Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Diam Tanda Setuju


__ADS_3

Setelah makan siang di Fried Chicken KW


Dewa menghentikan motornya di tempat ia menjemput Mimin saat makan siang tadi. Mimin turun dari motor, membuka helm lalu menyerahkan helm itu kepada Dewa.


"Makasih ya," ucap Mimin usai menyerahkan helm kepada Dewa.


"Makasih untuk apa?" tanya Dewa.


"Makasih untuk makan siangnya," jawab Mimin.


"Ah, maksi di Ka ef si KW aja kok. Aku justru loh yang makasih karena kamu udah mau maksi sama aku." Dewa menjeda ucapannya sejenak menatap Mimin. "Mina, kamu tahu ga?" lanjutnya.


"Enggak tahu," jawab Mimin cepat.


"Hahahaha... Iya juga sih orang aku belum ngomong ya," ujar Dewa sambil tertawa.


"Bisa makan siang sama kamu itu rasanya seneng banget. Senengnya itu serasa ketemu sama James Hetfield terus dapat tanda tangan dan ditraktir makan siang sama dia. Kamu tahu James Hetfield ga?"


Mimin mengangguk. "Vokalis dan gitaris Metallica 'kan."


Dewa terbelalak lantaran tercengang sebab tak menyangka Mimin mengenali salah satu idolanya. "Mina... Apakah kamu juga suka musik rock?" tanyanya antusias.


"Aku masuk kantor sekarang, takut terlambat," putus Mimin tak menjawab pertanyaan Dewa yang tadi dilontarkan. Lalu melenggang pergi.


"Mina...! Nanti sore kita pulang bareng ya? Aku jemput kamu!" pekik Dewa saat Mimin sudah melangkah jauh.


Mimin menghentikan langkah dan berbalik badan menatap Dewa. "Boleh. Aku tunggu di tempat ini lagi!" serunya dengan volume suara lebih dikeraskan dari kebiasaannya berbicara agar bisa didengar oleh Dewa.


"Yes Yes Yes...!!" Dewa bersorak kegirangan. Tangannya terkepal lalu mengangkatnya ke atas dan menariknya ke bawah, layaknya gestur orang ketika melontarkan kata 'Yes'.


Mimin tersenyum melihat tingkah Dewa, lalu kembali mengayun langkahnya menuju kantor.


Ketika hendak masuk kantor, ia bertemu dengan Memet yang sedang mengepel lantai beranda kantor, masih dengan gaya andalan idolanya, maju mundur syantik. (Sepertinya si Memet ini hobi mengepel ya dan mengidolakan si jargon maju mundur syantik.😂)


"Loh kok Teh Mimin, pulang sendiri? Enggak sama Pak Lurah?" tanya Memet kepo.


"Pak Lurah siapa Met?" Mimin balik bertanya.


"Pak Lurah yang katanya calon suami Teh Mimin itu," jawabnya lugu.


"Dia bukan Lurah, Met!"


"Aih saya salah ya. Yang bener Pak Camat ya Teh," kata Memet sambil menggaruk-garuk kepala.


Mimin meniupkan nafas kekesalannya lantaran gereget dengan keluguan Memet. Lalu melanjutkan langkah masuk ke dalam kantor. Saat ia akan menuju meja kerjanya, ia berpapasan dengan Deka.


"Jasmin, kamu dari mana?" tanya Deka.


"Habis makan siang di luar, Pak," jawab Mimin jujur.


"Sama siapa?" cecar Deka.


Mimin terdiam sejenak, mencoba berpikir jawaban apa yang akan diutarakannya.


"Sama... 'Pria Itu'." Mimin menjawab dengan jujur, bukan. Memang ia tadi makan siang dengan 'Pria Itu' julukan untuk Dewa di daftar kontak ponselnya. Ia belum siap jika harus berterus terang mengenai status pernikahannya sebab pernikahan siri yang mendadak apalagi alasan dibalik pernikahan itu. Ia sungguh tak sanggup untuk menceritakan peristiwa malam itu kepada teman-teman kantornya.


