
Berawal dari sebuah kecupan, kini Azriel melunjak. Pria itu terbawa hasrat, persetan dengan gairahnya ia menjadikan Ina sebagai pelampiasannya.
Mendapat lum*tan kasar dari Azriel, Ina berusaha untuk mengambil napas. Azriel memang sangat bringas prihal ini, pria itu mempunyai nafsu yang kuat.
"Tuan huh, hentikan!" bentak Ina.
Gadis itu berusaha mengambil napas sedalam mungkin, sembari mengusap-usap bekas saliva yang diciptakan oleh Azriel. Azriel yang melihat itu marah, ia mencegah dengan menggenggam tangannya.
Kemudian mereka pun saling menatap satu sama lain dengan iris mata coklat mereka, lalu Azriel berucap, "Aku tidak ingin dijodohkan, bantu aku untuk menggagalkan perjodohan ini."
Ina terkejut dengan ucapan Azriel. "Maaf Tuan untuk kali ini saya tidak bisa membantu. Tugas saya hanya menjadi pengasuh, untuk hal itu terlalu pribadi!"
"Tapi aku sangat membutuhkanmu untuk hal ini!"
'Astaga, aku yang selalu berharap dia segera mendapat jodoh kini dia sendiri yang memintaku untuk menunda perjodohannya.'
Ina menunduk, saat ingin Azriel meraih dagunya tiba-tiba Ina menepis tangan pria itu. Ina tahu jika Azriel ingin melakukan hal yang sama seperti tadi. Namun ia tersadar akan sesuatu.
"Tuan, saya memang selalu patuh dengan Anda, bahkan apapun saya menurut. Namun, untuk kali ini mohon hargai saya sebagai perempuan. Sikap Tuan itu di luar batas! Ingat, saya hanya seorang pengasuh Tuan!" gertak Ina. Setelah beranjak dari atas pangkuan Azriel, gadis itu pun keluar.
Azriel terdiam merenung.
"Sebenarnya ada apa denganku. Aku sangat menginginkan gadis itu. Perlakuanku pasti membuatnya tidak nyaman," gumamnya.
Pagi hari.
Pagi pagi buta, Ina sudah berada di kamar Azriel. Ia sengaja bangun lebih awal agar segera menyiapkan kebutuhan pria itu sebelum ia bangun.
Namun, setelah selesai ia menyiapkan semua kebutuhan Azriel untuk bersiap ke kantor,tiba-tiba sang empunya kamar terbangun.
"Air hangat dan baju sudah saya siapkan," ucap Ina kaku. Sedikit lebih cuek, dan Azriel menyadari hal itu.
'Ternyata dia masih marah, bahkan dia tidak menyebutku Tuan," batinnya.
Setelah membalas anggukan akhirnya Ina pun keluar. Azriel merasa sekarang sudah benar-benar menjadi canggung antara dirinya dengan pengasuhnya itu.
Di meja makan.
Semua sudah berkumpul, termasuk Azriel yang sudah siap dengan pakaian formalnya.
"Kak kau ikut aku nanti," ucap Azriel yang kala itu ia sedang menguyah sandwich roti sarapannya.
"Kemana?"
"Ikut saja!"l
"Hmm, baiklah ...."
"Kau juga harus ikut dengan Daddy nanti malam," sahut Samuel.
"Pertemuan? Perjodohan? Sudah berapa kali aku katakan, aku bisa mencari pasangan hidup sendiri Dad!"
"No, target Daddy bulan depan kau sudah harus menikah. Mau tidak mau kau harus cepat mencari pasangan. Jika dalam satu bulan itu kau mendapatkan kekasih, Daddy akan segera menikahimu dan membatalkan perjodohan itu."
Azriel menaruh sisa sarapan dengan kesal, ia menenggak susu lalu kemudian berdiri.
"Terserah Daddy saja!" Azriel langsung bergerak melangkah. Mungkin di luar para bodyguardnya sudah stay.
"Azriel untuk kali ini kau harus menurut. Beberapa hari lagi Ina akan pulang, kau harus segera menikah agar ada seseorang yang melayani hidupmu!"
Azriel berhenti sejenak, ia langsung melayangkan tatapan tajamnya ke arah Ina, sedangkan saat itu Ina menunduk saat mendapatkan tatapan seperti itu.
"Baik, jika itu mau Daddy aku harus nikah cepat. Kenapa aku tidak dinikahi dengan gadis itu saja. Tidak perlu repot Daddy mencarikan wanita!" Azriel langsung bertindak kembali
Tiba-tiba Samuel berdiri tegak. Namun, Shireen menahannya lalu memperingati sang suami, "Mas ...."
