Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda

Ibu ASI Untuk Bayi Om Duda
S3. Abel Sadar


__ADS_3

“Astaga Gafin batu itu tempat aku pingsan. Pantas saja kepalaku sangat pusing saat melihat batu itu. Ternyata, ini tempat di mana aku ditemukan juga dengan ayahku,” ucap Agha menyatakan.


Agha dapat mengingat dirinya terkulai di bawah batu ini, saat dirinya terjatuh dari jurang dan itu dalam kondisi punggung terkoyak, sebab tembakan itu.


“Ah sudah jelas sekarang, jika kejadian Abel dengan Tuan bagaikan takdir yang sama hanya saja sebab kronologi kalian berbeda. Seperti kebetulan, atau saya rasa ini adalah cara Tuhan untuk memberi solusi,” imbuh Agha.


Agha termenung mendengar ucapan yang seperti sebuah pernyataan itu, ia berpikir lagi. Apa semua siasat Gafin ada benarnya? Banyak berbagai pernyataan yang terbesit di benaknya.


Agha berpikir terlalu lama, sampai Gafin yang melihatnya terbengong langsung menegur, “Tuan apa Tuan baik-baik saja? Sudahlah jika tidak bisa diingat, jangan memaksakan.”


“Gafin, aku masih ingin mencari ingatanku. Aku penasaran siapa sosok yang telah menembak. Apa motif dari itu semua?”


Lagi-lagi Agha berpikir keras, memaksakan daya ingatnya untuk bekerja. Namun, apa? Justru ia sendiri yang diserang rasa sakit kepala. Ya, pusing kembali melandanya.


“Kepalaku sakit ....” adunya, sembari memegangi kepala.


Gafin dengan sigap menghentikan sang tuan yang terus berupaya mengingat-ingat, ia memapah untuk kembali ke atas. “Sudahlah kita kembali sekarang.”


***


Satu bulan sudah terlewat, akan tetapi Abel tak kunjung sadar dari komanya. Selama itu kehidupan Azel seakan tidak bergairah. Beruntung karena ada Agha yang selalu menguatkan, jadi perempuan itu tidak terlalu berlarut dalam kesedihan.


“Astaga anak ini belum juga bangun. Abel mami heran deh, kamu tidur sudah hampir sebulan lebih tapi masih betah tutup mata. Tidak pegal apa?”


Perempuan itu baru saja sampai, terlihat siap dengan penampilan kantornya. Ya, sebelum bekerja Abel menyempatkan untuk melihat kondisi anaknya. Namun, tampaknya belum ada perubahan.


“Abel bangun Sayang, mami janji tidak akan melarangmu memakan coklat, bermain di pasar malam dengan pria itu sepuasnya, dan mami janji tidak meledekmu dengan jus wortel lagi,” racau Azel berbicara layaknya seorang yang ada di depannya itu seakan sadar.


Azel memandangi wajah anaknya, melihat detil kelopak mata putrinya. Lagi-lagi ia menarik napas, tidak ada pergerakan ataupun reaksi sedikit saja darinya. Benar-benar belum ada tanda-tanda anaknya itu akan bangun. Alhasil Azel pun memutuskan untuk beralih ke kantor.


“Tidurlah sepuasmu, nanti kalau bangun mami mau kasih hukuman. Beraninya kamu mengaduk-aduk perasaan mami!” Perempuan itu terdengar seperti orang gila. Ya Azel stress selama anaknya tak sadarkan diri.


Ia mengecup lembut kening Abel yang terasa dingin itu, lalu ia menepis sedikit air mata yang sempat jatuh tadi. Setelah itu, pergilah dia. Tanpa disadari, ada pergerakan tangan Abel, terlihat dari jari jemarinya yang mulai bereaksi.


Hingga berselang beberapa menit. Agha datang bergantian, menjenguk Abel. Saat dirinya sudah di ambang pintu, tiba-tiba ia terkejut tatkala gadis yang tengah terbaring di sana tampak membuka matanya.

__ADS_1


“Ayah ....” Ya, satu ucapan itu adalah pertama yang ia keluarkan.


“Mami ....” Terdengar begitu lemah, bahkan terdengar seperti dibawa angin. Namun Agha langsung menunjukkan kebahagiaan.


“Sayang ... anak Ayah ....”


Bisa dikatakan itu juga ucapan pertama yang baru saja dilontarkan, dari lumayan lamanya ia mengenal Abel. Pria itu langsung menghampiri, lalu mengelus kepala Abel dengan tersenyum semangat.


