
Hai para readers ku yang tersayang, otor mau tanya nih sama kalian semua, sebenarnya pada suka gk sih sama alur cerita yang otor tulis ini?? Jangan lupa wajib di komen ya!! Soalnya ada yang blg katanya alur ceritanya gk sesuai sama judul, tapi setelah dipikir2 iya juga sih, sedikit melenceng😁🤭
Tapi buat yang komen itu, makasih udah sedikit ngingetin otor, untuk kedepannya biar bisa menyesuai kan alur cerita dengan judul nya😊
Mereka semua masih berkumpul dikamar bu Dewi, Kay merasa semua orang dikamar tersebut aneh.'' Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kalian bersedih seperti ini? mas Wildan, dimana dia mah? kenapa tidak datang melihat keadaan mama? keterlaluan sekali dia, tapi mama gk usah khawatir, biar aku yang panggil dia untuk datang kekamar mama sekarang.'' ucap Kay, lalu bangkit dari duduknya, sebenarnya perasaan Kay mulai sudah tak karuan, bahkan Kay mulai merasakan bahwa pernikahannya tak akan terjadi, meskipun semua orang belum mengatakannya, namun tetap saja Kay bisa merasakan ada suatu yang salah dalam sikap semua orang hari ini, namun tetap saja Kay mencoba berpikiran positif. Ya, gadis itu mencoba untuk menghibur dirinya sendiri, walau kenyataannya hanya kesia-siaan saja. Kay melangkah menuju pintu kamar, namun segera dicegah oleh Sandra.
'' Kay mas Wildan tidak ada dikamarnya.'' ucap sandra yang akhirnya buka suara, sebenarnya sejak tadi mereka merasa sangat bingung ingin menjelaskan seperti apa kepada gadis itu
Seketika Kay menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Sandra.'' A-apa maksud mba Sandra? Kenapa mas Wildan tidak ada dikamarnya? maksudnya mba Sandra apa, dengan mengatakan jika mas Wildan tidak ada dikamarnya? kami akan menikah mana mungkin mas Wildan pergi, mba Sandra tolong jangan bercanda mba, katakan jika kalian hanya bercanda kan? mas Wildan pasti ada dikamarnya, iya kan mba? mah, katakan jika yang mba Sandra bilang itu gk benar, kami akan menikah hari ini, dan dia sudah berjanji gk akan ninggalin aku lagi.'' Kay terus meyakinkan dirinya jika Wildan tak akan kembali mengecewakannya, meskipun kenyataannya sudah didepan mata, sungguh pria itu begitu tega meninggalkannya dimana hari ini mereka akan melangsungkan ijab kobul.
Bu Dewi sangat sedih dan merasa kasihan melihat Kayla, namun dalam hati bu Dewi bertekat, bagai mana pun caranya, ia akan tetap membuat gadis itu menjadi menantunya, ibu untuk cucunya Alsyahrendra, karna sebenarnya bu Dewi sudah terlanjur menyukai gadis itu, dan beliau juga sayang pada Kay sama seperti menyayangi putrinya sendiri.'' Kay mama minta maaf, tapi yang dikatakan Sandra itu benar, Wildan pergi, dia tidak ada dikamarnya, dan mungkin ia tak akan kembali.'' sambung bu Dewi pelan diakhir kalimat, membuat tubuh Kay langsung terkulai lemas dilantai. Seli yang melihat sahabatnya seperti itu juga merasa sangat sedih, ia pun melangkah cepat mendekati sahabatnya dan langsung memeluk tubuh Kay untuk menenangkan sahabat kecilnya tersebut.
'' Sabar ya Kay, gue yakin semua akan baik-baik saja, maaf tante bisa kami tau kenapa pak Wildan bisa pergi meninggalkan pernikahannya begitu saja? apa alasannya hingga dia membatalkan pernikahannya dengan sahabat saya bu? apa kah karna kami hanya orang miskin makanya sahabat saya harus diperlakukan seperti ini, oleh kalian orang kaya?'' ucap Seli sambil menangisi nasip sahabat yang disayanginya itu, Seli mengatakan itu karna memang sudah tau cerita tentang Wildan dari Kay, karna memang Kay sudah menceritakan semuanya, Seli marah karna Kay diperlakukan sesuka hati oleh Wildan, tapi ia juga tidak bisa melarang Kay untuk tidak meninggalkan pria itu, Seli hanya bisa berharap jika Kay sahabatnya bisa mendapat kebahagiaan dengan pilihan hatinya, namun sekarang sepertinya itu hanya tinggal harapan hampa saja bagi keduanya, terlebih sahabatnya Kayla.
Sandra yang mendengar ucapan pegawainya sebenarnya sangat tidak terima, namun karna yang dikatakan gadis itu tidak semuanya salah, maka ia juga tidak bisa berkata apapun.
