Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
S2. Hana dan Haqi


__ADS_3

Satu minggu kemudian


Sofia Adriana alias Opi tengah nangkring di atas pohon jambu di halaman rumahnya ketika pandangannya terjatuh pada seorang pria yang baru keluar dari mobil jenis MPV tepat di depan pagar rumahnya. Pria itu terlihat turun dari mobil lalu celingukan ke kanan dan kiri, ke depan dan belakang seperti tengah mencari sesuatu.


Opi yang ternyata mengenali pria itu segera berteriak memanggil pria itu.


"Ustaz Baihaqi...! Assalamualaikum...!" teriak Opi dari atas pohon jambu.


Ya, Pria itu adalah Haqi atau Ustaz Baihaqi. Haqi yang mendengar seseorang meneriakkan namanya kembali celingukan mencari-cari dari mana asal suara itu.


"Ustaz ... saya di sini!" pekik Opi masih dari atas pohon jambu.


Awalnya Haqi bingung tak mampu menangkap dari mana asal suara itu sampai kemudian ia kejatuhan jambu. Beruntung jambu itu tak mengenai kepalanya dan dengan gerak refleks ala kungfu ia berhasil menangkap jambu dengan satu tangannya.


"Astagfirullahaladzim!" pekik Haqi terkejut ketika mendapati ada seorang gadis berjilbab hitam tengah nangkring di atas pohon jambu.


Opi memang tengah membenahi diri. Jika dulu sepulang sekolah ketika baru sampai gerbang sekolah sudah melepas kerudung dan menyimpannya di dalam tas, kini ia tidak seperti itu lagi. Bahkan kini jika diluar rumah ia selalu berusaha berkerudung. Seperti saat ini ia memanjat pohon dengan memakai celana panjang, kaos tangan panjang dan kerudung warna hitam.


"Ustaz Haqi...!" seru Opi seraya melompat turun dari atas pohon. Membuat jantung Haqi hampir copot melihat kenekatan Opi melompat dari atas pohon.


Setelah kakinya berhasil menginjak tanah, Opi segera berlari keluar pagar menemui Haqi.


"Assalamualaikum, Taz," sapa Opi. 


"Waalaikum salam. Emmm..." Haqi tampak sedang berpikir mengingat nama gadis remaja ceria di hadapannya.


"Ustaz pasti ga inget ya sama saya," keluh Opi sedikit kecewa.


"Ingat dong. Masa ga ingat sama wakil ketua OSIS di SMA favorit kota Serang," ujar Haqi yang telah mengingat gadis di hadapannya.


Ustaz Baihaqi adalah penceramah tetap di SMA X yang merupakan sekolah favorit di kota Serang, tempat Opi bersekolah.


"Alhamdulillah, Ustaz inget sama saya."


"Emmm... Sofia. Namanya Sofia 'kan?"


"Betul, Taz. Tapi panggil Opi aja."


"Oke oke, Opi ya." Haqi mangut-mangut.


"Ngomong-ngomong Ustaz Haqi mau ke mana?" tanya Opi.


"Saya lagi nyari rumah Ustaz Fahri," sahut Haqi.


"Oh, Ustaz Fahri."


Hati Opi menghangat ketika mendengar nama Fahri. Entah mengapa belakangan ini jika mendengar nama Fahri, hatinya selalu bergetar. Apalagi jika sampai melihat Fahri, getaran jantungnya mendadak naik berlipat-lipat seperti tengah diguncang gempa dengan kekuatan 5,7 Skala Richter. Jika sampai bisa mengobrol dengan Fahri mungkin akan menjadi gempa berpotensi tsunami.


"Opi tau rumah Ustaz Fahri?"


"Tau dong, Taz. Ustaz mau ke sana? Biar Opi anter, yuk."


"Boleh, kalau ga mengganggu kesibukan Opi."


"Enggak lah, Taz. Saya ga punya kesibukan berarti. Kesibukan saya cuma manjat pohon dan ... menata hati, ea ea...." seloroh Opi.


Haqi tersenyum mendengar selorohan Opi.


"Mobilnya di sini aja, Taz. Soalnya gang rumah Ustaz Fahri itu sempit, ga muat mobil," terang Opi.


"Jadi kita jalan aja?"


"Iya, Taz. Jalan aja, hayuk...!" ajak Opi.


"Yuk."


Opi dan Haqi melangkahkan kakinya menuju rumah Fahri tentu dengan menerapkan jaga jarak ya.

__ADS_1


"Ini rumah Ka Fahri ... eh Ustaz Fahri maksudnya," ujar Opi ketika sudah sampai di depan rumah sederhana tempat tinggal Fahri.


"Rumahnya sepi ya. Kira-kira Ustaz Fahri ada di rumah ga ya?"


"Emmmm... Itu ada motor Ka Fahri... eh Ustaz Fahri." Opi menunjuk sebuah motor matic keluaran lama yang terparkir di depan rumah Fahri. "Berarti orangnya ada, Taz."


"Oh, iya." Haqi melangkah masuk menuju pintu utama rumah Fahri dan Opi mengekorinya di belakang.


"Assalamualaikum." Haqi mengucapkan salam.


"Yang keras suaranya, Taz. Nih, begini."


Tok... Tok... Tok...


"Assalamualaikum... Assalamualaikum... Assalamualaikum." Opi mengucapkan salam tiga kali sekaligus dengan intonasi suara tiga kali lipat dari suara Haqi tadi.


"Waalaikum salam." Terdengar suara sahutan jawaban salam dari dalam rumah. Suara seorang pria yang tak lain adalah Fahri. Mendengar suara Fahri, dada Opi jadi deg-degan dibuatnya.


