
"Sudah berapa lama mereka pacaran?" tanya Dewa. Mereka masih berada di kedai bakso Mas Bakar menikmati mi ayam bakso yang begitu menggoyang lidah.
"Hah... Siapa yang pacaran?" Opi balik bertanya.
"Mimin sama pacarnya itu, udah berapa lama pacarannya?"
Opi mengedikkan bahu. "Gue gak tahu!" sewotnya. Hatinya gusar karena Dewa terus-terusan membahas tentang kekasih kakaknya. Tidak, Opi sangat tahu sesungguhnya yang ingin pria pujaannya ketahui bukan tentang kekasih kakaknya tetapi justru tentang kakak perempuannya yang memiliki kadar kecantikan jauh di atasnya.
"Lo suka sama Teh Mimin?" tanya Opi.
"Kalau iya," jawab Dewa singkat.
"Kalau iya... lo sebaiknya jangan berharap terlalu tinggi deh."
"Kenapa??"
"Karena Lo itu ga masuk kriteria calon imam Teh Mimin."
"Yang seperti apa kriteria calon imam Mimin?"
"Yang seperti Ustaz Fahri."
"Siapa lagi itu Ustaz Fahri??"
"Pokoknya Teh Mimin suka sama cowok yang soleh."
Dewa tertegun mendengar perkataan Opi. Ia merenung sejenak. Benar apa yang dikatakan Opi, dia sama sekali bukan kriteria calon imam bagi Mimin. Bukan pria soleh seperti dambaan Mimin. Ia hanya pria yang selalu lalai menunaikan kewajibannya sebagai hamba. Ia terlalu percaya diri untuk mendapatkan hati wanita cantik, baik, solehah seperti Mimin.
Wanita yang telah memikat hatinya pada pandangan pertama. Bahkan pesonanya mampu mengikis habis ingatannya tentang penghianatan sang mantan kekasih dan kakak kandungnya.
Dewa melanjutkan aktivitas makannya dalam diam. Opi melirik Dewa yang duduk di sampingnya, lalu mengikuti jejak Dewa. Makan dalam diam. Hingga keduanya menghabiskan semangkok mi ayam bakso nan lezat tanpa tersisa. Dan menandaskan minuman teh dalam botol dan hanya menyisakan beberapa bongkahan kecil batu es dalam gelasnya.
"Eeuuu... Alhamdulillah." Opi bersendawa.
Dewa menolehkan kepalanya memandang Opi. Dan melihat noda saos yang menempel di dekat sudut bibir Opi.
"Ya ampun Opi. Lo makannya kaya anak kecil," ucap Dewa seraya mengambil tisu makan yang ada di atas meja.
"Memang gue masih kecil," balas Opi.
"Mulut Lo belepotan. Sini gue bersihin!" seru Dewa. Ia mencodongkan badannya ke depan, tangan kirinya menyentuh dagu Opi. Sementara tangan kanannya memegang tisu dan mengusapkannya pada noda saos di dekat sudut bibir Opi.
Sunguh jarak yang dekat seperti ini membuat darah Opi berdesir, hatinya berdebar, dan jantungnya berdetak lebih kencang. Hingga ia tak mampu berlama-lama memandang Dewa, dan memilih untuk menundukkan pandangannya.
__ADS_1
Sementara Opi tengah terlarut dengan rasa nan indah dalam hatinya. Dan Dewa tengah mengusapkan tisu pada noda saos di sudut bibir Opi. Lalu keduanya terlonjak karena suara seruan seseorang.
"Opi...!!" seru Mimin yang sudah berdiri di hadapan keduanya.
Flashback On
Mimin dan Rahma berboncengan motor menuju kedai bakso Mas Bakar. Sepanjang perjalanan, Pikiran Mimin masih tertuju pada keinginan Deka untuk ikut ngebakso dengannya dan juga Rahma.
Sesungguhnya ia sangat keberatan dan ingin menolak. Namun tentu ia tak punya hati dan keberanian untuk mengatakannya. Apalagi mengingat Deka adalah seorang Kepala Divisi, meski bukan atasannya langsung namun ia wajib menghormatinya.
"Kami mau berangkat sekarang. Kalau Bapak mau menyusul Bapak datang saja ke kedai bakso Mas Bakar." Mau tidak mau ia mengatakan kalimat itu.
Semoga saja Pak Deka tidak sungguh-sungguh akan menyusul ke kedai bakso Mas Bakar. Gumamnya dalam hati. Karena momen ini adalah we time-nya bersama Rahma. Momen yang jarang mereka lakukan karena kesibukan pekerjaan keduanya.
Ketika Rahma memarkirkan motornya di parkiran motor kedai bakso, Mimin mendapati motor yang sangat dikenalnya. Scoopy warna hitam yang adalah milik Opi. Ia yang sudah hafal jadwal bimbel Opi, tidak terkejut mengetahui itu. Dan berpikir Opi sedang ngebakso dengan teman sekolahnya.
Kedai yang sangat ramai membuat Rahma dan Mimin tidak bisa segera mendapatkan tempat duduk. "Penuh Teh, ngantri dulu ya sebentar lagi," ucap salah satu Pelayan. Dan mereka berdiri di depan kedai sambil melihat-lihat barangkali ada meja yang masih kosong yang mungkin terlewatkan oleh pantauan si Pelayan.
