Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Lontong Sayur


__ADS_3

"Han, kita duduk di teras rumah aku aja yuk! Di sini ga ada kursi," ajak Mimin.


"Boleh." Hana dan Mimin pun beranjak menuju teras rumahnya. Lalu duduk di kursi teras rumah Mimin.


"Min... Kapan yah kita ada waktu, shoping bareng yuk. Pengen beli kerudung di Pasar Rau," ujar Hana.


"Hayu. Bareng Rahma juga kan?"


"Iya biar seru."


"Sekarang kan hari Sabtu, aku sama Rahma hari ini libur."


"Emm... Kalau hari ini aku gak bisa, mau ke kampus. Kalau besok bagaimana, bisa ga Min?"


"Insyaallah, aku sih bisa aja. Nanti coba tanyakan Rahma, apa Rahma juga bisa."


"Ok, nanti kita ngobrol di grup chat aja ya."


"Ok."


Tak berselang lama, ketika Mimin dan Hana sedang mengobrol membicarakan tentang trend hijab, Dewa datang menghampiri mereka dengan membawa rantang milik Hana yang sudah kosong. Bertepatan dengan seruan Opi memanggil Mimin. "Teteh... Hape-nya bunyi terus tuh dari tadi. Ada telepon tuh!" seru Opi dari dalam rumah.


"Iya...!" sahut Mimin. Lalu segera berdiri dan berpapasan dengan Dewa yang baru tiba di teras.


Ia menatap Dewa sejenak. "A-aku masuk dulu," ujarnya. Lalu melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam rumah meninggalkan Dewa dan Hana berdua.


"Telepon dari siapa Pi?" tanya Mimin ketika sudah  sampai dalam rumah dan melewati Opi yang sedang mematut dirinya di cermin, hendak bersiap berangkat ke sekolah.


"Gak tahu Teh, ga lihat."


Mimin meraih ponselnya, ada dua panggilan tak terjawab dari Devi. Ia lalu melakukan panggilan telepon balik kepada Devi.


Tut... Tut... Tut...


"Halo, Min." Sahut Devi di ujung telepon.


"Assalamualaikum, Dev."


"Waalaikum salam. Lagi apa Min? Diteleponin dari tadi gak diangkat-angkat."


"Maaf habis keluar cari sarapan, Dev."


"Min, nanti malam kita malmingan ya."


"Malmingan??"


"Iya, mau ditaktir Susi. Kan, dia ulang tahun."


"Loh, bukannya tiga hari lagi ulang tahunnya."


"Katanya traktirannya nanti malam aja. Soalnya, lusa dia mau cuti."


"Oh, ok deh. Jemput ya Dev!"


"Siap, nanti aku jemput. Udah dulu ya. Sampai ketemu nanti malam."


"Ok. Makasih Dev. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Setelah menelepon Devi, Mimin teringat lontong sayur yang dibelinya tertinggal di meja teras. Ia berniat hendak mengambil lontong itu namun seketika langkahnya terhenti karena mendengar Hana sedang tertawa-tawa mengobrol bersama Dewa di teras depan rumahnya.


Ia memilih untuk duduk di sofa ruang tamu. Mengurungkan sejenak niat untuk mengambil lontong sayur itu. Khawatir kehadirannya mengganggu obrolan Hana dan Dewa. Walaupun tawa Hana dan Dewa menimbulkan sebuah rasa yang tak ia pahami hadir dalam hatinya. Bagai sesuatu tengah mengilik-ngilik hatinya.


Dari ruang tamu, ia mendengar percakapan Hana dan Dewa.

__ADS_1


"Kamu ingat Jaya kan?" tanya Dewa kepada Hana.


"Yang gembul itu, yang overweight. Yang dulu suka kamu usilin," jawab Hana.


"Iya yang itu."


"Kenapa si Jaya itu?"


"Sekarang jadi cungkring loh kayak sapu lidi."


"Hahahaha...." Hana tertawa terbahak.


Saat Mimin sedang duduk termangu di sofa ruang tamu, Opi datang menghampirinya.


"Teteh, lontongnya mana?" tanya Opi.


"Teteh kenapa? Lagi ngapain di sini? Itu yang tertawa-tawa di luar siapa? Ka Dewa sama siapa?" Rentetan pertanyaan Opi.


"Opi, nanyanya satu-satu dong." Mimin bangun dari duduknya. "Sebentar, Teteh ambil lontongnya  dulu."


Kemudian ia keluar menghampiri Dewa dan Hana yang masih asyik tertawa-tawa.


"Maaf ya, aku ganggu. Aku mau ambil sarapan itu." Mimin menunjuk dengan matanya ke bungkusan kantong keresek yang tergeletak di atas meja. Dewa seketika bangun dari tempat duduknya yang bersebelahan dengan Hana, dengan meja sebagai penyekatnya.


"Teteh...!" seru Mami yang sudah berdiri di pintu.


"Eh, ada Neng Hana," sahut Mami ketika melihat Hana duduk di teras.


"Assalamualaikum, Mami."


"Waalaikum salam. Kok di luar sih Han. Ayo masuk!" seru Mami yang mengira Hana datang untuk menemui Mimin.


"Makasih Mih, sebentar doang kok. Ini juga mau pulang," sahut Hana.