Tak menunggu lama Fahri membuka pintu rumahnya.


"Assalamualaikum," sapa Haqi ketika Fahri membukakan pintu untuknya.


"Waalaikum salam, Kang Ustaz Haqi." Fahri menyalami Haqi dalam suasana ramah dan penuh keakraban. 


"Assalamualaikum, Ka Fahri," sapa Opi usai Fahri menyalami Haqi.


"Waalaikum salam, Nong Opi," balas Fahri.


Seketika Opi melengkungkan bibirnya, menerbitkan sebuah senyuman karena panggilan "Nong" yang disematkan Fahri kepadanya. Meskipun panggilan "Nong" itu sebenarnya panggilan biasa kepada seorang wanita yang lebih muda. Namun jika Fahri yang memanggilnya "Nong" rasanya beda. Seperti ada manis-manisnya.


"Oh, iya. Opi 'kan juara Kang Nong Banten tahun ini ya," ujar Haqi.


"Wah, iya Kah?" sahut Fahri.


Ya, prestasi Opi tahun ini ternyata bukan hanya juara pencak silat tingkat PORCAM. Ia juga juara Kang Nong Banten tingkat pelajar. Pihak sekolah yang menunjuknya menjadi peserta ajang tersebut. Sebuah ajang pemilihan putera-puteri terbaik yang diadakan oleh Pemkot Serang.


"Ih, Ustaz Haqi kayak gitu jangan diomongin. Opi jadi malu," sahut Opi


"Kang Ustaz, mari silakan masuk. Maaf rumahnya berantakan nih, Kang."


"Terima kasih, Fahri. Enggak apa-apa kayak sama siapa aja," sahut Haqi. Ia masuk ke dalam lalu duduk di sebuah sofa.


"Kalau begitu ... Opi permisi dulu ya, Taz. Assalamualaikum."


"Nong Opi, tunggu dulu!" seru Fahri.


Opi yang hendak berbalik badan jadi urung karena seruan Fahri. "Iya, Ka eh Taz."


"Panggil Kakak aja," ujar Fahri.


Opi mengangguk seraya tersenyum. "Iya, Ka Fahri."


"Nong Opi sedang sibuk ga?"


Opi menggeleng cepat. "Enggak. Enggak sibuk kok. Opi mah pokoknya free ... freehatin. Hehehehe."


"Nong Opi bisa masuk dan duduk dulu?"


"Bisa bisa," sahut Opi penuh semangat. Lalu segera masuk dan duduk di sofa single. "Nih, Opi duduk, Ka."


"Kang Ustaz, mohon maaf sebentar ya. Saya ada keperluan sama Opi," ujar Fahri kepada Haqi.


"Iya. Silakan."


"Mimin bagaimana kabarnya, Nong?" tanya Fahri.


"Alhamdulillah Teh Mimin sudah sehat," jawab Opi.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Sudah pulang ke rumah?"


"Alhamdulillah, sudah, Ka."


"Alhamdulillah," ucap Fahri.


"Nong Opi... sebentar ya. Ada titipan untuk Mimin dari Teh Farah," tutur Fahri seraya bangun dari duduknya.


Baru saja Fahri berdiri hendak meninggalkan ruang tamu kemudian Hana datang.


"Assalamualaikum," sapa Hana.


"Waalaikum salam," jawab semuanya.


Haqi tampak terkejut ketika melihat kedatangan Hana. Sementara Hana belum menyadari kehadiran Haqi di sana. Ia hanya fokus pada Fahri dan Opi.


"Aih aih ... Opi. Hayo ketauan, lagi ngapain di sini," goda Hana.


"Ih, apaan sih. Orang Opi cuma nganterin Ustaz Haqi aja. Ya Ustaz ya?" Opi memandang Haqi memohon pembelaan.


Seketika Hana melayangkan pandangannya kepada Haqi yang duduk dekat dengan posisi Fahri. Dan pandangan keduanya bertemu. Ia sempat terkesiap untuk beberapa saat sebab tak menyangka bisa bertemu kembali dengan pria yang pernah menolongnya seminggu yang lalu.


Hana mengangguk ramah, begitu pun Haqi.


"Assalamualaikum, Ukhti," sapa Haqi.


"Waalaikum salam," jawab Hana.


"Loh, Kang Ustaz udah kenal sama Hana?" tanya Fahri yang melayangkan pandangannya kepada Haqi dan Hana.


"Udah."


"Udah."


Hana dan Haqi menjawab bersamaan.


Loh, kok aku jawab udah sih. Padahal 'kan belum kenal cuma baru ketemu aja itu pun ga sengaja. Batin Hana dan Haqi.


"Belum."


"Belum."


Hana dan Haqi kembali kompak menyahut. Sama-sama meralat pernyataan sebelumnya.


"Ciye... Ciye. Ka Hana sama Ustaz Haqi kompak gitu jawabnya. Jangan-jangan jodoh nih."


"Opi...!"


"Opi...!"


Hana dan Haqi menyeru Opi, lagi-lagi dengan bersamaan.


"Jadi sebenarnya Kang Ustaz sama Hana sudah kenal belum?" tanya Fahri lagi.


Kali ini Hana dan Haqi kompak diam tak menyahut. Mereka hanya saling pandang.


.


.


.


.


Maafkan saya ya kalau update bab nya ga teratur. 🙏🙏🙏


Semoga tulisan saya yang unfaedah ini bisa membuat sahabat semua terhibur.

__ADS_1


Terima kasih banyak dukungannya. ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2