya ke mana, Taz?" tanya Opi sambil celingukan.


Fahri menggelengkan kepala. "Ga ada polisi," ucapnya.


"Loh, tadi bukannya ada suara sirine mobil polisi?" tanya Opi kembali. Meskipun beberapa saat yang lalu ia berada dalam mode ketakutan yang teramat sangat, tapi indra pendengarannya masih bisa menangkap jelas suara sirine mobil polisi yang seakan berada dekat dari tempat ini.


Fahri tersenyum mesem lalu merogoh ponsel dari kantong bajunya. Kemudian Ia menekan sesuatu di ponselnya.


Wiu... Wiu... Wiu... Wiu...


"Sebenarnya suara sirine mobil polisinya dari ponsel ini," ucap Fahri lalu ia tertawa "Hehehehe..."


"Ih Ustaz... kirain beneran polisi," ujar Opi. Lalu mendorong tubuh Fahri yang sedang berjongkok hingga menyebabkan Fahri jatuh terjengkang ke belakang.


"Eh... Maaf... Maaf... Maaf..." Opi berdiri hendak membantu Fahri untuk bangun. Namun kakinya malah menginjak rok panjangnya hingga menyebabkan ia terjatuh di samping tubuh Fahri dengan posisi kepala berjarak sangat dekat dengan Fahri. Pandangan keduanya saling bertautan untuk beberapa saat. Saling diam. Hening. Hingga Fahri tersadar di detik kelima dan segera membuang pandangannya ke sembarang. "Astagfirullahal adzim," lirihnya.


Lirihan Fahri terdengar jelas oleh Opi dikarenakan jarak mereka yang sangat dekat. Opi segera berdiri lalu mengangkat kedua tangan layaknya orang sedang berdoa dan menengadahkan kepalanya sambil berucap, "Astagfirullahal adzim wa atuubu ilaih."


"Maaf ya Ustaz. Opi ga sengaja, sueerrr deh!" kata Opi seraya mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf 'V'. "Ustaz Fahri jenius deh... kepikiran untuk ngerjain pria-pria jahanam itu," sambungnya.


Wajah Opi sudah tak semurung tadi. Bahkan sebuah senyuman terbit dari bibir ranumnya.


Fahri berdiri dan menepuk baju dan celana bagian belakangnya untuk menghilangkan kotoran yang mungkin saja menempel akibat terjatuh tadi. "Karena saya ga mungkin bisa melawan ketiga pria sangar itu. Hehehehe..." ucapnya terkekeh.


"Hahahaha..." Opi tertawa tergelak.


"Ustaz Fahri memang cerdas," kata Opi seraya meninju lengan Fahri. Tentu saja maksudnya adalah bercanda seperti yang biasa dilakukan dengan para sahabat prianya.


"Adaaww..." pekik Fahri kesakitan karena tinjuan Opi.


"Eee... Maaf maaf... Opi ga sengaja," sesal Opi. Ia mengusap lengan Fahri yang tertutup lengan baju koko.


Meski tidak bersentuhan langsung antara kulit dengan kulit namun tetap saja sentuhan dan usapan tangan Opi di lengannya membuat meremang. Menimbulkan senyar-senyar aneh yang baru kali pertama dirasakannya.


Membuatnya beristigfar berkali-kali di dalam hati. Astagfirullahal adzim.


Flashback On.


Fahri baru saja pulang dari salah satu pondok pesantren salafiyah yang berada di sebuah kampung di pinggiran kota ketika tak sengaja netranya menangkap bayangan seorang gadis remaja sedang duduk terkantuk-kantuk di sebuah halte dekat indoapril. "Opi..." gumamnya.


Ia menghentikan motornya di tempat parkir indoapril, hendak membeli beberapa snack sebagai oleh-oleh untuk para keponakannya. Ia hendak menghampiri Opi untuk sekedar menanyakan mengapa di malam selarut ini masih berada di luar. Meski ini baru jam sembilan malam, namun bagi anak sekolah seperti Opi tentu jam segini terhitung larut, bukan.


Baru tiga langkah ia berjalan hendak menghampiri Opi, tiba-tiba ponselnya berdering.

__ADS_1


Teh Farah memanggil.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam..." jawab riang suara anak-anak kecil.


"Aa... Jangan lupa beli kinder Joy!" Suara Caca di ujung telepon.


"Aku susu UHT yang coklat A." Kali ini suara Baim yang sangat menyukai susu coklat.


"Aku donat doraemon yang ada di indoapril." Suara si gembul Alif turut menyahut.


Para keponakan kecilnya seperti biasa memesan oleh-oleh jika Fahri pergi ke luar dan saat tanggal muda seperti ini.


"Siap... Insyaallah nanti Aa belikan ya. Kalau yang ga salat Isya ga akan dikasih ya," sahutnya.


"Iya..." jawab semuanya kompak lalu terdengar sorak sorai riang para keponakan kecilnya.


"Tunggu A Fahri pulang ya... Assalamualaikum," pamitnya sebelum menutup panggilan.


"Waalaikum salam..."


