Gadis Penyumbang Asi

Gadis Penyumbang Asi
Mendekati Hari Pernikahan


__ADS_3

Tiga hari menjelang pernikahan, pagi ini semua semua terlihat disibukan dengan persiapan pernikahan yang akan dilangsungkan hari minggu nanti, tiga hari dari sekarang.


'' Gimana Kay, apa Wildan sudah bisa dihubungi?'' tanya bu Dewi


'' Masih belum mah,'' jawab Kay yang masih berusaha menghubungi Wildan.


'' Kemana sih sebenarnya anak itu? Sejak kemarin gk bisa dihubungi, bikin khawatir aja. Sandra, coba kamu telpon Bisma suruh dia coba tanya sama teman-teman nya, mana tau mereka melihat Wildan!" ucap bu Dewi.


'' Baik mah,'' jawab Sandra, yang kemudian langsung menghubungi Bisma. Sementara Kay masih berusaha menghubungi Wildan, yang ternyata masih belum bisa dihubungi


Kamu dimana sih mas? kenapa menghilang seperti ini, membuat aku dan yang lainnya merasa khawatir, apa jangan-jangan sekarang mas Wildan bersama mba Maya?


Batin Kay bertanya-tanya, sejak kemarin sore Wildan memang tidak bisa dihubungi, ponselnya tiba-tiba saja mati, bahkan hingga malam menjelang calon suaminya itu masih belum bisa dihubungi, saat Kay bertanya pada Bisma, laki-laki itu mengatakan jika Wildan pulang lebih awal karna ada urusan medesak, saat itu Bisma tak bertanya kepada sahabatnya itu, karna menurutnya urusan mendesak itu adalah mengenai pernikahan dari sahabatnya itu, tapi ternyata tidak sama sekali.


'' Mah, Bisma sudah menghubungi semua teman mereka, dia bilang mas Wildan tidak ada disana,gimana nih ma, aku takut terjadi sesuatu dengan mas Wildan.'' ucap Sandra panik


'' Mama juga khawatir Sa, biasanya mas mu gk pernah seperti ini sebelumnya.'' sambung bu Dewi yang masih terlihat cemas.


Sedangkan dikamarnya Kay terlihat memandang kearah jendela kamarnya, ia menatap lurus kedepan, melihat pepohonan yang memang tumbuh dihalaman samping kamarnya tersebut, namun dengan hati dan pikiran yang terus berkecamuk, pasalnya seminggu yang lalu saat ia mengantarkan Seli menuju rumah sakit untuk mengunjungi saudaranya yang sedang dirawat disana, tak sengaja matanya menangkap sosok yang sangat ia kenali, sedang datang bersama seorang perempuan yang juga sangat dikenalnya, dan mereka adalah Wildan dan juga Maya, saat itu Kay melihat calon suaminya itu keluar dari rumah sakit dan hendak menuju mobil nya, Kay sangat penasaran saat itu, namun Kay berniat akan menanyakannya saat dirumah saja. Dua jam kemudian, setelah Kay pulang dari rumah sakit, gadis itu langsung mencari keberadaan Wildan dikamarnya untuk mempertanyakan memua yang ada didalam benaknya.


Flasback

__ADS_1


Saat Kay hendak mengetuk pintu kamar Wildan, bersamaan itu pria tersebut juga membuka pintu kamarnya, seolah tau jika ada Kay dibalik pintu tersebut.


'' Kay, ada apa?


'' Bisa kita bicara sebentar mas?


'' Masuklah, kebetulan mas juga ingin mengatakan sesuatu denganmu.'' ucap Wildan sambil mempersilahkan Kay masuk kekamarnya.


Kay memilih duduk di atas sofa panjang yang ada dikamar tersebut, yang diikuti oleh Wildan.


'' Apa yang ingin kamu bicarakan sama mas?'' tanya Wildan lembut


'' Maksud kamu apa sayang?


'' Jawab aja, mas kemana tadi siang?'' ulang Kay, kali ini nada bicaranya sedikit ketus karna menahan jengkel dihatinya, kemudian gadis itu langsung membuang pandangannya kearah luar jendela, sebab Wildan selalu menatap kearahnya, membuatnya sedikit grogi, jujur saja, walau pun Kay marah dengan calon suaminya itu, tapi kalau ditatap seperti itu dengan jarak yang hanya setengah meter, tentu saja membuat dirinya merasa salah tingkah.