"Azriel jangan pernah kau anggap main-main ucapan Daddy. Perjodohan ini serius, tapi kau seolah-olah menganggap itu candaan!" raung Samuel.
Azriel mendengar itu, tetapi ia tidak mau menggubris. Semua orang yang melihatnya pun menganggap wajar, dan sudah biasa bagi mereka menyaksikan bagaimana keras kepalanya pria itu.
'Kenapa tiba-tiba Tuan berkata seperti itu. Sepertinya aku harus mempercepat kepulanganku,' batin Ina.
***
Malam hari.
Azriel mengajak sang kakak untuk pertemuannya malam ini dengan Abran, sedangkan Azel terus bertanya-tanya kemana adiknya itu mengajaknya.
Azriel menggandeng saudari kembarnya menuju sebuah restoran tempat di mana sebuah perjanjian mereka. Setelah tiba, Azel langsung melontarkan pertanyaan karena rasa terkejutnya, "Zriel, kenapa kau ....?"
"Ikuti saja aku!"
Azel menundukkan kepalanya sepanjang ia berjalan, karena saat ini ada pasang mata yang menatapnya tanpa henti.
'Aku sangat merindukanmu Nona Azel,' batin Aghafa.
"Maaf aku telat," ucap Azriel.
"Tidak Pak Azriel, kita pun baru saja datang," balas Abran.
"Tidak usah formal, sebut saja namaku Azriel dan aku akan memanggilmu Paman," ucap Azriel.
"Ah, baiklah Azriel."
Azriel melambaikan tangan kepada salah satu pelayan resto, kemudian ia memesan makanan.
__ADS_1
"Lebih baik kita makan bersama terlebih dahulu, sebelum memulai pembicaraan," ucap Azriel.
Aghafa dan Abran pun membalasnya dengan anggukan.
"Sudah lama kita tidak berjumpa lagi Nak," ucap Abran kepada Azel.
"Ya Paman, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik," balas Azel. Lalu pria tua itu memperkenalkan anaknya kepada Azriel, "Oh ya Nak Azriel, dia anakku Aghafa!"
Aghafa mengulurkan tangannya kepada Azriel, hingga mereka saling berjabat tangan. Ia juga memberikan senyuman kepadanya. Namun dalam hati Azriel berkata, 'Cih sungguh jijik aku melihat wajah itu. Bisa aku simpulkan, dia sedang menyamar. Sungguh besar nyalinya dia mau menemuiku lagi.'
"Azriel Raymond," ucap Azriel menyebutkan nama lengkapnya.
'Kenapa pria ini menatapku seperti orang yang sedang mengintrogasi? Entah kenapa bayangan wajahnya membuat kepalaku pusing,' batin Aghafa.
"Salam kenal, aku Agha." Azriel membalasnya dengan sebuah senyuman.
Sementara Azel merasa tidak nyaman ada dalam pertemuan ini. 'Sebenarnya apa yang sedang direncanakan adikku?'
Kini tatapan Agha sama sekali tak lepas darinya, terkadang mereka juga saling menatap tapi Azel segera memalingkan wajahnya.
'Dia semakin cantik. Aku paham sekarang, tatapan adiknya itu mengisyaratkan bahwa aku orang yang berada di masa lalu kakaknya,' batin Aghafa.
Setelah usai acara makan malam mereka, kini mulailah pembicaraan maksud dari pertemuan mereka.
"Nak Azriel, sebenarnya saya ingin menyampaikan maksud selain tentang bisnis," ucap Abran.
"Apa itu?" tanya Azriel tetap santai.
"Anak saya menyukai kakakmu, dia ingin menjalani hubungan ke jenjang yang lebih serius dengan Azel. Itu pun jika Azel menerimanya," lanjut Abran.
"Wow, apa itu tidak terlalu terburu-buru? Santailah dulu, jalani saja hubungan dengan kakakku, jika dia mau," balas Azriel.
'Cih, pria busuk sepertinya tidak pantas bersanding dengan Kakakku, sekalipun dia ayahnya Abel,' batin Azriel terus mengumpat.
"Ah sepertinya itu lebih baik," balas Abran.
"Tapi Ayah, aku ingin segera melamarnya. Untuk apa suatu hubungan, jika kita sudah saling mengenal satu sama lain," sahut Aghafa.
"Kau tahu status kakakku? Dia seorang ibu satu anak," lontar Azriel.
"Ya aku tahu, aku siap menjadi ayah sambung anaknya."
"Masalahnya, apa Nona Azel mau menerimamu?" sahut Abran.
Tiba-tiba tangan Aghafa menggenggam tangan Azel, saat itulah tangan Azriel terkepal kuat merasa tak terima sang kakak disentuh olehnya.
