
Terlihat Bu Dewi terus mondar mandir didepan pintu ruang operasi, berharap operasinya cepat selesai, dan kedua anaknya bisa selamat, sementara Sandra terlihat menyandarkan kepalanya di bahu Bisma, dalam hati gadis itu selalu merapalkan doa, semoga saudara-saudaranya diberi kesembuhan, begitu pun juga dengan Kay, yang memiliki harapan yang sama, ia tak ingin terjadi sesuatu pada mereka berdua, Juno dan juga Wildan, sebab karna merekalah sampai saat ini Kay masih bisa selamat. Setelah hampir tiga jam mereka menunggu akhirnya lampu yang ada didepan ruangan terlihat padam, bertanda bahwa operasi telah selesai dilakukan. Semuanya berkumpul menunggu dokter keluar dari ruang operasi tersebut, dan benar saja, tak berselang lama terlihat pintu terbuka, bersamaan itu dokter dan perawat yang juga ikut keluar, sangat terlihat wajah lelah yang ditunjukan oleh dokter tersebut.
'' Dok bagai mana operasinya? bagai mana keadaan anak-anak saya? apa mereka baik-baik saja? mereka selamat kan?'' tanya bu Dewi mencerca dokter dengan berbagai pertanyaan yang sejak tadi bersarang dikepalanya.
Dokter tersebut membuka masker diwajahnya, lalu menatap kearah Bu Dewi. '' Tenang lah bu, semua operasinya berjalan dengan lancar, peluruh ditubuh kedua putra ibu sudah berhasil kami keluarkan, hanya saja..
'' Hanya saja apa dok??'' tanya Kay penasaran
'' Hanya saja peluru yang menembus salah satu tubuh anak ibu harus membuatnya mengalami koma.'' ucap dokter tersebut.
'' Hah- koma? bukankah tadi dokter bilang kalau operasinya berjalan dengan lancar? lalu kenapa sekarang anak saya bisa koma?
'' Siapa yang koma dokter?'' sambung Sandra
'' Saudara Juno.'' jawab dokter tersebut dengan ekpresi sedih.
'' Hah- Juno??'' jawab merek serentak
'' Kenapa bisa koma dok? kenapa suamiku bisa koma?'' tanya Kay sedikit meninggikan suaranya.
Itu karna peluru yang bersarang didada saudara Juno, nyaris mengenai jantung, kami sudah melakukan semaksimal mungkin dan sangat hati-hati saat mengeluarkan peluru tersebut, namun sepertinya Tuhan berkehendak lain, sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa semoga ada keajaiban untuknya, dan saudara Juno bisa sadar kembali .'' ucap dokter
'' Berapa lama adik saya koma dok?'' tanya Sandra.
'' Kami tidak bisa memastikannya bisa berminggu, ataupun berbulan, dan semua itu bergantung pada rangsangan bagian otak yang masih berfungsi.
__ADS_1
Kay yang mendengar itu langsung menangis, begitu pun Bu Dewi dan Sandra, mereka tak menyangka akan seperti ini.
'' Sayang tenanglah nak! sabar, kamu harus tetap tenang sayang,'' ucap Bu Sri menenangkan putrinya.
'' Bu, Juno koma, kenapa bukan aku saja yang ditembak saat itu, kenapa harus Juno yang mengalami semua ini, hiks-hiks...,'' Kay menangis menyesali semuanya.
Kay dengarkan ibu, Juno akan baik-baik saja, percaya pada ibu, yang sekarang harus kamu lakukan adalah berdoa, semoga Juno cepat sadar agar bisa berkumpul kembali dengan kita.'' ucap Bu Sri
''Lalu bagai mana dengan Wildan dok?'' tanya bu Dewi lagi.
'' Pak Wildan masih kritis, karna beliau juga kehilangan banyak darah, jika putra anda bisa melewati malam ini, maka kondisinya bisa dikatakan stabil.'' jelas sang dokter lagi, Kay yang mendengar hanya bisa menangis dalam dekapan Bu Sri sedangkan bu Dewi merasakan sesak didadanya bagai mana tidak, orangtua mana yang tidak sedih saat mengetahui kondisi anak-anaknya, bahkan saat ini sedang bertaruh nyawa, dan itu membuat hatinya sangat sedih.
Sementara Bisma hanya bisa mengusap kasar wajahnya terlihat wajah yang penuh dengan rasa sesal.