"Permisi, Pak. Saya mau kembali ke meja kerja saya," ucap Mimin bermohon diri. Tanpa menunggu jawaban dan persetujuan Deka, ia segera beranjak menuju meja kerjanya.


Jadi, Jasmin benar makan siang sama pria itu, "si Batik" itu benar calon suaminya. Oh, Jasmin rendah sekali seleramu. Gumam Deka dalam hati.


"Si Batik" itu baru jadi calon suami kan? Belum jadi suami sungguhan. Jangankan baru calon suami, seandainya sudah menjadi suami sungguhan pun, aku akan pastikan Jasmin akan jatuh dalam pelukanku. Batinnya, diiringi seringai senyuman licik.

__ADS_1


"Ih... Kok Pak Deka senyumnya begitu sih... menakutkan seperti senyumnya Joker," ujar Memet ketika melihat Deka tersenyum menyeringai. Memet beropini dengan sejujur-jujurnya.


Deka bersedekap di dada dengan kedua bola mata menatap tajam Memet. Seperti ingin menelan Memet bulat-bulat.


"Eee... Ma-maaf Pak. Saya permisi... mau ngosrek wc," ucap Memet sambil cengar cengir lalu mengayun langkah secepat kilat meninggalkan Deka.


*****


Beberapa menit lagi adalah waktunya Mimin pulang kerja. Ia menatap ponselnya. Berharap ponsel itu bergetar dan menampilkan notifikasi pesan masuk dari seseorang, siapa lagi kalau bukan "Pria Itu" alias Dewa. Entah mengapa  pesan lebay dan gombalan receh dari "Pria Itu" kini terasa dirindukannya. Tanpa ia sadari.


"Min ke pantry yuk," sahut Devi yang kebetulan lewat di depan meja kerjanya. "Lo udah beres kan kerjaannya," sahut Devi lagi.


"Iya udah beres." Mimin berdiri lalu mengikuti Devi ke pantry.


Setelah sekitar sepuluh menit di pantry, untuk sekedar mengopi secangkir berdua bersama Devi, Mimin kembali ke meja kerjanya. Ia merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. Dan sebuah senyuman terbit dari bibirnya lantaran melihat ada notifikasi pesan masuk dari 'Pria Itu'.


Di beberapa pesan awal, bibirnya masih melengkungkan senyuman ketika membaca deretan pesan itu . Namun kemudian ia menutup mulutnya dengan tangan sebab terkejut membaca pesan terakhirnya.


Pria Itu : Bubur sumsum pake kuah. Assalamualaikum SOLEHAH.


Pria Itu : Beli batik di pasar rau. Kamu cantik tau...


Pria Itu : Makan duren bilasnya jamu. Abang keren akan menjemputmu.


Pria Itu : Sayang... Maaf, mungkin terlambat jemput karena kecelakaan.


Wajah Mimin yang semula cerah berseri seketika berubah pias lantaran membaca pesan terakhir yang dikirim Dewa.


Kemudian ia mengetik balasan pesan kepada Dewa.


Kamu kecelakaan di mana?


Terus bagaimana sekarang keadaannya?


Bilang kamu di mana, aku ke sana sekarang.


Empat buah pesan sekaligus dikirimkannya. Tidak menunggu lama, pesan yang dikirimnya bertanda ceklis biru. Artinya pesannya sudah dibaca oleh Dewa, kan.


Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja kerja menunggu balasan dari Dewa. Namun sepertinya tak ada tanda-tanda pesan itu akan dibalas. Sebab kontak Dewa pun sudah tidak dalam mode online.


Kenapa ga dibales sih pesan aku. Kenapa dia ga telepon sih.


Apa jangan-jangan kondisinya parah dan dia dibawa ke rumah sakit.