"Bagaimana Azel? Aku mencintaimu, sudah lama aku menyatakan itu tapi sampai saat ini kau belum membalasnya," ucap Aghafa.
Azel melepaskan genggaman tangan itu, "Biarkan aku berpikir dulu," balasnya.
***
Malam ini Ina terlihat sedang membantu Azriel memakai baju. Ia tengah mengancingkan baju Azriel, sementara pria itu terus fokus menatap wajah pengasuhnya.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka, hanya keheningan yang tercipta. Kecanggungan terjadi karena Ina tidak biasanya diam terus menerus seperti ini, Azriel mengira jika pengasuhnya itu masih marah prihal kemarin malam.
"Maafkan aku."
Ina tidak menjawab, ia hanya terdiam dan fokus mengancingkan bajunya. Azriel lagi-lagi menghela napas. 'Entah kenapa aku lebih suka dia berisik dan cerewet, dibanding dengan diam seperti ini,' batinnya.
"Sudah selesai Tuan, semua orang sudah menunggu di luar."
"Apa kau tidak mau memaafkanku?"
"Bukan suatu masalah besar, jadi tidak perlu minta maaf." Ina langsung melangkah keluar. Azriel yang melihat kepergian Ina, hanya bisa menatap dengan nanar.
***
Semua orang menghadiri acara makan malam bersama, lebih tepat pertemuan antara keluarga calon istri dan suami. Kini semua keluarga Raymond hadir, bahkan Abel pun ikut bersama dengan mereka.
Terdapat satu keluarga beranggotakan 5 orang, di antara salah satunya terlihat ada satu perempuan yang sangat cantik dan anggun.
"Bagaimana kabarmu Sam?" tanya seorang pria yang sebaya dengan Samuel.
"Aku baik Gen," balas Samuel. Lalu ia memperkenalkan satu-satu anaknya, "Perkenalkan ini anak bungsuku Iren, dan itu Aryan anak ketigaku. Di sebelah sana anak pertamaku Azel bersama dengan cucuku, dan ya itu putraku namanya Azriel."
Mereka pun saling berjabat tangan satu sama lain, tak lupa pula memberikan sebuah senyumanan. Percayalah hanya Azriel yang selalu berekspresi seperti biasa.
"Dan, ini istri mudaku," lanjut Samuel tersenyum sembari merengkuh punggung Shireen.
Genro, ya pria paruh baya itu adalah calon besan Samuel. "Apa anakmu itu kembar?"
"Ya, Azel dan Azriel saudara kembar."
"Wah Sam, kau sudah menjadi Kakek ternyata. Sementara aku masih saja berstatus ayah," ucap Genro.
"Tenang, cucu akan hadir di keluargamu dan keluarga kita," jawab Samuel.
Azriel merasa muak dengan pembicaraan semua ini. 'Rasanya aku ingin segera pulang.'
"Oh ya Sam, perkenalan juga ini Dinara anak pertamaku dan dua bocah lelaki itu adiknya. Ini istri pertamaku," ujar Genro.
"Mas ... di depan keluarga terpandang lho, jangan seperti itu ...." sahut Leli sang istri Genro.
__ADS_1
"Bercanda, aku hanya memiliki satu istri."
"Anakmu sangat cantik Gen, apa dia masih kuliah?" tanya Samuel.
"Putriku sudah tidak kuliah, dia sedang menekuni bisnis bersama ibunya di butik dan toko bunga," jawab Genro.
"Kebetulan sekali anakku sangat suka dengan bunga, esok aku akan kunjungi toko bungamu Nak," ucap Samuel.
"Ya, silahkan Paman aku tunggu kedatanganmu," sahut seorang perempuan.
'Dia cantik, tapi wajahnya tidak seperti Ina,' batin Azriel.
"Azriel bagaimana? Sudah cantik, pembisnis muda, sungguh paket komplit untukmu."
Azriel terus melamun sampai ia tak menyadari jika sang Daddy sedang berbicara dengannya. "Azriel ...."
"Ah iya Dad, aku hanya mengikuti Daddy saja," balas Azriel.
'Astaga aku terlalu memikirkan Ina, benar-benar otakku sudah dipenuhi oleh gadis itu,' batinnya.
Samuel mendekat ke arah telinga Azriel lalu ia berbisik, "Fokuslah pada pertemuan kita, jangan buat Daddy malu di depan mereka. Daddy mohon hanya untuk saat ini!"
Azriel hanya memberikan balasan suatu helaan napas. 'Aku sangat bosan.'
"Jadi bagaimana? Apa perjanjian kita akan tetap berlanjut?" ucap Genro.
