Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Pasca Menikah


__ADS_3

Di dalam kamar, Mimin menangis sesenggukan dengan ditemani Mami dan Bi Itoh, orang yang biasa membantu Mami memasak jika ada pesanan katering.


"Teteh... kenapa nangis?" Mami menggenggam tangan Mimin. "Maafkan Mami sama Abah ya... jika memaksa Teteh untuk menyetujui pernikahan ini. Untuk kebaikan Teteh dan kebaikan semuanya. Mami dan Abah akan selalu berdoa semoga pernikahan kalian bahagia. Semoga Teteh segera menemukan cinta dalam diri Dewa. Dan rumah tangga kalian selalu bahagia, sakinah, mawaddah, warahmah," tutur Mami.


"Amin ya Allah," ucap Bi Itoh.


"Kalau kata Bi Itoh sih, Nak Dewa itu orangnya baik, ganteng lagi. Neng Mimin tau tidak kalau para gadis di sini diam-diam suka memperhatikan Nak Dewa loh. Mereka tuh kadang suka genit gitu ke Nak Dewa, tapi ga pernah direspons. Yang paling Bi Itoh kagum itu, kalau hari Jum.... "


"Ssst... Ijab kabulnya udah di mulai tuh," ucapan Mami menghentikan cerita Bi Itoh.


Dari dalam kamar terdengar Dewa mengucapkan lafal kabul pada kali kedua dengan lancar meski sempat ada kesalahan sedikit dalam menyebutkan nama lengkap Mimin saat pengucapan lafal kabul yang pertama.


"Bagaimana semuanya... Apakah sah??”


“Saaaahhhhh....” ucap seluruh warga serempak.


“Alhamdulillah.”


Usai pelaksanaan ijab kabul dan ucapan hamdalah, Haji Zaenudin melanjutkan dengan melantunkan doa.


"Baarakallahu lakuma wa baaraka alaikuma. (Semoga Allah melimpahkan keberkahan bagi kalian berdua, dan keberkahan dalam apa saja yang dikaruniakan bagi kalian)


Jama’allahu syamlakuma wa baaraka lakuma wa athaaba naslakuma waja’ala naslakuma mafaatiha ar-rahmati wa ma’aadina al-hikmati wa amnal-ummati,”.


(Semoga Allah mempersatukan hati kalian berdua, melimpahkan berkah-Nya atas kalian, memberikan keturunan yang baik bagi kalian dan menjadikan mereka kunci-kunci pembuka rahmat, sumber segala nikmat dan pembawa keselamatan bagi umat).


"Mih... Ijab kabul nya sudah selesai. Ayo bawa Teteh ke depan," kata Haji Zaenudin yang melonggokkan kepalanya di pintu kamar Mimin.


"Iya, Bah. Ayo Teh... Temui Nak Dewa, dia sudah menjadi suami Teteh sekarang," ujar Mami seraya membimbing Mimin berdiri lalu membimbingnya berjalan menuju ruang tamu tempat dilangsungkannya akad nikah.


Tidak seperti pengantin wanita pada umumnya yang memakai baju kebaya pengantin, Mimin hanya mengenakan gamis panjang brokat warna putih koleksinya dipadu dengan jilbab warna putih. Tampil tanpa polesan make up khas riasan pengantin, hanya sedikit memoles wajah cantiknya dengan sapuan bedak tipis dan lip tint warna pink. Meski tampilannya sangat sederhana untuk ukuran pengantin, namun tak cukup sederhana untuk menjabarkan bagaimana kecantikannya.


Jantung Dewa menjengit ketika menatap Mimin yang terlihat sangat cantik berjalan bertuntun kepada Mami sambil terisak. Hatinya terasa hancur berkecai-kecai melihat pemandangan memilukan itu.


Bukankah seharusnya pengantin itu berbahagia. Kalau pun ada air mata, sudah pasti adalah air mata bahagia. Namun wanita cantik yang kini sedang berjalan mendekatinya itu berurai air mata... bukan air mata bahagia... bisa jadi air mata kesedihan.


Oh, sungguh ia merasa menjadi pria paling jahat sejagat raya. Mengambil kesempatan dengan mengiyakan tawaran Haji Zaenudin untuk menikahi wanita impian yang jelas-jelas tak mencintainya.


"Dewa sudah sah menjadi suami Teteh. Sekarang Teteh adalah istrinya Dewa. Ayo Teteh cium tangan Nak Dewa," titah Mami.


Masih dengan terisak dan butir bening yang terus tumpah tanpa henti, Mimin meraih tangan Dewa yang kini sudah sah secara agama sebagai suaminya. Belum sempat punggung tangan itu diraih hingga menyentuh hidung mancungnya, ia jatuh ambruk tak sadarkan diri. Pingsan.


Ketika semua orang ripuh berusaha membangunkan Mimin yang terjatuh pingsan, tanpa seorang pun yang menyadari di dapur belakang yang sunyi itu seorang gadis tengah menangis tersedu. Dialah Opi.


*****


"Aduh... duh... jangan kenceng-kenceng Soll sakit tahu!!" pekik Dewa yang merasa kesakitan.


"Ini kan udah pelan-pelan Wa." Sol sedang mengompres wajah Dewa yang lebam karena pukulan saat insiden kesalahpahaman tadi.


"Sakit tahu Sol. Lo ga ngerasain sih," keluh Dewa.


"Ah, rasa sakit ini mah ga sebanding sama keberhasilan lo menikahi Mimin. Lo pria paling beruntung Wa," puji Sol masih sembari mengompres wajah Dewa dengan es batu.

