
Bu Dewi dan Kay saat ini sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah, sepanjang perjalanan ia bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi? begitu pula dengan Kay, ia menatap iba pada baby Al yang berada dalam pangkuannya, gadis itu menatap wajah balita yang tengah tertidur dengan pulas di pengakuannya, setelah sebelumnya sempat ia berikan asi.
'' Mama harus tanyakan ini pada mbok Surti dan juga Ningsih, bagai mana bisa Al bisa sampai jatuh seperti itu, teledor sekali mereka.'' ucap Bu Dewi yang terlihat marah, sedangkan Kay hanya menatap sekilas pada ibu mertuanya tersebut, Kay juga menyayangkan, kenapa Al bisa sampai terjatuh seperti itu.
Lima belas menit kemudian kendaraan yang mereka tumpangi sudah sampai dihalaman kediaman keluarga bu Dewi.'' Ayo Kay!" ajak Bu Dewi sambil membuka pintu mobil, yang hanya diangguki oleh janda muda tersebut.
'' Mbok! mbok Surti! Ningsih! kalian dimana? kesini sebentar! ada yang mau saya tanyakan.'' panggil Bu Dewi dengan suara sedikit keras.
Tak lama terlihat mbok Surti yang melangkah dari arah dapur, sedangkan Ningsih terlihat keluar dari arah kamar yang ada disamping bekas kamar Juno dulu, Kay menatap sekilas pintu kamar tersebut, seketika Kay terenyuh saat kembali mengingat almarhum suaminya itu.
'' Ada apa bude?' tanya Ningsih sambil melangkah mendekat kearah Bu Dewi, begitu juga dengan mbok Surti
'' Saya mau tanya sama kalian berdua,kenapa cucu saya Al, bisa sampai kakinya lebam seperti ini?'' tanya Bu Dewi sambil memperlihatkan kaki cucunya yang sebelah kiri, terlihat sedikit membiru.
'' Hah? loh kok bisa nyah? padahal tadi waktu saya turun gk apa-apa nyah.'' ucap mbok Surti yang juga merasa heran.
'' Bagai mana dengan kamu Ning? bukankah Kay bilang kamu yang terakhir bersama Al? bisa kamu jelaskan apa yang terjadi dengan cucu bude?'' ucap Bu Dewi dengan pandangan tajam kepada keponakannya itu.
Duuhh,, bagai mana ini? pasti bude marah banget kalau tau apa yang terjadi, apa lagi kalau sampai mas Wildan tau, bisa-bisa aku ditendang dari sini.
Batinnya
'' Itu---,''
'' Ada apa ini mah? kenapa semua berkumpul disini?'' tanya Wildan yang tiba-tiba datang, karna rencana nya siang ini mereka semua akan berangkat kepanti asuhan jadi Wildan memutuskan untuk pulang lebih awal.
'' Ini Wil, mama sedang tanya sama Ningsih kenapa kaki Alsyahrendra bisa terdapat luka lebam.' ucap Bu Dewi
'' Apa? luka lebam??'' kaget Wildan, pria itu beralih menatap kearah Ningsih, seolah meminta jawaban, namun gadis itu hanya menundukan pandangannya
__ADS_1
'' Lalu dimana sekarang anak ku mah?
'' Dikamar ku mas.'' kali ini Kay yang menjawab, gadis itu baru saja menaruh baby Al dikamarnya,
Wildan mengangguk paham, lalu pandangannya kembali beralih pada Ningsih
'' Bisa tolong kamu jelaskan Ningsih?'' tanya Wildan yang penuh dengan penekanan disetiap kalimatnya.
'' I-itu sebenarnya tadi waktu aku mau angkat baby Al, tiba-tiba kakinya tersangkut didalam besi box nya,'' jelasnya takut-takut
'' Apa? tersangkut di box bayi? kamu bohong ya mba? bagai mana bisa? kalau hanya tersangkut tidak akan sampai memar seperti itu memarnya mba.'' sambung Kay entah kenapa emosinya tiba-tiba keluar mendengar ucapan Ningsih yang menurutnya tidak masuk akal. Sedangkan Wildan masih diam memperhatikan.
'' Kay kamu kok gitu? kamu gk percaya sama aku? keterlaluan sekali, tapi itu semua memang benar kok mas Wildan, bude, kaki Al saat itu hanya tersangkut.'' jelasnya lagi, namun tak berani menatap wajah keduanya, setelah mengatakan itu Ningsih langsung menundukan pandangannya.