"Tentu saja, bahkan aku ingin segera menentukan tanggal," jawab Samuel.
Deg ...
"Daddy apa itu tidak terlalu terburu-buru, bahkan kita belum saling mengenal," sahut Azriel.
"Untuk apa son? Cinta akan datang seiring waktu kebersamaan kalian, hanya pernikahan yang dapat menyatukanmu dengan Dinara," balas Samuel.
"Betul Nak, kalian akan saling mengenal setelah pernikahan," timpal Genro.
"Ayah, biarkan aku dengannya lebih dekat dulu," ucap lembut Dinara.
"Lebih baik dekat setelah pernikahan Sayang ...."
"Aku juga setuju, dengan begitu apapun yang kalian lakukan akan sah-sah saja," sahut Leli.
"Baiklah, aku akan segera menentukan tanggal. Kita akan adakan pertunangan, dan setelah itu resepsi," ucap Samuel tersenyum dan terlihat sekali sangat semangat.
Genro mengulurkan tangannya, lalu berkata, "Sepakat!" Mereka pun berjabat tangan dengan rasa bahagia mereka.
Sementara Azriel lagi-lagi hanya bisa menghela napasnya. Shireen yang berada di dekat anaknya hanya mampu mengusap punggung putra tirinya itu, "Ikuti saja Daddymu Sayang ...." lirihnya.
'Aku tahu, hati Azriel hanya tertuju pada pengasuhnya. Namun karena kebodohannya, dia tidak menyadari bahwa cintanya hanya untuk Ina,' batin Azel.
***
Sementara di dalam kamar Ina sedang membereskan barang-barangnya. Ya, esok pagi ia berniat untuk pamit karena dirasanya Azriel tidak lagi membutuhkannya.
"Kenapa aku cemas? Ina yakinlah tanpa kau, Tuan Azriel pasti bisa melakukan apapun sendiri, lagipula dia akan segera menikah," gumamnya. Entah kenapa hati Ina selalu dicemaskan jika dirinya akan pergi.
"Walaupun belum beberapa lama aku tinggal di sini, tapi jujur saja aku berat meninggalkan semuanya."
Gadis itu terus saja menghela napasnya. Sekelebat bayangan dan memorinya bersama sang tuan muda mulai berdatangan memflashback di otak.
Ina mengingat awal dia masuk area mansion sampai memasuki kamar tuan mudanya. Mengingat bagaimana ia di marahi, terkadang dibaiki, bahkan diperlakukan buru dan satu hal yang tak akan pernah terlupa, mereka sudah saling menyatukan bibir dengannya.
"Mungkin bayangan wajah marah dan menyebalkan itu, akan aku rindukan suatu saat. Sudahlah Ina, dia akan bahagia dengan orang lain tak perlu cemas bagaimana kehidupannya yang akan datang."
Gadis itu pun kembali membereskan semua barang-barangnya. Namun, tiba-tiba ia melihat seseorang sedang berdiri di depan pintu. Ina baru menyadari bahwa pintunya terbuka sebab ada seseorang yang datang.
"Apa yang kau lakukan?"
Azriel perlahan berjalan menghampiri Ina, ia membuka jasnya karena merasa gerah terlebih apa yang dilihatnya ini sungguh membuat tensi darahnya naik kembali.
"Hmm Tuan sudah pulang?"
"Jawab pertanyaanku!"
Ina berdiri menghadapnya dengan terdiam gugup. "Saya akan pulang Tuan ...."
"Siapa yang mengizinkanmu pulang?"
Ina hanya menunduk, bungkam tak bisa membalas ucapan Azriel. "Apa kau tidak memperdulikanku lagi?" tanya Azriel.
"Tuan maafkan saya, ini sudah berakhir. Semuanya sudah selesai. Berbahagialah, Nenek butuh kabar bagus dari saya tentang Tuan, jadi maaf saya harus pulang."
'Seseorang yang sudah masuk dalam hidupku, tak akan aku biarkan dia pergi lagi!"
Cup!
Azriel memberikan serangan tiba-tiba, ia merampas mulut Ina untuk masuk ke dalam mulutnya. Saat itu Azriel membawa Ina dalam hasrat yang tercipta dari emosinya.
"Tuan-emmph to-toloemppass!"
Ina mencengangkan kuat dada Azriel, lagi dan lagi Azriel berlaku tidak sewajarnya. Ini sangat bertentangan dengan status Ina dalam hidupnya.
"Ingat Tuan saya hanya pengasuh Tuan, saya bukan wanita murahan yang bisa diperlakukan semau Tuan!"
"Kau milikku!"
__ADS_1
Bersambung ...
...DOUBLE BAB YAAAA:)...