Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Opi and The Gank


__ADS_3

Dewa dan Mimin telah selesai makan siang di Madani Fried Chicken.


"Ya ampun murah banget ya makan di sini," ujar Dewa yang berjalan di sebelah Mimin menuju tempat ia memarkirkan motornya. Ia terkaget karena membayar tak lebih dari tiga puluh lima ribu rupiah untuk makan siang kali ini.


"Namanya juga Ka ef si KW," jawab Mimin.


"Kenapa harus yang KW. Kenapa kita ga makan di Ka ef si beneran aja?"


"Sama aja kok rasanya. Kalau kamu punya uang... lebih baik ditabung aja."


"Ditabung untuk apa?"


"Untuk masa depan."


"Masa depan aku ditambah kamu sama dengan kita, kan?" Dewa tersenyum lebar sambil mengerlingkan matanya.


Mimin menatap Dewa sejenak lalu menundukkan pandangannya.


"Kamu tuh hobi amat sih lihat ke bawah," tagur Dewa.


"Jangan lihat ke bawah... lihat ke depan aja!" katanya kemudian.


Mimin menengadahkan pandangannya.


"Karena di depan itu, ada masa depan kamu... yaitu aku. Ea ea ea..." goda Dewa.


"Buruan jalan takut terlambat!" seru Mimin.


"Ada tokek siang-siang. Oke Sayang!"


*****


Suara riuh rendah para siswa mendominasi di salah satu sekolah SMA favorit di kota ini. Para siswa sedang menikmati jam istirahat. Ada yang memukul-mukul bangku seperti anak SD. Ada yang berjoget-joget lalu membuat video untuk konten jejaring sosial yang tengah hits, Tok Tik. Ada yang berkumpul sambil ngerumpi, membahas tentang gebetan dan hal lainnya. Ada yang memilih bermain basket. Ada yang sibuk jajan ke kantin. Dan ada juga yang memilih untuk membaca buku di perpustakaan.


Sementara Opi and the gank yang terdiri dari 6 personil yaitu Opi, Mia, Bayu, Jojo, Dimas dan Arya tengah duduk di balkon lantai dua di depan laboratorium bahasa sambil menonton sekelompok siswa yang sedang bermain basket di lapangan.


"Opi... Iiih... Lihat tuh Erik keren banget tau. Dia jago main basket," ujar Mia. Pandangannya menunduk sebab tengah serius menonton beberapa siswa pria yang bermain basket di bawah.


"Keren apanya sih Mi... kerenan juga gue," sahut Jojo.


"Kalau si Erik itu keren... si Opi ga bakalan nolak waktu ditembak Erik seminggu yang lalu," timpal Dimas.


"Iya nih si Opi. Sombong banget sih lo pake nolak Erik. Padahal cewek-cewek terutama cewek yang kecentilan macam si Jesica itu malah berharap banget bisa jadi pacarnya Erik. Bahkan sampai rela mati-matian demi bisa jadi ceweknya Erik. Eh lo malah nolak waktu dia nembak," sesal Mia.


Penyesalan Mia ini memang beralasan. Pasalnya Erik adalah siswa populer di sekolah ini. Dengan raut wajah setampan artis korea, ditambah jago main basket, dan prestasi akademik yang terhitung lumayan meski tak sampai mendapat rangking satu, juga jabatannya sebagai ketua OSIS di SMA favorit di kota ini. Serta kepopuleran sang Ayah yang diketahui sebagai ketua DPRD kota. Menjadi deretan alasan bagi para siswi untuk mengidolakan siswa dengan seribu pesona itu.


Terkecuali Opi, yang tak sedikit pun terhipnotis oleh pesona Erik. Malah ia merasa bingung kenapa para siswi di sekolah ini begitu mengidolakannya. Dan Erik jelas bukan tipe pria idaman Opi.


"Termasuk lo Mi... juga ngefans sama si Erik?" kepo Arya.


"Iya kalau si Erik nembak gue sih pasti gua terima dengan riang gembira lah," jawab Mia.

__ADS_1


"Jangan dong Mia! Please lo jangan suka sama Erik. Kalau lo suka sama Erik, terus gue gimana?!" keluh Bayu.


"Eh... Lo kenapa Yu. Lo suka sama Mia? Kita kan sudah janji ga boleh ada rasa cinta di antara kita! Gue aja yang suka sama Opi harus mengubur dalam-dalam perasaan gue," sahut Jojo. Sepertinya Jojo sedang curhat colongan.


"Hah... Nagapin lo suka sama gue!" protes Opi sambil meninju lengan Jojo.


"Awww...sakit tau Pi," keluh Jojo.


"Ih... Lagian siapa juga yang mau sama Bayu," elak Mia.


"Ngapain juga cewek-cewek itu pada ngebet ama si Erik," kata Opi.


"Orang dia ganteng sih," jawab Mia yang tak melepas pandangannya ke bawah melihat Erik bermain basket bersama kawan-kawannya. "Mirip Jungkook, tau... Hihihihihi."


"Hah siapa? Jongkok? Siapa yang jongkok?" timpal Arya.


"Bukan jongkok tapi Jungkook... personel BTS," terang Mia.