Usai bertelepon, ia kembali mengarahkan pandangan ke halte tempat Opi duduk. Dan didapatinya Opi sedang melambaikan tangannya menyetop angkot. Dan yang membuatnya resah gelisah adalah ketiga pria sangar yang berdiri di belakang Opi. Semakin meresahkan karena ketiga pria sangar itu turut naik ke angkot mengikuti Opi. Something not good.


Fahri segera naik ke atas motornya, menyalakan mesin lalu menjalankannya dan kemudian mengikuti angkot itu.


Hatinya gamang manakala melihat pertarungan tidak seimbang antara Opi dan ketiga pria sangar itu. Ia menelan salivanya berkali-kali lantaran bingung apa yang harus dilakukannya. Melawan ketiga pria sangar itu adalah mustahil baginya yang tak mempunyai basic beladiri. Meminta bantuan pada orang lain sepertinya juga tak mungkin dikarenakan tempat yang sunyi senyap dari lalu-lalang manusia.


Hingga kemudian timbul sebuah ide cemerlang. Mengunduh suara sirine mobil polisi. Lalu dengan langkah tegap dan tenang berteriak lantang. "Lepaskan dia!!"


Flashback Off


*****


Opi mendaratkan bokongnya di sebuah kursi dari deretan kursi di depan indoapril. Sementara Fahri duduk segaris lurus di hadapannya dengan sebuah meja sebagai penengahnya.


Tadi Fahri berniat langsung mengantar Opi pulang ke rumahnya. Namun Opi menolak, memaksa tak ingin pulang ke rumah. Ia tahu, Opi pasti sedang ada masalah. Maka ia memutuskan untuk sejenak berhenti di sini, di depan teras indoapril untuk sekedar mengobrol dengan Opi. Berusaha untuk membujuk Opi agar mau pulang ke rumah.


"Diminum dulu Pi." Fahri menyodorkan sebuah minuman teh rasa buah.


"Makasih, Taz," ucap Opi seraya menerima minuman yang disodorkan Fahri.


"Jangan panggil Ustaz ah. Kalau di luar majelis cukup panggil Ka Fahri aja," pinta Fahri.


Opi mengangguk. "Makasih, Ka Fahri,” ucapnya. Lalu membuka segel botol minuman dan meneguknya. Ia memang merasa sangat haus.


"Rotinya juga dimakan Pi. Opi pasti lapar, kan?" Fahri meletakkan sebuah kantong plastik berisi makanan dan minuman yang sengaja ia beli untuk Opi di atas meja. Sementara kantong plastik yang lainnya berisi makanan ringan dan jajanan, pesanan para keponakan kecilnya.


Opi membuka dengan cepat sebungkus roti sobek lalu melahapnya cepat.


"Baca bismillah dulu Pi... jangan pernah lupa!" seru Fahri mengingatkan Opi.


Fahri yang memperhatikan Opi melahap roti dengan semangat, melengkungkan bibirnya. Senang rasanya bisa memberikan satu kebaikan malam ini. Alhamdulillah.


Memberikan satu kebaikan kepada gadis remaja yang berwajah teramat manis. Ups... Astagfirullah. Ia segera menundukkan pandangannya.


"Jadi, kenapa Opi ga mau pulang ke rumah?" tanya Fahri di sela kegiatan Opi makan.


“Emmm... Lagi malas pulang,” jawab Opi sambil mengunyah roti.


“Sedang ada masalah?” tanya Fahri lagi.


Opi terdiam sejenak, menghentikan kegiatan mengunyah. Tidak mungkin kan dia curhat dengan Ustaz Fahri tentang hatinya yang remuk redam karena kakak perempuan satu-satunya menikah dengan pria pujaannya.


“Opi mau nginep di rumah teman,” jawab Opi akhirnya.


“Temannya laki-laki atau perempuan?” selidik Fahri.


“Ya perempuan lah... “


“Terus kenapa tadi ada di halte?” cecar Fahri.


“Karena temanku belum pulang, masih dalam perjalanan.”


“Sudah minta izin Abah atau Mami atau Teh Mimin?”


Opi menggeleng. “Ga perlu minta izin.”


“Kalau Opi ga minta izin... Ka Fahri akan menyuruh Abah untuk jemput Opi di sini,” ancam Fahri.


“Ih jangan geh,” ucap Opi gusar.


“Kalau begitu telepon dulu orang rumah. Kalau Abah atau Mami mengizinkan Opi menginap di rumah teman Opi. Ka Fahri akan mengantar Opi sampai depan pintu rumah teman Opi itu. Ka Fahri harus memastikan kalau Opi baik-baik saja. Jangan sampai kejadian tadi terulang kembali,” tutur Fahri tegas.


"Tadi tuh Opi laper sih belum makan. Coba kalau Opi tadi udah makan, energi Opi kan naik berlipat-lipat dan pasti bisa melumpuhkan ketiga pria jahanam itu," ujar Opi penuh keyakinan.


