Gadis Penyumbang Asi

Gadis Penyumbang Asi
Bayi Besar


__ADS_3

'' Mas apa yang mas Wildan lakukan? kenapa mas membawaku kekamar mas.'' protesnya sambil mendorong dada bidang pria itu agar menjauh darinya.


'' Biar mas yang akan membantumu Kay.'' ucap pria itu tanpa menghiraukan ucapan gadis tersebut.


'' Tidak, biar aku memompanya saja, lagian ya aku itu--,,'' kata-kata Kay menggantung, ingin sekali ia mengatakan jika ia marah kala membayangkan Wildan menggerayangi tubuh wanita lain, hanya saja ia malu


'' Ada apa? kamu kenapa?


'' Sudahlah mas sebaik aku keluar dari sini, aku udah gk tahan dengan rasa sakitnya.'' ucap Kay sambil meringis


'' Makanya biar mas yang bantu keluarin asinya.


'' Tapi mas aku--,''


'' Suutt, udah kamu diam aja!" ucap Wildan dan langsung mengangkat keatas kaos yang dikenakan gadis itu hingga melewati kepala nya dan terlepas dari tubuhnya.


'' Sudah basah sayang.'' gumamnya sambil menatap br*a putih yang dikenakan gadis tersebut, yang memang sudah basah akibat asi yang terus keluar. Kay hanya diam, sambil menahan malu, kini wajah gadis itu sudah memerah, apa lagi Wildan terus menatap pa*yu*da*ra miliknya tersebut.


'' Mas buka ya?'' ucap Wildan sambil membuka pengait br*a milik Kay dari belakang dan..

__ADS_1


Tuing


Dua gundukan itu langsung terjun dengan bebasnya, bersamaan dengan asi yang terus menetes, membuat mata Wildan langsung berbinar.


'' Mas kok hanya dilihatin doang sih? cepetan dong dihisap!" entah sadar atau karna Kay terlalu merasakn sakit dibagian dadanya, hingga gadis itu langsung menyuruh Wildan melakukannya, rasa sakit yang sejak tadi ia tahan membuat nya sudah tak lagi bisa menahannya lebih lama, apa lagi dadanya semangkin berdenyut nyeri,sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang dideritanya, akibat terlalu lama menahan asi nya keluar. Wildan yang mendengar permintaan gadisnya tersebut langsung menyumpal mulutnya dengan ujung daging kenyal tersebut. Wildan menghisapnya dengan sangat kuat, membuat Kay berdesis saat ujung pa*yu*da*ra nya menyentuh lidah pria yang dicintainya tersebut, memang awalnya terasa sakit saat pu*ti*ng itu disentuh, karna memang sedikit membengkak, bagitulah jika gadis itu terlalu lama memompa asinya, Kay memperhatikan Wildan yang sejak tadi menghisap air berwarna putih tersebut secara bergantian, membuat sesuatu dalam dirinya bangkit, ia merasa geli dibeberapa bagian tubuhnya, apa lagi saat tangan Wildan mulai bergerilya dipunggungnya yang polos.


Laki-laki itu melepas mulutnya dari da*da gadis itu, membuat Kay merasa ada yang hilang, Wildan menatap gadis itu sejenak, lalu langsung menuntun gadis itu menuju tempat tidur miliknya, tanpa bicara apapun Kay hanya menurut apa yang diperintahkan laki-laki itu padanya.


'' Mas masih belum puas, kamu masih mau kan memberikan asi milikmu ini pada mas? karna nanti kalau Al sudah pulang, pasti akan segera diambil alih oleh nya.'' ucap Wildan membuat keduanya langsung terkekeh pelan.


'' Mas udah seperti bayi besar tau gk? tapi aku menyukainya mas,, dan mulai sekarang jika mas Wildan ada dirumah aku tidak akan menggunakan pompa asi untuk mengerluarkan asi milikku ini, tapi akan meminta mas untuk menghisapnya.'' ucap Kay malu-malu, mendengar itu membuat wajah laki-laki tersebut menjadi berbinar, senyum nya pun seketika mengembang,


