
Karna hari ini hari minggu, jadi semua orang memilih untuk berada dirumah, setelah sarapan Kay memilih mengurung diri dikamarnya, ia tak ingin berkeliaran diluar, Kay takut akan kembali bertemu dengan Wildan, dan ia belum siap untuk itu. Sedangkan Juno pagi-pagi sekali sudah pergi entah kemana, Kay juga tak tau dan tak mau tau, ia terlalu malas untuk perduli pada laki-laki itu.
Tok-tok-tok
'' Non, non Kay.'' panggil seseorang yang Kay yakini adalah suara mbok Surti, dengan malas ia pun bangkit dari tempat tidurnya, untuk membuka pintu kamar tersebut.
'' Ia mbok da apa?'' tanya gadis itu setelah membuka pintu kamarnya
'' Mm, begini non, tadi nyonya nelpon terus mbok disuruh datang kesupermaket yang ada diujung jalan, katanya disuruh ambil belanjaan sama nyonya, mbok bisa minta tolong gk sama nin Kay, buat liatin baby Al sebentar? soalnya gk ada temannya.'' ucap mbok Surti
'' Emangnya bapaknya kemana mbok?
'' Gk tau non, tadi bibi sempat ngetuk pintu kamar den Wildan tapi gk dibukain, majanya mbok minta tolong sama non Kay.'' jelasnya
'' Yudah mbok pergi saja, saya akan kekamarnya sekarang.
'' Kekamarnya?'' ulang mbok Surti, yang ia pikir kamar Wildan
'' Kamar baby Al ya mbok, bukan kamar bapaknya.'' ucap Kay sewot, mana mungkun gadis itu akan sudi masuk kekamar laki-laki pengecut itu.
'' Oh, kirain, yaudah mbok pergi sekarang ya non, titip den Al.'' ucap mbok Surti yang kemudian langsung pergi menuju pintu depan.
Setelah menutup pintu kamarnya, Kay langsung melangkah menuju lantai atas dimana kamar baby Al berada, saat ini Kay sudah berada didepan pintu kamar baby Al, sebelum masuk, Kay sempat menatap sekilas kamar milik Wildan, entah apa yang ada dalam pikirkan gadis itu sekarang, cukup lama ia berdiri disana, tiba-tiba pintu yang sejak tadi ia pandangi terbuka, dan terlihatlah Wildan yang keluar dari kamar tersebut, dan seketika itu pula pandangan mereka bertemu, lalu Kay cepat-cepat memutuskan pandangan keduanya
__ADS_1
'' Kay,'' panggil Wildan, namun tak dihiraukan oleh gadis itu, ia pun langsung masuk kekamar baby Al dan menutupnya, ia tak ingin berlama-lama dengan lelaki itu, karna hanya akan membuat hatinya kembali sakit, karna teringat akan perbuatannya.
Wildan menghembuskan nafas kasar, rasanya berat sekali baginya untuk merelakan Kay bersama orang lain, walaupun laki-laki tersebut adalah adiknya sendiri.
'' Maafkan mas Kay, sulit rasanya bagi mas untuk merelakanmu bersama laki-laki lain.'' gumamnya pelan, setelah itu ia melangkah menuju dapur untuk membuat teh jahe, rasanya tenggorokannya sangat sakit, maka dari itu ia membutuhkan minuman tersebut.
Kay turun kebawah sambil membawa baby Al dalam gendongannya, gadis itu sempat melirik apa yang dilakukan oleh Wildan didapur.'' Sedang apa dia? Apa yang dicarinya sampai bongkar-bongkar barang seperti itu.'' gumamnya sambil terus memperhatikan Wildan yang membuka-buka lemari seperti mencari sesuatu disana.
Biarin saja lah, kenapa juga aku harus perduli dengan laki-laki brengsek seperti dia
Batin Kay sambil melangkah menuju ruang tengah, meninggalkan Wildan yang masih terlihat sibuk dengan urusannya.
'' Wildan kamu cari apa?'' tiba-tiba terdengar suara yang membuat nya menghentikan kegiatannya, dan dia adalah bu Dewi
'' Mah, aku sedang mencari teh jahe, tenggorokanku rasanya sakit, tapi dari tadi aku tak menemukannya,'' jawab Wildan, bu Dewi menghela nafas, putra sulungnya itu memang kurang memperhatikan kesehatannya, andai saja dia tak melakukan sesuatu yang bodoh, mungkin kini dirinya dan Kay sudah menikah. Sejujurnya bu Dewi sangat mengharapkan Wildan lah yang menikah dengan Kay, karna menurutnya hanya Kay lah perempuan yang bisa mencintai anak dan cucunya itu dengan tulus, bu Dewi takut jika suatu saat nanti Wildan menemukan pengganti Kay, belum tentu perempuan itu bisa menerima cucunya setulus Kay mencintai baby Al seperti anak kandungnya. Namun bukan berarti ia tak suka melihat Kay menikah dengan Juno, karna bagai mana pun itu adalah kehendaknya, namun alasan yang sebenarnya adalah ia takut nantinya cucunya itu mendapatkan ibu pengganti yang tak benar-benar tulus menyayanginya, sama seperti Kay ataupun Sandra, apa lagi sekarang Kay sudah punya kehidupan nya sendiri, walaupun ia masih memberikan asinya pada sang cucu, tapi tetap saja sekarang memiliki batas, karna ia sudah menikah.
