
Kay bergegas melangkah menuju kamarnya, rasanya hatinya sangat sakit selalu dipermainkan oleh Wilan, hingga terkadang membuat Kay bingung, apa mau pria itu sebenarnya, kenapa dia masih mengganggu kehidupan nya, apa dia tidak punya rasa bersalah sedikitpun, atau setidaknya rasa malu walau sedikit saja. Kay berhenti sejenak didepan pintu kamar, untuk memperbaiki penampilannya yang berantakan, dan juga menenangkan emosi yang tadi sempat memuncak, setelah merasa cukup tenang, Kay pun langsung membuka pintu kamar lalu menutupnya, seketika jantung Kay berdebar, kala tak melihat suaminya diatas tempat tidur, karna saat ia hendak keluar tadi Kay yakin, jika Juno sedang tertidur dengan nyenyaknya.
Ceklek, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, mdmbuat Kay langsung menaglihkan pandangannya kearah tersebut.'' Juno kamu didalam ternyata?'' ucap Kay sedikit lega.
'' Iya, kamu habis dari mana? tadi pas aku bangun kamu nya gk ada?'' tanya Juno sambil melangkah mrndekati sang istri.
'' I-itu aku habis ambil minum, iya tadi aku minum.'' jawabnya gugul, sambil memaksakan senyum, Juno mengangguk paham, membuat Kay bisa bernafas dengan lega.
'' Lalu dimana minumannya?'' tanya Juno, membuat Kay bingung harus menjawab apa.
'' Itu ketinggalan, sebentar aku ambil dulu.'' ucap Kay sambil melangkah menuju pintu kamar, namun dengan cepat Juno langsung mencegahnya.'' Gk usah, sebaiknya kita tidur saja lagi.'' sambungnya sambil menarik lengan istrinya menuju tempat tidur.
Saat ini Kay berada dalam pelukan suaminya, pemuda itu membelai rambut hitam sang istri.'' Kay apa kamu mencintaiku?'' tanya Juno tiba-tiba membuat Kay langsung melerai pelukan mereka. Kay duduk lalu menatap wajah suaminya itu.
'' Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu Jun?'' tanya gadis itu.
'' Hanya ingin memastikan saja.'' jawab Juno yang sambil menhambil posisi duduk.
'' Jun, bukankah sebelumnya kita sudah sepakat untuk membuka hati kita masing-masing? dan saat ini aku masih belajar untuk mencintaimu.'' jelas Kay
'' Apa kamu yakin bisa mencintaiku Kay?''
'' Maksudnya? apa kamu meragukanku Juno?'' tanya Kay dengan mata yang mulai berkaca-kaca, rasanya Kay tak sanggup jika Juno juga mulai meragukannya, karna saat ini Kay sangat butuh dukungan dan juga sandaran.
Melihat istrinya mulai bersedih Juno pun tidak tega.'' Maaf Kay, aku tidak bermaksud seperti itu, maafkan aku.'' ucap Juno sambil membawa Kay dalam pelukannya, sebenarnya Juno tau jika tadi istrinya itu sedang bersama dengan Wildan, dan mendengar pentengkaran keduanya, namun Juno tak ingin mempertanyakannya pada sang istri, karna ia memilih untuk percaya pada Kay, untung tadi pria itu tidak melihat perbuatan yang Wildan lakukan kepada istrinya, jika sampai tadi ia melihat, maka sudah dipastikan maka perkelahian tidak akan terhindari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini jam sudah menunjukan pukul tiga sore, terlihat Wildan pulang lebih awal dari biasanya.
Tak-tak-tak
Terdengar suara sepatu pantofel milik Wildan memasuki rumah, bu Dewi yang saat itu sedang berasama Kay dan juga baby Al langsung mengalihkan pandangan mereka.'' Loh nak, tumben hari ini kamu pulangnya cepat?'' tanya bu Dewi setelah melihat Wildan sudah berdiri dihadapannya.
__ADS_1
Wildan sempat melirik Kay, yang saat itu terlihat sibuk dengan putranya.'' Iya mah, karna aku udah mutusin mulai hari ini aku akan tinggal diapartemen.'' ucapnya pada sang ibu, Kay yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya terhadap ayah dari bayi yang ia gendong saat ini.
Apa? mas Wildan mau pindah dari rumah? apa karna kejadian tadi malam? lalu apa dia juga akan membawa serta baby Al? bagai mana kalau iya, aku sudah terlanjur sayang sama bayi ini, aku gk akan bisa jauh darinya
Batin Kay, namun ia tak ingin berkomentar apapun, bagai mana pun kay masih sangat marah dengan laki-laki itu, dan ia tak akan memperdulikannya, menurut Kay, terserah laki-laki itu mau pindah kemana pun, ia tak akan memperdulikannya, tapi jika Wildan membawa anaknya bersamanya tentu Kay akan merasa sedih dan juga kehilangan.
