
Saat ini Kay dan Wildan duduk saling berhadapan diatas tempat tidur baby Al. Namun Kay tak berani menatap wajah pria tampan tersebut, Kay terlalu malu, ia lebih memilih menundukan pandangannya, namun Wildan mengartikan lain, ia pikir gadis itu marah padanya karna perbuatannya tadi
Wildan mengangkat dagu gadis itu dengan telunjuknya, membuat Kay mau tak mau harus menatap wajah pria itu. '' Kamu marah ya sama mas? Jika iya, mas minta maaf, dan mas janji tidak akan melakukannya lagi.'' ucap Wildan, dengan tatapan sendu, walaupun kecewa namun pria itu tak ingin melakukan sesuatu yang akan membuat pasangannya merasa tidak nyaman.
Kay yang mendengar langsung menggelengkan kepalanya.'' Aku gk marah mas, aku hanya malu.'' jawabnya yang kembali menundukan pandangannya, mendengar itu Wildan merasa seperti mendapat angin segar.
'' Benar kamu tidak marah?'' tanya nya dengan mata berbinar, terlebih melihat saat Kay menganggukan kepalanya membuat pria itu jadi bersemangat lagi.
'' Apa itu artinya mas masih boleh melakukannya??
'' Melakukan apa mas?
'' Menikmati asi gurih mu itu, mas sangat menyukai rasa gurih asi milikmu itu, walau sedikit ada rasa asam, namun tetap nikmat, manis nya juga pas, pantas baby Al sangat menyukainya, ternyata rasanya sangat membuat candu.'' ucap Wildan dengan ekpresi wajah yang bersemangat saat menjelaskannya, tidak tau kah pria itu jika saat ini Kay sangat malu dengan perkataannya yang blak-blakan itu, bahkan wajahnya sudah memerah karna malu.
***
Seminggu kemudian, terlihat Wildan sudah rapi dengan pakaian miliknya, lelaki itu hanya memakai kemeja polos warna army, dipadukan dengan celana bahan denim membuat pria itu semangkin memikat.
'' Waah, coba lihat, mas Wildan sangat tampan mah, aku yakin Kay pasti sangat terpesona melihatnya.'' ucap Sandra
'' Kamu benar, mas mu ini memang sangat mempesona, sama seperti papa kalian dulu andai saja beliau masih hidup, pasti dia sangat bangga pada kalian.'' ucap bu Dewi, sambil meneteskan air matanya karna terharu.
'' Mah, sudah jangan bersedih, ini kan hari bahagiaku, dan aku gk mau ada air mata.'' ucap Wildan, yang diangguki oleh Sandra
'' Iya baiklah mama tidak akan menangis,'' ucap bu Dewi
'' Yasudah yuk kita berangkat, Sa sudah siapkan semuanya?'' tanya Wildan memastikan.
__ADS_1
'' Sudah mas tenang aja, kan cuma bawa cincin doang kan?'' ucap Sandra, membuat Wildan menghela nafas panjang, sebenarnya tadinya Wildan ingin melamar dengan sedikit mengundang beberapa kerabat, namun Kay ingin acara lamarannya hanya sederhana saja, jikapun ingin membawa kerabat setidaknya hanya keluarga dekat saja.
'' Bisma mana Sa?'' tanya bu Dewi
'' Sudah berada didepan mah.'' jawabnya
Setelah memastikan semuanya mereka pun langsung memasuki mobil yang sudah terparkir dihalaman rumah, sedangkan Kay sendiri sudah dari dua hari yang lalu pulang kerumahnya diantar oleh Wildan, Wildan juga sudah mengatakan niat baiknya kepada bu Sri untuk mempersunting anak gadisnya. Dan tentu saja itu disambut dengan suka cita oleh wanita paruh baya tersebut.
Ditempat lain, terlihat Seli sedang bersiap, gadis itu akan datang kerumah sahabatnya yang akan melangsungkan lamaran.'' Duuh bakalan terlambat nih gue, bapak mana sih kok masih belum sampai juga.'' gerutu gadis yang memakai kebaya berwarna kuning tersebut. Saat Seli mondar-mandir didepan rumahnya tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil namanya, membuat gadis itu langsung menoleh keasal sumber suara.