'' Sebenarnya tadi siang mas pergi bersama Maya kerumah sakit.'' ucap Wildan, membuat Kay yang tadinya membuang wajah, langsung memalingkannya kembali menghadap Wildan


Kay masih diam tanpa ingin menyela ucapan Wildan, walaupun sebenarnya Kay sangat ingin tau, namun ia ingin pria itu menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupin.


Wildan menarik nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan.'' Kay Maya sakit, dan waktunya tidak banyak lagi.'' ucap Wildan serius.

__ADS_1


'' Maksud mas apa? mba Maya sakit apa sebenarnya??'' tanya Kay yang ssmangkin penasaran, tiba-tiba saja pikiran buruk mulai menghantuinya, takut jika Wildan lebih memilih mantan istrinya itu dan membatalkan pernikahan mereka yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi.


'' Maya sakit leukemia dan sudah stadium lanjut, tadi pagi mas hanya menemaninya untuk memeriksa kembali kondisinya, maaf karna tidak memberitahukannya lebih awal, mas hanya tidak mau kamu berpikir yang macam-macam, dengar Kay! mas sangat mencintai kamu, dan mas sangat ingin menikah denganmu, tapi mas juga gk bisa mengabaikan Maya begitu saja, walau bagai mana pun dia adalah ibu dari anaknya mas, tentunya mas harus sedikit perduli walaupun hanya sebagai teman, lagi pula dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi, dan mas hanya ingin membantunya, itu saja tidak lebih, kamu mengertikan maksud mas?'' ucap Wildan, ia menggenggam tangan kekasihnya berharap Kay mengerti apa yang ia maksud.


Saat itu Kay tidak tau harus menanggapinya seperti apa, kalau mau jujur, tentu saja Kay merasa keberatan jika calon suaminya harus bersama dengan wanita lain, apa lagi disaat mereka akan melangsungkan pernikahan beberapa hari lagi, Kay ingin Wildan fokus dengan pernikahan mereka, bukannya sibuk memperhatikan wanita lain, katakanlah ia egois, tapi perempuan mana yang tidak merasa sakit hati dan cemburu jika melihat calon suaminya pergi bersama mantannya, orang yang pernah ada dihati hatinya walaupun sudah menjadi mantan, dan Kay sebenarnya tak mau menerimanya dengan alasan apapun, namun sebagai sesama manusia yang memiliki hati, pastilah Kay juga merasa kasihan dan juga prihatin dengan keadaan Maya, tapi tetap saja diluar itu semua apa harus Wildan? dan kenapa dirinya yang harus berkorban?


'' Mas, bukan aku tidak mau mengerti, tapikan sebenarnya itu semua bukan tanggung jawabmu, okey jika kamu berniat membantu mba Maya, tapi kan gk setiap saat harus bersamanya juga kan? bukan cuma dia yang butuh kamu mas, aku juga, lagi pula seminggu lagi kita akan melangsungkan pernikahan, aku tidak ingin pikiran mas terbagi dengan yang lain, maaf jika aku egois, tapi itu lah aku dengan segala kekuranganku, yang telah kamu pilih untuk menjadi pendampingmu kelak, dan mau tidak mau, kamu harus menerimanya jika memang mas mencintai aku.'' setelah mengatakan itu Kay langsung keluar dari kamar Wildan dengan dada yang masih terasa sesak,dan juga rasa kecewanya pada sang kekasih, sedangkan Wildan hanya bisa memandang dengan tatapan sendu kepergian gadis yang sangat dicintainya itu hingga menghilang dibalik pintu.


flasback and


Saat Kay masih melanglang buana dengan pikirannya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


Tok-tok-tok


Entah berapa kali orang tersebut mengetuk pintu kamarnya, namun sepertinya gadis itu masih betah dengan lamunannya, hingga tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan tangan yang melingkar diperutnya, tentu saja membuat Kay terkejut, dan mencoba melepaskan tangan tersebut, hingga suara seseorang membuat gadis itu menghentikan gerakannya.


'' Mas Wildan,'' ucapnya pelan, terdengar seperti orang bergumam.


'' Hem, mas kangen banget sama kamu sayang.'' bisiknya ditelinga sang kekasih sambil mengeratkan pelukannya dipinggang gadis itu, meletakan wajahnya diceruk leher Kay, untuk memudahkannya menghirup aroma tubuh Kay yang selalu membuatnya tenang.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2