
Juno masih betah menatap wajah cantik Kayla, namun tiba-tiba ia melihat pergerakan dari gadis itu, membuat nya harus kembali menutup mata berpura tidur.
'' Eeuuhh,'' Kay melenguh dari tidurnya, setelah itu ia pun langsung terbangun, gadis itu menatap wajah juno, lalu mengambil handuk yang berada diatas keningnya sambil memeriksa suhu tubuh pria tersebut.
'' Sepertinya panasnya sudah turun.'' gumam nya, lalu menaruh handuk tersebut kedalam wadah yang ada diatas nakas, Kay menatap jam yang ada didinding kamar, setelahnya ia pun bangkit dan melangkah kearah pintu sambil membawa wadah yang tadi malam ia gunakan untuk mengompres tubuh Juno, sekaligus ia akan menuju kamar baby Al
Pagi harinya, terlihat Kay sedang menata sarapan diatas meja makan seperti biasa,'' Kamu buat apa Kay?'' tanya bu Dewi sambil mendekati menantunya tersebut, bu Dewi melihat wadah yang masih mengepul dengan asap yang baru saja diletakan Kay diatas meja makan.
'' Bubur untuk Juno mah,'' jawabnya
'' Bubur? emang dia sedang sakit ya Kay?'' ucap bu Dewi yang langsung peka
'' Iya mah, tadi malam tubuhnya panas sekali, tapi tadi pagi pas aku cek udah agak mendingan kok.'' jawab Kay sambil tersenyum kearah ibu mertuanya
'' Oh syukurlah, terimakasih ya Kay, kamu sudah mau merawat anak mama yang sedang sakit.'' ucap bu Dewi
'' Ma, jangan buat aku malu, bagai manapun Juno adalah suamiku, sudah sepantasnya aku yang merawat dia kalau sakit.'' ucap Kay, yang dibalas hanya dengan senyuman oleh bu Dewi.
Tak lama terlihat satu persatu putra-putri bu Dewi memasuki area ruang makan, termasuk Juno
'' Loh Jun, kenapa turun? bukannya Kay bilang kamu sakit? sarapan dikamar saja nanti biar Kay yang bawakan bubur buat kamu, tuh lihat dia sudah buatin bubur untukmu.'' ucap bu Dewi, sedangkan Kay hanya tersenyun canggung, apa lagi ada Wildan disana, walaupun sepertinya laki-laki itu tak terlalu perduli dengan ucapan sang mama, tapi entah kenapa Kay merasa tak enak hati, gadis yang aneh, jelas-jelas laki-laki itu sudah menyakiti hatinya, jadi untuk apa lagi harus memikirkan perasaannya.
'' Mah, Juno sudah tidak apa-apa kok.'' jawabnya lalu menarik kursi yang ada dimeja makan dan mendudukinya, mereka pun mulai sarapan bersama. Sandra memperhatikan Wildan yang sejak tadi hanya diam, wanita itu tau bagai mana perasaan sang abang saat ini, dihadapkan dengan situasi yang seperti ini memang sungguh tidak nyaman.
__ADS_1
'' Mas, apa benar mas Wildan hendak pindah dari rumah ini?'' tanya Sandra tiba-tiba membuat semua orang langsung menoleh kearah nya, termasuk Kay
'' Apa Sa? mas mu mau pindah rumah?'' tanya bu Dewi terkejut, pasalnya itu tak pernah terpikirkan sama sekali olehnya.
'' Iya mah, Bisma yang bilang waktu itu sama aku, mas Wildan bilang mungkin dia akan pindah dari rumah ini dalam waktu dekat, begitu kan mas?'' ucap Sandra, ia harap ucapan Bisma salah.
'' Benar Wil, kamu mau keluar dari rumah ini?'' desak bu Dewi
Sedang kan Juno hanya menunggu jawaban sang abang tanpa ingin ikut bertanya, sementara Kay, lebih memilih melanjutkan sarapan paginya walaupun sangat susah baginya untuk menelan makanan tersebut, seperti bongkahan kerikil rasanya, apa lagi mendengar Wildan akan pindah, otomatis ia tak akan melihat baby Al lagi, padahal ia sudah sangat menyayangi baby tersebut, walaupun bapaknya sudah menyakiti hatinya, namun tak mampu mengurangi rasa sayang nya untuk sang anak.
'' Wil, jawab mama jangan diam saja?'' tanya bu Dewi tak sabar
'' Iya mah, mungkin dalam waktu dekat ini aku dan putraku akan pindah rumah.
Bu Dewi dengan kuat menggebrak meja makan, hingga beberapa sendok yang ada diatas masakan yang terhidang berjatuhan, membuat semuanya terkejut termasuk Kay.
'' Kamu boleh pindah dari rumah ini tapi jangan coba-coba membawa cucu mama ikut bersama denganmu.''
'' Mah, kenapa mama bicara seperti itu, Al adalah putraku,'' jelasnya.
