
Disebuah kamar terlihat seorang gadis sedang menangisi nasipnya, tisu-tisu berserakan dilantai. bekas menghapus sisa air matanya.'' Kenapa kalian jahat sekali, mama juga, kenapa justru harus mendukung mereka, padahal aku lah anaknya, tapi kenapa seolah aku bukanlah anaknya.'' monolog gadis itu.
Beberapa jam sebelumnya, sebelum akad nikah berlangsung, didalam kamarnya, Ningsih terlihat sedang memohon kepada Rahma sang mama sambil menangis, Ningsih meminta agar mama itu mau membantunya untuk membatalkan pernikahan Wildan dan juga Kayla.
'' Ningsih kamu itu apa-apaan sih? bukannya mama sudah bilang sama kamu, kalau mama dan bude Dewi gk setuju kalau kamu dan Wildan itu memiliki hubungan, apa lagi sampai menikah, dengar! kalian itu bersaudara, lagi pula kamu kan tau jika Wildan mencintai kay, bagai mana mungkin dia mau membatalkan pernikahan mereka, sudahlah nak, kamu itu cantik, dan mama yakin masih banyak laki-laki diluaran sana yang menyukaimu.'' ucap Rahma pada sang putri
'' Mama kok gitu sih mah? mama seolah mendukung Kay untuk jadi istrinya mas Wildan, sementara aku? aku yang anak mama malah mama suruh cari laki-laki lain, itu gk mungkin mah, aku tuh cintanya cuma sama mas Wildan, aku juga gk pernah meminta Tuhan menciptakan cinta di hatiku untuk mas Wildan, kalau hanya akan berakhir seperti ini, tapi aku bisa apa mah, aku hanya manusia biasa yang lemah, jadi aku mohon mah, tolong batalkan pernikahan mereka, hiks-hiks...'' tangisan Ningsih kembali pecah, dan itu membuat Rahma pusing memikirkannya. Sebenarnya ia juga merasa kasihan pada putrinya itu, tapi mau bagai mana lagi, Rahma juga tak mungkin memaksa Wildan untuk menikahi putrinya.
'' Sayang, mama minta maaf, tapi mama gk mungkin melakukan itu, mana mungkin mama membatalkan pernikahan mereka, sudahlah kamu jangan sedih lagi, sekarang ganti pakaianmu kita keluar, jangan nangis lagi, mama gk mau melihat kamu nangis seperti ini, apa kata orang nanti.'' ucap Rahma
'' Mah mama kok tega sama aku mah, kenapa mama malah mendukung pernikahan mereka? apa mama gk sayang sama aku?
'' Justru karena mama itu sayang sama kamu nak, memangnya kamu pikir dengan membatalkan pernikahan mereka, maka Wildan akan mau menikah dengan mu? tentu tidak nak, karna yang dia cintai itu adalah Kayla, jika seandainya kamu pun yang menikah dengan Wildan, mama yakin kamu gk akan bahagia sayang, karna yang dicintainya hanya Kayla, jadi sudahlah, jangan bicarakan ini lagi ok? terima saja, dan coba ikhlaskan Wildan, mungkin Wildan bukan jodoh kamu, ingat ya nak, jangan lakukan apapun dipernikahan mereka yang nantinya akan membuat kamu mempermalukan dirimu sendiri, mama mau keluar dulu, kamu cepat ya ganti pakaian, dan ingat, jangan menangis lagi.'' setelah mengatakan itu Rahma langsung keluar meninggalkan kamar Ningsih.
*
*
*
'' Aku gk bisa terima semua ini, mana bis aku mengikhlaskan orang yang aku cintai menikah dengan wanita lain.'' gumamnya pelan, semenjak Wildan resmi menikahi Kay, Ningsih langsung kembali kekamarnya, untuk kembali menangisi nasipnya.
Kini jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam, terlihat dikamarnya Wildan terus merasa gelisah, sesekali lelaki itu juga terdengar menggerutu.'' Ck, mana bisa aku tidur kalau begini, sudah lama aku menantikan malam pertama ini, haaiiss... kenapa sih mama memberikan hukuman yang seperti ini,'' Wildan terus menggerutu didalam kamarnya.
__ADS_1
Sedangkan Kay, yang berada dikamar Bu Dewi juga terlihat sama gelisah nya, wanita yang baru resmi menjadi istri dari Wildan itu tidak bisa tidur, Kay menoleh pada Bu Dewi yang saat itu sudah tertidur dengan nyenyaknya.
Aku kangen sama kamu mas.
