Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Kepala Divisi Yang Baru


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Dewa berkali-kali mencuri pandang pada wajah cantik jelita yang bayangannya terpampang jelas di kaca spion motor. Mimin yang mengetahui pria yang memboncengnya berkali-kali mencuri pandang kepadanya, melempar pandangannya ke sepanjang jalanan menghindar dari tatapan Dewa yang meski hanya lewat kaca spion mampu mengobrak-abrik hatinya.


Hingga sampai ke kampung Cibening, tempat tinggal mereka. Melewati rumah baru nan megah milik bos tampan, siapa lagi kalau bukan Rizal. Dahulu rumah ayah Mimin adalah yang termewah di kampung ini. Namun kini sudah  berganti, rumah bos tampan yang baik hati itu yang termewah di kampung ini. Mimin menghembuskan nafas lega kala melihat Rizal tengah sibuk mencuci mobil, itu berarti ia belum terlambat masuk ke kantor.


Hati Mimin ketar ketir ketika melewati Bi Kamsah penjual uduk. Karena melihat Rahma sahabatnya tengah mengantri membeli uduk. Ia berniat menyembunyikan dirinya pura-pura tak melihat sebab dipastikan sahabatnya itu akan menggodanya habis-habisan jika melihat ia berboncengan dengan pria bertampang rocker itu. Namun terlambat. "Min..." Rahma sudah menyerunya. Ia membalas dengan melambaikan tangan kaku, karena motor terus melaju.


Suasana halaman rumah dan kontrakan nampak sepi ketika Dewa menghentikan motornya tepat di depan halaman rumah Mimin.


"Terima kasih ya," ucap Mimin setelah turun dari motor.


"Sama-sama," jawab Dewa diiringi seulas senyum.


Dewa sedang membantu menurunkan kantong belanjaan milik Mimin yang tergantung di gantungan bagasi motor ketika terdengar pekikan seseorang "Teteh...."


Dewa dan Mimin menoleh. Opi yang mengenakan seragam putih abu-abu sudah berdiri di belakang mereka dengan raut wajah yang sulit dijelaskan. Antara kaget, ingin tahu, tidak suka, atau bahkan cemburu.


"Kok Teteh bisa bareng Ka Dewa??" tanya Opi penasaran.


"Tadi ketemu di pasar. Gue juga sama nih habis belanja ke pasar." Dewa yang menjawab pertanyaan Opi sambil menunjukkan kantong belanjaan miliknya.


Mimin meraih kantong belanjaan miliknya dari tangan Dewa lalu menyerahkannya ke Opi. "Nih... bantu bawakan ya." Ia menyerahkan sebagian kantong belanjaannya kepada Opi. Lalu segera masuk ke dalam rumah. Opi mengekor di belakang Mimin.


"Teteh... Ka Dewa itu suka ya sama Teteh?"


Pertanyaan Opi membuat Mimin menghentikan langkahnya. Lidahnya mendadak kelu. Organ penunjang dalam berbicara seketika terganggu. Tak mampu mengeluarkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Opi.


 


*****


 


"Diantar sesuai titik ya Neng?" tanya driver ojek online ketika Mimin baru saja duduk di jok belakang.


"Iya, Pak. Sesuai titik," jawab Mimin.


Driver segera melajukan motornya. Memecah jalanan pagi yang ramai. Dan berhenti ketika di perempatan jalan kota karena lampu lalu lintas menyala merah.


Mimin memandang sebuah billboard di salah satu sisi perempatan lampu merah. Billboard dengan pesan penuh makna "Anak Indonesia Hebat Tanpa Asap Rokok", begitu kalimat yang ia baca. Ia sedang terkagum dengan pesan billboard tersebut ketika suara siulan dan seseorang memanggil namanya.


"Suit... Suit... Mimin."


Mimin menoleh ke sisi kanan dan melihat pria yang tadi sempat memboncengnya saat pulang dari pasar tersenyum kepadanya. Dewa duduk di jok belakang motor, dibonceng oleh Sol. Ia juga akan berangkat menuju bengkel tempat kerjanya.


"Mau berangkat kerja, Min?" tanya Dewa. Jelas ini adalah pertanyaan basa-basi. Karena tanpa bertanya pun ia sudah tahu dari pakaian yang Mimin kenakan, juga karena ini adalah jam kebiasaan Mimin berangkat kerja.


Mimin mengangguk tanpa membalas senyuman Dewa. Setelahnya ia kembali melempar pandangannya ke depan, pada lampu lalu lintas yang berwarna merah dan kemudian berubah warna hijau. Dan motor mereka pun kembali melaju. Motor yang ditumpangi Mimin jalan lurus , sedangkan motor yang dikendarai Sol dan Dewa berbelok ke kanan.


"Terima kasih ya Pak," ucap Mimin kepada driver ojek online yang menurunkannya di depan kantor tempatnya bekerja.


"Iya sama-sama, Neng," jawab si driver.


Mimin segera masuk ke dalam kantor. Bertemu dengan Devi, Irna dan Susi yang sedang mengobrol seru.


"Min... Sini," seru Susi.


"Lagi ngapain nih?" tanya Mimin.


"Biasa lagi ngegibah kita," sahut Irna. Mimin mendelik.


"Tenang, Min. Kita cuma ngegibahin cogan ko," ujar Devi.


"Cogan itu apa?" tanya Mimin dengan polosnya.

__ADS_1


"Ya ampun Mimin ... masa ga tahu sih. Cogan itu cowok ganteng," jelas Devi.


"Ooh." Mimin manggut-manggut.


"Min ... Lo tahu ga kalau kita sudah kedatangan kepala divisi keuangan yang baru," ujar Irna.


