
Rudi melangkah menuju lemari, matanya sempat menyapu seluruh ruangan kamar mencari sesuatu yang menurutnya terlihat mencurigakan, setelah dirasa aman, lelaki itu terlihat menekan sebuah tombol yang ada dibalik lemari tersebut, tak lama terlihat tembok kamarnya bergeser dan itu membuat mata Juno langsung melotot sempurna.
'' Ruangan apa itu? jangan-jangan selama ini Kay disembunyikan diruangan itu? iya aku yakin pasti Kay ada didalam sana.'' gumamnya pelan, setelah melihat Rudi masuk kedalam ruangan tersebut, Juno pun langsung keluar dari persembunyiannya dan melangkah menuju lemari itu untuk melihat bagai mana cara ia bisa menggeser tembok dibalik keberadaan istrinya itu.
'' Sepertinya ini tombolnya.'' gumamnya sambil menekan tombol tersebut.
Sreeeettt
Terdengar suara pintu terbuka, membuat dua orang yang berada didalam sana langsung menoleh kearah tembok tersebut.
'' Juno.'' ucap Kay dengan suara lirih, saat ini posisi Kay sedang berada dalam kukungan Rudi, sepertinya lelaki itu hendak berbuat tak senonoh pada istrinya itu
'' Kurang ajar bajingan kau!" maki Juno sambil berlari menghampiri lelaki itu dan langsung memukulnya
Bug-bug-bug
'' Berani-beraninya kau menyentuh istriku, dan menyekapnya disini, saya tidak akan memaafkanmu dasar breng*sek!!!
Bug-bug-bug
Serangan bertubi-tubi dilayangkan Juno pada Rudi, membuat tubuhnya langsung terjatuh kelantai, tak hanya sampai disitu, Juno kembali menyerang lelaki itu hingga benar-benar jatuh terkulai tak berdaya.
'' Juno,'' panggil Kay yang langsung membuat pemuda itu menghentikan aksi brutalnya.
'' Kay,'' gumamnya yang langsung memeluk tubuh lemah istrinya itu,
'' Juno, hiks-hiks..,'' Kay memeluk tubuh suaminya dengan erat, jujur ia juga sangat merindukan sosok suami nya itu, Kay sangat merindukan Juno, hingga membuatnya tak bisa berkata-kata lagi, wanita itu hanya bisa menangis dan membalas pelukan erat suaminya, sebagai tanda jika ia sangat membutuhkan suaminya itu. Tanpa mereka sadari Rudi sudah berdiri dibelakang mereka dengan sepotong kayu yang berada ditangannya. Kay yang menyadari langsung berteriak.
'' Juno awaass!!!
Buugg
'' Aakkhhh,'' teriak Juno saat kepala bagian belakangnya dihantam oleh kayu besar hingga mengeluarkan darah.
'' Juno!!'' teriak Kay sambil memeluk tubuh suaminya yang terkulai akibat kena hantaman kayu yang dipegang oleh Rudi
'' K-kay.'' ucap Juno dengan suara yang sangat pelan. Juno merasa matanya mulai kabur, kepalanya terasa sangat sakit hingga akhirnya ia tak dapat menahannya lagi dan akhirnya ia jatuh pingsan.
'' Juno! bangun Jun, jangan tinggalin aku!! huuu...'' Kay menangis histeris, gadis itu menaruh kepala suaminya diatas pangkuannya dan memeluknya erat
__ADS_1
'' Kau kejam Rudi! kau keterlaluan! aku membencimu aku bencii!!'' ucapnya sambil berteriak dadanya naik turun menahan amarah dihatinya.
'' Jun bangun Juno!!'' Kay masih berusaha menyadarkan suaminya dengan menepuk pelan wajah pemuda itu.
'' Sudahlah Kay mungkin saja dia sudah mati sekarang.'' ucapnya asal membuat Kay langsung menatapnya dengan tajam.
'' Keterlaluan kamu Rudi, kenapa kamu lakukan ini semua padaku? apa mau mu sebenarnya huh?
'' Tentu kamu tau mau ku,'' jawabnya
'' Aku sama sekali tak mengerti maksudmu, dasar lelaki brengsek.''
'' Kay, aku mu kamu menikah denganku.'' jawabnya
'' Gila! benar-benar sudah gila kamu! aku ini sudah menikah dengan Juno bagai mana mungkin aku bisa menikah denganmu?
'' Ya kamu tinggal ceraikan aja dia? bereskan?''
'' Sinting kamu!'' ucap Kay, ia meletakan kepala Juno diatas lantai yang sudah ia alasin dengan kain, setelahnya ia bangkit bermaksud untuk keluar dari tempat tersebut untuk mencari bantuan.