Terus ceklis biru itu berarti pesannya udah dibaca, kan. Terus siapa yang baca pesannya. Apa pihak rumah sakit, atau polisi. Berbagai dugaan dan kekhawatiran di hati Mimin.


Karena tak kunjung mendapat balasan, ia memutuskan untuk menelepon Dewa.


Tut... Tut... Tut...


Sudah lebih dari sepuluh kali ia melakukan panggilan namun tak ada jawaban. Membuat hatinya semakin risau.


"Teh Mimin, kenapa kelihatannya gelisah amat?" tanya Memet yang melewati meja kerja Mimin.


"Eh... Eng-enggak kenapa-kenapa kok."


"Teh, Pak Rizal ada di ruangan tidak?"


"Enggak ada. Sedang meninjau proyek di Balaraja."


"Izin ya Teh, mau nyapu ngepel ruangan Pak Rizal."

__ADS_1


"Hemmm."


"Teh Mimin belum mau pulang?"


"Oh, iya. Aku pulang duluan ya Met. Kalau ada yang nyariin, bilang aku pulang duluan yah ada keperluan penting. Urgent."


"Siap Teh. Erjen kan?"


"Iya Memeeeeet."


Dengan tergesa Mimin mengayunkan langkahnya ke luar kantor. Melewati beberapa meja rekan kerjanya.


"Min pulang bareng yuk!"


"Min buru-buru amat!"


"Min kok pulang duluan sih?!"


Beberapa lontaran seruan dan pertanyaan dari rekan kerjanya.


"Maaf, aku pulang duluan... ada keperluan," jawab Mimin kepada setiap rekan yang menanyakannya.


Ia terus berjalan sampai ke tempat biasa ia bertemu dengan Dewa. Tak nampak kehadiran Dewa di sana. Perasaan cemas dan gelisah  semakin mendera hatinya. Mimin meraih ponselnya kembali dan melakukan panggilan kepada nomor kontak "Pria Itu".


Tut...


Baru satu kali bunyi sambungan, langsung ada jawaban dari ujung telepon.


"Assalamualaikum, salihahku."


"WA-waalaikum salam. Kamu di mana?"


"Di hatimu... Eh... Di sini. Di belakangmu."


Mimin menoleh ke belakang dan dilihatnya Dewa sudah duduk santai di atas motornya. Rupanya lantaran terlalu cemas menyebakan fokusnya ambyar hingga tak menyadari jika tak lama setelah ia berdiri di sana, Dewa pun sampai di tempat itu.


"Katanya kecelakaan??" tanya Mimin.


"Sabar. Suami tampanmu yang ganteng cetar membahana ini alhamdulillah baik-baik saja dan tak ada satu kekurangan pun."


"Kamu ngerjain aku?"


 "Enggak. Aku ga nge-prank kamu kok. Tadi benar kecelakaan... tapi, aku yang menabrak dia."


"Hah... Terus yang ditabrak gimana?"


"Alhamdulillah, enggak apa-apa. Makanya aku sekarang bisa di sini. Menjemput kekasih halalku.” Dewa berucap sambil mengerlingkan matanya. Hingga menciptakan semu merah di pipi semulus kulit bayi itu.


“Alhamdulillah kalau kamu gak apa-apa,” ujar Mimin dengan wajah tertunduk.


“Jadi kalau aku kenapa-kenapa kamu mengkhawatirkanku. Benar begitu bukan?”


Mimin menatap Dewa sekejap lalu membuang pandangannya ke sembarang, menatap ramainya kendaraan yang berlalu lalang. Menutupi rasa gugupnya. Memang benar tadi ia sangat khawatir, namun tak mungkin kan ia mengatakannya pada pria itu.


“Mina... Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku,” pungkas Dewa sebelum menyalakan mesin motornya.


Mungkin benar pepatah mengatakan. Silence gives consent. Assukuutu alamaturidho. Diam tanda setuju.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2