Bu Dewi bangkit dari duduknya karna merasa terkejut dengan ucapan Wildan yang mengatakan ingin tinggal diapatemen.'' Kenapa tiba-tiba nak? apa kamu ada masalah dirumah ini?'' tanya bu Dewi
'' Tidak mah, aku hanya ingin lebih fokus pada kerjaan aja, mama jangan cemas karna aku gk akan membawa Al bersamaku, kalian masih bisa tinggal bersamanya.'' jelas Wildan seolah tau yang mereka pikirkan termasuk Kay, karna Wildan sangat tau jika mantan tunangannya itu sangat menyayangi putranya itu.
Skip
Sudah satu minggu semenjak kepergian Wildan dari rumah, bahkan setelah pergi satu minggu yang lalu, Wildan belum ada kembali kerumah tersebut, karna memang pekerjaan dikantor sedang menumpuk hingga membuatnya tak memiliki waktu untuk berkunjung kerumah ibunya, bahkan hanya untuk menemui putra semata wayangnya ia belum bisa, Wildan hanya bisa meminta Sandra untuk melakukan panggilan video call, jika ia merindukan sang putra, suasana dirumah sedikit berbeda semenjak kepergian putra sulung dikeluarga mereka.'' Mah makan yang banyak, semenjak mas Wildan pergi mama makan sedikit sekali, makan dong mah yang banyak, ini kan makanan kesukaan mama, spesial aku bawa dari restoran.'' ucap Sandra membujuk sang ibu.
'' Mama lagi gk berselera Sa, nanti saja mama makannya.'' jawab sang ibu, mereka tau jika ibu mertuanya itu tak bersemangat, karna Wildan tak lagi tinggal bersama mereka.
'' Mah, apa ssmua ini karna mas Wildan?'' tanya Kay tiba-tiba, membuat bu Dewi menoleh kearah menantunya itu.
'' Ya tapi mah, mas Wildan itu sudah dewasa, pasti dia bisa jaga diri, aku yakin mas Wildan bisa menjaga kesehatannya diluar sana.'' sambung Sandra meyakinkan sang ibu.
Bu Dewi tak lagi menjawab, namun wanita paruh baya itu langsung bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
'' Loh mama mau kemana?'' tanya Sandra saat melihat sang ibu meninggalkan mereka dimeja makan.
'' Mama mau kekamar Sa, kepala mama rasanya sedikit pusing, mama mau istirahat aja.'' jelasnya sambil melanjutkan langkahnya, sedangkan Kay dan Sandra hanya bisa menatap punggung bu Dewi dari kejauhan.
'' Mama terlalu sayang sama mas Wildan, apa lagi mereka gk pernah pisah, pasti mama sangat kepikiran.'' ucap Sandra, sambil duduk kembali kekursinya
'' Emang dulu waktu Juno pergi dari rumah mama kayak gini juga sikapnya?
'' Awalnya sih iya, tapi lama kelamaan setelahnya gk lagi, tapi bukan karna mama gk perduli sama Juno, hanya saja dulu Juno dan mama sering bertemu diluar, bahkan hampir setiap hari, itu sebagai syarat jika Juno mau tinggal diluar rumah.'' jelas Sandra
'' Sampai segitunya?
__ADS_1
'' Iya, tapi sekarang keadaan mama berbeda, setelah mas Wilsan berpisah dengan mba Maya, mama sering sakit-sakitan, aku hanya takut kondisi mama kembali drof'' ucap nya
Mendengar itu Kay hanya diam, ia tau penyebab Wildan memilih pindah rumah adalah karna dirinya.
Apa yang harus kulakukan sekarang? sepertinya mama Dewi sayang banget sama mas Wildan, semoga saja ini gk berlangsung lama.
Batin gadis itu.
Malam harinya terlihat sandra sedang berdiri didepan pintu kamar bu Dewi
Tok-tok-tok
'' Mah! mama makan dulu yuk, itu mbo Surti udah nyiapin makan malam buat kita loh.'' jelas Sandra sambil mengetuk pintu kamar sang ibu
'' Mba ada apa? apa mama gk bukain pintunya?'' tanya Kay dan Juno yang baru keluar dari kamar, setelah membantu mbo Surti didapur, Kay memanggil Juno dikamar untuk makan malam, sementara Sandra memanggil sang ibu dikamarnya.
''Gk tau nih, mba sudah panggil dari tadi tapi mama masih belum bukain, pintunya juga dikunci.'' jelas Sandra sedikit cemas.
'' Coba biar aku yang panggil.'' ucap Juno sambil melangkah mendekati kamar bu Dewi.
'' Mah! mama buka pintunya mah!
Krecek! Krecek!
Juno memutar-mutar knop pintu yang ternyata memang dikunci dari dalam, tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak, Juno takut terjadi sesuatu pada sang ibu didalam sana, merasa panik tak ada jawaban, Juno pun berinisiatif untuk mendobrak pintu tersebut hingga akhirnya..
Braakkk!!!
Setelah beberapa kali mendobrak, akhirnya pintu dapat terbuka dengan lebar, dan ketiganya langsung berteriak memanggil sang ibu, saat melibat bu Dewi yang tergeletak dilantai.
'' Mama....
Next
__ADS_1