Batin Kay, wanita itu terlihat duduk sambil menyandar, sambil memegangi ponsel miliknya, berharap suaminya itu akan menghubunginya, setidaknya mengirim pesan untuk nya. Dan benar saja tak lama terlihat Wildan menghubungi istrinya tersebut, sepertinya mereka memang memiliki ikatan batin yang kuat. Kay mengembangkan senyumnya saat nama suaminya itu tertera di layar ponselnya, takut ketahuan sang ibu mertua, Kay dengan cepat menggeser tombol berwarna hijau untuk menerima panggilan tersebut.
{ Iya mas, ada apa?}
Kay berbicara dengan nada yang berbisik
{Kok ada apa sih sayang, ini kan malam pengantin kita, memangnya kamu gk pengen ya?}
Pertanyaan Wildan disebrang sana membuat wajah wanita itu bersemu merah, ia tau kemana arah dari pembicaraan suami mesumnya itu
{Iya mas, tapi kita kan masih dihukum sama mama, jadi mas jangan tambah masalah deh, gimana kalau mama tau? nanti hukuman kita diperpanjang, kamu mau?}
{Ya jangan lah, tapi mas gk bisa tidur sayang, mas butuh kamu, malah diluar hujan lagi, kalau peluk kamu kan jadi hangat}
Kay menghela nafas berat, sebenarnya ingin sekali ia bersama dengan suaminya itu sekarang, jika Kay mau, bisa saja wanita itu keluar dari kamar tersebut, namun ia tidak akan melakukannya, Kay tak ingin ibu mertuanya itu kecewa padanya, karna menjadi seorang menantu yang pembangkang.
{ Mas sudah dulu ya? nanti mama bangun, dan aku gk mau mama marah}
{ Yasudahlah, selamat istirahat istriku}
__ADS_1
Tak lama panggilan pun terputus, Kay kembali menghela nafasnya, tak lama ia pun kembali ketempat tidur dengan perlahan, agar Bu Dewi tidak merasa terganggu dengan gerakannya diatas tempat tidur tersebut.
Kay mulai memejamkan matanya, berharap akan cepat tertidur, meski sulit. Sedangkan disisi yang lain, terlihat Bu Dewi membuka matanya, sebenarnya wanita paruh baya itu sempat mendengar pembicaraan menantunya itu dengan putranya, namun ia membiarkannya saja dan memilih menutup mata, walau telinganya dapat mendengar dengan jelas saat itu Bu Dewi tetap tidak akan menegur Kayla, karna ia yakin jika menantunya tersebut tidak akan membuatnya kecewa. Bu Dewi tersenyum lalu kembali memejamkan matanya.
Keesokan harinya, terlihat Bu Dewi dan Kay disibukan dengan aktivitas dapur, mereka baru saja selesai membuat sarapan pagi, Bu Dewi sengaja meminta Kay untuk membantunya membuat sarapan pagi, karna mbok Asih pamit pulang kampung dikarenakan anaknya sedang sakit.
Dari kejauhan, terlihat Sandra sedang melangkah menuju meja makan. '' Mm, kayaknya enak nih, masak apa sih Kay? wangi banget?'' tanya Sandra sambil menarik kursi meja makan.
'' Mama dan Kay sedang masak makanan kesukaan mas mu sayur capcay dan ayam goreng krispy.'' jawab Bu Dewi sambil meletakan jus jeruk diatas meja.
'' Loh kok cuma kesukaan mas Wildan sih mah? aku enggak? iih.. mama pilih kasih deh.'' protes Sandra cemberut.
'' Mana mungkin mama pilih kasih mba, karna sebenarnya mama dan aku juga udah buatin makanan kesukaan mba Sandra nih dia, gurame asam manis.'' ucap Kay sambil meletakan makanan kesukaan Sandra.
'' Waah, makasih ya Kay, mah, sepertinya enak banget nih.'' ucap Sandra sambil menatap menu pavoritnya
'' Masih pagi jangan makan yang berat-berat, nanti perutnya sakit loh.'' sambung Ningsih dengan wajah datar, yang entah sejak kapan sudah berada diantara mereka, gadis itu menarik kursi yang ada disamping Sandra, lalu mendudukinya.
'' Kamu tenang saja Ning, ini gk akan membuat perutmu sakit kali saat memakannya, karna ini sangat nikmat, cobain deh aku yakin kamu pasti nagih.
'' Gk deh aku makan nasi goreng saja.'' jawab nya yang langsung menyendok nasi goreng kedalam piringnya, Bu Dewi hanya menggelengkan kepalanya, ia tau kenapa keponakannya tersebut bersikap seperti itu, sebab Bu Rahma sang kakak sudah menceritakan semuanya padanya, tentang permintaan Ningsih yang ingin membatalkan pernikahan Wildan dan Kay, Rahma juga minta maaf dan berharap sang adik yaitu Bu Dewi, bisa memaafkan dan memaklumi keponakannya tersebut.
Next
__ADS_1