Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Malam Minggu di Baretos Cafe part 2


__ADS_3

Mimin yang duduk membelakangi panggung akhirnya menoleh untuk melihat penyanyi itu. Dan seketika ia membeliakkan mata mengiringi rasa terkejutnya. "Dewa..." lirihnya.


Mimin teringat kembali dengan perkataan Abah waktu itu, bahwa Dewa keluar malam itu untuk bekerja sampingan. Dan rupanya pekerjaan sampingannya adalah menjadi penyanyi di kafe ini.


Sementara Dewa tak melihat keberadaan Mimin, ia masih fokus dengan lagu yang dinyanyikannya. Mimin kembali memutar kepalanya ke posisi semula, duduk membelakangi panggung.


"Gimana Min, ganteng 'kan?" tanya Susi.


Mimin hanya menanggapi pertanyaan Susi dengan sebuah senyuman.


Tak berselang lama pelayan datang membawakan menu yang telah mereka pesan. Sebelum menyantap hidangan menu yang telah tersedia, mereka ber-selfi ria untuk meng-update status dan membuat postingan di sosial media milik mereka seperti kebanyakan orang yang lakukan di zaman sekarang. Terkecuali Mimin tentunya, meski ia juga mempunyai akun media sosial tapi hanya digunakan untuk memposting hal-hal yang bermanfaat saja.


Ketika mereka mulai menyantap hidangan, Dewa sedang menyanyikan lagu keduanya "Leaving on A jet plane". Setelah lagu kedua selesai dinyanyikan, terdengar Dewa berbicara dari atas panggung.


"Sebuah lagu spesial dipersembahan untuk wanita cantik yang duduk di meja nomor 31."


Mimin yang sedang menikmati lezatnya surabi durian sontak terkejut mendengar perkataan Dewa. Seketika tenggorokannya terasa serat sampai-sampai surabi durian kesukaannya itu sulit untuk ditelan. Tenggorokannya semakin terasa mampet, bagai ada sesuatu yang besar menganjal, menutup saluran tenggorokan, ketika ia melemparkan pandangannya ke meja nomor 31 yang berjarak tiga meja dari tempatnya duduk. Ada tiga orang wanita yang duduk di sana.


"Sebuah lagu dari Virgoun... berjudul Bukti.  Untuk kamu... iya kamu," ucap Dewa lagi, masih dari atas panggung.


Hatinya semakin mencelos tak karuan. Mendengar Dewa mempersembahkan lagu Bukti milik Virgoun untuk wanita itu. Kalau tidak salah, lagu itu menceritakan tentang perasaan terima kasih seorang pria kepada wanita yang dicintainya.


Kenapa Dewa mempersembahkan lagu untuk wanita itu?


A-apakah salah satu dari tiga wanita yang duduk di meja nomor 31 itu adalah kekasih Dewa??


Ya-yang mana kekasih Dewa?? Batinnya bahkan sampai tergagap.


Pandangannya masih tak beranjak dari meja nomor 31. Ketiga wanita yang duduk di meja itu melemparkan senyum kepada Dewa. Raut wajah kegirangan tampak dari ketiga wanita itu. Mereka tertawa-tawa dan saling berbisik-bisik, sorot mata ketiganya tak lepas dari arah panggung tempat Dewa bernyanyi.


Ternyata bukan hanya Mimin yang menyadari hal romantis yang Dewa persembahkan untuk ketiga wanita atau salah satu dari wanita yang duduk di meja nomor 31 yang mungkin adalah kekasihnya. Ketiga teman-temannya, bahkan sebagian pengunjung kafe pun turut memperhatikan yang Dewa lakukan untuk wanita yang duduk di meja nomor 31.


Kemudian Dewa mulai memainkan gitar dan menyanyikan lagu berjudul "Bukti" yang dipopulerkan oleh Virgoun.