Fahri tersenyum mesem. "Iya... Ka Fahri percaya. Opi kan juara pencak silat PORCAM ya," ucapnya sambil tersenyum. Tingkah polah Opi memang sungguh menggemaskan.


"Nah... Itu Ka Fahri tau."


"Jadi... mau kan sekarang telepon orang rumah kalau Opi mau nginep di rumah teman."


Opi menghela nafas panjang. Tangannya merogoh tas dan mengambil ponselnya. Lalu menyodorkan ke hadapan Fahri. “Tuh, hape Opi lowbat... jadi ga bisa telepon,” dalihnya.


“Opi telepon pakai hape Ka Fahri aja nih.” Fahri menyodorkan ponsel miliknya. “Ada nomor Abah dan Teh Mimin juga,” tuturnya.

__ADS_1


Mau tidak mau. Ingin tidak ingin. Opi menerima ponsel dari tangan Fahri. Baru saja ia memegang ponsel Fahri, ada sebuah panggilan masuk.


“Ada telepon nih Ka,” kata Opi. Ia mengembalikan kembali ponsel Fahri.


“Dari siapa?”


“Ga ada namanya.”


Fahri meraih kembali ponselnya. Setelah menunggu beberapa saat, memastikan panggilan dari nomor tak dikenal itu bukan panggilan iseng barulah ia mengangkatnya.


“Assalamualaikum.” Suara seorang pria di ujung telepon.


“Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh.”


“Fahri... Ini aku Iyan.”


“Masya Allah Yan... Ana nungguin antum datang ke rumah eh ga datang-datang lagi."


"Maaf. Aku sibuk cari receh soalnya. Tapi kita ga pernah ketemu di masjid ya."


"Ooh.. Iya Afwan. Ana kemarin sedang banyak kegiatan di luar... jadi ga salat berjamaah di mesjid kampung Cibening."


“Oooh... Fahri... aku butuh bantuanmu?”


“Bantuan apa Yan? Sekiranya ana bisa, insyaallah ana pasti bantu."


“Fahri... kenal Opi kan? Anak bungsunya Haji Zaenudin. Sudah malam begini, Opi belum pulang ke rumah. Tolong bantu aku cari Opi.”


Fahri berdiri dari duduknya lalu berjalan menjauh dari Opi agar lebih nyaman berbicara.


“Tolong sampaikan salamku pada Pak Haji. Insyaallah, Opi tidak apa-apa dan sehat serta selamat. Tak ada kekurangan satu apapun. Ana sedang bersama Opi. Hanya sepertinya ia sedang bersedih. Nanti ana bujuk biar Opi mau pulang ke rumah ya.”


“Ya Allah alhamdulillah... Jadi Opi sedang bersama kamu?”


“Iya.”


“Tolong jaga Opi... Nanti aku akan beritahu keluarga Pak Haji. Kalau ada apa-apa tentang Opi, kabari aku lagi, Fahri.”


“Insyaallah.”


“Syukron Fahri... Assalamualaikum.”


“Afwan. Jazakallahu khairan. Waalaikum salam.”


Usai menerima panggilan telepon, Fahri kembali duduk di tempatnya. Sementara Opi baru saja melahap suapan terakhir roti. Lalu meneguk minumannya.


“Sudah kenyang, Pi?” tanya Fahri.


“Iya,” jawab Opi singkat.


“Terus bilang apa kalau sudah kenyang?”


“Terima kasih, Ka Fahri sudah membelikan semua makanan ini.”


“Bukan itu maksudnya. Kalau sudah kenyang, setelah makan kita mengucapkan.... “


“Alhamdulillah.”


“Nah, Opi pinter?”


“Memang Opi pinter Ka, hehehe... “


“Opi... Ka Fahri boleh bertanya?”


“Boleh... tanya aja.”


“Apa benar semalam Mimin menikah?”


Mendengar pertanyaan tersebut Opi kembali menangis. "Huuu... Huuu... Huuu..."


"Loh Opi kenapa menangis?" tanya Fahri kebingungan.


"Hiks... Hiks... Hiks..."


Melihat Opi menangis terisak sesenggukan menimbulkan getar aneh dalam hatinya. Ingin rasanya ia menyentuh gadis itu untuk sejenak menenangkannya. Bahkan tangannya hampir terulur berniat mengusap air mata Opi. Namun seketika langsung tersadar dan mengurungkannya. Tak boleh menyentuh wanita yang bukan mahramnya.


"Opi sayang banget ya sama Teh Mimin? Sampai-sampai Opi merasa sedih karena Teh Mimin menikah?"


"Hiks... Hiks... Hiks..."


"Cepat atau lambat Teh Mimin pasti menikah kan?"


"Hiks... Hiks... Hiks..."


"Kalau Teh Mimin menikah bukan berarti Opi kehilangan Teh Mimin. Opi tetap jadi adiknya Teh Mimin."


"Hiks... Hiks... Hiks..."


"Opi doakan saja semoga Teh Mimin bahagia dalam pernikahannya. Menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah."


"Hiks... Hiks... Hiks..."


"Memangnya Mimin menikah dengan siapa Pi?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2