Bu Dewi turun dari tempat tidurnya, dan melangkah mendekati Kay yang saat itu masih terduduk dilantai. '' Kay dengarkan mama nak! mama gk akan menyalahkanmu jika kamu akan membenci anak mama, tapi tolong lihatlah cucu mama Al, dia sangat membutuhkanmu nak, dia--,'' belum sempat bu Dewi melanjutkan ucapannya tiba-tiba mbok Surti datang bersama baby Al, bayi tersebut menangis padahal sejak bangun tadi ia sudah diberikan asi oleh mbo Surti, namun entah kenapa baby Al masih saja menangis, mungkin karna ikatan batin antara keduanya, merasakan ibu susunya bersedih, maka bayi tersebut juga ikut merasakannya.
DITEMPAT LAIN
Tit-tit-tit
Terdengar suara monitor, alat yang biasa untuk mengukur detak jantung seseorang, dan dibangsal rumah sakit juga dapat terlihat seorang wanita terbaring lemah tak berdaya, dengan berbagai alat rumah sakit yang terpasang dibeberapa bagian tubuhnya, dan dia adalah Maya, walaupun saat ini matanya tertutup dengan rapat namun tangannya bisa menggenggam tangan seseorang dengan eratnya, dan ya dia adalah Wildan, saat Wildan datang kerumah sakit, terlihat Maya sedang memegang sebuah pisau ditangannya, sepertinya wanita itu bermaksud ingin mengahiri hidupnya sendiri.
'' Maya apa yang kamu lakukan?'' tanya Wildan panik karna melihat pisau tersebut diarahkan dipergelangan tangan mantan istrinya itu.
__ADS_1
'' Wildan, buat apa kamu datang? bukankah kamu bilang kamu akan menikah hari ini? jadi buat apa kamu datang? pulanglah, dan menikahlah dengan gadis itu, jangan perdulikan aku, bukankah aku sudah tidak berarti lagi buat kamu jadi buat apa kamu datang.'' teriak nya
'' Bagai mana aku akan mengabaikanmu jika kamu ingin melukai diri sendiri seperti ini Maya, aku akan pulang dan menikah asal kamu tidak melakukan hal yang aneh-aneh lagi.
'' Hiks-hiks, Wil, tadinya ku kira aku bisa merelakanmu bersama wanita lain, tapi ternyata aku salah, maafkan aku karna dulu pernah melukai hatimu dan maaf, karna pernah menolak kehadiran anak kita, aku sangat menyesal Wil, sangat menyesal,'' ucapnya sambil berurai air mata, tiba tiba saja Maya terbatuk, dan batuk nya itu mengeluarkan darah, Widan yang melihatnya langsung mendekati wanita itu dan membuang pisau yang ada ditangannya.
'' Maya kamu tidak apa-apa kan?'' ucap Wildan, kemudian ia pun langsung membantu Maya berbaring dibantu oleh suster yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka, ia tak berani mendekat sebab sejak tadi Maya terus mengancam akan melukai dirinya sendiri jika suster itu mendekatinya.
'' Wil mau kah kamu berjaji padaku?'' tanya Maya sambil terus menggenggam tangan Wildan.
'' Katakanlah May, jika aku bisa aku akan melakukannya.'' jawab Wildan
'' Berjanjilah, sebelum aku mati, aku ingin kamu menemaniku disaat-saat terakhirku, kamu taukan jika penyakitku tak akan lagi bisa disembuhkan? aku mau kamu ada disisiku disaat terakhirku Wil, kamu mau kan berjanji padaku?
'' Wil ku mohon untuk kali ini saja jangan menolakku, kumohon, waktuku tidak banyak lagi didunia ini, sementara waktumu bersama Kay dan anak kita masih sangat panjang, setelah aku mati kamu masih bisa bersama dia bukan? dan aku tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi untuk selamanya..'' ucapnya lirih, air matanya kembali menggenang diwajah pucatnya, tubuhnya bahkan terlihat semangkin kurus.
'' Maya ku mohon jangan bicara seperti itu, aku yakin kamu akan sembuh, percayalah.'' ucap Wildan lagi, walaupun ia sudah tak mencintai Maya lagi, namun rasa sayang walau hanya secuil masih tersisa dihati nya untuk sang mantan istri.
'' Wil aku hanya mau kamu berjanji padaku, aku mau kamu ada disini bersamaku sampai malaikat maut menjemputku.''
'' Maya, sudah kukatakan jangan bicara seperti itu lagi, atau aku akan pergi dari sini sekarang, lagi pula memangnya kamu sudah tidak ingin melihat anak kita lagi hah? bagai mana pun kamu adalah ibunya dia berhak mendapatkan kasih sayang darimu.'' ucap Wildan, dengan nada yang terdengar sedikit kesal, dengan semua ucapan Maya yang menurutnya sangat pasrah dan tak mau melawan penyakitnya, sebab Wildan yakin tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki, dan Wildan ingin Maya bisa melawan penyakitnya, walaupun pernah disakiti oleh Maya, Wildan tak pernah dendam dengan wanita itu.
