
Agha dan Xander menghampiri kembali pasangan mereka. Ternyata dua orang perempuan itu masih asyik berbicara.
“Sayang sudah kau temukan cincinnya?” tanya Xander.
“Ah kita terlalu asik berbicara, sampai lupa. Nona Azel, ambilah cincin itu jika kau suka biar aku mencari yang lain,” sahut Elena.
“Tidak perlu Nona Elena, ambilah itu untukmu. Aku sudah menemukan yang lain, yang menurutku lebih bagus,” balas Azel.
“Sungguh tidak apa-apa?” tanya Elena memastikan, Azel pun menganggukinya. “Wahh, terima kasih. Kau begitu baik. Bagiku cincin bisa dipilih yang tercantik, tapi laki-laki jarang ditemukan yang terbaik. Contohnya seperti Agha, menurutku dia adalah pilihan yang terbaik. Siapapun yang menolaknya aku merasa orang itu bodoh. Beruntungnya aku ‘kan?”
Azel yang mendengar penuturan itu, lagi-lagi hanya bisa tersenyum paksa, hingga tak bertahan lama perempuan itu mengembalikan ekspresi datarnya. Sementara Agha tak luput dari pandangannya, dan Elena menyadari itu.
‘Dasar munafik, lihatlah tatapannya. Sejauh apapun perjuanganku mengejar pria ini, tetap saja perempuan itu yang akan menjadi pemenang di hatinya walaupun saat ini aku seakan sudah menjadi miliknya. Entah mengapa aku merasa endingnya akan kalian akan tetap bersama nanti,' batin Elena.
“Baiklah karena kita sudah mendapatkannya, kita pamit yaaa," ucapnya masih dengan nada yang sama. Ia sangat memperlihatkan kemesraan di dua calon pasutri itu. Sungguh menyebalkan!
“Ya, silakan ....”
Elena mulai menggandeng tangan prianya, lalu ia melambai dengan menggunakan jari-jari yang digerakkannya. Namun sebelum itu, ia berucap, “Oh ya, nanti jika anakmu lebih luluh kepadaku jangan cemburu yaaa. Abel akan menjadi putriku juga, kita akan berbagi waktu dengannya.” Kemudian mereka pun pergi. Azel hanya terlihat terkekeh, yang pada akhirnya ia kembali datar.
Xander menatap sang kekasihnya itu, lalu ia berujar, “Kenapa kau kasih dia? Kau seperti merelakan kebahagiaanmu untuk mereka.”
Seketika Azel menatap kekasihnya itu penuh dengan keterkejutan. Entah kenapa dia merasa kata itu bermakna, namun ia sangkal kembali jika sebuah kalimat yang terucap dari pria ini hanyalah sebuah ujaran kecil.
“Pilihan cincin di sini banyak Mas, untuk apa kita merebutkan satu barang yang mungkin banyak di luaran sana yang dimiliki oleh orang lain,” balasnya.
Sesaat kemudian Xander mengusap kepala kekasihnya itu, lalu ia tersenyum tulus. “Ya merelakan itu berarti melupakan. Jangan ingat lagi dia,” balas Xander. Lagi-lagi itu membuat hati Azel merasa aneh. Iya seperti bukan mengenal kekasihnya itu, ya ada apa dengan dirinya?
“Maksudmu?”
Cukup, sudah sangat banyak Azel menerka-nerka apa yang sedang ada di dalam pikiran Xander. Tidak seperti biasanya, bahkan melarang untuk hal itu tidak pernah Xander lakukan terlebih dengan orang yang ia kenal.
__ADS_1
***
Malam hari.
Saat ini Abel sedang mengerjakan tugas sekolahnya, tepat berada di saat orang tuanya sedang bersantai di ruang tengah. Televisi menyala, sementara yang Azel yang sedang melamun justru ia yang seperti ditonton televisi.
“Mami kenapa sih? Mau tunangan bukannya bahagia, malah galau!” gumam Abel.
Jika anaknya itu tahu, saat ini maminya sedang tidak memikirkan pertunangan yang esok akan diselenggarakan. Ia justru terpikirkan oleh kata-kata yang terucap dari mulut sang sang kekasih ayah anaknya itu.
