
Hana sedang sibuk di dapur, berkutat dengan panci. Ia berencana membuat setup roti tawar keju untuk pria pujaannya, siapa lagi kalau bukan Iyan alias Dewa.
Ia teringat saat kecil dulu, Oma Mira, neneknya Dewa sering membuatkan setup roti tawar untuk Dewa. Oma Mira pernah bercerita bahwa Dewa sangat menyukai setup roti. Setiap kali Oma Mira membuat setup roti tawar, Dewa selalu menyisihkan untuk Hana. Dewa kecil dan Hana kecil akan makan setup roti bersama di teras belakang rumah Oma Mira. Kebersamaan saat menyantap setup roti menjadi salah satu kenangan paling indah bagi Hana.
Hana sudah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat setup roti. Mulai dari roti tawar, susu cair, susu kental manis, santan, dan gula. Kebetulan hari ini ia pulang lebih cepat, sehingga ia memutuskan untuk mampir ke indoapril untuk membeli bahan-bahan tadi. Merealisasikan keinginan yang terpendam selama beberapa hari ini, membuat sesuatu yang teramat spesial untuk Dewa.
Tidak sulit untuk membuat setup roti tawar, ia bisa melihat tutorialnya dari youtube. Dimulai dari mendidihkan campuran susu cair, susu kental manis dan santan. Kemudian memasukkan gula dan larutan maizena. Dan menyiramkannya pada rantang berisi roti tawar yang sudah disobek-sobek.
Senyum Hana terkembang sempurna ketika usahanya membuat setup roti tawar berhasil. Sambil bersenandung salawatan ia menaburkan keju parut di atas setup roti, juga menambahkan kismis sebagai toping sehingga membuat tampilan setup roti itu begitu menggoda lidah.
Setup roti tawar spesial dengan toping keju dan kismis, telah dingin dan siap untuk diberikan kepada Dewa. Dengan penuh semangat, Hana mengayun langkahnya menuju kontrakan Dewa.
Dalam perjalanan menuju kediaman Dewa, ia bertemu dengan Fahri. Rumah Hana dan Fahri memang berdekatan, hanya berjarak dua rumah saja. Ia melihat Fahri sedang membawa se-ember air menuju motor. Sepertinya Fahri akan mencuci motor.
"Assalamualaikum, Fahri." Ia menghentikan langkahnya sejenak untuk menyapa Fahri.
Fahri yang baru saja meletakkan ember air itu menoleh ke arah suara yang menyapanya.
"Waalaikum salam, Han." Fahri menjawab salam Hana.
"Mau ke mana Han?" tanya Fahri kemudian.
"Mau ke tempatnya Iyan," jawab Hana kalem.
"Iyan??" ucap Fahri dengan penekanan dan juga intonasi keterkejutan. Pasalnya, Fahri mengetahui pasti bagaimana dulu Hana sangat menyukai Iyan alias Dewa. Dahulu Hana selalu bertanya tentang Iyan kepadanya. Meskipun ia tak tahu, apakah kini Hana masih menyimpan perasaan itu pada Iyan atau telah membuangnya.
Hana mengangguk. "Iya, kenapa memangnya?" tanyanya. Sebab, tampak ada ekspresi keterkejutan terpancar dari raut wajah Fahri.
Sorot mata Fahri tertuju pada rantang dua susun yang ditenteng Hana. "Itu apa?" tanyanya.
Pandangan mata Hana mengikuti arah mata Fahri. "Oh, ini aku tadi buat setup roti. Aku mau bawakan ini untuk Iyan," jawab Hana ragu, sebab merasa tak enak dengan Fahri.
"Maaf ya Fahri, aku buat setup rotinya ga banyak. Lain kali insyaallah aku akan buat lebih banyak, biar bisa dibagi buat kamu dan keponakan-keponakan kamu," tutur Hana lagi. Ia benar-benar merasa tak enak hati karena Fahri yang adalah tetangganya malah tak kebagian setup roti buatannya.
"Maksud aku... bukan begitu," ujar Fahri. Ia memahami gestur Hana yang merasa tak enak hati dengannya tentang setup roti. Padahal sebenarnya ia sedang memastikan dugaan tentang hubungan antara Dewa dan Hana.
Bukankah tidak elok rasanya jika seorang wanita memberikan sesuatu kepada seorang pria yang telah beristri. Terkecuali jika Hana memang tidak mengetahui kondisi sebenarnya, sebab tak mungkin rasanya wanita seperti Hana menjadi pelakor.
__ADS_1
"Han, apa kamu tahu kalau Iyan dan Mimin sudah..."
"Aa Fahri...!!" seru Caca, keponakan Fahri yang seketika memutus ucapan Fahri.
"Kenapa Ca?" tanya Fahri pada gadis kecil berjilbab itu.
"Kata ibu... A Fahri suruh pasang gas. Gasnya mati, ibu lagi goreng tempe, cepetan katanya!!" jawab Caca agak berteriak karena jarak mereka berjauhan. Fahri di halaman rumah, sedangkan Caca berdiri di pintu utama rumah.
"Han, aku mau pasang gas dulu," pamit Fahri.
"Oh, iya."