'' Mas Wildan,'' panggilnya lirih, membuat Wildan langsung mengangkat kepalanya, membuat pandangan mereka bertemu. Wildan menatap mata sayu gadis itu, sebagai laki-laki yang sudah berpengalaman, ia tau jika gadis yang berada dibawahnya itu sedang menahan gai*rahnya. Wildan mensejajarkan tubuh mereka, menatap dalam mata gadis itu, dan kemudian langsung men*cium bibir tipis sang kekasih dengan sangat lembut, walau sedikit kaku namun Kay bisa mengimbangi ciu*man Wildan dibibirnya, aah Kay lupa ini ada ciuman keduanya dengan seorang pria dan dengan pria yang berbeda pula, kalian tau? ciuman pertama Kay diambil oleh Rudi saat mereka berada digudang, tepatnya secara paksa saat Kay berniat untuk memutuskan hubungan mereka, itulah yang membuat Kay sempat menangis saat itu, namun ia enggan untuk mengatakan apapun pada Wildan saat itu, karna Kay tak ingin membuat masalah semangkin runyam.


'' Aah,'' Kay mende*sah disela lamunannya, saat menyadari bibir basah Wildan sudah menari-nari diarea inti tubuhnya, gadis itu tidak sadar jika Wildan sudah membuat gadis itu polos didepannya.


'' Ooh mas Wildan.'' pekik nya saat merasakan mulut pria itu menghisap habis isi dari dalam dirinya, membuat tubuh gadis itu bergetar hebat, bahkan Kay sampai mengangkat-angkat bo*kongnya tanpa sadar, hingga beberapa saat kemudian gadis itu merasakan ada sesuatu yang mengalir dibawah sana, tiba-tiba tubuh terasa lemas, nafasnya terdengar masih memburu, belum lagi gadis itu memulihkan tenaganya, tiba-tiba tubuh Kay kembali tersentak saat merasakan sapuan hangat dibawah sana, ya saat ini Wildan sedang membersihkan area sensitif itu dengan lidahnya, hingga bersih tak tersisa, dan itu membuat kepuasan tersendiri bagi Wildan, gadis itu mencoba bangkit tepatnya setengah duduk, ia menopang tubuhnya dengan kedua tangannya untuk melihat apa yang sedang terjadi dibawah inti tubuhnya, ia melihat kakinya terbuka lebar dan ditekuk keatas, entah kapan lelaki itu melakukannya, ia pun tak tau.


'' Mas Wildan.'' ucapnya lirih membuat pria itu langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada gadis itu.

__ADS_1


'' Gimana sayang? enakkan?'' tanya pria itu sambil tersenyum menggoda, Kay mengguk malu, tanpa sengaja mata gadis itu melihat tonjolan dibalik celana denim yang Wildan kenakan, ia baru menyadari bahwa pakaian laki-laki itu masih utuh melekat ditubuhnya, berbeda sekali dengan dirinya yang sudah tak menggunakan sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya, seketika ia merasa malu yang luar biasa, gadis itu dangan cepat meraih selimut yang ada disamping nya untuk menutupi tubuhnya yang polos namun dengan cepat Wildan langsung mecegahnya, membuat Kay langsung menatap kearahnya.


'' Mas belum puas sayang.'' ucapnya sambil menatap lekat mata gadisnya tersebut. Kay yang mendengar ucapan Wildan membuatnya tubuhnya seketika meremang.


Apa maksud mas Wildan yang kalimatnya itu? apa dia mau kami melakukannya sekarang?


Batin Kay dengan perasaan campur aduk


'' Sayang mas ingin kita mela---,'' belum sempat Wildan menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk oleh seseorang membuat Kay langsung panik, namun berbeda dengan halnya Wildan yang terlihat santai, membuat gadis itu menggerutu dalam hati. Bagai mana tidak, saat ini gadis itu sedang dalam keadaan polos dikamar seorang pria pula, berbeda halnya dengan Wildan yang masih menggunakan pakaiannya lengkap, benar-benar tidak adil batinnya kesal, eh eh tunggu, apanya yang tidak adil? apa Kay mau jika saat ini Wildan juga polos didepannya agar merasa adil? oh tidaak!!


Tok-tok


'' Den.. Den Wildan aden dipanggil ibu dibawah.'' teriak mbok Surti dari depan pintu


'' Iya mbok sebentar lagi saya turun.'' jawab Wildan yang masih belum bergerak dari tempatnya.


'' Yasudah mas turun dulu ya, kamu cepetan pakai bajunya, kapan-kapan kita bisa mengulangnya lagi.'' ucap Wildan menggoda sambil mengerlingkan sebelah matanya, membuat gadia itu mendengus kesal, sementara Wildan yang meluhat hanya terkekeh, setelah itu ia pun langsung turun dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu kamar.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2