'' Tapi sekarang kan sudah ada Kay, aku tau dia juga sangat menyayangi anak kita, dan aku akan tenang meninggalkannya bersama dengan kalian.'' jawab Maya
'' Wil, kamu mau kan berjanji padaku??'' ulangnya sekali lagi, Wildan menghela nafas panjang, sungguh saat ini dirinya merasa dilema, jika ia mengiyakan permintaan Maya, maka sudah dipastikan pernikahannya akan batal bersama dengan Kayla, gadis yang dicintainya, dan mungkin buruknya gadis itu akan membencinya. Tapi jika ia meninggalkan Maya sekarang, mungkin saja akan membuat Wildan menyesal dan merasa bersalah seumur hidupnya.
__ADS_1
Dan pada akhirnya Wildan menganggukan kepalanya, pertanda jika dia akan menemani Maya disana, melihat itu Maya tersenyum bahagia, namun tiba-tiba kondisinya kembali memburuk, hingga Wildan harus memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Maya yang terlihat sudah tak sadarkan diri.
Flasback
Beberapa jam yang lalu, terlihat bu Dewi melangkah menuju kamar Wildan, sang ibu ingin memastikan apakah putranya itu sudah selesai atau belum, karna satu jam lagi putranya tersebut akan melangsungkan pernikahannya.
'' Loh Wildan kamu kok belum siap nak?'' tanya bu Dewi saat melihat sang putra masih memakai pakaian biasa.
'' Mah, maaf aku harus pergi sebentar,'' ucap nya pada sang ibu
'' Pergi? mau pergi kemana kamu? jangan bilang kamu mau menemui Maya Wil? sebab kalau iya, mama gk akan mengijinkannya, satu jam lagi kamu akan menikah dengan Kay, mana ada orang yang akan menikah berkeliaran diluar.'' ucap bu Dewi yang mulai emosi
'' Sebentar saja mah, aku mohon, dokter bilang kondisi Maya semangkin memburuk, dan dokter menyuruhku untuk datang kesana, dokter itu bilang Maya sering melukai dirinya sendiri.
'' Lalu apa hubungannya sama kamu? mau dia mati sekali pun mama gk akan perduli, ingat Wil, mama melarang kamu untuk pergi, tapi jika kamu keras kepala maka jangan salahkan mama jika bukan kamu yang nantinya akan menjadi suami nya Kayla.'' ancam bu Dewi
'' Mah, mama ini bicara apa? aku pasti akan menikah dengan Kay, aku hanya akan pergi sebentar mah, sebelum jam sepuluh aku akan kembali.
'' Gk Wil, mama gk akan ijinkan kamu pergi kamu dengar kan apa kata mama, kalau kamu masih membangkang dan gk mau dengar ucapan mama, maka kamu akan menyesal Wildan, apa sebegitu pentingnya wanita itu dibandingkan Kayla hah? hingga kamu harus selalu ada untuknya? mama sudah tau semua Wil, mama mendengar ucapan kamu dan Kay waktu itu, gadis itu terlalu polos, dan dia sangat baik nak, jadi mama mohon jangan pernah sia-sia kan dia hanya karna wanita seperti Maya.'' ucap bu Dewi mencoba menyadarkan putra sulungnya tersebut.
Saat Wildan kembali hendak menjawab, tiba-tiba ponselnya berdering.'' Iya ada apa sus? hah, Maya mencoba bunuh diri, iya baik suster, saya akan segera kesana.'' setelah memutuskan sambung telpon tersebut Wildan pun bergegas keluar dari kamarnya, namun bu Dewi dengan sigap menghalanginya.
'' Mah tolonglah, aku akan kembali sebelum pak penghulu datang.'' setelah mengatakan itu Wildan langsung pergi meninggalkan sang ibu yang hanya bisa memandang kepergian sang putra sambil menangis, walaupun Wildan berjanji dan mengatakan jika dia akan kembali, namun bu Dewi tau pasti, jika putranya itu tak akan kembali untuk menepati janjinya, karna bukan hanya sekali, dua kali, ia mengingkari janjinya jika menyangkut tentang Maya, sudah terlalu sering, Wildan melakukan itu, dan kali ini bu Dewi juga sangat yakin jika Wildan akan kembali melakukannya, memikirkan itu membuat kepalanya terasa berat dan tiba-tiba saja pemandangannya gelap dan akhirnya bu Dewi pun pingsan didalam kamar tersebut.
Bersambung
__ADS_1