'' Rudi, kenapa dia bisa ada disini.'' gumam Seli pelan, sebenarnya Seli sudah tau perihal tentang Rudi yang menolak diputuskan oleh sahabatnya itu, namun selebihnya Seli tak tau apapun
'' Rud, loe kenapa bisa ada disini?'' tanya Seli begitu melihat Rudi melangkah kearahnya.
'' Aku habis dari rumah teman yang ada diujung jalan itu, kamu cantik banget emang mau kemana?'' tanya pemuda itu sambil memperhatikan penampilan teman satu kerjaannya itu.
'' Terus nunggu siapa kamu sejak tadi ku perhatikan seperti nungguin seseorang?
'' lagi nunggu bapak, kan motornya lagi dipakai sama bapak kewarung, tapi gk tau juga nih katanya sebentar, tapi sampai sekarang masih belum datang juga, malah acaranya sebentar lagi dimulai, bisa marah nanti dia.'' ucapnya yang pelan diakhir kalimat.
'' Dia? dia siapa?'' tanya Rudi penasaran
'' I-itu ya saudara gue, sepupu gue itu, iya.'' jawab Seli gugup Rudi merasa aneh dengan jawaban gadis itu namun ia tak mau ambil pusing.
'' Mau aku anterin?'' tawar Rudi yang cepat dijawab gelengan kepala oleh gadis itu.
'' Gk Rud, gue nunggu bapak aja,'' tolaknya
__ADS_1
'' Loh bukannya kamu bilang terlambat tadi?
'' Gpp kalau terlambat sedikit gue rasa dia maklum.'' jawab Seli, membuat Rudi semangkin merasa curiga, pemuda itu merasa jika Seli sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tak lama terlihat bapak Seli pulang gadis itu pun langsung menghampiri sang bapak.
'' Pak kok lama sekali sih?
'' Maaf nak, tadi ban motornya bocor jadi bapak tambal dulu.'' jelas pak Anwar, bapaknya Seli.
'' Oh, yasudah kalau gitu aku pergi dulu ya, Rudi gue duluan ya.'' setelah berpamitan Seli langsung menyalakan mesin motor matic miliknya dan pergi meninggalkan Rudi dikediamannya.
'' Loh nak Rudi gk ikut Seli?'' tanya pak Anwar yang memang mengenal Rudi sebagai teman kerja putrinya.
'' Tidak pak, bapak sendiri kenapa tidak pergi? bukankah Seli bilang ini acara sepupu nya, berarti keponakan pak Anwar kan?
'' Emang Seli bilang begitu tadi?
'' Iya pak, memangnya bukan ya?'' Rudi kembali memastikan
'' Sebenarnya yang lamaran itu nak Mikayla, temannya Seli, bapak rasa kamu juga mengenalnya, bukannya kalian satu kerjaan ya?'' ucap pak Anwar
'' Apa pak? lamaran Kay? dengan siapa pak?'' tanya Rudi kaget, dan dengan perasaan yang mulai campur aduk, ada rasa sedih , marah dan sakit hati didalam dirinya, bisa-bisanya gadis yang ia cintai kini menerima lamaran orang lain setelah baru satu minggu putus darinya, begitulah yang ada dalam benak pemuda itu.
'' Loh, memangnya nak Rudi tidak tau ya? yang bapak dengar dari Seli, nak Kay menerima lamaran bos tempat nya bekerja, beruntung sekali ya dia, andai saja Seli juga mendapatkan nasib seperti nak Kayla, pasti bapak akan senang hidupnya.'' ucap pak Anwar sambil terkekeh pelan karna merasa khayalannya tak akan mungkin terjadi.
''Baiklah pak kalau begitu terimakasih karna sudah memberitahukan berita ini, kalau begitu saya permisi dulu.'' pamit nya, Rudi menaiki motor miliknya, tujuan utamanya dalah rumah kediaman bu Sri, ibunya Kay, Rudi yakin jika acara lamaran tersebut dilangsungkan dirumah itu, sepanjang jalan Rudi terus mengumpat, pemuda itu juga merasa telah dibodohi oleh Kay, ia tidak menyangka jika gadis yang dicintainya itu bisa sejahat itu padanya.
Next
__ADS_1