'' Kamu jangan bohong Ningsih, bude tau kamu itu sedang berbohong.'' ucap Bu Dewi, wanita paruh baya itu terlihat menggelengkan kepalanya
'' Katakan yang jujur Ning atau bude akan bilang semua ini sama mama kamu.'' ancam Bu Dewi.
'' Kamu ini ya, benar-benar teledor, sudah salah masih saja sempat berbohong, bude benar-benar tak habis pikir sama kamu, lalu tadi kenapa kamu tidak langsung membawanya kedokter? untung ada kay, kalau tidak, bude gk tau Ning, kamu memang gk bisa diandalkan, bude sangat kecewa sama kamu. '' ucapnya yang langsung pergi dari sana.
'' Bude,'' panggil Ningsih berharap sang bude mau memaafkan, mas Wildan.'' panggil Ningsih lagi sambil menatap pria itu dengan memelas, namun tak dipedulikan oleh lelaki tersebut dan memilih pergi dari sana, dan tersisa hanya tinggal Kay dan dirinya disana.
'' Kamu puas Kay?'' tanya gadis itu sambil menatap tajam Kayla
'' Apa maksud mba Ningsih?
'' Jangan berlagak bego kamu, kamu sengaja kan bicara yang maca-macam pada bude agar dia marah sama aku? dasar perempuan tidak tau diri.'' makinya
Kay tersenyum kecut saat mendengar tuduhan yang dilayangkan gadis yang ada didepannya saat ini.'' Mba Ningsih, bukan kah pada dasarnya mba Ningsih memang salah ya? karna sudah teledor, jadi kenapa harus menyalahkan saya?'' ucap Kay yang akhirnya melawan ucapan gadis itu,
__ADS_1
'' Kau? iiiihhhh, dasar nyebelin ya kamu, gadis kampung, awas kau.'' ucapnya yang langsung meninggalkan Kay, sementara Kay langsung menuju kamar miliknya untuk melihat keadaan baby Al
***
Saat ini Wildan, Kay dan Bu Dewi sedang dalam perjalanan menuju panti asuhan, tentunya sambil membawa baby Al, sedangkan Ningsih dan mbok Surti menaiki mobil lain yang dikemudikan oleh supir keluarga.
Ngeselin banget sih? kenapa aku malah berada disini bersama mbok Surti, seharusnya aku bersama mas Wildan.
Gerutu batinnya.
'' Kay gimana Al apa dia masih menangis?'' tanya Bu Dewi sambil menoleh kekursi penumpang, karna Kay bersama baby Al duduk dijok belakang.
'' Sudah tidak mah, lagi pula kakinya sudah aku berikan salep dan semoga bisa mengurangi rasa nyeri dikakinya, dan mudah-mudahan obatnya cocok.'' ucap Kay.
'' Syukurlah kalau gitu.'' jawab Bu Dewi
'' Mah, apa Sandra sudah dihubungi?'' tanya Wildan, karna pesanan nasi kotak disediakan dari restoran milik Sandra.
'' Sudah dong, mereka juga sedang dalam perjalanan menuju panti asuhan.'' jelas Bu Dewi
'' Mereka??
'' Iya, mereka itu ya Sandra, Bisma, Bu Retno dan juga Rehan, abang sepupunya Bisma, yang tampan itu loh.'' ucap Bu Dewi sambil melirik putranya, sebenarnya Bu Dewi tau jika Wildan merasa terancam dengan kehadiran sosok Rehan, karna sepertinya pria itu juga menaruh hati pada Kay. Bu Dewi cukup kesal pada putra nya itu yang bergerak sangat lambat untuk mendapatkan Kay kembali.
'' Kalian tidak masalahkan kalau mama mengundang mereka?' tanya Bu Dewi
'' Kay kamu tidak masalahkan?'' sambung Bu Dewi lagi memastikan, Wildan melirik kearah Kay dari kaca spion depan, dan melihat reaksi dari gadis itu.
'' Kenapa harus bertanya padaku mah? aku gk masalah, mau siapa pun yang mama undang, semangkin banyak yang datang, maka akan semangkin banyak yang mendoakan kesehatan anakku, maksudku baby Al.'' ucapnya, sambil menundukkan kepalanya, Kay merutuki kebodohannya sendiri, karna bicara seperti itu, padahal sudah jelas jika Al itu bukan lah anak yang terlahir dari rahimnya, apa lagi dia juga tidak ada hubungan apapun lagi dengan Wildan, itu membuat Kay merasa malu.
__ADS_1
Next