
"Assalamualaikum, Sa..."
"Iyan....!!" seru Hana sebelum Dewa menyempurnakan sapaan kepada kekasih halalnya.
"Ha-Hana..." Dewa terperengah ketika mendapati sosok Hana yang muncul dari balik pintu di belakang Mimin.
"Iyan... kok kamu ada di sini?" tanya Hana dengan raut terkejut sekaligus senang sebab tak menyangka dapat bertemu kembali dengan Iyan.
"Aku tinggal di sini, di kontrakan Abah Haji," jawab Dewa. Ia sempat melirik Mimin sekilas, tampak raut terkejut di wajah cantiknya.
Sementara Mimin terpegun berdiri, berusaha mencerna situasi yang terjadi di hadapannya. Serta mencoba menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang hadir dalam benaknya.
Iyan? Kenapa Hana memanggilnya dengan sebutan Iyan?
Apakah Iyan itu adalah Dewa?
Apakah itu berarti calon imam sepanjang masa-nya Hana adalah Dewa?
"Min...!"
"Eh... I-iya Han." Seruan Hana memutuskan lamunannya.
"Ini Iyan... yang sering aku ceritakan itu," terang Hana.
Penjelasan Hana bagai gelegar petir yang menyambar. Membuatnya sangat kaget, dan juga ketakutan. Takut membayangkan reaksi Hana seandainya tahu bahwa Iyan si calon imam sepanjang masa itu adalah suaminya.
"O-oh. Emmm... Han, aku takut terlambat ke kantor," ujarnya. Tak mau berlama-lama berdiri dalam situasi serumit ini.
"Oh, iya kita berangkat sekarang," sahut Hana.
"Yan... nanti kalau ada waktu, apa bisa kita mengobrol?" tanya Hana pada Dewa.
"Bisa bisa," jawab Dewa tanpa beban. Karena sesungguhnya Dewa tidak pernah mengetahui dan tak pernah berpikir jika Hana memiliki perasaan spesial kepadanya.
"Terima kasih, Yan. Assalamualaikum," pamit Hana.
"Waalaikum salam."
Setelah Dewa menjawab salamnya. Hana beranjak menuju motornya.
"A-aku berangkat ke kantor bareng Hana," ujar Mimin yang masih berdiri di hadapan Dewa.
"Oh, gitu ya. Ya udah gak papa. Hati-hati yah," sahut Dewa. Walau sesungguhnya ada rasa kecewa sebab gagal untuk berangkat kerja bareng dengan kekasih halalnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Setelah berpamitan dengan Dewa, Mimin menghampiri Hana yang sudah duduk di atas motornya. Mimin pun naik ke atas motor dan duduk di belakang. Sebelum motor melaju, Mimin sempat melihat Hana melemparkan senyum kepada Dewa. Membuat hatinya semakin ketar-ketir, gelisah dan cemas.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Hana terus saja bercerita tentang Iyan. Tentang masa kecil mereka, tentang kebaikan Iyan, tentang pesona Iyan, dan tentang rasa cintanya pada Iyan. Semua hal yang diceritakan Hana itu sungguh membuat penat kepalanya.
Hingga tak terasa motor yang dikendarai Hana telah sampai di halaman kantor.
"Makasih Ya Han," ucap Mimin setelah turun dari motor. Ia membuka helm yang dipakainya dan menyerahkan kepada Hana.
"Min, seandainya dari dulu aku tahu Iyan tinggal di kontrakan kamu. Udah aku samperin dari dulu," ujar Hana.
Mimin menyunggingkan senyum tanpa menjawab pernyataan Hana.
"Udah lama Iyan tinggal di kontrakan kamu?" cecar Hana yang masih antusias membahas tentang Iyan.
"Baru sebulanan lebih," jawab Mimin datar dan singkat.
"Kalau begitu, berarti kamu tahu dong Iyan itu sudah menik..."
"Han, maaf," potong Mimin cepat. "Aku masuk kantor sekarang ya, takut terlambat," sambungnya.
"Oh, iya. Maaf ya Min... aku terlalu semangat. Hihihihihi." Hana terkikih dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Mimin kembali menyunggingkan senyum. "Aku masuk kantor dulu ya, Han. Makasih loh udah nganterin aku," ujarnya.
__ADS_1
"Iya sama-sama Min."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
*****
Mimin telah duduk di meja kerjanya. Ia terduduk sambil memijit kedua pelipisnya. Hatinya kacau balau. Pikirannya kelut-melut. Masalah ini sudah seperti benang kusut sekusut-kusutnya. Ia bingung dari mana harus menguraikannya dan bagaimana cara menyelesaikannya.
Ia kembali mengingat obrolannya dengan Hana tadi pagi, bahkan hingga mengingat kenangannya bersama Hana sejak kecil dulu dimana sosok "Iyan" sering diceritakannya dan selalu menjadi topik utama.
Dan yang paling membuatnya sesak tak bisa bernafas adalah satu kalimat Hana pagi tadi. "Kalau sampai ternyata dia sudah menikah. Rasanya aku gak sanggup lagi untuk menatap matahari, Min."
Ia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya pelan sebagai cara untuk menenangkan diri dari beban pikiran ini. Ketika manusia merasa stres, paru-paru akan menjadi kaku sehingga pertukaran gas yang masuk dan keluar tubuh jadi kurang optimal. Menghela nafas merupakan refleks untuk menjaga fungsi paru-paru tetap optimal dan menopang keberlangsungan hidup manusia. (Begitu yang pernah author bacaπ π ).
