Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Flashback Kejadian Malam yg Kelam Itu


__ADS_3

Tidak sampai di situ. Seorang pria kekar misterius itu, mencoba untuk mengusik kenyenyakan tidur gadis ini.


Malam pun semakin larut, sementara Azel merasa tidurnya telah diganggu. “Siapa kamu?!” ucapnya saat membuka mata.


Gadis itu tersentak tatkala ia melihat siapa sosok pria itu, sontak ia langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Namun, kecekatan yang pria itu lakukan tak dapat ditepis oleh Azel.


“Alex!”


Pria itu sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun, bahkan gadis remaja itu hanya bisa melihat pergerakan matanya yang mulai nakal.


“Pergi atau aku akan panggil Mommy dan Daddy!”


Tidak terpengaruh, justru meningkatkan nyali seorang pria misterius itu. Kini pergerakannya sudah mulai buas, hingga Azel menjerit-jerit meminta tolong. Sialnya pintu terkunci rapat, kamarnya kedap suara, dan siapa pun yang berteriak lantang hanya terdengar seperti semut berbicara bagi pendengar di luar.


Kala itu Azel merutuki dirinya, menyesal karena kelalaiannya. Pria bajingan itu menyusup, lalu dengan segampang jidatnya, seperti membalikkan telapak tangan dia merenggut kesucian seseorang wanita.


Sampai beberapa Minggu kemudian, lepas dari kejadian itu Azel harus menerima kenyataan bahwa dia telah hamil anak dari pria penyusup itu. Tak ada pertanggungjawaban, karena setelah kejadian itu sang pelaku telah pergi jauh dari kota ini.


Sementara cita-cita yang digadang-gadangnya musnah begitu saja, bahkan universitas tinggi yang telah ia survei untuk pendaftaran setelah beberapa bulan lagi ia akan lulus, seketika seperti menjadi abu. Terpaksa, Azel harus menunda pendidikannya demi mengurus sang bayi.


Malam itu adalah masa lalu yang begitu kelam jika di ingat. Namun, bukan berarti kehadiran malaikat kecilnya menjadi benalu ataupun suatu beban untuknya. Ia tetap menyambut kedatangan gadis kecilnya, walaupun tanpa seorang ayah dari anaknya.


Sampai di sana, ingatan Azel pun terputus.


“Mami sebenarnya enggan bercerita seperti ini. Tapi, demi meyakinkanmu mami harus bercerita.”


Otak Abel yang cerdas itu bekerja lebih keras, mencoba menyimpulkan cerita sang mami.


Azel hanya menceritakan bagaimana seorang Abel hadir ke dunia, sebab suatu kesalahan atau kecelakaan. Namun, ia masih ingat begitu rasa sakit ketika mahkota berharganya telah dirampas paksa, dan bagaimana kepedihan hatinya selama berjuang membesarkan Abel.


“Mami masih ingat bagaimana bentuk wajahnya dan tiap kali mami mengingat itu, hati mami selalu merujuk kebencian padanya. Mami hanya seorang gadis yang direnggut kesuciannya, hingga tak tahu apa status mami saat ini. Maafkan mami Sayang ....”


“Kenapa tidak cerita dari awal?” Abel mulai mengeratkan pelukannya.


“Kamu masih terlalu dini Abel, jika mami cerita pun kamu pasti belum paham. Tapi, untuk saat ini mami sadar, sekarang anak mami sudah remaja, sudah mempunyai pola pikir seperti gadis dewasa.” Azel terkekeh, ia tak henti mengecup pipi anaknya.

__ADS_1


“Apa Abel ini anak kesalahan?”


“Tidak, kamu tidak boleh berucap seperti itu. Kamu tetap anugrah yang dikirim tuhan untuk mami!”


“Tapi kenapa papi jahat? Di mana dia sekarang? Jika masih ada, Abel mau buat dia menderita seperti yang mami rasakan dulu!”


“Kata pamanmu, Alex sudah tiada. Mami mohon jangan coba-coba membahas ini di depannya!”


“Kenapa? Dan, berarti nama papi Abel Alex?”


“Kamu bisa menurut ‘kan?”


“Baiklah ... tapi, kenapa Mami selalu melarang aku dekat dengan om Agha? Padahal, di saat aku bersamanya aku merasa seperti memiliki ayah? Bahkan guru dan teman-teman sekolah, tidak ada yang curiga jika dia benar-benar ayah Abel.”


