
Wildan memapah tubuhJuno yang tak berdaya karna dianiaya oleh Rudi, yang langsung dibantu oleh Kay, saat suaminya itu hendak terjatuh.
'' Jun hati-hati! sini biar aku bantu.'' ucap Kay yang langsung menaruh tangan Juno dibahunya, namun ditolak oleh Juno ia merasa kasihan melihat Kay yang juga terluka saat itu.
'' Tidak usah, aku bisa jalan sendiri kok,'' tolaknya membuat Wildan hanya bisa menggelengkan kepala, sudah tau kondisi seperti itu masih saja gengsi, batinnya
'' Bisa jalan sendiri kamu bilang? sudah jelas-jelas mas Wildan yang membantumu, sudah jangan malu biar aku bantu.'' ucapnya yang langsung memapahnya, dan kali ini Juno tidak menolaknya lagi.
Namun baru saja mereka keluar dari kamar, terdengar suara seseorang dari belakang, membuat ketiganya langsung menoleh kearah belakang, namun seketika mata mereka melotot karna kaget, saat melihat Rudi menodongkan sebuah pistol kearah mereka, tepatnya kearah Kayla.
'' Rudi apa yang akan kamu lakukan?'' tanya Kay dengan wajah panik, begitupun dengan kedua laki-laki yang ada disampingnya.
'' Rudi turunkan senjatamu! kita bisa bicara kan baik-baik.'' ucap Wildan mencoba bicara dengan Rudi.
'' Tutup mulut kalian! Kay, aku sangat mencintaimu dan kamu tau jelas itu, aku tidak bisa melupakanmu semudah kau melupakan aku, jika aku tak bisa memilikimu, maka tidak akan ada satu laki-laki pun yang juga bisa memilikimu!'' ancamnya, sambil menarik pelatuk pistol yang ada ditangannya, hingga akhirnya terdengar suara tembakan disana
DOOORRR....
'' Tidaakkkk!!!!'' dan itu adalah suara teriakan Kayla, gadis itu berteriak karna salah satu diantara laki-laki yang ada bersamanya tertembak untuk menyelamatkan dirinya
'' Junoo!!!" panggil Kay dan Wildan, secara bersamaan, keduanya berteriak kala menyebut nama pemuda itu, yang kini jatuh terkulai bersimbah darah karna tertembak dibagian dadanya, karna melindungi istrinya dari tembakan yang ditujukan pada sang istri.
Sedangkan Rudi yang merasa tidak puas, karna tembakannya tak tepat sasaran, langsung mengarahkan kembali pistolnya kearah Kayla dan...
'' Kay awaasss....
DOR....DOR...
__ADS_1
Kali ini Wildan yang menghalangi tembakan yang ditujukan Rudi untuk Kay, hingga laki-laki itu yang terkena tembakan sebanyak dua kali ditubuhnya. Kay yang saat itu sedang menangisi kondisi suaminya seketika semangkin histeris saat melihat tubuh Wildan bersimbah darah dihadapannya, seketika itu pula pandangannya terasa kabur, dan tak lama ia pun jatuh pingsan.
***
'' Kay! Kayla bangun sayang!!
Kay membuka matanya, ia tersenyum saat melihat Juno didepan matanya.
'' Juno?'' ucapnya tanpa suara
'' Jun, kamu mau kemana?'' tanya Kay saat melihat Juno melangkah keluar ruangan tersebut, meninggalkannya begitu saja.
'' Jun! Juno tunggu! jangan tinggalin aku!" Kay terus memanggil-manggil suaminya tersebut, namun Juno sama sekali tak memperdulikannya pemuda itu tetap menjauh darinya.
'' Juno jangan tinggalin aku, aku sangat membutuhkanmu Juno, hiks..hiks..hiks..,'' Kay menangis, merasa sedih karna Juno meninggalkannya begitu saja.
'' Kay kamu sudah sadar nak?'' ucap suara wanita paruh baya yang sangat Kay kenal, gadis itu pun langsung menoleh kearah suara tersebut.
'' Ibu.'' ucapnya pelan
'' Iya nak ini ibu, syukurlah kamu sudah sadar sayang, ibu sangat khawatir padamu, tapi syukurlah sekarang kamu sudah sadar.'' ucap Bu Sri
Kay menatap seluruh ruangan serba putih tersebut, bahkan aroma obat-obatan sangat tajam menusuk Indra penciumannya.