'' Hei mau kemana kamu! Rudi langsung menarik tangan gadis itu saat Kay hendak keluar dari kamar tersebut
'' Hei tenanglah sayang, lagi pula dia tidak apa-apa, itu hanya luka kecil satu atau dua jam lagi dia juga akan sadar.'' ucap Rudi dengan santainya.
'' Tenang kau bilang? dasar manusia tak punya perasaan kamu, aku benci kamu Rudi, benci.'' ucapnya dengan suara lirih air matanya terus mengalir menangisi nasipnya, karna nya, nyawa suami nya kini terancam, dan dia tak bisa berbuat apapun sekarang.
***
Sementara ditempat lain, tepatnya dikantor polisi Wildan meminta salah satu polisi untuk melacak nomor ponsel Seli, mau pun Juno, karna yang ia tau dari bu Dewi, jika tadi pagi Seli datang bersama Arif untuk bertemu dengan Juno, namun bu Dewi sendiri tak tau tujuan mereka kemana namun entah kenapa secara bersamaan, ponsel mereka tak bisa dihubungi sejak tadi pagi dan itu membuat Wildan khawatir.
'' Bagai mana pak, kira-kira dimana posisi mereka sekarang?'' tanya Wildan
'' Ini titiknya seperti didaerah perumahan Resident.'' jelas polisi tersebut.
'' Perumahan Resident pak?
'' Iya pak Wildan, bagai mana apa kita bergerak sekarang?''
'' Sebaiknya begitu pak, karna saya takut terjadi sesuatu pada adik saya, karna sejak tadi pagi ponsel mereka tak ada yang bisa dihubungi.'' jelas Wildan.
__ADS_1
***
'' Loe yakin sinyal nya dari perumahan Resident Wil? itu kan perumahan tempat tinggal Rudi .'' ucap Bisma, lelaki itu baru saja dijemput oleh Wildan untuk ikut bersamanya.
'' Kali ini saya sangat yakin Bis.'' jawabnya sambil pandangannya lurus kedepan, entah kenapa perasaannya sangat tidak enak, ia takut terjadi sesuatu dengan Juno.
Saat ini mereka sudah sampai diperumahan tersebut, setelah memarkirkan mobil, Wildan dan Bisma langsung turun, dan langsung melangkah menuju kediaman Rudi, begitupun dengan dua orang polisi yang juga mengikuti mereka dari belakang
'' Itu Rudi.'' ucap Bisma sambil menunjuk sosok Rudi yang baru saja keluar dari rumahnya.
'' Rudi.'' panggil Wildan membuat pemuda itu sedikit terkejut.
'' Kalian, mau apa lagi kesini? dan kenapa pakai acara bawa polisi segala?'' tanya pria tersebut sedikit panik
Wildan memperhatikan wajah Rudi yang terlihat babak belur, seperti habis terkena pukulan dan lukanya juga terlihat masih baru
'' Kenapa dengan wajahmu? seperti habis kena tonjok.'' ucap Wildan
'' Oh ini? biasa anak muda.'' jawabnya dengan gaya tengil, membuat Wildan muak melihatnya.
'' Ada apa kalian datang kerumah saya?'' ulang Rudi yang malas berurusan dengan polisi
'' Maaf pak Rudi kedatangan kami kesini untuk menggeledah rumah anda.' ucap salah satu polisi
'' Apa digeledah? kenapa rumah saya harus digeledah pak? saya bukan pemakai barang haram.'' jawabnya tak terima jika rumahnya hendak digeledah.
'' Kami hanya mohon kerja sama anda pak, hanya untuk memastikan sesuatu saja.'' smbung polisi itu lagi
'' Maaf pak saya keberatan dan tidak terima kalau rumah saya digeledah, apa kalian ada surat penggeledahannya?
'' Ada apak ini suratnya.'' ucap nya sambil memberikan surat perintah menggeledah rumah tersebut.
'' Baiklah pak, mohon kerja samanya karna kami akan menggeledah rumah bapak.'' ucap polisi yang langsung masuk kedalam rumah disusul oleh Wildan dan juga Juno dari belakang
'' Loh..loh pak gk bisa begitu gong, saya tidak terima rumah saya digeledah seperti ini.'' ucapnya sambil ikut masuk kedalam. Satu persatu kamar mereka geledah tanpa ada yang terlewat, hingga saat Wildan ingin membuka pintu gudang Rudi langsung menghentikannya.
'' Disana tidak ada apapun, hanya ada barang bekas, dan juga jorok.'' ucap Rudi, namun malah semangkin membuat Wildan penasaran, pria itu pun langsung membuka kunci pintu gudang tersebut dan membuka nya dengan lebar, seketika matanya juga ikut melebar saat melihat sesuatu didalam gudang tersebut.
Bersambung
__ADS_1