Lamunannya terputus ketika terdengar bunyi beruntun notifikasi pesan yang masuk. Ia segera membuka tas yang masih diletakkan di atas meja kerjanya. Lalu merogohnya untuk mengambil ponsel. Benar saja, sudah banyak pesan yang masuk dari "Pria Itu" dan juga dari grup chat "Trio Akhwat".
Ia mulai membaca pesan itu satu per satu.
Pria Itu : Bubur sumsum pake kuah. Assalamualaikum SOLEHAH.
Pria Itu : Ramainya jalan raya tetap tak menghilangkan rasa hampa, tanpa kamu di boncengan motorku. ππ
Pria Itu : Terasa sepi kek hati.
Pria Itu : Hatinya si Sol. ππ
Pria Itu : Wkwkwwkwk.
Ia tersenyum membaca deretan pesan itu. Lalu mengetikkan sesuatu membalas pesan itu.
Waalaikum salam.
Maafππ
Tak menunggu lama, Dewa langsung membalas pesan itu.
Pria Itu : Jangan minta maaf karena kamu gak salah, yang salah itu aku.
Ia mengernyitkan kening, dan hendak membalas menanyakan lebih rinci kesalahan apa yang sudah diperbuat Dewa. Apakah ini ada hubungannya dengan Hana?. Begitu kalimat yang akan diketiknya. Namun baru mengetik kata 'Apakah', Dewa sudah keburu mengirimkan pesan lanjutannya.
Pria Itu : Salah aku itu karena terlalu mencintaimu.
Pria Itu : Dan aku rela dipenjara atas kesalahan itu. Asalkan dipenjaranya berdua sama kamu. Asseeeek. Ea Ea... πππ.
Mimin membatalkan mengetik pesan sebelumnya, dan mengganti dengan pesan berikutnya.
Selamat bekerja.
Dan segera mendapat balasan dari Dewa tentunya.
Pria Itu : Terima kasih. Kamu juga selamat bekerja ya. Semangatπͺπͺ
Pria Itu : Love U β€οΈβ€οΈ
Kemudian ia membuka pesan grup chat "Trio Akhwat".
Hana mengirimkan foto satu tempat makan di kota ini. Lalu memberikan caption dibawahnya.
Hana : Pulang kerja kita ke sini yuk.
Rahma : Mau... Kangen sama empek-empeknya.
Hana : Yuk yak yuk... Cus pulang kerja.
Rahma : Kamu ada di sini ukhsay?
Hana : Yupz. Alhamdulillah.
Rahma : Yes. Harus dirayakan dengan sepiring empek-empek ini mah.
__ADS_1
Hana : Aku yang traktir deh.
Rahma : Hore mau ditraktir Budos. ππ
Hana : Lagi seneng soalnya π€π€
Rahma : Seneng kenapa tuh??
Hana : Mau tahu aja apa mau tahu banget??
Rahma : Mau tahu anget eh banget. Kepo akut akyu tuh.
Hana : Aku udah ketemu Calon Imam Sepanjang Masa-ku.
Rahma : Iyan???
Hana : Yes. ππ
Rahma : @Mimin mana nih?
Rahma : @Mimin ol tuh. Wah lagi WA - an sama misua kayaknya.
Membaca pesan itu, ia segera melakukan panggilan telepon kepada Rahma. Dan tentu saja Rahma langsung menjawab teleoonnya sebab sedang dalam mode online.
"Kepencet yah Min?" sahut Rahma di ujung telepon. Sebab merasa aneh ketika sedang chating malah menelepon.
"Enggak. Emang sengaja."
"Ada apa tumben?"
"Ma, tolong jangan ceritakan tentang suami aku..."
"Ciye... Iya iya SUAMI," goda Rahma memotong ucapan Mimin.
"Maksud aku. Jangan ceritakan tentang Dewa kepada Hana. Jangan bahas tentang pernikahan aku di depan Hana."
"Kenapa Min? Ada apa? Kedengarannya serius banget."
"Ini lebih dari serius!"
"Terdengar mencekam dan menakutkan?"
"Sangat mencekam dan sangat menakutkan. Jangan cerita apa pun kepada Hana."
"Iya tapi kenapa?"
"Gak bisa bicara di telepon... terlalu rumit. Nanti insyaallah kalau ada waktu aku ke rumahmu untuk cerita masalah ini.β
βOh. Ok. Min bales dong chat grup.β
βIya. Ya udah makasih Ma.β
βOk.β
Setelah menelepon Rahma. Mimin menyempatkan untuk membalas chat grup.
Aku mah ngikut aja. Udah kangen juga sama empek-empek dan siomay-nya.
Maaf ya ukhsay2ku. Aku lanjut kerja ya. Salam peluk cium untuk semuanya. ππ.
Setelah mengirimkan pesan itu, ia menutup ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.
Ketika ia akan memulai pekerjaannya, tak sengaja pandangannya jatuh pada setangkai mawar merah yang tergeletak di samping komputer di meja kerjanya. Ia meraih setangkai mawar itu, lalu menciumnya. Ia yang memang sangat menyukai bunga, tersenyum sumringah sambil terus-terusan menciumi mahkota bunga mawar itu. Hingga kemudian ia tersadar. Loh ini bunga mawar siapa? Kok ada di meja aku?. Gumamnya dalam hati.
.
.
.
.
__ADS_1
Β