
Mereka semua menoleh keasal sumber suara, saat mendengar suara seseorang yang tidak asing, dan mereka sangat terkejut setelah mengetaui siapa yang berdiri dihadapan mereka saat ini, apa lagi bu Dewi, wajahnya yang sejak tadi terus dihiasi dengan senyuman, tiba-tiba berubah menjadi wajah yang dipenuhi kekesalan.
'' Maya, mau apa kamu kesini? dirumah saya? dan siapa yang mengijinkanmu masuk?'' tanya bu Dewi sambil menatap sinis kearah orang tersebut.
'' Maaf nyah, tadi mba Maya memajsa masuk jadi---,''
'' Sudah mbok gpp, mbok Surti kembali saja.'' potong Sandra langsung, dan mbok Surti hanya mengangguk pasrah.
Tiba-tiba saja selera makan mereka langsung hilang saat melihat kedatangan Maya, mantan istri Wildan
Kay menoleh kearah Wildan yang duduk disamping nya, Kay dapat melihat wajah tegang tunangannya tersebut.
'' Mas kamu gk apa-apa kan? Kenapa wajahnya tegang gitu?'' tanya Kay yang tak bisa menahan pertanyaannya
'' Mas tidak apa-apa,'' jawabnya sambil mencoba tersenyum, namun Kay tau jika kekasihnya itu sedang dalam keadaan tidak baik
''Maya, sebaiknya kamu pergi dari rumah saya!'' usir bu Dewi, kini wanita paruh baya itu sudah berada didepan mantan menantunya tersebut, menilik penampilan wanita bertubuh ramping itu, yang menurutnya semangkin kurus.
'' Mah, mama kok tega sih mengusirku? Bagai mana pun, bukankah aku adalah ibu dari cucu mama? darah dalam baby Al, juga mengalir darahku mah, jadi mama gk bisa memperlakukan aku seperti ini.'' ucap Maya tak terima jika bu Dewi mengusirnya.
__ADS_1
'' Apa kau bilang? hei sebaiknya kau mengaca dulu, anak yang kau bilang mengalir darahmu itu, sudah lama kau campakan, dan sekarang dengan seenaknya mengatakan apapun yang kau mau, dengar ya Maya! dulu saya sering memberikanmu kesempatan untuk merubah keputusanmu, tapi kau tidak pernah ingin melakukannya dan sekarang kau bilang, jika kau adalah ibunya? waah enak sekali mulutmu itu berbicara ya? Sebaiknya sekarang kau pergi! atau saya suruh satpam untuk mengusirmu dari sini.'' ucap bu Dewi dengan emosi diwajahnya.
Sandra yang melihat ibunya terlalu emosi menjadi khawatir, takut kalau-kalau darah tinggi sang ibu kambuh lagi.'' Mah sudahlah, jangan terlalu diperduliin wanita ular seperti dia, gk penting, ayo sebaiknya kita kembali lanjutkan sarapannya.'' bujuk Sandra
'' Mama sudah tak berselara makan, semenjak kedatangan wanita berbau busuk ini.'' jawab bu Dewi pedas, yang sebenarnya berniat untuk membuat Maya sakit hati, dan akhirnya memilih pergi dari rumah tersebut.
Namun sepertinya Maya tak terlalu memperdulikan ucapan bu Dewi, dengan santainya wanita itu malah melangkah menuju kearah Wildan, membuat bu Dewi semangkin geram melihatnya.
'' Wildan, tolong bujuk mama kamu agar memperbolehkan aku untuk bertemu dengan anak kita, plis Wil, hanya kamu satu-satunya orang yang mau menolongku disini.'' bujuk Maya tanpa tau malu, bahkan saat Kay yang duduk disamping Wildan, menatapnya dengan tajam wanita itu tak perduli, ia masih setia memohon pada mantan suaminya itu.
