
Elena menyeringai kala tetesan air matanya semakin mengalir. Ia tersenyum miring dan itu ditunjukkan untuk Abel.
“Mamimu munafik, dia sebenarnya juga cinta dengan calon suamiku tapi karena kejahatan hatinya, dia membalas cinta itu menjadi sebuah penyiksaan!” tegas Elena penuh geram.
“Nona tolonglah sesuaikan bahasamu dengan seseorang saat bicara. Dia masih terlalu kecil, untuk berpikir seperti itu,” sela Gafin.
“Dia sudah cukup dewasa untuk menyikapinya. Seharusnya gadisnya harus lebih dewasa, agar bisa membenarkan sikap maminya,” sentak Elena.
Abel mulai mengeluarkan air matanya, ia tidak bisa mendengar kata-kata yang menyulutkan tentang sang mami. “Mami Abel salah apa ...? hikksss ....”
Elena menghampiri Abel, ia memegang kedua bahu gadis itu kemudian menatapnya menjurus.
“Kau katakan pada mamimu. Tolong jangan buat calon suamiku seperti ini, setidaknya jika dia tidak ingin menyakiti balas perasaan ayahmu. Aku bukan wanita munafik, aku mencintai ayahmu tapi aku bukan wanita jahat yang tega melihat mamimu bahagia dengan orang lain sementara di sini dia tersiksa!” tegasnya.
“Hikkssss ... lalu kenapa Tante tidak biarkan saja ayahku untuk mami? Jika kau cinta, maka biarkan ayahku bahagia.”
“Itu maksudku. Tapi, tanya sendiri dengan mamimu. Hanya dia yang tidak pernah menghargai ayahmu. Aku relakan kapanpun dia mengambilnya, tapi aku tidak bisa terima jika dia datang hanya untuk menyakiti. Mamimu memang bodoh Abel, prihal cinta. Sikapnya selalu menyakiti tanpa menyadari. Kau pasti paham ucapanku!”
‘Bagaimana dia bisa sebaik itu? Aku seperti bukan melihat sosok Elena. Dia begitu dewasa soal perasaan. Ternyata, sikapnya yang seolah menerima tuan kembali ada niat terselubung dan bodohnya aku baru menyadari itu. Kau sungguh baik nona Elena, demi perasaan kau rela menyakiti hatimu sendiri,' batin Gafin.
***
Tiga hari telah berganti.
Tringgg .....
Suara bel berbunyi, menandakan bahwa semua murid telah dipersilahkan untuk kembali ke rumah masing-masing.
Kini terlihat satu gadis cantik dengan rambut panjang yang berhamburan tergerai saatnya berlari.
“Om asisten kok belum jemput?”
Abel tengah menengok kiri lalu ke kanan hingga berulang. Namun ia tak mendapati mobil yang sudah tiga hari ini menghantar jemputnya.
“Hallo Nona ....”
“Eeh ...!!”
__ADS_1
Abel terkejut kala melihat kedatangannya, karena dia fokus melihat ke arah sana sementara Gafin datang dari arah sebaliknya.
“Kayak jelangkung deh!”
Gafin terkekeh. Ketampanan pria itu semakin bertambah, seiring lebarnya senyuman yang diperlihatkan. Sementara kharismanya terpancar, terlebih saat lengan panjang yang gulung lalu tangannya dipasukkan ke dalam saku.
“Hmm mau langsung ke rumah sakit atau pulang dulu?”
“Langsung ke rumah sakit aja Om, mami lagi fitting baju.”
“Baiklah Nona, siap menjadi satpam lagi kita!” Abel tersenyum lebar, dan itu dibarengi dengan kekehan dari Gafin.
Tiba sudah di rumah sakit. Keceriaan Abel sedikit pudar, pasalnya sudah beberapa hari ayahnya itu tak kunjung membuka matanya.
“Ayah ....” Abel merengek sembari menaruh tas di atas nakas. Gadis itu duduk, lalu menggenggam tangan sang ayah.
“Ayah mami mau nikah besok, masa Ayah belum juga bangun. Gimana cara kita ngehancurin mereka sementara Ayah masih aja ada di atas ranjang ini,” gumam Abel memainkan jari Agha.