Memenangkan hatiku bukanlah


Satu hal yang mudah


Kau berhasil membuat


'Ku tak bisa hidup tanpamu


Menjaga cinta itu bukanlah


Satu hal yang mudah


Namun sedetik pun tak pernah kau


Berpaling dariku


Beruntungnya aku


Dimiliki kamu


Kamu adalah bukti


Dari cantiknya paras dan hati


Kau jadi harmoni saat kubernyanyi


Tentang terang dan gelapnya hidup ini


Kaulah bentuk terindah


Waktu tak mengusaikan cantikmu


Kau wanita terhebat bagiku

__ADS_1


Tolong kamu camkan itu


Meruntuhkan egoku bukanlah


Satu hal yang mudah


Dengan kasih lembut kau pecahkan


Kerasnya hatiku


Beruntungnya aku


Dimiliki kamu


Kamu adalah bukti


Dari cantiknya paras dan hati


Kau jadi harmoni saat kubernyanyi


Tentang terang dan gelapnya hidup ini


Kaulah bentuk terindah


Waktu tak mengusaikan cantikmu


Kau wanita terhebat bagiku


Tolong kamu camkan itu


Kamu adalah bukti


Dari cantiknya paras dan hati


Kau jadi harmoni saat kubernyanyi


Tentang terang dan gelapnya hidup ini


Kaulah bentuk terindah


Waktu tak mengusaikan cantikmu


Kau wanita terhebat bagiku


Tolong kamu camkan itu


Tolong kamu camkan itu


(Bukti, by Virgoun)


"Ih, so sweet. Cowok itu kasih lagu buat cewek yang di meja 31 itu. Mungkin pacarnya kali yah," kata Irna.


"Mana yang dinyanyikan lagu 'Bukti'. Berarti mungkin cowok itu mau melamar salah satu cewek di meja 31 itu," ujar Devi ikut beropini.


Uhuk... Uhuk... Uhuk...


Mimin terbatuk-batuk karena tersedak ketika menyedot manisnya minuman es goyobod. Tidak, sesungguhnya bukan es goyobod yang membuatnya tersedak melainkan perasaan hati yang sangat tak nyaman sebab mendengar Dewa mempersembahkan lagu romantis untuk wanita lain. Rasa hati yang baru pertama kali ia rasakan. Rasa yang sungguh aneh, Ia merasa sakit luar biasa namun tak menahami di mana letak kesakitannya.


"Kenapa Min, hati-hati dong!" seru Devi sambil menepuk-nepuk pelan punnggung Mimin.


Uhuk... Uhuk... Uhuk....


"Alhamdulillah... Terima kasih, Dev. Udah gak apa-apa kok," sahut Mimin usai melewati drama tersedak.


"Eh, coba kalian perhatikan deh. Masa cewek yang duduk di meja 31 itu pacarnya cowok ganteng yang lagi nyanyi itu. Perasaan dari ketiga cewek itu ga ada yang cantik-cantik banget... biasa aja," cibir Susi seraya mengerucutkan bibirnya. "Masih lebih cantik kita-kita ini lah," sambungnya kemudian.


"Iya juga sih." Devi mengamini pernyataan Susi.

__ADS_1


"Mungkin bukan karena cantiknya," kata Irna.


"Karena apanya dong?" tanya Devi.


"Karena sesuatu yang lain. Uangnya... atau... goyangannya."


"Hahahahaha..." Susi, Irna dan Devi tergelak bersama. Tentu saja Mimin tak ikut tertawa, yang ada malah perasaan aneh itu semakin terasa sakitnya. Dadanya terasa sesak bagai dihimpit batuan yang beratnya berton-ton.


Dewa telah menyelesaikan lagu yang dinyanyikannya diiringi riuh tepuk tangan dari para pengunjung kafe.


"Lagu tadi request dari Mas Dani... dipersembahan untuk Mba Dina yang duduk di meja nomor 31. Pesannya... Sangat mencintaimu, maukah kau menikah denganku, katanya Mas Dani. Ciye ciye... So sweet nih Mas Dani," ujar Dewa dari atas panggung.