__ADS_1


"Gimana ya... di satu sisi gue seneng akhirnya gue bisa menikah dengan Mimin. Tapi di sisi yang lain, gue merasa sedih karena sudah merenggut hidupnya, memaksanya untuk menikah dengan pria yang tidak dicintainya."


"Bukan lo yang maksa dia untuk menikah. Lo ga usah merasa bersalah."


"Tapi... Mimin ga cinta sama gue Sol."


"Nanti juga lama-lama si Mimin bakal klepek-klepek sama lo."


"Gua ga yakin Sol. Tadi aja dia pingsan pas nyentuh tangan gue. Apalagi kalau sampai...."


"Hahahaha... Jujur ya ini pernikahan paling aneh yang pernah gue saksikan. Pengantin pria wajahnya babak belur... udah gitu bajunya kekecilan lagi. Sementara pengantin wanitanya nangis sampai pingsan. Hahahaha....."


Sol tertawa terbahak hingga tak sadar memukul lengan Dewa yang juga terdapat memar hingga Dewa berteriak kesakitan.


"Adaaawwww... Sol! Gue pecat lo jadi Soulmate!!"


*****


Dewa


 


Azan subuh berkumandang membangunkan jiwa-jiwa yang masih terlelap dalam buaian mimpi. Tapi tidak dengan Dewa, malam ini ia tak bisa tertidur pulas. Hanya sekitar satu jam ia tertidur lalu terjaga. Ia memilih untuk bersembahyang dan tafakur dalam doa. Hingga azan subuh tiba, ia masih bersila di atas sajadahnya.


"Wa... Yuk ke masjid," ajak Sol.


"Gue salat di rumah aja lah Sol," ujar Dewa.


"Kenapa?"


"Ya udah deh... gue ke masjid dulu ya," pamit Sol.


Dewa mengangguk. "Iya. Hati-hati, Sol."


******


Fahri


Usai salat Subuh, Fahri sedang mencari-cari sendal jepit miliknya yang hilang sebelah ketika desas desus dari beberapa jamaah tak sengaja terdengar di telinganya.


"Semalam pak RW nikahin anaknya..."


"Yang kawin Mimin apa Opi."


Desas desus itu menggugah dirinya untuk mencari tahu tentang apa yang terjadi. Ia menghampiri Sarip si marbot masjid.


"Rip... memang semalam ada apa?" tanya Fahri.


"Semalam ada apa ya." Sarip terlihat berpikir. "Semalam ada bulan, Taz," jawab Sarip mantap tanpa ada keraguan.


"Maksud saya semalam ada apa dengan Haji Zaenudin?" tanya Fahri lagi.


"Oh, itu. Semalam Pak Haji RW nikahin anaknya," jawab Sarip.

__ADS_1


"Maksudnya... siapa yang menikah?" tanya Fahri makin kepo.


"Mimin."


"Apa? Mi-Mimin me-menikah?" Jawaban Sarip sungguh mengejutkan Fahri. Bagai dentuman geledek di tengah cuaca yang sedang cerah.


"Iya Ustaz."


"Sama siapa?"


"Sama anak muda yang ngontrak di kontrakan Pak Haji RW."


Ia terduduk lemas. Kepalanya tertunduk. Terpaku menatap sandal jepitnya yang hanya sebelah. Entah ke mana perginya pasangan sendal itu. Kehilangan sandal sebelah di subuh ini bagai isyarat penuh makna tentang sebuah rasa kehilangan harapan.


*****


Opi


Opi menatap dirinya di depan cermin. Matanya sembap akibat terus-terusan menangis. Ia bahkan tak tidur semalaman.


Entah apa yang terjadi dengan dirinya. Yang ia rasakan adalah sesak yang luar biasa. Bagai batuan besar yang mengimpit raga.


Ia belum pernah mengenal apalagi merasakan apa itu cinta. Lalu mengapa yang ia rasakan perih tak terkira. Hatinya umpama setangkai bunga yang indah merekah lalu dipaksa patah di bagian tangkainya. Merana.


 ******


Usai salat Subuh, Haji Zaenudin menemui Dewa.


“Kisanak, mohon maafkan sikap Mimin yang belum siap dengan statusnya sebagai istri. Mohon keridhaannya,” ujar Haji Zaenudin.


“Iya, Bah. Insyaallah saya ridho. Justru saya yang ingin meminta maaf kepada Mina karena telah menariknya dalam situasi yang rumit.”


“Tidak usah meminta maaf karena ini adalah takdir... sudah ketetapan Allah. Insyaallah kalian berjodoh di dunia hingga akhirat.”


“Amin.”


“Kisanak masih punya orang tua kan?” tanya Haji Zaenudin.


“Masih, Bah.”


“Alhamdulillah. Kalau begitu... bawa orang tua Kisanak datang ke sini untuk menemui Abah agar pernikahan ini bisa segera diresmikan secara hukum negara.”


“Maaf Bah. Kalau boleh, beri waktu kami untuk saling mengenal terlebih dahulu. Sungguh, tak pernah ada keraguan dari saya terhadap pernikahan ini. Tapi, saya sadar jika Mina belum mencintai saya.


Izinkan saya berjuang dulu untuk mendapatkan hati Mina. Dan biarlah Mina nanti yang menentukan hatinya. Harapan saya, pernikahan ini bisa dilandasi rasa cinta bukan karena keterpaksaan.


Jika Mina sudah menemukan cinta di hatinya untuk saya... saya janji akan segera membawa orang tua saya datang ke sini untuk melamar Mina secara resmi dan menikahinya secara resmi, sah secara agama dan hukum negara.”


Haji Zaenudin tersenyum menatap Dewa. “Abah yakin Kisanak bisa menaklukkan hatinya. Abah percaya,” ujarnya seraya tersenyum.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2