'' Dia memang putramu, tapi dia juga cucu mama Wil, ingat Al masih sangat kecil dan belum genap satu tahun, mama gk akan ijinkan kamu membawa dia bersamamu, kamu gk mikir ya? Kalau kamu kerja siapa yang akan mengurus dan menjaganya? dan satu lagi, jangan bilang kamu akan menyewa baby sister, karna mama gk percaya dengan kerja mereka, kamu lupa anaknya tante Cindy yang kemarin dijaga oleh seorang baby sister bagai mana nasipnya? dan mama gk mau ya kejadian itu terjadi pada cucu mama, akibat kelalaian baby sister anak tante Cindy nyaris meninggal karna tercebur di kolam renang.'' ucap bu Dewi panjang lebar saat kembali mengingat kejadian mengerikan dengan anak dari tante Wildan, yaitu adik almarhum suami bu Dewi.
'' Tapi kan gk semua baby sister seperti itu mah.'' jawabnya
__ADS_1
'' Gk Wil, sekali mama bilang gk, ya enggak kamu faham kan dengan ucapan mama?'' bu Dewi meninggikan suaranya, suasana dimeja makan yang tadinya tenang berubah menjadi ketegangan.
'' Mah sudah lah, jangan marah-marah, nanti jantung mama kumat, mas Wil, sudah jangan bahas itu dulu.'' ucap Sandra
Hening beberapa saat, hingga ucapan Juno kembali membuat bu Dewi meradang.
'' Mungkin karna kami ada disini makanya mas Wildan merasa tak enak hati mah, maka dari itu biar aku dan Kay yang pindah dari rumah ini.'' ucap Juno yang akhirnya buka suara.
'' KALIAN?? Kenapa kalian susah sekali dibilangin sih? mama gk mau melihat keluarga kita berpisah lagi, dan tidak akan ada yang boleh keluar dari rumah ini, tidak Wildan atau pun kalian Juno, dan mengenai perasaan Wildan, mama tau mungkin kamu merasa cemburu melihat Kay bersama Juno, tapi itu juga karna kesalahanmu sendiri, dan kamu harus terima nasip mu dan mama mau mulai sekarang rasa itu harus kamu hilangkan.'' ucap bu Dewi lagi, terdengar kejam memang, memaksa seseorang untuk melupakan orang yang dicintai, lagi pula untuk itu butuh proses, dan tak semudah membalikan telapak tangan, tapi bukankah memang harus seperti itu, karna walau bagai manapun Kay sekarang adalah istri Juno, yang berarti kini ia sudah menjadi adik iparnya.
***
Dikantor Wildan terus memikirkan ucapan sang ibu, bagai mana mungkin ia masih bertahan disana, hatinya tak kan sanggup jika terus bertemu dengan Kay, ia masih sangat mencintai gadis itu, walaupun Wildan tak pernah melihat Juno atau pun Kay bermesraan, tapi tetap saja Wildan tak bisa, tapi jika dirinya keluar bagai mana dengan sang putra? apa iya dia harus meninggalkannya bersama mereka?'' saat Wildan pusing memikirkan nasip kehidupannya didalam ruangannya, dilantai dasar terlihat Bisma datang bersama dengan Juno, karna hari ini ia akan mulai bekerja disana walaupun sebagai karyawan biasa.
'' Jun, kamu yakin bisa bekerja sambil kuliah?'' tanya Bisma,
'' Bisa bang, aku ambil kuliah malam, jadi bisa kerja dari pagi sampai sore.'' jelas Juno
'' Kenapa gk direstoran saja?
''Mau nya sih, tapi sepertinya mulai sekarang aku mau mulai belajar juga bekerja dikantor bang.
'' Bagus itu, coba dari dulu, yasudah yuk kita keruangan HDR dulu, biar nanti mereka yang menentukan kamu bekerja dibagian apa, lagian kamu sih dikasih enak malah milih jadi karyawan biasa.'' ucap Bisma tak habis pikir dengan adik sahabatnya itu, padahal Wildan sudah menempatkan Juno sebagai manager oprasional, sesuai bakat dan kemampuan, Wildan tau jika adiknya itu sangat pintar dan juga cepat memahami sesutau, namun Juno menolaknya dengan alasan ia belum lulus kuliah, padahal kalau menurut Wildan itu tidak menjadi masalah, lagi pula bukan tanpa alasan Wildan menempatkan Juno dibagian itu karna Wildan tau, jika adiknya itu mampu melakukannya makanya ia meminta nya namun Juno lebih memilih sebagai karyawan biasa, karna ia tak mau orang berpikir jika ia ditempat kan disana karna ia adalah salah satu pewaris perusahaan, padahal siapa yang perduli akan hal itu, karna menurut mereka jika pewaris, sudah pasti akan langsung menempati posisi tinggi diperusahaan.
__ADS_1
Next