Sepertinya akan ada banyak hal yang mau tidak mau tapi harus mau, untuk berbagi kisah kepada anaknya. Sudah cukup usia Abel bisa mengerti, Azel merasa anaknya telah tumbuh pesat pola pikirnya. Akan tetapi, itu tidak menutupi keluguan bahkan kepolosanya, sebab di masa pubertas ini ada banyak hal yang selalu dipertanyakan di benak gadis itu.


“Abel mami sudah mengenal lama pria itu. Ya, Agha yang kau sebut ayah itu pria yang 10 tahun silam mengejar mami. Tapi, jika kau tahu kenapa mami sangat membencinya, sebab wajah dia mirip sekali dengan ayahmu waktu malam itu!”


“Sebentar ....” Abel sedang mencerna ucapan maminya lalu ia berkata lagi, “Mami ini sedikit tidak masuk akal, kenapa Mami bisa menyimpulkan seperti itu? Jadi, karena wajahnya yang sangat mirip dengan papi, Mami melarang Abel berdekatan dengannya? Kenapa Abel jadi merasa om Agha itu papi Alex ....?”


“Darimana Mami bisa simpulkan seperti itu?”


“Kata pamanmu Bel ... kematiannya sudah disaksikan langsung olehnya. Menginjak usiamu yang sudah hampir satu tahun, mami mendengar berita dia sudah tiada dan itu dari semua teman alumni sekolah mami, karena dulu mami dengannya memang satu sekolah, dan itu bertepatan awal mula terjadinya kelumpuhan pamanmu,” jelas Azel.


Mengerti sudah, kini Abel bisa menyimpulkan semua masalalu sang mami. ‘Sepertinya ini semua berkaitan dengan paman Azriel?’


“Untuk menghindari amukan pamanmu, tolong jangan membahas ini dengannya ya. Pamanmu masih sangat dendam pria itu,” ungkap Azel.


Seketika niat mengintrogasi sang paman lenyap. Jujur saja, Abel juga sangat takut dengan pamannya itu.


“Baik Mami, tapi Abel mohon izinkan Abel berdekatan dengan om Agha lagi. Mau bagaimana pun dia tidak ada kaitannya dengan masa lalu Mami ‘kan? Jika dia bukan papi Abel, berarti dia tetap orang lain, jadi apa yang Mami benci darinya? Untuk wajah, semua orang juga pasti mempunyai kembaran di dunia.”


Kata-kata Abel selalu masuk akal didengar, ucapan itu seperti sebuah tamparan untuknya. Kenyataan yang sesungguhnya adalah kefaktaan apa yang dikatakannya.


“Kau benar Sayang ... lagi-lagi mami merasa egois. Mulai saat ini kamu bebas berdekatan dengannya. Selagi dia selalu baik padamu mami izinkan.” Kata final itu seketika membuat hati Abel merasa puas.

__ADS_1


***


Pagi hari.


Sarapan dimulai dengan hangat, tidak ada perdebatan pagi ini melainkan senyum cerah dari keduanya yang mengawali hari.


“Mami Abel berangkat, jika nanti Mami ke kantor dan pulang malam Abel mau menginap di rumah Eyang.”


“Mami tidak bekerja hari ini Sayang ....”


Gadis remaja itu mengerutkan keningnya, lalu bertanya, “Kenapa? Tumben sekali.”


“Hari ini mami mau membantu Omahmu untuk menyiapkan makanan, karena om Aryan dan Bibi Iren akan pulang esok,” balas Azel.


“Wah benar Mami? Aaa ... gak sabar, Abel sudah pesan oleh-oleh sama mereka.”


“Yasudah, sekolah dulu. Nanti sepulang sekolah kamu langsung ke rumah Eyang, mami ada di sana.”


“Baik Mami cantikku!” Abel langsung melayangkan kecupannya, setelah itu ia pun bergegas menuju ke sekolah.


***


Waktu sudah menunjukkan terbitnya matahari yang di mana semua pekerja dan pelajar sedang melakukan aktivitas rutinitasnya.


Sementara di tempat lain, Agha yang sedang sibuk berkutat di depan laptopnya tiba-tiba terusik dengan suara dering dari ponsel miliknya.


Awalnya sangat enggan mengangkat, tetapi setelah melihat siapa yang menelepon, jiwa semangatnya meronta.


“Abel? Bukankah anak ini sedang belajar di jam segini?”


Tak mau ambil waktu lama, ia segera mengangkatnya.


[Ayah Abel berdarah, hikkss!]


“Astaga, kau di mana Sayang?”

__ADS_1


__ADS_2