"Gua ga selera sama wajah yang berbalut plastik," kata Opi.


"Eee... Jungkook mah asli udah tampan dari lahir tau," sewot Mia membela idolanya.


"Terus selera lo yang kayak gimana dong Pi?" tanya Dimas.


"Gue tuh suka sama cowok yang dewasa, yang usianya di atas gue. Kalau dulu sih gue suka yang bergaya rock n roll gitu. Tapi sekarang... Gue sukanya yang dewasa, ganteng, manis, soleh, rajin salat, ngajinya jago," papar Opi dengan tatapan menerawang.


"Pokoknya calon imam yang bisa bawa gue ke surga," sambungnya. Seketika sorot matanya jatuh pada seorang pria muda yang mengenakan baju koko warna putih, celana katun warna hitam, dan memakai peci sedang berjalan di sepanjang koridor sekolah. "Ustaz Fahri??" lirihnya.


"Pi... Kalau lo cari cowok yang ganteng, manis, tajir, turunan ningrat... itu bukan gue." Celetuk Dimas dengan raut wajah serius.


"Tapi kalau lo cari cowok yang dewasa, soleh, rajin ngaji, hafal 30 juz, bisa baca kitab kuning, ngerti sunnah... itu juga bukan gue... ada tuh Pak Sulaeman imam masjid di kompleks rumah gue."


"Hahahahaha...." semua personil Opi and the gank tertawa terbahak-bahak.


*****


Opi dan kawan-kawan sudah duduk manis di dalam kelas sebab bel masuk sudah berbunyi pertanda jam istirahat telah usai.


"Opi... tumben banget sih lo kok kalem banget hari ini," celetuk Bayu.


"Mulai hari ini gue sampai seterusnya mau jadi gadis yang kalem," sahut Opi.


"Jiiiaaahhhh... Si Opi habis kejedot tembok nih gue rasa," celetuk Arya.


"Jangan dong Pi kalau lo kalem jadi ga seru dong kita." Jojo turut berkomentar.


"Lo itu ibarat pom pom bagi cheerleaders. Membuat suasana semakin meriah," kata Dimas.


"Lebih meriah lagi kalau kalian berempat tuh joget ala badut Mampang.... Hahahaha," timpal Mia.


Tulilulilulit... Tulilulilulit... Tulilulilulit...

__ADS_1


"Eh, kok bunyi bel lagi sih? Waktunya pulang ya?" heran Opi.


"Haaissshh bukan. Kalau bunyinya Tulilulilulit artinya kita disuruh kumpul ke Aula," terang Mia.


"Ngapain disuruh kumpul ke Aula?"


"Lo lupa ya... hari ini kan jadwal pengajian bulanan," jelas Mia lagi.


Di sekolah ini sebulan sekali diadakan acara siraman rohani bertujuan agar para siswa siswi dapat menenangkan hati dan selalu ingat kepada Sang Pencipta, mensyukuri segala nikmat sehingga bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah dengan baik. Serta untuk mengarahkan siswa siswi agar tidak salah pergaulan. Sebagai salah satu usaha dari pihak sekolah untuk meminimalisir kenakalan remaja.


"Kuy... Yuk lah kita ke aula."


Opi and the gank pun pergi ke aula.


*****


Seluruh siswa siswi sudah berkumpul di aula serba guna sekolah. Mereka duduk di atas hamparan hambal berwarna hijau. Kumpulan para siswa duduk di sebelah kanan, sementara kumpulan para siswi duduk di sebelah kiri dengan meja dan bangku sebagai penyekatnya.


Tak lama kemudian seorang pria muda berwajah manis tampan masuk ke ruangan aula. Mengenakan baju koko model kurta Pakistan berwarna putih dengan aksen warna hitam di bagian kancing, saku dan ujung lengan baju. Dipadukan dengan celana bahan katun warna hitam.


"Eh... Ustaznya beda Pi, bukan Ustaz yang biasa!" seru Mia yang duduk di sebelah Opi.


"Hemmm."


"Gila... Ganteng banget ustaznya. Adem banget mukanya... kayak ubin masjid," seloroh Mia.


Selorohan Mia menimbulkan rasa penasaran Opi hingga ia yang semula menunduk, seketika mendongakkan wajahnya.


"Ustaz Fahri." Opi bergumam. Gumaman Opi terdengar baik di telinga Mia.


"Lo kenal sama ustaznya?" tanya Mia tanpa mengalihkan pandangannya terus menatap Fahri di depan sana.


"Iya sekampung sama gue," jawab Opi yang juga menatap Fahri yang sedang berbincang dengan Pak Tobii, guru agama di sekolah ini.


"Hah... Serius lo?! Wah, kalau ustaznya ganteng gitu sih gue rela deh belajar ngaji mulai dari iqro 1 lagi," kelakar Mia.


Opi mendorong tubuh Mia pelan. "Elo nih plin plan. Sama Jungkook mau, sama Erik mau, sama ustaz Fahri mau."


"Ih... Gak papa lah Pi. Orang ketiganya juga belum tentu mau sama gue."


"Hahahaha...." Keduanya tertawa.


.


.


.


.


Dobel up

__ADS_1


__ADS_2