Sesaat kemudian, ia segera memanggil dokter, dan kebetulan sekali suster perawat yang datang.


“Sus anak saya sadar, tolong periksa dia!”


“Baik Pak, saya akan panggil dokter!” Perawat itu keluar, lalu ia kembali lagi bersama dengan dokter. Dokter pria yang sudah lumayan tua itu, segera memeriksakan keadaan Abel. Seketika wajah senangnya terlihat.


“Syukurlah, pasien sudah sadar dari komanya. Saya akan kembali lagi untuk memeriksa, tolong jangan berbicara terlalu keras karena pasien masih belum siuman,” jelas dokter. Agha tersenyum, lalu mengangguk.


Pria itu langsung beralih menatap Abel dengan senyum bahagianya.


“Sayang ... ayah sangat merindukanmu.”


“Mamimu akan ayah kasih kabar nanti.”


Saat ingin berucap Abel tampak kesusahan dengan alat oksigen itu, Agha pun membantunya untuk membuka. “Kapan kita ke pasar malam lagi?”


Agha terkekeh, dalam kondisinya seperti ini gadis itu sempat-sempatnya menanyakan aktivitas macam biasanya.


“Pulihkan dulu keadaanmu, ayah janji setelah kau sembuh ayah akan bawa ke mana saja yang kau mau,” balasnya langsung menciptakan senyum Abel. Agha pun mencium kening putrinya itu. Kemudian ia bersitatap sejenak.


Pria itu melihat manik mata Abel yang begitu sama dengan manik matanya. Tiba-tiba pria itu mengeluarkan air, tepat mengenai wajah Abel.


“Ayah kenapa menangis? Mami galakin ayah ya?”


“Tidak, ayah menangis karena ayah baru sadar bahwa gadis comel yang di hadapan ayag ini ternyata anakku,” ungkap Agha menjentik sedikit air matanya.


“Maksud Ayah gimana?”

__ADS_1


“Abel aku ini ayahmu sungguhan. Kau anak kandungku!”


Flashback ulang sebelum Agha mengunjungi rumah sakit.


Setelah sampai di kantor, pria itu terus-terusan mengaduh kesakitan. Ya, rasa pusing yang menyerangnya seakan membuat dia tidak bisa konsentrasi.


“Kenapa dengan kepalaku ini? Banyak sekali-kali bayangan-bayangan. Argghhh ....”


Di mana Gafin? Entah, pria itu sudah meminta izin untuk datang tidak tepat waktu sebab ada urusan lain. Agha pun tidak mempermasalahkan, tetapi jujur saja ia sangat butuh asistennya itu.


Agha berlari ke arah kamar mandi dengan tangan yang terus memegangi kepala. Ia masuk ke dalam toilet, sedikit membasahi wajahnya lalu ia cerminkan wajahnya di depan kaca wastafel.


Sejenak ia memandangi. Kaca itu seakan memberi gambar jelas, sebuah memori yang tersetel kembali. Seolah mengulang kejadian semua di masa lalunya.


Ya, ingatan masa lalu pria itu berangsur-angsur sudah mulai kembali, bahkan hampir semua sudah ia ingat.


“Aku bukan Agha. Aku Alex, ya aku Alex dan Abel ... ya dia anakku. Astaga aku sudah mengingat semuanya!”


Pria itu langsung berlari menuju rumah sakit, dan itu ia menemukan keajaiban bahwa anaknya telah sadar.


Dalam hati berkata, sebelum ia menghampiri. ‘Abel anakku.’


***


Sementara Gafin sedang menemui seseorang. Ya, ia mendatangi sebuah perusahaan menurut undangan dari sang pemilik.


“Silahkan Pak Gafin, Anda sudah di tunggu oleh direktur pemimpin kami,” ucap resepsionis mempersilahkan.


“Terima kasih.”


Gafin segera menuju ruang pemimpin, ia langsung berhadapan dengan sang pemilik perusahaan.


“Selamat pagi ... Gafino Geogarham. Asisten Alex, ah bukan Agha maksudnya.”


Sambutan pria itu tampak seperti sebuah ledekan. Benar-benar memancing, sebab sindiran pria tampak menjerumus kepada permasalahan tuannya.

__ADS_1


“Selamat pagi Azriel. Bagaimana kabarmu? Sudah cukup lama saya menunggu panggilan Anda, ternyata masih ada rasa penasaran rupanya ya,” balas Gafin menampilkan senyumnya.


__ADS_2