Maafkan aku Wil, Jun, maaf karna terlambat menolong kalian, coba aja saat itu aku lebih cepat, pasti ini semua tak kan terjadi.
Flashback on
Setelah mengantarkan Arif dan Seli, Bisma memang kembali kerumah kediaman Rudi, jujur saja lelaki itu merasa khawatir, setelah mendengar Arif mengatakan jika Rudi adalah seorang psikopat, Bisma takut terjadi sesuatu dengan Wildan didalam sana, baru saja Bisma turun dari mobilnya ia dan beberapa warga mendengar suara tembakan yang berasal dari rumah Rudi, Bisma dan beberapa warga yang penasaran langsung saja menuju kearah sumber suara yang memang berasal dari rumah Rudi.
'' Ya Tuhan suara tembakan, semoga saja Wildan tidak terluka.'' gumamnya sambil berlari kearah rumah tersebut, ada lima orang warga yang ikut dengan Bisma, dua diantaranya adalah ibu-ibu.
Bisma membuka pintu yang memang tidak terkunci, seketika matanya melebar dengan mulut menganga, saat melihat kejadian didepan matanya, begitupun warga yang juga menyaksikan peristiwa tersebut mereka tak kalah kaget melihat semua itu
'' Wildan, Juno!" teriak Bisma sambil berlari mendekati
__ADS_1
'' Waah, kebetulan kalian datang beramai-ramai, apa untuk membawa mayat mereka semua keliang lahat?'' tanya Rudi dengan santainya membuat Bisma semangkin geram melihatnya.
'' Ba*ng*sat kau Rudi! dasar psikopat gila.'' maki Bisma yang hendak menghajar pemuda itu, namun langkahnya terhenti kala Rudi mengeluarkan kembali senjata miliknya dan menodongkannya kearah Bisma.
'' Berani kau? maju sini, maka akan kupastikan kau menyusul mereka ke neraka!!'' ucap nya sambil tertawa
'' Astaga nak Rudi, ibu gk nyangka ternyata kamu adalah seorang pembunuh, ternyata selama ini kita bertetangga dengan seorang pembunuh bapak-bapak.'' ucap salah satu ibu-ibu
'' Heeii diam kau! dasar wanita tua, pergi saja kalian sana, atau kalian akan bernasip sama dengan mereka, mati dengan timah panas ini.'' ucapnya lagi sambil kembali tertawa, salah satu warga melihat Rudi yang lengah langsung mengendap-endap melangkah kearah belakang Rudi, ia membawa sebuah kayu dibelakang tubuhnya dan tiba-tiba...
Bug-bug!!!
Warga tersebut memukul Rudi dengan kayu tersebut hingga pemuda itu jatuh tersungkur, pistol yang ada ditangannya juga terlempar jauh namun langsung diamankan oleh Bisma, sementara Rudi langsung diringkus oleh warga lainnya, bahkan salah satu ibu yang dimaki oleh Rudi tadi, terlihat menyiramkan sesuatu kearah mata pemuda itu, hingga membuat nya berteriak kesakitan
'' Aaakkhhhh....'' teriaknya sambil memegangi kedua matanya.
'' Kenapa dia? apa yang kamu siram diwajahnya itu? tanya warga lainnya
'' Air cabe, biar mam*pus sekalian, bahkan pedas mulutnya, tak mampu mengalahkan rasa pedasnya air cabe yang ku siram diwajahnya itu.'' jawab sang ibu dengan nada kesal, sementara Bisma, langsung fokus pada Wildan, Juno dan juga Kay, yang langsung membawa ketiganya menuju rumah sakit, dibantu oleh para warga lainnya, sedangkan Rudi sendiri langsung dibawa kekantor polisi oleh warga untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
'' Wwuuu,, dasar pembunuh! teriak warga, sepanjang perjalanan menuju mobil tahanan, mereka terus meneriaki dan memaki pemuda itu, bahkan ada yang melemparinya dengan batu-batu kecil, hinga mengenai kepalanya sampai berdarah.
'' Rasakan itu pembunuh!!! teriak mereka, warga benar-benar geram melihat tingkah pemuda itu, yang mereka tahu Rudi adalah pemuda yang baik dan tidak banyak tingkah selama tinggal ditempat mereka, namun siapa sangka, dibalik sifatnya yang ramah ternyata itu semua hanyalah kedok untuk menyembunyikan sifat aslinya yang kejam seperti pembunuh berdarah dingin.
Flashback and
__ADS_1
Bersambung