
Kay keluar dari kamar Wildan dengan cepat dan langsung menuju kamar miliknya, hingga Bu Dewi yang menyapanya pun tak lagi ia hiraukan, tepatnya wanita itu tak melihat wanita paru baya tersebut disana, karna ia hanya fokus berlari menuju kamarnya.
'' Kay kenapa? kenapa dia berlari seperti itu, bahkan wajahnya terlihat memerah, apa dia sedang sakit?'' gumam Bu Dewi
Sementara dikamarnya Kay memegangi dadanya yang masih berdebar kencang.'' Astaga apa yang barusan aku lihat tadi? itu,,, apa itu senjata tempur miliknya mas Wildan? kenapa milik mas Wildan bisa sebesar itu? bahkan terlihat lebih panjang dari milik Juno, bagai mana kalau benda itu masuk kedalam liangku pasti tidak akan muat dan rasanya pasti juga sangat sakit, haaiss,,, kenapa aku jadi membayangkannya sih?'' ucapnya frustasi, tanpa sadar wanita itu mera*ba miliknya yang ternyata sudah basah membuatnya menghela nafas berkali-kali.
Sementara dikamar nya Wildan terlihat kembali berada dikamar mandi untuk menuntaskan has*ratnya yang terlanjur bangkit, ia juga merasa heran, kenapa hanya dengan dilihat oleh Kay saja, bisa membuat miliknya bangun dan mengeras seperti itu, pusaka miliknya langsung bereaksi dengan tatapan Kay, hingga membuat has*ratnya juga ikut naik yang pada akhirnya harus ia tuntaskan secara solo dikamar mandi, dan tentunya dengan membayangkan wajah kekasih hatinya itu.
'' Kay! Kayla!'' Bu Dewi mengetuk pintu, sambil memanggil nama Kay, karna merasa khawatir dengan menatunya tersebut
Tak lama pintu terbuka.'' Iya mah ada apa?'' tanya Kay sambil menatap ibu mertuanya tersebut
'' Kay, apa kamu sakit? mama lihat tadi wajahmu memerah saat turun dari lantai atas, kamu kenapa? apa benar sakit?'' tanya wanita paruh baya tersebut.
'' Ah itu, tidak kok mah aku gk apa-apa itu tadi hanya...
Ningsih yang baru keluar kamar, sempat mendengar ucapan bernada khawatir bude nya pada Kay, yang langsung membuatnya terlihat kesal.'' Aalaah, cari perhatian aja, biarin aja bude, ngapain sih bude cemas berlebihan seperti itu, lihat dia sehat seperti itu, eh Kay kamu itu jangan bikin budeku mencemaskan mu seperti itu ya, jadi orang kok hoby banget caper(cari perhatian)
'' Ningsih kamu kok jadi seperti itu sih? sejak kapan kamu jadi wanita yang kasar dan tak perduli seperti itu? bude dan mama kamu gk pernah ya, ngajarin kamu untuk berkata buruk seperti itu pada orang lain.'' ucap Bu Dewi tak menyangka kalau keponakannya itu punya pikiran yang buruk terhadap orang lain.
'' Sudahlah mah, aku gpp kok tadi hanya pusing biasa aja, tapi udah mendingan kok.'' jelas Kay, yang tak ingin masalah semangkin panjang
__ADS_1
'' Benar kamu gpp?'' tanya Bu Dewi memastikan.
'' Iya mah,'' jawab Kay sementara Ningsih yang melihat nya terlihat semangkin kesal karna adik dari mamanya tersebut semangkin perhatian pada Kayla, dan itu membuat nya semangkin membenci gadis itu. Ningsih menghentakkan kakinya pertanda protes, lalu gadis itu pun langsung pergi menuju tempat kerjanya.
Yasudah biarin aja dia, ayo lebih baik kita sarapan saja.'' ajak Bu Dewi yang diangguki oleh Kay
Saat ini keduanya sudah berada dimeja makan.'' Oya Kay, apa kamu sudah memanggil Wildan tadi dikamarnya?'' tanya Bu Dewi yang membuat Kay seketika menjadi gugup
'' Aku disini mah.'' jawab Wildan yang ternyata sudah berada didepan keduanya, Wildan tersenyum lalu melangkah menuju meja makan dimana saat ini Kay dan Bu Dewi berada.