'' Bu aku dimana?'' tanya Kay, ia menoleh kesamping kanannya dan melihat jarum infus yang terpasang ditangan kanannya, Kay masih belum bisa berpikir dengan jernih, ia belum ingat apa yang sudah menimpa dirinya dan kedua orang yang penting dihidupnya, padahal baru saja gadis itu bermimpi tentang suaminya
'' Dirumah sakit nak, kamu pingsan saat itu dirumah Rudi, makanya warga membawa kalian kerumah sakit.'' ucap Bu Sri
__ADS_1
Seketika otak Kay berpikir kembali pada beberapa waktu lalu, saat Rudi menodongkan pistol kearahnya, dan menembak kan pistolnya, namun Juno menghalanginya hingga akhirnya Juno lah yang tertembak karna melindungi dirinya, begitu juga dengan Wildan.
'' Juno? dimana Juno bu? bagai mana keadaannya bu? aku harus menemuinya sekarang.'' ucap Kay sambil mencabut jarum infus yang terpasang dipergelangan tangan kanannya.''
'' Akh,'' ringisnya saat merasakan sakit saat mencabut jarum yang terpasang ditangannya, terlihat tangannya mengeluarkan darah namun Kay tidak perduli, ia tetap turun dari brangkar rumah sakit dan mencoba untuk melangkah keluar.
'' Kay, Kay, kamu masih lemah nak, tenanglah! saat ini Juno dan Wildan masih berada diruang oprasi.'' jelas Bu Sri
'' Tapi aku mu lihat Juno bu, aku mau kesana, kalau ibu gk mau mengantarkan ku, aku akan kesana sendiri.'' ucap Kay yang kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
'' Baiklah ibu akan mengantarmu kesana.'' ucap Bu Sri sambil memapah tubuh Kay yang terlihat masih sangat lemah itu.
Kay melangkah perlahan menuju lorong rumah sakit, tadinya Bu Sri ingin Kay menggunakan kursi roda, namun gadis itu lebih memilih berjalan kaki dengan alasan jika ia masih kuat untuk berjalan. Dari kejauhan Kay dapat melihat bu Dewi dan juga yang lainnya sedang menunggu didepan ruang operasi.
'' Mah?,'' panggil Kay membuat Bu Dewi langsung menatap kearahnya, begitu pula dengan yang lainnya
'' Kay, kamu sudah sadar?'' ucap Bu Dewi sambil mendekati Kay, yang saat ini sedang melangkah menuju kearahnya.
'' Kay kamu baik-baik saja kan?'' ucap Bu Dewi yang langsung memeluk menantu kesayangan nya itu.
'' Bagai mana dengan Juno mah? dia juga baik-baik saja kan?'' tanya Kay dengan tatapan khawatir
'' kami juga belum tau nak, operasinya masih belum selesai, sebaiknya kita berdoa saja semoga mereka bisa melewatinya, dan operasinya berjalan dengan lancar.'' ucap Bu Dewi berusaha menguatkan Kay, dan juga dirinya sendiri, karna saat Juno dan Wildan dibawa kerumah sakit, kondisi mereka sangat parah, terlebih Wildan yang kehilangan banyak darah akibat luka tembak yang dialaminya sebanyak dua kali.
'' Ini semua gara-gara kamu! dasar wanita pembawa sial, kalau bukan karena mau menyelamatkan mu, maka mas Wildan dan Juno tak kan celaka seperti ini.'' ucap Ningsih sambil menunjuk wajah Kay dengan emosi diwajah gadis itu.
'' Ningsih sudahlah, tak ada gunanya kamu memarahi Kay, itu tidak akan merubah apapun, dan tidak akan membuat mas Wildan dan juga Juno kembali seperti semula, sebaiknya kamu banyak berdoa semoga saudaraku bisa melewati ini semua, dan operasinya berjalan dengan lancar.'' sambung Sandra, gadis itu sempat melirik pada Kay, setelah itu ia kembali melihat kearah lain, sejujurnya Sandra juga marah kepada Kay, atas apa yang menimpa kedua saudara laki-lakinya itu, kenapa mereka bisa bernasip buruk hanya karna ingin melindungi seorang wanita, kenapa mereka harus terjebak cinta oleh satu wanita yang sama, sungguh Sandra tak mengerti itu, namun disisi lain ia juga merasa kasihan melihat kondisi adik iparnya itu yang terlihat sangat menyedihkan dimatanya. Bagai mana pun, ia juga tak bisa menyalahkan Kay sepenuhnya, atas apa yang menimpa kedua saudara laki-laki nya itu, Sandra hanya bisa berharap semoga semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
Next