Bu Dewi melirik putra sulungnya tersebut, ada rasa kasihan dalam hati wanita paruh baya tersebut, namun juga ada rasa kesal dihatinya jika kembali mengingat kelakuannya beberapa hari yang lalu, maka itu bu Dewi memilih sedikit tak tak perduli pada sang putra, karna dihatinya masih ada kemarahan, dan belum mampu ia hilangkan begitu saja.
'' Mama dari mana?'' tanya Wildan sambil menerima teh jahe buatan sang ibu
'' Dari supermarket, beli kebutuhan dapur.'' jawabnya dengan nada datar, Wildan menghela nafas panjang, sepertinya ibunya itu masih marah padanya.
***
__ADS_1
Malam harinya mereka semua berada diruang keluarga, kecuali Kay dan Juno, terlihat Bisma juga ada diantara mereka.'' Oya dimana pasangan pengantin baru, kok gk kelihatan?'' tanya Bisma yang sengaja membuat panas hati Wildan. Sandra yang mengerti maksud kekasihnya itu langsung menjawab dengan kata-kata yang tak kalah panas
'' Ih kamu kayak gk tau pengantin baru aja deh, ya pasti lah menyambung malam pertama, puas-puasin waktu berdua, kan udah halal jadi ya gk akan ada yang melarang mereka mau ngapain aja didalam kamar.'' jawab Sandra, membuat bu Dewi yang sedang membaca majalah hanya menggelengkan kepala melihat sepasang kekasih itu, niat banget membuat abangnya itu patah hati pikirnya, sedangkan Wildan yang tadinya sedang mengecek email yang masuk lewat ponsel miliknya hanya melirik tajam kearah mereka, setelahnya memilih pergi dari sana, ia tak mau lagi mendengar ocehan keduanya, rasanya dada nya terlalu sesak saat membayangkan wanita yang dicintainya bermesraan dengan pria lain.
Sedangkan didalam kamar, saat ini Kay sedang duduk saling berhadapan dengan Juno.'' Kamu mau bicara apa sebenarnya sama aku?'' tanya Kay, saat gadis itu hendak keluar kamar tadi, tiba-tiba Juno memanggilnya dan mengatakan jika dirinya ingin membicarakan sesuatu dengannya.
'' Kay kamu tau kan jika pernikahan ini bukan atas dasar kemauan kita?'' tanya Juno serius, membuat Kay menatap penuh tanya.
'' Lalu? sebenarnya kamu mau bicara apa?
'' Saya ingin tau sebenarnya kamu menganggap pernikahan kita ini seperti apa?
'' Maksudnya gimana sih? aku gk faham Juno.'' ucap Kay yang memang kurang mengerti maksud dari perkataan suaminya itu
'' Kay, kamu tau jika kita sudah sah sebagai suami dan juga istri, secara hukum dan negara, hanya saja---,'' Juno menggantung ucapannya membuat Kay semangkin pesnasaran.
Hanya saja apa? jangan bilang ia mau meminta hak nya sebagai suami, gk aku belum siap, walau aku sangat sakit hati pada mas Wildan, tapi hati ini masih miliknya, aku benci mengakui ini semua, tapi aku juga gk bisa membohongi perasaanku.
Kay menelan ludahnya kasar, gadis itu masih menunggu lanjutan kata-kata suaminya itu.
'' Saya hanya ingin bilang jika kamu jangan berharap banyak dengan pernikahan kita ini, saya akan membebaskanmu dalam segala hal, begitu pun juga sebaliknya, saya mau kamu tidak melarang atau pun ikut campur dalam urusan saya, kamu mengertikan maksud saya?
Mendengar ucapan Juno seketika membuat dadanya sedikit sesak, bukan karna ia memiliki perasaan pada pemuda yang sudah berstatus sebagai suaminya itu, namun ia hanya kecewa, sepertinya semua orang memang berniat membuatnya sakit hati.
__ADS_1
Apa penderitaanku masih akan terus berlanjut?
Bersambung