Hana bangun dari posisi duduknya lalu berjalan menghampiri Mami. Kemudian ia meraih tangan Mami dan mencium punggung tangannya.


"Loh, kok buru-buru Han?" tanya Mami lagi.


"Iya, Mih. Ada yang harus dikerjakan di rumah."


"Mama, gimana kabarnya? Sehat kan?"


"Alhamdulillah sehat, Mih."


"Ya udah salam aja sama Mama yah. Mami ga suka keluar sih, sibuk ngurusin Abah aja. Hehehehe..."


"Iya dong, Mami mah pokoknya the best lah. Istri solehah dan ibu penuh inspirasi."


"Bisa aja Hana, nih."


"Ya udah Mih. Hana pamit yah Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," sahut semuanya.


"Aku pulang yah Min, Yan," pamit Hana.


Mimin menyalami Hana dan bercipika-cipiki. "Mau diantar ga Han?" celetuk Mimin.


"Terus nanti aku gantian nganter kamu, dan nanti kamu nganterin aku lagi, ga ada selesainya."


"Hahahaha...." Hana dan Mimin tertawa.


"Ya udah hati-hati ya Han."


"Iya, Min. Makasih."

__ADS_1


Kemudian Hana mengayun langkah pulang dengan membawa rantang kosong miliknya.


"Teteh mana lontongnya?" tanya Mami ketika Hana sudah menjauh.


Mimin meraih kantong keresek yang ada di atas meja. "Ini Mih, yang plastiknya disobek tuh yang pedes," terangnya.


Mami menerima kantong keresek dari tangan Mimin lalu membukanya. Di dalam kantong keresek itu terdapat empat kantong plastik lontong sayur.


"Mami ambil yang punya Mami sama Opi aja. Ini punya Teteh sama Nak Dewa kan," ujar Mami. Ia mengambil dua bungkus lontong sayur untuknya dan Opi. Lalu menyerahkan kembali kantong keresek berisi dua bungkus lontong sayur itu kepada Mimin.


"Ya udah Mami masuk dulu ya, mau sarapan bareng Opi. Hayu Teh gabung, ajak Nak Dewa juga," ujar Mami lalu berlalu pergi meninggalkan Dewa dan Mimin.


Setelah Mami pergi, Dewa duduk kembali di tempat ia duduk tadi. Sementara Mimin duduk di tempat yang tadi diduduki Hana. Lalu meletakkan kantong keresek berisi lontong sayur itu di atas meja, sama seperti sebelumnya.


Dewa menghela nafas panjang dan meniupkannya segera. "Kenapa kita kayak gini sih, bukannya bilang aja sama Hana," keluhnya.


"Bukannya kamu senang ya, kamu bahagia ya?" Mimin membalas dengan pertanyaan yang tak dapat diartikan oleh Dewa.


"Maksudnya??" tanya Dewa tak paham.


"Tadi kan kamu ketawa-ketawa sama dia," jawab Mimin tanpa menatap Dewa. Pandangannya terarah jauh ke depan, entah apa yang sedang dipandangnya.


Dewa tersenyum melihat reaksi Mimin yang tak diduganya. Apakah dia sedang cemburu?. Batinnya.


"Aku tuh bahagianya kalau lihat kamu yang senyum dan tertawa. Kamu mau ketawa-ketawa bareng aku ya," ledek Dewa.


Mimin memalingkan wajahnya menatap Dewa. Dan dilihatnya Dewa sedang tersenyum menyeringai dan manaik-turunkan kedua alisnya.


"Ih, apaan sih," sahut Mimin sambil melengos sebab merasa jengah atas sikap Dewa.


"Itu lontong sayur buat aku kan?" Dewa meraih kantong keresek berisi lontong sayur yang tergeletak di atas meja. "Makasih ya," ucapnya.


"Ga jadi buat kamu," sahut Mimin yang kini mengalihkan pandangannya menatap Dewa.


"Eh, kenapa ga jadi?!"


"Kamu kan udah dibawakan sarapan sama Hana." Mimin merebut kantong keresek yang berisi lontong sayur itu dari tangan Dewa.


"Orang aku pengen sarapan lontong sayur." Dewa kembali merebut kantong keresek itu.


"Nanti sarapan yang dibawa Hana jadi mubazir ga dimakan," kukuh Mimin.


"Lontong sayur ini juga bakal mubazir kalau kamu simpan sendiri, ga dikasih ke aku," kukuh Dewa tak mau kalah.


"Enggak, nanti bisa buat Abah lontongnya." Mimin merebut kembali kantong keresek dari tangan Dewa.


"Abah ga doyan sarapan lontong, aku tahu itu." Dewa kembali merebut kantong keresek dari tangan Mimin. Begitu seterusnya, kantong keresek itu terus berpindah tangan bergantian dari Dewa ke Mimin, dan dari Mimin ke Dewa. Mungkin seandainya kantong keresek itu bisa merasa, pasti ia merasa pusing tujuh keliling dibuatnya.


"Kamu makan punya Hana aja!"


"Gak mau, aku mau makan yang ini!"


"Terus sarapan yang dibawa Hana gimana kalau ga kamu makan!"


"Nanti juga ada yang makan!"


Drama rebutan kantong keresek berisi lontong itu masih terjadi hingga Opi memergoki tingkah keduanya.


"Teteh...! Ka Dewa...!"


.


.


.

__ADS_1


Dobel up


__ADS_2