Kemudian seorang pria mengenakan kemeja warna merah marun berjalan menghampiri meja nomor 31. Pria itu membawa sebuah buket bunga lalu berjongkok di hadapan wanita yang juga memakai blus warna merah marun, sama dengan yang dikenakan oleh pria itu.


"Maukah kau menikah denganku?" sahut Pria itu masih dengan posisi berjongkok sambil mengangkat tinggi tangannya menggenggam sebuah buket bunga di hadapan wanitanya.


Semua mata tertuju pada pasangan pria dan wanita yang memakai kemeja warna couple. Seluruh pengunjung kafe riuh memberikan tepuk tangan dan yel yel menyemangati sang Pria.


"Ayo... Terima...!"


"Ayo... Terima...!"


Wanita itu tersenyum lebar sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Lalu, tak menunggu lama wanita itu menerima buket bunga itu. "Yes, I do," ucapnya diiringi riuh tepuk tangan pengunjung kafe.


Pria Itu berdiri dan melemparkan senyum kepada wanita itu. "Alhamdulillah," ucapnya lega. Lalu melambaikan tangan ke arah panggung di mana Dewa masih berada di sana. "Thank you, Mas Bro!" serunya.


Tanpa disadari, Mimin pun turut bernafas lega dan turut mengucap Hamdalah sebab dugaannya tentang Dewa tadi adalah salah dan tak terbukti.


"Wah, kirain cowok ganteng itu yang mau melamar... ternyata cuma request dari pengunjung, toh," ujar Devi.


"Eh, so sweet yah tadi. Seandainya cowok gue nanti melamar gue seperti itu," kata Irna.


"Ah, kalau gue sih lebih seneng kalau dilamar pakai emas berlian, intan permata, mobil mewah, rumah megah, sawah dan kebun berhektar-hektar, kontrakan berpintu-pintu," seloroh Devi.


"Dasar metre! Kawin sana sama juragan empang!" sahut Irna.


"Hahahahaha...." Semuanya tertawa, kecuali Mimin, ia hanya tersenyum


"Eh, kita request lagu yuk! Sekalian minta nomor hape cogan itu," usul Susi.


"Eh, iya. Ide bagus tuh!" sahut Irna dan Devi bersemangat. Sementara Mimin lagi-lagi hanya tersenyum. (Karakter Mimin memang seperti itu, pendiam, tak banyak bicara. Persis kek authornya. Hehehehe).


Kemudian Susi, Irna, dan Devi menuliskan judul lagu yang ingin mereka request. Mereka menuliskan tiga judul lagu, Begitu Indah dari Padi, Somewhere Only We Know dari Keane dan More Than Words dari Extreme. Tidak lupa untuk menyiapkan uang tip untuk sang Penyanyi. Setelahnya mereka bertiga maju ke depan mendekati panggung menghampiri Dewa. Sementara Mimin tetap duduk anteng di tempat duduknya.


"Min...!" seru Devi yang sudah berdiri di dekat panggung kecil tempat Dewa bernyanyi.


Mimin yang duduk membelakangi panggung, memutar kepalanya menoleh ke arah teman-temannya dan tentu saja melihat Dewa.


Dewa tampak terkejut ketika melihat Mimin ada di kafe ini. "Mina...." lirihnya.


"Min... Sini!" seru Irna.


Mimin pun datang menghampiri teman-temannya dan juga Dewa.


"Min... kamu request lagu apa?" tanya Susi.


Mimin menatap lekat Dewa, begitu pun dengan Dewa, ia menatap Mimin sampai tak berkedip.


"Aku request... Selimut Hati dari Dewa," ucap Mimin tanpa memutus tatapan kepada Pria tampan yang sedang mengembangkan senyum kepadanya.


"Akan kunyanyikan... untukmu," balas Dewa yang juga tak mau memutuskan tatapannya.


"Bang, boleh foto ga?" Pertanyaan Devi yang akhirnya memutuskan tatapan keduanya.


.


.

__ADS_1


.


Lanjut


__ADS_2