Wildan menarik kursi dan duduk tepat dihadapan Kay, membuat wanita itu menggerutu dalam hati,
Duuh kenapa juga sih mas Wildan harus duduk dihadapan ku
''Kay kamu baik-baik saja kan?'' tanya Bu Dewi karna melihat Kay yang terus menunduk bahkan Bu Dewi melihat telinga wanita itu memerah.
'' Aku gk apa-apa kok mah.'' jawabnya sambil menatap Bu Dewi dengan senyum paksa
'' Gk apa-apa bagi mana? tuh lihat wajah kamu merah begitu, pasti kamu sakit, Wildan sebaiknya hari ini kamu tidak usah pergi kekantor, kamu temani Kay saja kedokter mama takut dia terkena alergi, karna tiba-tiba wajahnya itu bisa merah seperti tomat begitu, mama kan jadi khawatir.'' ucap Bu Dewi
'' Iya mah, aku akan mengantarnya.'' jawab Wildan membuat Kay langsung menatap kearah pria tersebut.
__ADS_1
Apa-apaan dia, jelas-jelas semua ini karna ulahnya, aku bukan sakit tapi aku hanya malu, otak ku juga kenapa bisa berpikiran mesum seperti ini sih? kenap terus memikirkan pusaka keramat nya mas Wildan terus coba?
Batinnya kesal
'' Kay bagai mana? kamu mau kan kedokter dengan Wildan? soalnya pagi ini mama mau pergi, jadi gk bisa mengantarkan kamu jadi sama Wildan aja ya?
'' Mah, aku gpp kok, cukup istirahat saja dirumah nanti juga baikan.'' jelasnya.
'' Iya mah sepertinya Kay cukup istirahat saja dirumah, dan harus berpikiran positif agar wajahnya tidak kembali memerah seperti itu.'' ucap Wildan sambil menatap kearah Kay dengan senyum manisnya, namun senyum itu terlihat sangat menjengkelkan dimata Kay, membuat wanita itu menatap Wildan dengan tatapan kesal.
*
*
*
Dua bulan berlalu, dua hari lagi rencananya pernikahan Kay dan Wildan akan segera dilangsungkan, dari sebulan yang lalu Bu Dewi terus mewanti-wanti putra sulungnya itu agar jangan mengulangi kesalahan yang sama, bahkan Bu Dewi sempat mengancam Wildan jika sampai kejadian beberapa bulan yang lalu terulang, maka nama lelaki tersebut akan ia coret dari kartu keluarga, sungguh kejam memang, namun hanya itu satu-satunya yang dapat Bu Dewi lakukan, karna ia tak ingin sampai kehilangan menantu yang baik seperti Kayla. Seperti saat ini, wanita paruh baya itu kembali mengingatkan, dan melarang putranya tersebut agar tidak pergi kemanapun walau apapun yang terjadi.
'' Mah udah dong, aku juga tidak akan melakukan hal yang bodoh seperti itu lagi, jadi mama jangan khawatir, dan jangan mengatakan hal itu berulang kali padaku, itu membuatku pusing mah.'' ucap nya
'' Makanya, jangan macam-macam kamu, yasudah mama kebawah dulu, mau ngecek semuanya, ingat ya Wil, jangan keluar dari rumah, kalau mau kerja dari rumah saja gk perlu kekantor, biar Bisma saja yang urus semua pekerjaan mu.'' ucap Bu Dewi, setelah itu wanita paruh baya itu langsung keluar dari kamar putra sulungnya itu.
__ADS_1
Sedangkan Wildan hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat sikap protektif ibunya itu. Wildan sadar, ibunya melakukan semua itu karna tidak ingin kejadian masa lalu terulang kembali, dan Wildan berjanji jika itu tidak kan terjadi, mana mungkin ia melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Bersambung