Gafin diam-diam mengamati dengan tersenyum, ia merasa lucu setiap kali Abel meracau seakan-akan dia berbicara jika ayahnya itu sadar. “Tidak boleh berniat seperti itu Nona, jadikan saja semua kebahagiaan dan kau pun harus ikut atas kebahagiaan itu. Mamimu akan melangsungkan pernikahan, saya harap di hari spesial Nona tidak menunjukkan kesedihan,” ucap Gafin.
Gafin beranjak duduk menghadapnya, lalu ia rapikan sedikit anak rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu.
“Jangan dengarkan manusia gila itu. Dia baik sebenarnya, tapi cara dia salah. Saya yakin, di balik semua rasa cinta ayah Anda terhadap ibu Azel, mungkin sudah terelakan oleh Tuan. Baginya kebahagiaan tidak harus dari seseorang yang dicintai, yang terpenting ada Nona yang selalu di sampingnya. Karena, Nona lah cinta yang kekal bagi Tuan,” ujar Gafin terus menatap dua iris bola mata Abel.
Sebaliknya, mata Abel tak terlepas dari dua bola mata Gafin. Abel melihat semakin dalam tatapannya, semakin besar dua iris mata pria itu.
Mungkin ada ketertarikan dalam pengucapan. Namun tak bisa dipungkiri jika Abel terpesona. Padahal hanya sebuah tatapan. Sesederhana ini perasaannya.
“Jadi Abel tidak boleh ya melakukan hal yang dibilang Tante?”
“No! Itu salah, hindari saja dan ikutilah rasa bahagia di hari H mamimu esok!”
“Baiklah ....”
Hari sudah berganti malam. Sementara Abel masih betah di rumah sakit, lagi-lagi dia terus berharap ada tanda-tanda kesadaran ayahnya.
“Lama banget sih Om. Udah berapa lho ini, Ayah belum makan, belum mandi, belum ganti pakaian juga! Benar-benar ya Ayah, dia udah buat semua orang cemas, gondok juga!” ketus Abel menggetu sendiri.
__ADS_1
Gafin yang sibuk dengan laptopnya, hanya bisa menyengir mendengar ocehan gadis.
Tiba-tiba datang dua orang berlainan jenis, yakni satu perempuan dan satu pria yang datang seumuran.
“Sayang ... pulang dulu yuk!” bujuk Azel saat dirinya sudah berada di samping anaknya.
“Mami, Om ...?”
“Aku turut sedih. Sayang sekali di hari spesialku esok sahabatku ini tidak bisa melihat. Bangunlah brother, lihat kebahagiaanku esok!” ucap Xander menatap nanar kondisi pria yang masih nyaman menutup matanya itu.
“Doakan yang terbaik saja Pak. Saya ucapkan selamat untuk wedding kalian esok, semoga lancar acaranya sampai akhir,” sahut Gafin menghampiri mereka.
“Terima kasih. Sempat dirimu untuk hadir esok,” balas Xander.
“Tidak janji, tapi akan saya usahakan.”
“Baiklah, waktu menjaganya sudah cukup ada Om Gafin yang selalu stay, jadi anak mami harus pulang dulu!”
“Tapi Mami ... nanti kalau Ayah ada tanda-tanda ing—”
“Tidak akan. Jikapun sadar, tolong dikabari ya Gafin,” potong Azel.
Gafin tersenyum kecil, lalu mengangguk. Entah kenapa ia merasa sedikit tersinggung dengan ucapan di kalimat pertama yang di lontarkan oleh perempuan itu.
Kata ‘Tidak akan’ seolah dirinya tahu jika pria akan tetap terbaring lama.
“Om asisten jaga Ayah Abel ya. Besok pagi-pagi sangat Abel ke sini lagi!” pesan Abel.
“Baik Nona!”
‘Ikatan anak dan ayah ini cukup kuat, terlebih Abel yang begitu menyayanginya. Bagiku Agha lelaki beruntung yang bisa memiliki anak seperti Abel,' batin Xander.
***
Tiba di pagi hari. Matahari sudah memancarkan pesonanya. Udara menyejukkan alam, sementara kecantikan wanita ini menghipnotis semua orang.
“Hari ini statusku akan berganti, tapi kenapa rasa hatiku tidak bisa terealisasikan dengan perasaan lain yang seolah singgah? Jika aku menuruti ego, apa yang akan aku dapat ke depannya?” gumam Azel tepat berada di hadapan cermin, sementara di sampingnya ada seorang perempuan yang mendengarkan ceritanya.
__ADS_1