‘Dia katakan rasanya tidak pernah hilang, sementara dalam 4 hati tidak bertemu dia sudah ingin menggelar pernikahan. Memang ya, lelaki hanya selalu mengandalkan ucapan yang akhirnya akan jadi abu,' batin Azel terus meracau.
Azel mendesah, menarik napas sedalam-dalamnya. Pikirannya gusar, sementara otaknya seolah bekerja untuk mencerna ucapan-ucapan yang ia dengar dari mulut Elena tadi.
‘Pacarnya itu, seperti mengintimidasi aku. Sungguh dia terlihat sangat takut jika Agha menyimpan rasa padaku. Walaupun itu nyata, tapi itu kan masa lalu. Buktinya saat ini, dia sudah melupakanku.’ hati perempuan itu berceloteh layaknya burung yang terjebak dalam sangkar.
“Argggh ... menyebalkan!”
“Siapa yang menyebalkan? Aku?” tanya Abel dengan tampang polosnya.
“Iya!” Abel benar-benar melongok setelah dijawab ketus oleh maminya itu.
“Abel salah apa?” Dengan bodohnya, gadis itu justru merasa bersalah.
Azel yang merasa tidak beres dengan ucapannya seketika sadar, “Eh tidak bukan kau, tapi ayahmu!” elaknya.
“Kenapa dengan ayah?”
Azel berdiri tegak, perempuan itu menatap anaknya yang sedang belajar di bawah karpet dengan tatapan kesalnya.
“Ya, ayahmu sangat menyebalkan. Dia terlalu brengsek menjadi ayahmu. Dia selalu mengaduk-aduk perasaan mami!” Spontan Azel membalas, tanpa sadar apa yang diucapkan. Mood perempuan itu sedang tidak baik-baik saja, banyak pikiran dan kemelut di hatinya yang membuat seperti itu.
__ADS_1
Sedangkan, Abel yang tidak tahu apa-apa hanya cengok dengan mulut yang menganga, “Hah ....?”
Abel yang saat ini bodohnya tengah datang, ia hanya menatap polos kepergian sang mami yang ingin memasuki kamarnya. Ia tidak menyadari sikap di balik itu.
***
Bukan hanya Azel, tetapi juga kekasihnya. Xander yang sebentar lagi resmi menjadi tunangan Azel, kini bukan memikirkan hari jadinya esok. Pria itu justru terjerat ucapan dari Agha tadi yang sampai saat memberatkan pikirannya.
[Jika aku boleh jujur, aku masih sangat mencintainya. Jika aku ingin berbohong, aku bisa melupakannya]
Ucapan itu begitu terngiang, iya bukan lagi anak kecil yang tidak mengerti sebuah kata istilah yang bermakna terselubung.
“Perkataan yang begitu jujur, dia masih mencintai kekasihku, sementara jika dia tidak bohong itu berarti dia tidak bisa melupakannya,” gumamnya.
Pria itu tampak berpikir ulang, bagaimana bisa ia meneruskan hubungan dengan seseorang yang sudah tidak ada lagi gadis? Ah, itu mungkin bisa di skip, bagi Xander perawan tidak perawan itu jika sudah cinta tidak akan pernah memandang itu.
Akan tetapi ... ini bertentangan dengan takdir, ia seperti tidak menyangka-nyangka. Gadis yang menjadi anaknya nanti adalah seorang putri dari teman dekatnya, lebih mirisnya kenyataan terungkap jika Azel sudah dirasakan oleh dia.
Seperti persaingan, tidak ketat tapi sangat dekat.
“Aku masih tidak menyangka ini. Aku menjalani hubungan keluarga nanti, sementara hatiku terus cemas jika istriku masih mempunyai rasa. Tidak mungkin selama itu tidak ada yang membekas di hati Azel. Astaga ... aku cemas jika Azel juga mencintainya.”
Saat kemelut di hati pria itu dilanda cemas, tiba-tiba ia di hampir oleh sang ayah.
“Belum tidur Son?” tanyanya.
“Belum bisa Pah!”
“Kenapa? Apa kau memikirkan hari esok? Tenang saja Boy, acara esok akan berjalan lancar dengan semestinya,” ujar sang ayah.
“Bukan itu Pah. Sebelumnya aku ingin bertanya, bagaimana jika seorang yang Papa cintai ternyata mencintai orang lain? Jika di posisi itu apa yang papa lalukan?”
__ADS_1
“Kenapa bertanya seperti itu?”