'' Wildan! kamu kok diam saja? cepat usir wanita itu dari rumah ini, mama gk mau melihatnya!" sentak bu Dewi pada sang putra sulung, Kay melirik calon suaminya itu yang masih bergeming ditempatnya, entah apa yang ada dalam pikiran laki-laki tersebut, melihat itu, tiba-tiba membuat perasaan Kay tidak enak, ia takut kalau Wildan terpengaruh pada mantan istrinya tersebut, dan akhirnya luluh, sebenarnya sih Kay tidak masalah jika memang Wildan memperbolehkan Maya untuk bertemu dengan putranya, walau bagai mana pun dialah ibu kandungnya, terlepas dari sifatnya yang buruk dalam memperlakukan bayi mereka, namun ikatan darah dari keduanya tak kan bisa dipisahkan, tapi sekarang, bukan itu yang menjadi kekhawatirannya saat ini, Kay melihat Wildan menatap Maya dengan penuh rasa iba, gadis itu hanya takut jika calon suaminya itu akan berpaling darinya dan kembali bersama dengan mantan istrinya itu, apa lagi bu Dewi pernah bilang padanya jika dulunya Wildan itu sangat mencintai Maya, dan selalu memaafkan segala kesalahan mantan istrinya itu, jadi mungkin saja sekarang itu kembali terulang, dan tentu saja Kay tidak akan membiarkan itu sampai terjadi.
'' Benar yang dikatakan Kayla, mba Maya harus keluar dari rumah kami sekarang!" sambung Sandra, sedangkan Juno hanya diam, masih memperhatikan keadaan, ia tak akan ikut campur jika masalahnya masih bisa diatasi secara baik-baik, namun jika sudah keterlaluan maka Juno tak segan untuk ikut campur, begitu pun dengan Bisma yang lebih memilih diam.
Tiba-tiba Wildan bangkit dari duduknya, membuat semua orang menatap kearahnya.'' Maya ayo ikut aku, kita bicara diluar!" ucap Wildan sambil melangkah menuju pintu depan, dan tanpa berkata apapun, Maya langsung mengikuti langkah pria tersebut, namun sebelum itu terlihat senyum sinis yang ia tunjukan kearah Kay, membuat gadis itu semangkin kesal.
Mas Wildan apa-apaan sih? ngapain dia bicara diluar segala, kenapa gk didepan kami semua? apa dia sedang menyembunyikan sesuatu dari ku,tapi apa?
Batinnya bertanya-tanya
__ADS_1
'' Semoga saja Wildan bisa mengusir wanita itu dari rumah ini, rasanya mama udah muak sekali melihat wajah perempuan itu.'' ucap bu Dewi sambil duduk kembali ditempatnya.
'' Sudahlah mah, jangan terlalu dipikirin, aku yakin mas Wildan bisa mengatasinya.'' ucap Sandra diangguki oleh yang lain.
'' Mama jadi penasaran, kira-kira apa yang yang akan mas mu bicarakan dengan wanita itu? semoga saja dia tidak mengabulkan keinginan wanita itu untuk bertemu dengan cucu mama.'' ucapnya bermonolog sendiri.
'' Bu Dewi tenang saja, saya yakin mas Wildan tidak akan mengambil keputusan yang salah.'' ucap Kay meyakinkan
'' Iya, semoga saja begitu.''
***
''Bukankah sudah ku katakan padamu Maya, agar kamu tidak perlu lagi datang kerumahku!" ucap Wildan sedikit membentak
'' Wil, kamu kok bentak aku sih? aku hanya tidak tahan, terlalu lama menunggu, kamu tau itu kan? aku sudah tak memiliki banyak waktu, kamu tau aku sakit kan? Dan waktuku tidak banyak, jadi ku mohon jangan mempersulitku.'' ucap Maya
'' Maya, aku sudah berjanji padamu bukan? dan aku hanya ingin kamu bersabar sebentar, aku pasti akan membawa putra kita untuk bertemu denganmu, bagai mana pun kamu adalah ibunya, dan aku juga tak ingin menjadi papa yang egois dengan memisahkan kalian, apa lagi melarangmu untuk menemuinya, tapi ku mohon bersabarlah, dan jangan jadikan penyakitmu itu sebagai alasan apapun.'' tegas Wildan
'' Baiklah, aku akan mengikuti apa mau mu, tapi aku mau kamu tidak membawa tunanganmu itu saat menemuiku nanti bersama anak kita, apa kamu bisa memenuhi permintaanku itu Wil? aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan gadis itu, dan aku juga tidak masalah jika kamu menikah dengannya, tapi kali ini saja turuti permintaanku, bisakan??
__ADS_1
Next