Mimin tercengang ketika matanya menangkap seorang gadis remaja dan seorang pria bukan remaja duduk di meja paling pojok di dalam kedai. Opi dan Pria menyebalkan.
Kedua bola matanya hampir keluar ketika tangan kiri pria itu menyentuh manis dagu Opi dan tangan kanannya mengusapkan tisu pada sudut bibir Opi.
Mimin mengayun cepat langkahnya menuju meja paling pojok, menghampiri keduanya.
Flashback Off.
"Teteh."
"Mimin."
Dewa dan Opi menyahut serempak.
"Pulang Opi!!" titah Mimin. Ia sungguh berang melihat perlakuan Dewa barusan kepada Opi. Bukan karena cemburu, karena sangat jelas ia tidak menyukai apalagi mencintai pria menyebalkan itu. Meski tadi pagi kadar menyebalkannya sempat turun drastis bahkan menghilang. Tapi saat ini kadar menyebalkannya kembali naik bahkan melesat tinggi hingga ke puncak.
Opi adalah adik manis kesayangannya. Dan pria itu seenaknya saja menyentuh Opi. Baginya pria soleh dan pria baik tidak akan berani menyentuh seorang wanita yang bukan mahramnya. Ini sungguh tidak baik. Dan ia berang karenanya.
"Iya iya. Nih, Opi mau pulang." Opi berdiri dari tempat duduknya. "Ayo Ka Dewa... kita pulang!" serunya.
Dewa mengusap wajahnya. Oh, mengapa bertemu Mimin justru pada saat adegan seperti ini. Ini sangat buruk. Batinnya.
"Ayo... Ka Dewa!!" seru Opi sekali lagi karena melihat Dewa masih dalam posisi duduk.
Dewa beringsut bangkit seraya menatap Mimin. Dan Mimin membalas menatapnya tajam. Jujur saja ini kali pertama Mimin mau menatapnya. Seharusnya Dewa merasa senang karena pada akhirnya Mimin mau menatapnya. Agar Mimin menyadari betapa tampannya ia. Tapi mengapa hati Dewa justru merasa teriris dan berdarah-darah karena tatapannya. Tatapan setajam silet.
__ADS_1
Dewa dan Opi beranjak dan berlalu meninggalkan meja serta Mimin yang masih berdiri menatap tajam keduanya.
"Itu yang namanya Dewa, kan? Yang tadi pagi boncengan sama kamu, Min?" tanya Rahma lalu duduk di tempat Opi tadi duduk.
Mimin pun duduk di sebelah Rahma, di tempat tadi Dewa duduk, bahkan kursinya pun masih terasa hangat. "Iya," jawabnya singkat.
"Wah, Opi...." Rahma menggelengkan kepalanya. "Tak ada Dewa ... Deka pun jadi," seloroh Rahma.
"Apa sih." Mimin mendorong pelan tubuh Rahma.
"Atau Yusril yang sudah siap melamar kamu," goda Rahma.
"Mendingan ganti topik deh. Jadi, bagaimana kelanjutan hubungan kamu sama Diev??" Mimin menaik turunkan kedua alisnya balas menggoda Rahma.
******
“Pi, Mimin marah banget ya?” tanya Dewa yang tengah membonceng Opi. Ia menghentikan motornya karena lampu lalu lintas menyala merah.
“Mungkin....” jawab Opi datar. Sesungguhnya Opi pun sama risaunya. Khawatir jikalau Mimin menceritakan kejadian tadi ke Mami atau Abahnya. Apalagi Abah, pasti akan marah besar kalau tahu ia berpacaran. Tapi aku kan ga pacaran. Gumamnya dalam hati.
Kala Dewa tengah termangu di atas jok motor menunggu lampu berubah hijau sambil memikirkan perihal reaksi Mimin tadi, tak sengaja matanya menangkap bayangan mobil Honda Jazz warna putih melintas berlawanan arah dengannya. Ia segera menengok ke belakang.
“Ada apa Ka?” tanya Opi.
“Mobil warna putih yang barusan lewat tadi, kaya kenal. Tapi... ga mungkin. Pasti perasaan gue aja."
.
.
.
.
Kok Mimin sama Dewa bisa ketemu padahal itu kan makannya dari tadi?
Jadi di cerita ini aku kan fokusnya dua, Dewa dan Mimin. Sesungguhnya mereka ada di garis waktu yang sama, hanya menceritakannya bergantian.
Ceritanya bertele-tele thor!
Justru aku tuh buat alurnya cepat. Mimin dan Dewa akan menikah setelah sebulan mereka bertemu. Dan Dewa sekarang sudah gajian, artinya ini sudah sebulan, bentar lagi nikah dong. Maka penulisannya aku buat bertele-tele. Perkara ngebakso aja sampai 3 bab, saat di pasar 2 bab, di belut Raos satu bab. Kejadian satu hari aja saya tulis ber bab bab. Karena kalau langsung to the point. Segera tamat dong ceritanya. 😭😭
__ADS_1