Kemudian Fahri masuk ke dalam rumah, sementara Hana melanjutkan langkahnya untuk menuntaskan tujuannya, yaitu menemui Dewa untuk memberikan setup roti tawar keju yang ia buat dengan sepenuh hati dan cinta.
Ia sampai di teras kontrakan dan mendapati tempat tinggal Dewa yang tampak sepi. Sempat berpikir mungkin Dewa belum pulang bekerja, namun segera terbantahkan ketika melihat motor Dewa terparkir di depan teras rumahnya. Berarti Dewa sudah pulang. Batinnya bergumam.
Beberapa kali ia mengetuk pintu rumah Dewa dan mengucap salam, namun tiada sahutan dari dalam rumah. Hingga akhirnya ia berpikir untuk menunggu di rumah Mimin. Barangkali Dewa sedang pergi ke luar. Gumamnya dalam hati.
Ia mengayun langkahnya menuju rumah Mimin. Sebelum ia sampai di pintu, sayup-sayup terdengar suara Mimin sedang berbincang dengan seorang pria yang ia kira adalah suaminya.
"Cepat atau lambat Hana pasti akan tahu. Jangan sampai Hana mengetahui hal ini dari orang lain. Dan dia merasa dibohongi oleh kita. Dan malah akan membuatnya semakin marah.” Suara seorang pria, mungkin adalah suami Mimin. Begitu pikirnya.
“Tapi a-aku... “ Ini adalah suara Mimin, ia sangat mengenalnya.
"Jangan takut... ada aku. Kita hadapi ini sama-sama." Suara pria itu seperti suara....
Ia berdesis, semoga saja terkaannya salah. Begitu harapnya dalam setitik rasa cemas di relung hatinya.
Langkahnya semakin dekat dengan pintu rumah Mimin yang terbuka setengah. Dan seketika ia tergugu ketika sampai di pintu rumah Mimin. Seketika oksigen dalam atmosfer seakan lenyap, tak kuasa lagi ia hisap. Nafasnya terasa sesak. Lehernya seakan tercekik. Jantungnya serasa meledak berkecai-kecai. Hatinya serasa pecah bersepai-sepai. Dan cairan matanya luruh beederai-derai. Demi menyaksikan apa yang terjadi di depan matanya.
Sebab rasa terkejut yang teramat sangat, ia menggerakkan kedua tangannya untuk menutup mulut. Hingga tanpa sadar ia menjatuhkan rantang berisi setup roti tawar.
Praaangg...
Bunyi rantang terjatuh, sontak membuat Dewa dan Mimin yang tengah saling meresapi ciuman lembutnya terlonjak kaget. Dan memalingkan wajah kepada asal suara. Dilihatnya Hana sedang berdiri di pintu sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Hana menggeleng-gelengkan kepala seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sementara Mimin, wajah cantiknya pucat seketika. "Hana...." lirihnya.
__ADS_1
Ia melangkah mendekati Hana. "Han... A-aku...." Entahlah ia pun tak tahu harus bicara apa.
Tanpa sepatah kata yang terucap, dengan menangis terisak Hana berlari meninggalkan Mimin dan Dewa. Meninggalkan rantang yang terjatuh juga.
"Hana... tunggu...!!" Mimin sudah melangkah untuk mengejar Hana. Namun tertahan karena Dewa menarik tangannya, menahannya untuk tak pergi.
"Lepas ih... Kamu!" Mimin memberontak berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dewa. "Lepaskan tanganku!"
Dewa menggelengkan kepalanya. "No no no."
"Apaan sih kamu. Aku mau ngejar Hana!" sewot Mimin.
"Tidak boleh. No no no," ujar Dewa sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Aku harus bicara sama Hana! Dan menjelaskan semuanya," sahut Mimin dengan intonasi meninggi.
"Iya, tapi memangnya mau ngejar Hana dengan penampilan begini? Rambut bak mayang terurai kamu dilihat begitu saja oleh orang-orang!" ujar Dewa mengingatkan.
Mimin berdesis. "Lupa."
Mimin segera pergi ke kamarnya untuk mengambil kerudung lalu pergi menyusul Hana.
.
.
.
.
Maaf yah. Masih ngegantung. Yang penting up dulu ya. Nanti dilanjut lagi.
Btw aku lagi sueneng nih sahabat readers. Karena apa? Karena Ka Erka, salah satu penulis favorit aku, komen juga loh di novel ini. Wah uhuy cihuy pokoknya. Auto jingkrak-jingkrak deh aku karena dua othor femes komen di GBM.
Tau ga sih, alasan aku dulu download apl ini tuh karena penasaran sama cerita Zico dan Nisha yang diiklankan di fb. Dan empat karya Ka Erka itu adalah karya pertama yang kubaca di apl ini, sebelum aku mulai menulis novel yg pertama.
Setelah novel pertama tamat, aku kan jadi pembaca lagi. Nah, terus nemu deh karya Ka Sephinasera. Dan aku maraton membaca semua karyanya.
__ADS_1
Terima kasih tak terhingga untuk othor femes yang udah meluangkan waktu untuk komen di karya othor remahan bubuk sagon ini.