"Oya. Yang menggantikan Bu Mutia? Siapa yang diangkat jadi kepala divisi yang baru? Apa pak Rudi?" tanya Mimin.


"Mimin kepo ya ... satu-satu atuh Min nanyanya," canda Irna.


"Bukan ... ini orang baru. Dengar-dengar sih masih kerabatnya Pak Bambang," jelas Devi.


"Beruntung nih si Devi, sekarang atasannya cogan. Udah ganteng, masih single lagi. Kalau atasannya Mimin kan cogan juga tapi sayang udah punya istri dan anak dua," ujar Susi.


Mereka semua terkekeh, hanya Mimin yang tersenyum. Dan Mimin memilih pergi ke meja kerjanya ketika melihat mobil Rizal, atasannya berhenti di depan halaman kantor.


"Aku permisi ya," ucap Mimin.


"Mau ke mana, Min? Orang belum selesai ngegibahnya," kata Susi.


"Itu Pak Rizal udah datang." Ia menunujuk dengan kepalanya, Fortuner yang baru saja terparkir di depan halaman kantor.


"Eh, iya bubar bubar bubar waktunya kerja," ujar Irna. Dan mereka semua bubar kembali ke meja kerjanya masing-masing.


Mimin segera duduk di meja kerjanya. Manaruh tas di tempatnya. Lalu membuka buku agenda kerja dan membaca jadwal kegiatan Rizal hari ini.


"Assalamualaikum..." sapa Rizal ketika melewati meja Mimin.


"Waalaikum salam. Selamat pagi, Pak," balas Mimin.


"Pagi. Min... jadwal saya ketemu Bu Silvi kapan?" tanya Rizal.


"Hari ini, Pak.'


"Jam??"


"Oh, begitu ya."


"Pak Rudi sudah ngasih rekapan perkiraan anggaran proyek SD Banjar Agung, Min?"


"Sudah, Pak."


"Kamu sudah buat laporannya?"


"Sudah Pak... tinggal di print."


"Tolong kamu print-kan dan bawa ke ruangan saya yah."


"Baik, Pak."


Rizal berlalu dan masuk ke ruangannya. Dan Mimin segera mengerjakan perintah Rizal. Mengeprint laporan perkiraan anggaran proyek pembangunan SD Banjar Agung.


Baru beberapa langkah Mimin berjalan hendak menuju ruangan Rizal untuk memberikan laporan, telepon di meja kerjanya berdering. Mimin berbalik dan kembali ke meja kerjanya untuk mengangkat telepon. Dan menerima panggilan yang ternyata dari Bu Silvi. Usai menjawab telepon, ia kembali meneruskan langkahnya menuju ruangan Rizal.


Setelah mengetuk pintu ruangan atasannya, Mimin masuk ke ruang kerja Rizal.


“Pak, ini laporan perkiraan anggaran proyek pembangunan SD Banjar Agung yang Bapak minta.”


“Oh, iya. Terima kasih yah, Min.”


“Pak, barusan Bu Silvi menelepon mengabari jika jam pertemuannya dimajukan jadi jam 9 atau jam 9.30.”


“Hah... berarti sekitar satu jam lagi dong.”

__ADS_1


“Iya, Pak.”


“Wah, kalau begitu kamu saja Min yang menyerahkan laporan anggaran ini ke divisi keuangan. Saya mau mempersiapkan pertemuan dengan Bu Silvi. Bisa kan?”


“Baik, Pak.”


“Kamu serahkan ke Pak Rudi saja. Biar nanti Pak Rudi yang menyerahkan ke kepala divisi keuangan kita yang baru.”


“Sekarang, Pak?”


“Iya sekarang.”


“Baik, Pak. Saya permisi dulu.”


“Iya.”


"Terima kasih, ya. Min."


"Sama-sama, Pak."


Mimin melangkah keluar ruangan lalu pergi menuju meja Rudi di lantai dua.


“Assalamualaikum, Pak Rudi,” sapa Mimin.


“Waalaikum. Mimin cantik sekali kamu hari ini.” Seperti biasa kalimat itu yang selalu diucapkan Rudi ketika bertemu Mimin. Karena sudah terbiasa, Mimin tidak pernah menghiraukannya. Ia menganggap itu hanyalah candaan.


“Ini Pak, saya mau kasih ini disuruh Pak Rizal.” Mimin menyerahkan laporan yang ia bawa.


“Apa ini?”


“Laporan anggaran proyek SD itu.”


“Oh... Kamu aja Min yang kasih langsung ke kepala divisi. Ganteng loh orangnya. Kamu jomblo kan Min ... siapa tahu jodoh,” goda Rudi.


“Ih, enggak ah Bapak aja yang ngasih,” elak Mimin.


“Kamu aja, Min. Biar sekalian kenalan.”


“Ih, enggak mau ah.”


“Kamu aja. Saya lagi banyak kerjaan soalnya.” Rudi memperlihatkan setumpuk pekerjaan di meja kerjanya. Mau tidak mau Mimin menyetujui perintah Rudi.


Tok... Tok... Tok..


Mimin mengetuk pintu yang bertuliskan "Kepala Divisi Keuangan"


“Masuk...” Terdengar sahutan dari dalam ruangan.


Mimin membuka pintu lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Seorang pria berwajah tampan sedang duduk di balik meja kerja, tengah serius membaca lembar demi lembar dari tumpukan kertas di atas meja kerjanya.


Mimin membaca papan nama yang ada di atas meja kerja, bertuliskan nama seseorang yang pastinya adalah nama pria tampan yang duduk di balik meja kerjanya.


Radeka Bastian.


Kepala Divisi Keuangan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Masih inget ga ya, Radeka Bastian itu siapa?


__ADS_2